Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
38


__ADS_3

Rabu 07.00wib tiga hari menjelang pernikahan Bram dan Evita.


Pagi-pagi di kamarnya Bram lagi mandi. Setelah bersiap diri Yudi pergi mengambil sarapan, bos kecilnya mau makan di kamar karena malas bertemu mamanya di meja makan.


"Yudi bagaimana keadaan Bram." tanya Alisha yang baru masuk ke ruang makan.


"Tuan muda sehat Nyonya." jawab Yudi menunduk hormat.


Ck, Alisha menggeram menekan giginya.


Yudi mau jawab apalagi, sudah tau Bram lagi depresi.


"Tuan muda lagi bersiap mau ke kantor Nyonya, hari ini ada beberapa agenda meeting penting." jawab Yudi sambil mengambil beberapa menu makanan di meja makan utama, menyusunnya baik-baik di nampan.


"Yudi, apa kamu tidak mendengar perkataan saya semalam! Bram tidak boleh kemana-mana sampai tanggal menikah, atur agar si Bram bekerja dari rumah saja!" tegas Alisha.


Yudi menatap Nyonya Alisha.


"Nyonya, kontrak Jaguk dan Mossen sudah ditanda tangani, akan dibahas pada rapat dewan direksi hari ini. Apa semua direktur dan manager dipanggil ke rumah besar. Bukankah sebagai Komisaris Utama Nyonya juga harus bersiap menggantikan mendiang Tuan Besar." ujar Yudi.


Hais! Alisha merasa bodoh bagaimana ia bisa lupa. Dengan angkuh Alisha berkata. "Baiklah tapi hanya ke kantor, jangan kelayapan ke mana-mana." tegas Alisha kemudian pergi mencari Dwi, dari tadi tidak kelihatan.


********


Pagi juga, di kediaman Bernard.


Semalam setelah Dwi mendapat telpon dari Kiara, ia menunggu orang yang diutus untuk menjemputnya sehabis sholat subuh.


Lucita membawa Dwi masuk ke kediaman Bernard di mana Kiara sudah menunggunya. Kiara berlari keluar kamar menyambut ibunya dengan air mata bahagia.


"Ibu!" teriak Kiara berlari terisak menghambur ke pelukan Dwi.


Dwi balas memeluk Kiara, air matanya juga tumpah. Betapa ia menghawatirkan putrinya ini semalaman. Tidak sia-sia ia mengadu pada Tuhan, ternyata doanya dikabulkan. Dwi mengurai pelukan menciumi wajah Kiara bertubi-tubi, sampai Kiara gelagapan.


"Bu, maafin Kiara sudah buat ibu khawatir." ujar Kiara membawa ibunya masuk ke ruang tengah.


"Melihat kamu sekarang, ibu sudah lega Ra." jawab Dwi.


Lucita datang mengajak mereka untuk sarapan bersama Tuan Beno. "Ayo Bu, Ara kenalin sama Meno." ajak Kiara.


Meno!


Dwi mengerutkan dahi, mengikuti Kiara ke ruang makan. Sambil berjalan Kiara bergelayut manja di lengan ibunya.


Tuan Beno datang menghampiri mereka.


"Hallo Kiara, pagi?" sapanya.


"Pagi pak, ini ibu Kiara sudah datang."


"Apa kamu senang."


"Hm, makasih Meno." jawab Kiara.

__ADS_1


"Hallo Bu, panggil saya Beno." ujar Beno mengulur tangannya pada Dwi.


"Terima kasih sudah membawa saya pada Kiara." ucap Dwi menyambut uluran tangan Beno.


Tuan Beno tersenyum ramah.


"Sama-sama Bu, tidak perlu berterima kasih juga. Kiara sudah saya anggap adik saya sendiri atau kamu mau jadi kekasih ku Kiwawa?"ujar Beno menggoda Kiara.


Ah! Pagi-pagi aja sudah bikin jengah, dalam hati kiara.


Beno tersenyum melihat pipi Kiara yang memerah, menepuk bahunya yang masih bergelayut manja pada Dwi.


"Ayolah duduk kita sarapan." Beno berjalan mengambil duduk di salah satu ujung meja.


Kiara membantu menarik kursi untuk ibunya kemudian untuknya.


"Pak Bernard mau ke mana?" tanya Kiara pada Bernard yang sudah berpakaian rapi.


"Mau jumpa Hendra Kiara, kamu gak usah pergi kerja. Persiapkan dirimu, kita akan percepat ke kota kembang dalam minggu ini."


Ohh dipercepat?


Dalam hati Kiara sedih merasa belum rela berpisah dengan ibunya.


"Ibu di sini saja bersama Kiara, kalau perlu apa-apa minta saja pada Lucita." ujar Bernard.


"Lucita duduklah, apa kamu gak sarapan?" lanjut Beno memanggil Lucita yang sibuk di dapur. Dengan diam Lucita mengambil duduk di meja makan.


Beno mengerutkan dahi, tangannya berhenti saat hendak mengambil lauk nya. "Bu, untuk sementara Kiara lebih aman di sini, ada yang berniat jahat padanya." Ujar Beno.


