Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
191


__ADS_3

Di Penthouse rumah sakit Daniel.


Kiara terbangun mendengar rengekan bayinya, ada Alisha mertuanya dan Bram suaminya di ruangan bayi.


Lagi ngapain dua orang itu pada bayiku.


Dalam hati Kiara. "Bram." panggil nya.


Bram menoleh sekejap, "Iya sayang, aku dan Mama lagi ganti popok." jawab Bram.


"Mungkinkah mereka haus?" tanya kiara lagi.


"Barusan minum sayang, persediaan susu masih ada beberapa botol.Jangan khawatir ya, kamu tidur lagi aja."


"Eee, Kiara jangan bangun!" jerit Alisha saat melihat Kiara ingin turun dari kasur.


"Sayang jangan bandel ya." seru Bram nada marah.


"Aku mau lihat bayi." mohon Kiara.


"Baiklah sayang, untuk kamu apa aja tunggu di situ." jawab Bram, setelah bayi dibedong segera membawa nya menghampiri Kiara.


"Ini Baby Moni, sayang. Yang sama Mama Baby Choi."


Jelas Bram duduk di samping Kiara, Bayi Moni di pangkuannya. Alisha juga mendekati mereka dengan baby Choi di pangkuannya.


Kiara melihat kedua bayi bergantian sangat mirip, baru seminggu sudah gempal waktu baru lahir sangat kecil


"Kamu gimana bedain nya Bram, dan kenapa mereka meniru badanku gempal." Kiara menatap pada suami nya.


Hahaha ha ha.


Bram dan Alisha serentak tertawa, bahkan Alisha sampai keluar air mata saking lucu rasanya.


"Mereka kuat sekali minum susu, makanya gempal. Kalau mau bedain lihat sini aja." ujar Bram, setelah ketawanya reda.


"Telinga Baby Moni cobel kiri, telinga Baby Choi cobel kanan." jelas Bram, menunjuk kedua telinga bayinya.


"Kenapa bisa?"


Tanya Kiara, mengusap telinga baby Moni di pangkuan Bram, gak nyangka Bram memeriksa bayi nya sangat detail.


Bram mengangkat bahu, tidak tahu itulah maksud nya. "Gak kelihatan juga kalau tidak terlalu diperhatikan." jelas Bram.


"Gimana kalau ditambal, minta Daniel melakukan nya." usul Alisha.


"Tidak perlu Mama, biar mereka ada beda. Lagian bukan cacat, ini iconik." jelas Bram bangga pada bayi bayinya.


"Takut nya udah gede mereka komplain."


"Tidak apa Ma. Nanti saat mandi dipencet pencet aja biar rata." jawab Kiara dengan polosnya.


Astaga. "Bisa juga ide kamu sayang."


Hahaha, Alisha kembali tertawa.


*


Di tempat lain di acara launching produk terbaru Trump industri, Yudi berhasil menyelinap memakai pakaian hitam hitam dan topi ala bodyguard.


Kelihatan beberapa model berlenggak lenggok memperagakan beragam hasil produksi, dari pakaian, sepatu ada juga tas.


Beberapa perwakilan dari pemilik Brand ternama berkumpul, Yudi mempertajam penglihatan nya. Beno tampak hadir ditengah para rekan bisnisnya.


Tumben dia berani keluar.

__ADS_1


Dalam hati Yudi langsung membaca pikiran Beno, memang ada Laras tapi itu gambaran satu tahun yang lalu setelah itu tidak ada lagi. Tempat mereka bertemu juga seperti di ruangan Manager Hendra, di Jaguk Jkt.


Apa memang Laras di indonesia, tapi kenapa sudah dicari cari gak ketemu. Kalau iya pun kenapa tidak ada nama Laras tercatat keluar dari NYC.


Kembali Yudi mengitari pandangan nya, Yudi mengerut dahi melihat ada bayangan Zainal jadi seksi sibuk di bagian tas wanita. Seketika terbit harapan di hati Yudi.


