Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
195


__ADS_3

Masih di bengkel Laras.


Zainal merasa lega walaupun ia benci pada Yudi. Bagaimanapun anak anak Laras butuh seorang ayah dan Yudi adalah ayah dari ketiga bayi bayi lucu itu.


Berhubung pindahan hari ini, Zainal membantu Laras menyusun barang barang dan packing memisah misah, mana bahan bagus mana sampah.


"Zai, gimana semalam acara launching?"


Tanya Laras pengen tau apakah ada yang berminat dengan rancangan nya.


Zainal menarik nafas berat, sebenarnya ia malas cerita, karena Laras juga mau pergi biar gak kepikiran. Dan kemungkinan dirinya juga akan dikirim kembali ke Jaguk Jkt.


"Sebenarnya semalam bos Beno ngelarang gue ngeluarin design lo Ras. Tapi entah bagaimana di akhir acara pemilik Brand H, F dan LV bisa masuk ke gudang mencari design kode LR rancangan lo, langsung diambil lah itu ketiga tas masing masing satu dibawa ke depan bos Beno. Udah deh, gue diomelin habis habisan ama si bos. Maaf Ras." ucap Zainal akhirnya.


"Lo minta maaf karena diomelin, apa sis Zai! Gue ya pasti senanglah ada yang minat rancangan gue." ujar Laras.


"Mungkin lo belum bisa resign Ras." jawab Zainal nada menyesal.


"Gue juga gak maksud mau resign, Zai." tegas Laras.


Hm, Zainal mengerut dahi. Panggilan masuk di ponsel yang baru diberikan Zainal pada Laras.


'Bos Beno.'


Laras tanpa suara hanya menggerakkan bibirnya pada Zainal.


"Ya udah, jawab." titah Zainal.


"Hallo." Laras menjawab panggilan memencet tombol microphone, sehingga Zainal juga bisa mendengar nya.


"Laras, tas dengan kode LR6, LR7 dan LR8, masing masing 25pcs. Butuh berapa lama menyelesaikan nya?" suara Beno.


Banyak amat, mati aku.


Dalam hati Laras. "Bukankah biasanya di lempar ke pabrik, ayang mbeb?" Laras balik nanya.


"Laras, design kamu dipesan pemilik Brand ternama paling teliti dan cerewet. Mereka mau persis seperti sampel dari segala segi, perwakilan mereka akan memastikan sendiri datang ke bengkel melihat proses pembuatan nya." jelas Beno.


Laras memandang Zainal. "Satu tas butuh waktu dua minggu, 75 tas jadi seratus lebih Minggu." Zainal bantu jawab.


Laras memandang Zainal tatapan mengancam. "Dua tahun lebih itu, gila!" ujar nya membelalak.


"Waktu gue di Amrik ada dua bulan lagi."


Laras mengomeli Zainal, teringat ucapan Yudi semalam mereka akan ke Jkt saat Tuan muda selesai wisuda.


"Suami kamu sudah bicara padaku Laras, dan dia harus setuju kamu tetap bekerja dua tahun lagi sampai habis kontrak." tegas Beno.


"Aku suka banget nge-design ayang mbeb, tapi boleh kan aku mengerjakan nya dari rumah suamiku."


Mohon Laras melirik Yudi ke kasur yang juga sedang menatap nya sendu.


"Laras kamu gak dengar saya bicara! Pemilik Brand akan memantau sendiri pembuatan produknya. Bengkel kamu akan pindah ke tempat yang telah aku sediakan, suami kamu boleh pilih ikut kamu atau ikut si Wijaya. Kamu aku kasi cuti, pergilah kemana kamu suka setelah seminggu kembali bekerja." tegas Beno.


"Bengkel pindah kemana, bos? tanya Laras.


"Ke kediamanku. Itu saja yang ingin aku sampaikan, ada pertanyaan?"


"Ya Allah, ayang mbeb apakah kalau tasnya bisa selesai lebih cepat aku bisa bebas kontrak?" tanya Laras.


"Laras, waktu kamu dua tahun. Biar Zainal yang urus kepindahan, kamu boleh pergi liburan tapi ingat setelah seminggu kembali bekerja." tegas Beno menutup panggilan.


