
Di ruangan Bram di gedung WJ.
Yudi baru masuk setelah melacak lokasi darimana Kiara menelpon bosnya.
"Bagaimana Bos, makan siang dengan Evita masih akan pergi?" tanya Yudi pada Bram yang masih baring menatap layar ponselnya.
"Kiara sudah aman di kota Kembang apa masih perlu Yudi, bukankah ini idemu?" tanya Bram.
"Sebaiknya pergi bos, untuk mengelabui Raharja sehingga dia merasa bahwa Bos memang bermaksud menikahi putrinya." jawab Yudi mengambil duduk di sofa.
Aku masih ingin memindai apa yang ada di otaknya, dalam hati Yudi
"Tapi kau atur agar siluman itu jangan terlalu dekat denganku."
"Hanya di resto Hotel WJ tidak ada privasi." jawab Yudi.
"Hm, bagaimana sudah dapat lokasi Kiara?"
"Sudah, sebenarnya Nona di daerah puncak Bos dekat Mountain Villa bukan di kota Kembang." jawab Yudi.
Seketika wajah Bram berbinar ceria, itu kan wilayah mendiang kakeknya.
"Benarkah Yudi?" sontak Bram duduk dari baringnya.
"Hm." Yudi mengangguk.
"Yudi cepat atur, kita jemput Kiara! Ketemukan langsung dengan wali nikah, ngerti." perintah Bram.
"Nona di kediaman Ludwig Residen, pemiliknya bernama Bernard Ludwig Trump pengawalannya sangat ketat Bos." jelas Yudi
"Ludwig Trump?" desis Bram.
"Perusahaan mereka di bidang Fashion, brand-brand terkenal dunia adalah anak perusahaannya." lanjut Yudi.
"Begitu, apa mereka masih ada hubungan keluarga dengan presiden Amrik, Yudi?" tanya Bram.
"Selain sama-sama dari keturunan Adam, gak ada bos." Jawab Yudi.
"Ah, kamu mau aku hajar!" Bram kesal.
"Departemen Store di mana Nona bekerja adalah milik Bernard Ludwig Bos. Departemen store Jaguk kota Kembang yang baru juga miliknya." jelas Yudi.
"Jaguk, bukankah kita bekerjasama dengan Jaguk, Yudi?"
"Hm betul Bos, Jaguk Korsel kepemilikan atas nama saudara tiri Bernard. Hanya dia yang bergerak di bidang pengembangan kota seperti kita." jelas Yudi.
"Begitu, aku tidak perduli siapa itu Bernard Ludwig, aku mau kekasihku Kiara. Kita akan menjemputnya Segera sebaiknya aku menelepon Kiara agar bersiap-siap." ujar Bram membuka menu panggilan video di ponselnya.
"Sepertinya tidak mudah bagi Nona bisa keluar bos."
"Apanya yang tidak mudah! Aku mau Kiara Yudi, aturlah pembatalan kontraknya! Berapa dendanya bayarkan, ngerti!" ujar Bram dengan suara keras.
Cih! Yudi.
Kemudian Bram membuat panggilan pada 💞My Wife.
__ADS_1
******
Selesai makan pansit kiara kembali ke kamar, baring-baring mengusap perutnya. Masih berpikir-pikir kemana semua pergi pil-pil yang dibelinya.
Pasti si Meno yang buang, siapa lagi? Dia yang periksai tasku, ah. Pil dibuang ponsel juga dibuang, cih!
"Coba lihat delivery online sebaiknya beli aja lagi." ujar Kiara pada diri sendiri. Kiara mengusap perutnya yang kekenyangan.
"Ehegh." Kiara bersendawa.
Tiba-tiba masuk panggilan video dari 'Beno'. Tadi Kiara menyimpan nomor Bram dengan nama Beno sedangkan nomor Beno asli telah tersimpan dengan nama Meno.
Ka Bram!
Jantung di dalam dada Kiara berdetak lebih kencang.
Bagaimana bisa Bram menelponku?padahal tadi aku sudah menyetelnya ke panggilan pribadi, ah iya. Kekasih omesku itu pasti banyak akalnya, angkat tidak ya atau aku minta Bram saja yang belikan pilnya. Ini juga hasil ulahnya aku jadi telat datang bulan.
Dalam hati Kiara ragu-ragu, angkat tidak, angkat tidak, panggilan vidio soalnya.
Kemudian Kiara masuk ke kamar mandi mengunci pintunya.
******
Di ruangan kantornya.
Bram menelepon Kiara sudah tiga kali tapi panggilannya belum diterima juga.
"Kenapa gak angkat, sayang angkat telponnya aku kangen kamu." Bram mengirim pesan melalu chat.