Pasti ada Laras dipikiran si kunyuk ini kalau tidak ngapain dia di sini dan sejak kapan. Aku sudah mengecek penerbangan tidak ada nama Zainal keluar dari indonesia. Apa dia menggunakan nama samaran.


Yudi langsung membaca pikiran Zainal, benar saja ada Laras dan tiga bayi. Seketika Yudi keluar air mata, terduduk lemas.


Oh Tuhan, dimana ini.


Yudi mengusap wajahnya, diam diam beranjak dari acara mencari lokasi persembunyian Laras sesuai dengan pikiran Zainal.


Sebuah pabrik rahasia, ini tidak jauh dari gedung pameran. Gedung milik siapa ini, tidak ada di catatan aset keluarga Trump. Kenapa aku gak bisa melihat ke dalam.


Dalam hati Yudi, setelah sampai di luar gedung ia mulai mengendap. Yudi sudah ahli soal memanjat gedung pakai tali, lompat sana lompat sini seperti agen rahasia 007.


*


Di kamarnya yang tersembunyi Laras menghabiskan waktunya, kalau tidak mengurus bayi ya membuat tas wanita.


Ternyata Laras berbakat dan ia sangat menyukai dunia design. Sifat Laras yang sangat detail dalam pekerjaan nya, membuat hasil rancangan nya terlihat tidak biasa.


Beno memberi nya sisa bahan bahan dasar industri yang mahal maupun yang murah sebagai latihan dan hasilnya jadi unik bahkan luar biasa modis.


Lima rancangan pertamanya yang dilempar ke bursa pasar berhasil menarik perhatian seorang pengusaha yang terbilang cukup cerewet dan paling detail diantara pelanggan Trump industri.


Sesuatu yang patut diapresiasi pikir Beno, sehingga ia ingin Laras muncul ke permukaan membawa namanya sendiri namun Laras menolak nya, hm.


Baiklah, kalau Laras tidak mau keluar, biarkan Yudi menemukan nya.


Dalam hati Beno.


Kehadiran anak anaknya, menjadi penyemangat Laras. Tidak perlu terkenal asalkan ia bisa hidup damai bersama ketiga buah hatinya.


Laras baru saja memberi ASI ditambah susu formula, ketiga bayinya sangat kuat susu. Apalagi Baby Sebira dan Baby Sevira, kadang kadang Baby Duta tidak kebagian ASI.


Untuk menyiasati nya, Laras memeras ASI terlebih dahulu di botol lalu kemudian dibagi tiga. Kalau langsung dari badan, bisa habis disedot duo baby Lara Sebi dan Sevi.


Dari ruangan bengkelnya Laras menoleh pada bayi bayinya di kasur, kedua baby Sebi dan Sevi sedang tertidur sedangkan Baby Duta senyum senyum sendirian kaki dan tangannya gerak gerak seperti kecoak terbalik.


Laras menghentikan kegiatan nya menghampiri bayinya dan baring di samping baby Duta. Gak tahan Laras mencium pipi Duta yang empuk, menepuk nepuk punggungnya sehingga bayi dan emak bayi pun akhirnya terpejam.


Gantian Baby Sebi bangun kemudian mengusik Baby Sevi, kedua bayi jenis kelamin serupa itu pun bermain. Mereka sudah bisa tengkurap mengangkat kepala.


Semua itu tak luput dari pengamatan Yudi, bagaimana kedua bayi beraksi, saling colek, saling pukul, saling dorong, saling jambak.


Ya tuhan.


Dalam hati Yudi, wajahnya sembab basah air mata. Gak tahan ingin menyaksikan bayinya lebih dekat, Yudi menggeser jendela lalu masuk ke kamar mengamati ketiga bayi darah dagingnya itu.


Dengan perasaan haru bercampur geram melihat Laras tidur pulas di samping satu bayi yang juga terpejam, Yudi asik dengan dua bayi yang terbangun dengan kelucuan tingkah mereka.


Benar benar bergumul, mulut penuh ences bibir semerah warna cabe keriting. Kedua bayi bergelung saat hendak berguling ke bawah kasur buru buru Yudi menangkap kedua bayinya.