Waduh, gak jadi balik Jkt.


Dalam hati Zainal kesenangan, masih bisa kerja bareng Laras. Gaji juga lebih banyak, ember.


Ck, "Sumpah si Beno, bentar Zai gue mau ngomong ke Yudi."


Ujar Laras meninggalkan Zainal, tak lupa menutup sekat antara kamar dan bengkel lalu menghampiri Yudi.


Yudi sedang bersandar di headboard kasur, ketiga bayinya anteng di dada ayahnya.

__ADS_1


"Abang."


Panggil Laras suara mendesah duduk di samping Yudi, ia yakin Yudi sudah tau duduk persoalan nya.


"Eemm, mamma ma ma." rengek Sebi dan Sevi menjilat jilat lidah melihat Laras.


"Maafkan aku." ucap Laras.


"Kenapa minta maaf."


Yudi melebarkan tangannya agar Laras bisa masuk ke dalam pelukannya. "Sepertinya istriku berbakat dan berprestasi, apa sebaiknya aku resign saja dari WJ?" ujar Yudi mencium pelipis Laras.


"Terus, mau ngapain setelah resign?" ketus Laras.


"Makan tidur, habis main sama bayi main sama emaknya." jawab Yudi.


"Cis, gak lucu. Aku gak mau punya suami pengangguran." sentak Laras menepuk dada Yudi.


"Eum mammah!" jerit Sebi marah, ayahnya dipukul.


Laras menggeser wajah Sebi mendekat ke dadanya lalu mengeluarkan susunya. Dengan rakus Sebi menyedotnya.


"Mamma mamma, eum ma." rengek Sevi protes, kenapa cuma Sebi yang dapet susu.


Kedua bayi Sevi dan Duta gelisah keluar liur pengen susu begitu juga Yudi, cemburu menatap Sebi. Gak tahan Yudi meraih bibir Laras, menyedot nya.


Astaga!


Sejenak Laras dan Yudi larut dalam ciuman, Sebi berhenti menyusu melihat pada dua orang saling berpagutan. Sevi dan Duta ikut melongo, mangap mangap.


Laras menepuk dada Yudi, ia hampir gak bisa bernafas.


"Sayangku Laras, aku mencintai mu." ucap Yudi nafas memburu sesaat melepas bibirnya, menatap sayu Laras.


"Aku juga mencintai mu." jawab Laras balas menatap, Yudi mengusap bibir Laras.


Kembali Sebi menyedot susu Laras, Yudi mengangkat Sevi ke dada satunya. Dua bayi nemplok menggantung di dada Laras


"Duta, kamu ngalah ya nak. Nanti gede kamu masih bisa nyusu sama istrimu." ujar Yudi kasihan melihat baby Duta gak kebagian susu, menjilat jilat bibirnya.


"Apa si abang gelay, sabar ya nak!" ujar Laras pada Duta mengusap wajah bayi lelakinya yang kalem.


"Setelah ini kita bersiap, yang penting keluar dulu dari sini. Selanjutnya kita pikirkan nanti." ujar Yudi mencium Duta gemas lalu mendekap nya di dada.


Hm, Laras mengangguk, Yudi kembali melu mat bibir istrinya.


Setelah bersiap ala kadarnya, Yudi dan Laras beserta ketiga bayi naik heli. Dari pabrik mereka terbang menuju rumah sakit Daniel, Beno memerintah Zainal mengikuti Laras kemana saja, ah!


Nasibmu lah Zai.


Dalam hati Zainal antara sedih dan senang.


*


Kiara di Penthause Daniel, gelisah menunggu kehadiran Laras.


"Sayang, mana Yudi kenapa belum sampai?"


Tanya Kiara pada Bram di ruang bayi berdua Alisha memberi minum susu baby Moni dan baby Choi.


Kedua bayi gak mau menyusu langsung dari badan ibunya, menyiasati nya Kiara memeras susu di botol barulah kedua bayi mau meminum nya.


"Sabar sayang, mereka dalam perjalanan." jawab Bram membawa Kiara duduk di sampingnya.


"Mama, apakah tidak ada nama lain selain Moni dan Choi?" tanya Kiara pada Alisha merasa aneh dengan nama kedua bayinya.


