
Masi di ruang Manager Hendra.
Kiara menelan salivanya, dibalik jas seragamnya ia memakai dalaman kaos yang berleher kura-kura untuk menutupi lehernya yang penuh kissmark. Tadi di mobil ia juga sudah kesal pada Bram.
"Ah, badan saya agak meriang pak, merasa dingin." jawab Kiara asal lalu membuang mukanya.
"Bagaimana sudah dapat ijin dari ibumu?" tanya Hendra menatap Kiara intens.
Kiara tertunduk merasa bersalah. "Ibu tidak mengijinkan saya berangkat Pak." jawabnya pelan.
Hendra membuang napas pelan.
"Jadi siapa yang kamu rekomendasikan ikut ke cabang?" tanya Hendra lagi.
Ah, siapa ya. Kalau si Laras maunya kalau aku juga pergi, ini aku gak bisa pergi apa Laras masih mau pergi?
"Belum ada juga Pak." jawab Kiara menundukkan wajah kemudian menatap Hendra lagi.
"Pak Manager, saya taunya hanya berjualan tidak ada ilmu apa-apa. Sekolah juga cuma sampai SMA, Bapak pilih yang lain saja ya, masih banyak yang lebih baik dari saya." ujar Kiara takut-takut sambil melirik ke Bernard yang dari tadi bergeming tak bersuara.
"Kamu mau ngatur saya?" Hendra menatap Kiara tajam seolah-olah mau menerkam.
Kiara menciut. "Tidak Pak, maaf." ucapnya pelan hampir tak terdengar.
"Saya juga mau bertemu Ibumu Kiara, meminta ijinnya dengan sopan. Walau sebenarnya pihak perusahaan bisa memaksa sesuai dengan kontrak yang telah kamu tanda tangani."
Kiara menatap Hendra. "Maksud Bapak."
"Sudah jelas di isi perjanjian kamu dikontrak selama dua tahun, ini masih delapan bulan berjalan. Jadi kamu tidak bisa berhenti, perusahaan juga tidak akan memecat kamu. Selama kontrak karyawan wajib melaksanakan apa yang ditugaskan oleh perusahaan selama masih berhubungan dengan fungsi jabatan. Melanggar kontrak apa perlu kita bertemu di pengadilan Kiara?"
glek. Ya Tuhan bodoh sekali aku.
"Baiklah Pak, saya minta waktu lagi mau bicara sama Ibu."
Hendra mengambil map di mejanya.
"Saya rasa Ibumu orang yang berpendidikan jadi berikan ini padanya. Biar beliau baca dan langsung ditanda tangani." ujarnya melempar dua berkas map di depan Kiara.
"Saya tidak mau berdebat lagi atau kita jumpa di pengadilan Kiara. Dan pihak perusahaan sudah pasti akan menang. Dan ingat beasiswa yang kamu dapat juga dari Jaguk company. Departemen store kita ini anak perusahaannya. Mau cari masalah silahkan, kedepannya tidak akan ada perusahaan yang mau menerima karyawan bermasalah seperti kamu lagi." ujar Hendra kembali duduk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
Kiara melirik pada Bernard yang bersikap seolah-olah ini tak ada hubungan dengannya kemudian berkata lirih.
"Baiklah pak, kalau gitu saya permisi." Kiara menunduk pada Hendra kemudian pada Bernard, keluar membawa map copy kontrak masuk kerja dan kontrak kerja ke kantor cabang.
Kiara berdiri mematung sebentar di depan pintu ruang Manager dan kembali ke counter setelahnya. Menuju counter ponsel Kiara berdering.
💞suamiku memanggil.
"Hallo Ka." jawab Kiara lemas.
"Hallo sayang, kenapa dengan suaramu?" tanya Bram di ujung panggilan.
"Gapa Ka, Kiara kerja dulu ya. Ka Bram sudah sarapan, maaf tadi Kiara gak sempat membuat kita sarapan." ujar Kiara sambil berjalan, tersenyum pada Zainal yang berpapasan dengannya yang memandangnya dengan wajah heran.
Pasti karena dressing ini, aku jadi seperti orang aneh.
"Jangan khawatir sayang, aku kenyang memakanmu semalaman." jawab Bram , terdengar suara ketawanya yang renyah sangat merdu di telinga Kiara. Ingin rasanya segera berlari ke pelukan kekasihnya itu.