Dwi bergidik menatap kiara, betapa khawatirnya dia semalam saat anak buah Alisha menculik Kiaranya.


Akhirnya Dwi setuju menemani Kiara di rumah Beno dan akan menjaga Kiara dua puluh empat jam nonstop, kemudian mereka makan dengan tenang.


*******


Masih pagi di kamar Bram.


Yudi membawa sarapan bosnya meletakkannya di meja sofa. Semalam setelah dibujuk, akhirnya Bram mau disuruh kembali ke kamarnya. Tapi bukannya tidur melainkan bolak-balik menatap ponselnya menelepon Kiara, walaupun ratusan panggilannya berbunyi tut tut tut semua.


Semalam setelah dilacak, anak buah Yudi menemukan sim card Kiara tak jauh dari pertigaan komplek perumahannya.


"Yudi kenapa ponsel Kiara dari semalam belum aktif." tanya Bram sambil


membetulkan dasinya.


"Saya sudah menemukan Sim card Nona, telah dilepas bos." jawab Yudi.


Bram memandang Yudi, "Yudi, kenapa semalam kamu gak bilang!" sentak Bram.


"Sudah bilang, tapi Bos gak dengar." ujar Yudi menyusun sarapannya bagi dua.


Cih! "Bawa aku ke Departement Store Kiara, Yudi! Aku ingin bertemu teman Kiara yang semalam datang ke rumahnya." ujar Bram, setelah dasinya rapi ia duduk di sofa di depan Yudi.

__ADS_1


"Baiklah Bos, kita sarapan dulu." ajak Yudi mengambil makanannya.


"Tuan Arjit juga sudah datang bos, lagi menunggu di ruang tengah." lanjut Yudi sambil memasukkan sandwich ke dalam mulutnya sekali telan langsung habis semua kemudian menyesap kopinya, ah.


Bram menarik sedikit ujung bibirnya merasa senang Om Arjitnya datang, karena tambah satu lagi pendukungnya.


******


Di kamarnya Alisha sedang bersiap, hari ini ia akan mengikuti rapat Dewan direksi pertamanya. Namun Alisha kepikiran terus pada Dwi. Dwi tidak ada di mana-mana bahkan kamarnya bersih tidak ada barang-barang Dwi yang tertinggal.


Kata Samsir, subuh-subuh Dwi keluar dari rumah besar. Setelah ditanya katanya mau pulang ke rumah dengan mobil online.


Kemana si Dwi nomornya juga tidak aktif, dalam hati Alisha.


tok tok tok


Pintu kamar Alisha diketuk.


"Nyonya, ada Tuan Arjit di ruang tengah." panggil Samsir dari luar kamar.


Arjit, ngapain Arjit pagi-pagi kemari apa dipanggil si Bram?


Alisha mengernyitkan dahi.


"Baiklah Samsir, suruh tunggu di ruang kerja." titah Alisha.


Setelah siap Alisha keluar dari kamarnya menuju ruang kerja.


"Mbak." sapa Arjit pada satu-satunya kakak kandungnya itu.


"Hm." gumam Alisha duduk di sofa.


Gak lama Bram masuk bersama Yudi. Bram menyalim Om Arjitnya dan duduk di sebelahnya. Saat Yudi hendak keluar Alisha menahannya, "duduklah Yudi " , perintah Alisha.


Yudi mengambil duduk di sebelah Bram. Jadilah mereka bertiga duduk di sofa panjang. Posisi Arjit dan Yudi mengapit Bram di tengah, menghadap Alisha yang duduk di sofa tunggal di depan mereka.


"Apa yang membawa kamu pagi-pagi kemari Arjit?" tanya Alisha pada adiknya itu.


Arjit memandang Bram sebelum menjawab. "Mbak, ini masalah keponakan saya Bram, sebaiknya jangan memaksanya untuk menikahi Evita lagi." ujar Arjit memohon pada kakaknya.


"Memangnya kenapa?" Alisha balik bertanya pada Arjit.


"Bram sudah menceritakan semua pada saya Mbak, sebaiknya kita batalkan saja, kasihan Bram kalau dapat istri seperti Evita." ujar Arjit.


"Kenapa kasihan, dia juga sama seperti Evita, tidak lebih suci. Bram juga sudah pandai merusak anak gadis orang." ujar Alisha memandang Bram yang dari tadi buang muka tak mau memandangnya.


Akhirnya Bram menoleh juga dengan sorot mata tajamnya merasa gak senang dengan ucapan Mamanya.


"Ma, Bram dan Kiara saling mencintai. Bram tanggung jawab mau menikahi Kiara." ujar Bram dengan suara ditahan lebih rendah. Ternyata Bram takut dicap anak durhaka, apalagi oleh orang yang telah melahirkannya.


******tbc


hi , jumpa lagi terus dukung dengan Like dan vote sebanyak-banyak nya. Klik ♥️ favorit biar terus terupdate ya guys.

__ADS_1


__ADS_2