Hehe, Alisha terkekeh. "Itu panggilan saja Kiara, kamu mau nama apa? Sebelum akikahan 40 hari, masih bisa mencari nama untuk akta kelahiran." jawab Alisha.


"Iya sayang, apa kamu punya nama pilihan sendiri?" tanya Bram.


Kiara menggeleng. "Aku ingin huruf pertama mereka dari K seperti namaku, terus ada nama mama juga dan nama ibu." jawab Kiara.

__ADS_1


"Seperti Kahla, Kayla." lanjut Kiara.


"Alisha Kahla Utami Wijaya, Dwi Kayla Utami Wijaya, apa kamu suka?" tanya Bram menunjuk satu satu bayinya dengan urutan pertama lahir.


"Sayang apa kamu bisa membaca pikiranku." seru Kiara mengangguk senang, ternyata Bram menyematkan nama ibu kandungnya Trie Utami.


"Tapi ada syaratnya." ujar Bram lagi.


"Apa?" tanya Alisha dan Kiara berbarengan menatap Bram.


"Kita buat bayi lelaki tiga lagi, namanya dari B seperti namaku."


"Jenis kelamin kan Tuhan yang atur Bram, sampai sebelas bayi kalau gak ada lelaki jangan tambah lagi ya." tegas Kiara.


"Hahaha."


Bram dan Alisha tertawa geli, Kiara menanggapi serius permintaan Bram yang menginginkan sebelas anak.


"Sayang, terima kasih." ucap Bram tersenyum lebar.


"Aku juga terima kasih pada Mama Alisha." ucap Kiara.


"Lho, kok Mama sih sayang bukan aku?" protes bram.


"Iya, karena kalau gak ada Mama gak ada kamu." jawab Kiara.


"Betul sekali Kiara, Mama ada permintaan sayang." ujar Alisha nada serius.


"Apa?" tanya Bram mulai curiga.


"Jangan bilang Mama minta beli Mansion di Amrik!" ketus Bram, Kiara menatap mama mertuanya.


"Ck, bukan! Undang Beno makan malam, kamu kan temannya Kiara." mohon Alisha pada Kiara nada memerintah.


Apa! Bram menatap Mamanya gak senang, Kiara menatap suaminya.


"Mama! Beno itu gak mau sama Mama, jadi jangan mengharap lebih!" ketus Bram to the point masih mengira Alisha naksir Beno.


Plak!


"Ngefans kan boleh! Seperti Beno ngefans pada Kiara, gak harus memiliki." balas Alisha ketus.


Ck, Bram mengusap pundaknya perih. "Udah diundang Mama, dianya yang gak mau!"


"Minta Kiara yang ngundang, jangan kamu. Mama yakin kalau Kiara yang undang Beno akan datang, kamu jangan terlalu cemburuan gitu bicara aja gak boleh." Alisha menatap Bram sinis.


"Ya udah, tapi ngomongnya jangan lembut lembut ya sayang." Bram suara lemah.


Kiara tersenyum lucu melihat suaminya. "Sayang, teruslah cemburu maka aku akan semakin mencintai mu."


Ujar Kiara mengedip mata pada Bram yang merengut.


Cis, emang gak sakit otak apa kalau cemburu. Satu kali aku mau buat kamu cemburu kiara, lihat saja!


Dalam hati Bram menyeringai.


*


Dua heli mendarat gantian di atap rumah sakit Daniel.


Pertama Yudi menggendong dua bayi Sebi dan Sevi, mereka turun dari heli milik Daniel. Sementara Laras menggendong baby Duta turun dari heli milik Beno bersama Zainal.


Walaupun saat naik tadi Yudi protes ingin satu heli dengan Laras tapi karena itu perintah dari Beno, akhirnya ia pasrah membiarkan Zainal satu heli dengan Laras dan Duta.


Maklum masih belum merdeka, entah kapan mereka bisa bebas dari kedua penjajah, bos Bram dan bos Beno.


****


Maaf ya guys, jelang jelang tamat ini banyak kendala takut memanjang pula cerita.


✌️ ♥️

__ADS_1


__ADS_2