"Ka, sudah dulu ya bye."
"Bentar sayang, kita akan segera menikah bersabar ya. Kamu gak usah pergi kerja lagi, mintalah resign secepatnya, mengerti !"
Resign! Sekarang! Mana bisa.
Biarlah nanti saja menjelaskan pada Bram kalau sudah bertemu.
*****
Bram di ruangan kantornya lagi berbaring malas-malasan di sofa sambil goyang-goyang kaki. Badannya masih pegal karena bertempur semalaman. Yudi yang baru selesai meeting datang membuka pintu.
"Bagaimana?" tanya Bram senyum-senyum tanpa memandang Yudi, pikirannya menerawang pada Kiara.
Yudi menarik napas dalam sebelum berbicara. "Yang ini agak cerewet Bos, menyangkut beberapa pasal mereka mau meeting langsung dengan Bos. Sepertinya mereka merasa diremehkan meeting dengan saya." jawab Yudi meletakkan berkasnya di meja Bram kemudian duduk di sofa.
"Cih, apa hebatnya mereka?" ejek Bram. Ia paling malas bertemu klien kecuali terpaksa.
"Ini kontrak bernilai ratusan triliun Bos dan Jaguk Company cabang Korsel perusahaan peringkat pertama asia, karena nama Sibolon company makanya mereka melirik WJ." jelas Yudi dengan suara agak keras. Ia sangat gemas dengan kelakuan bos kecilnya ini.
"Hm, begitu ya undang mereka dinner malam ini, saya yang akan masak untuk mereka sebagai ucapan terimakasih saya karena telah menolak kerja sama. Kamu atur tempatnya Yudi, hm!" ujar Bram senyum-senyum tanpa beban tidak perduli dengan kesepakatan yang batal.
__ADS_1
Dasar bocah! Bagaimana dia bisa bahagia kontrak ratusan triliun lepas begitu saja, niat kerja gak sih! Bisa bangkrut neh perusahaan kalau bosnya seperti ini.
Kesal Yudi menyesali sikap Bram yang tidak serius dalam bekerja, walau ia tau memang Bram dipaksa Alisha.
"Bagaimana persiapan nikah?" tanya Bram lagi.
"Yang mana duluan Bos, dinner sama klien atau nikah?" tanya Yudi sedikit ketus.
"Ya dua-duanya Yudi, Kamu nanya! Dinner gak boleh gagal nikah gak boleh batal, ngerti!" sergah Bram tak kalah ketus.
Sambil bicara tanpa memandang Yudi Bram masih senyum-senyum sendiri, pikirannya tetap Kiara .
Kalau sudah resmi jadi suami Kiara, maka aku berhak melarangnya pergi ke Cabang. Kiara si bawel itu gak bisa berkutik lagi, aku paksa dia berhenti kerja dan kurung dia di Apart. Aku akan buat dia sibuk beranak setiap tahun.
Yudi geleng kepala melihat kelakuan si bos kecilnya ini. Senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ia lagi malas memindai otaknya karena sudah dipastikan isinya wik wik semua.
"Kenapa kamu masih di situ Yudi." sergah Bram masih senyum-senyum.
Hais! "Baiklah Bos, saya akan siapkan."
Yudi pun beranjak pergi dengan mukanya yang masam.
*********
Pulang kerja 16.30 Kiara bersama Laras makan di warung bakso.
"Ra, hari ini omzet kita pecah record lagi. Sepertinya counter kita dapat Best Selling Product Award lagi deh, lumayan dapat bonus penjualan bulanan." ujar Laras tertawa riang.
Bekerja dengan Kiara membuat Laras setiap hari semakin semangat berangkat kerja. Kiara hanya diam memikirkan kontrak kerjanya.
Kasian ibu, aku juga gak tega meninggalkannya, hm.
Kiara menarik napas dalam. "Ra, lo kenapa pake baju ketutup leher gitu gak nyambung deh?" tanya Laras.
Dari tadi Laras sudah penasaran tapi ditahannya. Mengingat atasan sekaligus temannya ini berkelakuan aneh hari ini.
Agak tertutup dan kurang ceria. Banyak melamun walau memang tetap dengan sifatnya yang gak suka bicara kalau tidak ditanya.
*******
__ADS_1
hi readers, dukung like dan votenya jangan lupa. Semoga menjadi berkah buat anda semua.
Love you all 🙏😘