
Di kamar Bram.
Kiara hampir naik darah tinggi karena Bram membuang tas bajunya.
"Ah Bram, cepat ambil tasnya lagi!" rengek Kiara mendelik kesal.
Dalam kebingungannya Bram mengingat sesuatu, ting!
"Bentar sayang, aku ada menyimpan cd kamu. Ingat waktu kita menyatu di kamar tamu, ah aku jadi kepingin lagi." ujar Bram mengedip mata ingin memeluk Kiara.
Dengan cepat Kiara menahan dengan tangannya yang terulur di dada Bram.
"Ya sudah mana, ambilkan!" tegas Kiara.
Bram mendengus kemudian pergi ke lemari pakaiannya mengambil cd lalu memberikannya pada Kiara.
"Ini sayang, aku sendiri yang cuci. Aku gak suka kamu pakai barang pemberian pria lain apalagi dari si Beno itu."
Cih! "Bra dan baju juga, mana? Ambilkan!" sergah Kiara mengambil cd lalu masuk ke kamar mandi menutup pintunya.
Bram kembali lagi ke wardrobe nya, kemudian langsung masuk ke kamar mandi.
"Ini sayang, kamu pake ini." ujar Bram setelah menemukan kaos yang kira-kira cocok dipakai Kiara.
"Ka, kenapa masuk?"
Kiara kaget, ia menutup dadanya. Beruntung dia sudah selesai memakai cd nya.
Saat hendak meraih handuk. "Kenapa ditutup sayang, Aku udah liat semua itu" ujar Bram menjauhkan handuknya.
Ck! Kiara geleng kepala. Dengan satu tangan ia menutup dadanya sementara tangan yang satunya menerima kaos Bram. Matanya memicing melihat kaos warna abu terang dan tipis.
"Bram, aku gak pake Bra! Berikan kaos yang warna gelap." ujar Kiara.
"Jangan bawel, pake ini!" paksa Bram menarik Kiara menempel ke tubuhnya dan memakaikan kaosnya. Lumayan panjang di tubuh Kiara sampai di atas lututnya.
Ih, memang dasar mesum, rungut dalam hati Kiara.
Bagaimana tidak, tubuhnya membayang sama saja seperti telanjang.
tok tok tok.
Kiara dan Bram saling berpandangan.
"Ka, ada yang mengetuk pintu." ujar Kiara mendorong Bram keluar dari kamar mandi.
"Kamu siapa?" teriak Bram. Biasanya Mama akan langsung memanggil namanya, ini kenapa diam saja.
"Tuan muda, ini air jahe gula merah untuk Nona." jawab orang yang mengetuk pintu.
"Tunggu di situ!" perintah Bram keluar dari kamar mandi. Kemudian Bram mengambil ponsel lalu membuat panggilan.
Di ruang tengah utama WO baru datang, Ponsel Alisha berbunyi.
"Samsir tolong kamu atur, saya angkat telpon sebentar." titah Alisha lalu mengangkat panggilan.
"Hallo Bram, ada apa?"
"Ma! Apa Kiara boleh minum air jahe gula merah?" tanya Bram dari seberang telepon.
__ADS_1
"Iya Bram, apa Tika sudah antar?" tanya Alisha.
"Itu lagi di depan pintu." jawab Bram.
"Biasanya wanita datang bulan awal-awal perutnya sedikit gak nyaman. Minum air jahe bisa meringankan sakitnya." ujar Alisha.
"Jadi datang bulan itu sakit Ma?"
"Tidak semua orang sama , Bram."
"Oke, thanks Mama." Bram memutus panggilan kemudian membuka pintu.
Nining tertegun memandang Bram di depan pintu, air liurnya hampir menetes.
"Kamu yang namanya Tika?" tanya Bram nada gak suka.
"Saya Nining Tuan, Tika tadi di toilet. Saya takut air jahenya keburu dingin jadi saya inisiatif ngantar." jawab Nining malu-malu menyerahkan air jahenya.
"Hm." Bram mengambil air jahe.
PANG!!
Nining terperangah, pintu dibanting di depan batang hidungnya.
Apes banget dah, baik -baik nganter bukannya dapat ucapan terima kasih, dalam hati Nining segera cabut lari ketakutan.
Kiara yang keluar dari kamar mandi pun menegur. "Ka, kenapa membanting pintu?"
"Sayang, ini air jahe gula merah. Kamu minum biar perut kamu nyaman." ujar Bram meletak gelasnya di nakas.