Bram melompat berdiri melotot pada Yudi. "Yudi, aku ke toilet sebentar." Bram tergesa Masuk ke Kamar mandi pribadinya di dalam officenya.
Cih!
Yudi hanya tersungging sambil berpikir-pikir mencari cara, bagaimana membawa Kiara keluar dari Ludwig Residen. Dengan cara lembutkah atau dengan cara paksa?
Bram di kamar mandinya.
"Hallo sayang." Bram menjawab panggilan.
"Ka Bram?"
"Iya sayang, ganti panggilan vidio ya. Aku ingin melihat wajahmu." ujar Bram gak sabar.
"Hm, sebaiknya ja...."
Tit it it.
Kiara belum selesai bicara, Bram memutus panggilan beralih ke panggilan Video.
*****
Di ruangan Manager Hendra
Bernard lagi santai-santai, memantau Kiara melalui CCTV yang terkoneksi di layar ponselnya. Bernard ngezoom Kiara di layar ponselnya yang lagi kebingungan di kamarnya.
__ADS_1
Hm, sepertinya dia lagi mencari pil-pil nya, dalam hati Bernard.
Bernard menemukan pil KB dan pelancar haid di laci tas Kiara kemudian menyimpannya. Menunggu Kiara bertanya padanya untuk membahasnya.
"Beno, jadi bagaimana anak magang yang dua lagi, apakah kamu masih mau membawanya juga?" tanya Hendra.
"Hm bawa saja, biar Kiara ada temannya selama aku pedekate. Dalam sebulan aku akan memulangkan mereka kembali kemari dan menahan Kiara bersamaku. Setelah itu aku akan membawanya ke NYC."
Beno mengusap-usap wajah Kiara di layar ponselnya. Bibir Kiara merah alami, ia sudah pernah mencicipinya dan rasanya sangat manis.
Hendra adalah teman karib Beno saat masih sekolah di Yayasan Al Fallah. Setelah lulus SMP, Beno dijemput keluarganya ke Amrik untuk melanjutkan SMA nya. Sambil dipersiapkan untuk meneruskan bisnis keluarganya. Setelah tinggal di Amrik Beno masih suka menghubungi Hendra lewat telepon.
Saat kuliah Beno membiayai sekolah Hendra dan setelah lulus Beno mendirikan sebuah Departemen Store untuk dikelola Hendra.
Saat Beno diberitahu predikat penjualan terbaik disandang seorang gadis bernama Kiara, Beno gak sabar ingin melihatnya. Beno terbang langsung dari Milan untuk berjumpa langsung dengan gadis itu setelah Hendra mengirimnya photo Kiara. Ternyata Kiara adalah Kiwawanya dan aslinya cantik gila, sesuai dengan tipe Beno.
Beno diam-diam menyelidiki Kiara, ternyata Kiara sudah punya kekasih dan Beno sedikit kecewa. Tapi itu bukan salah Kiara, dia yang terlambat datang pada Kiara. Saat Beno tau Kiara terancam bahaya ia tidak bisa membiarkannya begitu saja.
Di layar ponselnya Beno melihat Kiara masuk ke dalam kamar mandi. Di kamar mandi tidak ada CCTV kemudian Beno meletakkan ponselnya di meja
*****
Dikediaman Beno.
Kiara di kamar mandinya sedang gelisah. Ia tidak ingin Bram mengetahui keberadaannya, bisa bahaya! Takutnya keluarga mafia juga mengincar nyawanya, ah.
Dari tadi ponselnya berbunyi, angkat gak ya panggilan vidio soalnya, dalam hati Kiara lagi.
Akhirnya Kiara meletakkan ponselnya di nakas toilet, menjawab panggilan. Kelihatan di layar ponselnya wajah tampan kekasihnya Bram tersenyum dengan manisnya, sedang kiss bye padanya.
Ternyata dia juga berada di kamar mandi, dalam hati Kiara. Dengan tersenyum Kiara membalas kiss bye kekasih omesnya.
"Kak Bram." Kiara mulai bicara.
"Iya sayang aku juga rindu." ujar Bram di layar wajahnya malu-malu, cih.
"Ka!" Kiara ragu-ragu.
"Hm, sabar sayang! Hari ini selesai satu meeting lagi, aku akan menjemput kamu, bersiaplah." ujar Bram.
"Benarkah, kalau begitu boleh minta tolong?"
Bram mengangguk.
"Apa saja sayang katakan, Kamu mau apa?"
"Tolong belikan pil pelancar datang bulan, aku sudah telat."
"Ha, kamu hamil?" Bram terperanjat.
******tbc.
Hi , readers. Terimakasih masih ngikutin Bram dan Kiara ya..
Dukung terus dengan Like dan Votenya. Klik ♥️favorit biar terus terupdate ya guys. 🙏
__ADS_1