Baby Sebi dan Baby Sevi terpelongo namun tidak menangis. Kedua bayi tersenyum pada nya, Yudi menciumi kedua bayi bertubi tubi memeluk di dadanya.


Lara Sebi dan Lara Sevi menatap Yudi, pakaiannya yang hitam hitam dan tampang yang brewokan tidak membuat kedua bayi takut pada Yudi.


Yudi bersandar di kasur atas, duduk di kasur bawah yang lebih rendah. Mereka bertiga bermain, kedua bayi perempuan nya menarik narik janggut Yudi sambil tertawa tawa senang mendapat pelampiasan baru.


Gak nyangka Yudi tenaga bayinya cukup kuat juga menarik rambut di wajahnya terasa perih. Lumayan lama, ada satu jam juga Yudi bermain dengan kedua bayinya.


Merasa Laras akan membuka matanya, buru buru Yudi meletakkan bayinya dan kembali bersembunyi.

__ADS_1


"Eum, mam mammma."


Baby Sebi dan Sevi ngoceh, mata mulai merah kaki dan tangan bergerak gerak minta di gendong.


Laras membuka matanya, melihat kedua bayinya terbangun ia pun tersenyum.


Tumben masih di kasur atas, biasanya udah guling di kasur bawah.


Dalam hati Laras melihat jam, beranjak ke kulkas meminum segelas air. Laras membuat susu untuk dirinya, menunggu dingin ia kembali ke kasur menghampiri bayinya.


"Eum, mamma ma." suara Sebi, Laras menggendong bayinya.


Deg,


Bau familiar yang sudah lama tidak dicium nya membuat jantung Laras berdebar kencang, ia memutar wajahnya mengitari pandangan nya


Bagaimana bau Yudi menempel di tubuh Sebi.


Laras mengendus Lara Sevi, sama juga ada bau Yudi lalu mencium Duta, tidak ada biasa bau susu.


Bagaimana bau Yudi melekat di tubuh Sebi dan Sevi.


Dalam hati Laras mengeluarkan susu badannya memberi ASI Lara Sebi di pangkuannya, dengan rakus Lara Sebi melahap nya.


"Eum, mammmam ma."


Lara Sevi merengek minta dipangku juga, ia tengkurap mengulur tangan kecilnya menarik kaki Lara Sebi.


"Iya, bentar Sevi gantian."


Laras membujuk Sevi mengusap ences di mulutnya.


Lara Sebi menggoyang kakinya menendang nendang mengenai wajah Lara Sevi, Sevi kaget wajahnya merah padam.


Pok! "Nakal."


Laras menepuk bokong Sebi gemas kasian Sevi sampai kaget gitu di tendang Sebi, Sebi semakin menendang. Sevi terbalik tubuhnya terhempas terlentang


"Uwaaaa!"


Jerit Sevi menangis berurai air mata. Laras panik, ingin melepas Sebi namun Sebi menyedot pintil nya semakin kuat dan kencang.


Astaga, gimana ini.


"Uwaaaaa." Sevi semakin menjerit.


Gak tahan Yudi keluar dari persembunyian nya duduk di depan Laras menggendong Lara Sevi, seketika Sevi terdiam meninggalkan isak tangis memandang Yudi.


Hah!


Laras terkesiap terperangah tidak percaya dengan apa yang dilihat nya, jadi benar bukan mimpi tadi Yudi bermain dengan Sebi dan Sevi.


"Eum, mamma ma."


Suara Sevi merengek mewek memandang Yudi seolah ingin mengadu, tak bersuara Yudi mengusap air mata di pipi dan kening Sevi yang berkeringat, memeluk di dadanya.


Bahkan Lara Sebi melepas hisapan nya, melongo melihat Lara Sevi dipeluk Yudi. Ada cemburu di hatinya.


Laras menyentak topi yang menutup wajah Yudi kelihatan botaknya, tidak terasa air mata Laras mengalir membasahi pipinya.


Yudi mengangkat wajahnya memandang Laras tatapan mereka bertemu, tatapan penuh rindu.


***


Jumpa lagi. ♥️

__ADS_1


__ADS_2