"Sayang, aku nanya kenapa banting pintu?"
"Tentu saja tidak tapi jangan kasar juga." ujar Kiara menepuk lengan Bram yang memeluk pinggangnya.
Bram membalikkan tubuh Kiara.
"Kamu tidak lihat sih sayang tadi biji matanya mau keluar mandangin aku."
"Apa kamu mau buat aku cemburu Bram?" Kiara melotot.
"Sayang, tentu tidak. Kamu kan nanya kenapa aku kasar?"
Bram membawa Kiara duduk di sisi tempat tidur.
"Ka kasurnya jadi kotor kena bercak darah." ujar Kiara, kasian sprei putih jadi ternoda.
"Tidak apa-apa sayang, nanti kita ganti." Bram mengambil air jahenya.
"Ini minum dulu." ujarnya memberi Kiara gelas jahenya.
Kiara meminumnya, karena isi gelasnya sedikit jadi ia bisa langsung menghabiskannya. Terasa hangat di tenggorokan mengalir terus ke perutnya.
Bram mengambil gelas kosong dan meletakkannya di nakas, naik ke tempat tidur bersandar di headboardnya.
"Sini sayang." ujar Bram menarik Kiara membawa ke pelukannya.
"Apa saja yang kamu lakukan di rumah Beno?" tanya Bram mengelus paha mulus yang terbuka.
Kiara mengerutkan dahinya, kenapa tiba-tiba nanya Beno.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Kiara mendongak menatap Bram.
"Yah, karena waktu itu kamu memeluknya mungkin sudah biasa kalian berpelukan." jawab Bram.
"Mau tahu aja atau mau tau banget?" tanya Kiara tersenyum jail.
Cih! Bram mengusap bibir Kiara, ia menyesal telah bertanya, ah.
Daripada jadi cemburu lebih baik berciuman dalam hati Bram mempererat pelukannya di pinggang Kiara dan menyerang bibir gadisnya.
Kiara mengalung lengannya di leher Bram, membalas ciuman. Rangsangan jemari Bram di tubuhnya, Kiara merasa haidnya mengalir deras. Beruntung pembalutnya tebal.
cklek. Pintu kamar dibuka.
Alisha terperangah di depan pintunya.
"Bram!" teriak Alisha.
Kiara terperanjat, mencubit di leher Bram. Ia ingin melepaskan bibirnya tapi si mesum Bram tambah bernapsu dan menyedot semakin kencang. Sepertinya ia tidak mendengar suara teriakan Alisha.
Kiara menepuk di dada Bram, melotot padanya dan menunjuk ke pintu.
Masih berciuman Bram melirik ke arah telunjuk Kiara, matanya membulat seketika ciuman terlepas.
"Mama, ngapain di situ!" sergah Bram mengusap bibirnya.
"Ngapain? Kamu tuh yang ngapain!" bentak Alisha.
"Hehe, Mama kayak gak pernah muda. Cuma peluk cium, mana bisa lebih-lebih." jawab Bram cengengesan.
Kiara menunduk malu wajahnya terasa panas, gak berani melihat ke pintu.
"Dasar kamu Bram! Bawa Kiara ke ruang tengah, bridal sudah datang mau coba kebaya." ujar Alisha.
Namun seketika Alisha mendelik menyadari pakaian Kiara, cuma pakai kaos tipis membayang kelihatan kaki cantiknya.
"Astaga Bram, gak ada baju lain kamu kasi Kiara?!" Alisha semakin marah.
"Hm." Bram tersenyum canggung mengusap wajah Kiara di pelukannya yang tertunduk malu.
"Ih, dasar anak ini." Alisha semakin kesal.
"Kiara sudah jadi telepon Ibu kamu Nak?" tanya Alisha lembut pada Kiara tidak ingin menakuti calon menantunya.
Kiara menoleh pada Alisha takut-takut, lalu menggeleng. Mati aku, dalam hatinya.
"Telpon sekarang Kiara, biar Mama yang bawa kebayanya kemari kamu gak usah keluar." ujar Alisha melotot pada Bram.
"Bram, kamu ikut Mama mengambil bajunya!" tegas Alisha. Ia menutup pintu kamar Bram kesal kembali ke ruang tengah.
Ngidam apa dulu aku?
Dalam hati Alisha mengingat-ingat.
*******tbc
enjoy reading and see you to the next part.
Like dan votenya jangan lupa sebagai penyemangat nulis. thanks 🙏
__ADS_1