
Dalam hati Kiara menyesal telah mengeluarkan kalimat itu seolah-olah memberi lampu hijau.
Ahh, aku lupa kalau ia si mesum sudah tentu ia akan melakukannya, apalagi ia lama menetap di dunia belahan barat, tau sendirilah.
Dan benar saja, dengan wajah berseri Bram mengajak Kiara mandi bersama, walau Kiara merasa seperti dibodohi tetap saja ia mau menurutinya.
Kiara malu polos di hadapan Bram tapi lebih malu lagi melihat tubuh polos pria itu. Ia merasa pipinya memerah sekarang. Kiara menelan salivanya yang nyangkut di tenggorokan dengan susah payah.
Di dalam Bathtub yang sudah diisi air, gak pakai sabun aromaterapi lagi, Bram mulai membasuh tubuh polos Kiara. Setiap lekuk tak luput dari sentuhannya baik itu dengan jemari maupun dengan kecupan dari bibirnya. Ia tak ingin membuat tanda kissmark yang akan mengotori tubuh super mulus gadisnya, niatnya hanya ingin membuat tanda kepemilikan di bawah sana yang utama.
Bram juga meminta Kiara membasuh tubuhnya sebagaimana ia membasuh Kiara. Kiara bergidik membayangkan benda lonjong itu menembus liangnya. Walaupun baru delapan belas tahun Kiara gak lugu-lugu amat, apalagi di zaman informasi serba cepat ini tentang hubungan badan udah banyak artikel atau slide film yang dilihatnya. Membuat rasa penasaran di hatinya ingin mencoba. Selagi memikirkan itu air kecipratan di wajahnya, Kiara gelagapan.
"Apa yang kamu pikirkan?" senyum Bram menyeringai, ia yang menyiram air ke wajah Kiara yang seperti ngences melihat tubuhnya.
Kiara merengut menubruk Bram, antara malu dan pengen ia duduk di pangkuan Bram merangkul erat di lehernya. Pertemuan tubuh six pack dan dada kenyal, keduanya bergemuruh dengan nafas yang naik turun.
"Jangan begini entar aku khilaf melakukannya di sini." Bram juga susah payah menahan dirinya malah disosor, apa gak setengah mati.
Tidak bisa dihindari lagi, di bawah air dua kutub negatif dan positif pasti tarik menarik. Saat bercumbu tubuh mereka saling menggelung, air bathtub yang semula penuh kini tinggal sepertiga menampakkan tubuh polos mereka.
"Ayo keluar dari air!" bisik suara Bram serak dan berat karena ini akan jadi yang pertama bagi mereka, ia gak mau menyakiti gadisnya di kamar mandi.
Bram mengeringkan tubuh mereka dengan satu handuk, ia menggendong Kiara ke tempat tidur.
"Bisa kita mulai." bisik nya agak bergetar menahan tubuh dengan lututnya memposisikan diri.
Kiara dalam kungkungan nya kelihatan agak pucat. Satu tangan menahan beratnya, tangan yang lain mengelus wajah cemas gadis itu. Sesungguhnya ia juga gugup.
Kiara diam tak bergeming, ia sibuk menghalau debaran di dadanya. Ia merasa Bram aja grogi apalagi dirinya.
"Bram apa kita harus melakukannya?" ucapnya dengan susah payah.
__ADS_1
Sebenarnya Kiara juga gak bisa mundur lagi ia mencintai Bram, Bram menginginkannya juga. Entah itu cinta atau nafsu, Kiara hanya ingin hubungan mereka berkesan mendalam.
"Harus, gak boleh gak." suara Bram tegas menatap bibir bergetar gadis di pelukannya."Kamu nervous?"
Kiara mengangguk membuang wajah kesamping. "Jangan khawatir sayang akan aku buat ini menyenangkan, lets have fun together, oke." Bram menangkup wajah Kiara agar menatapnya, ia tidak ingin ada unsur paksaan. Ia ingin melakukannya atas dasar suka sama suka.
"Bram bisa lain kali saja, aku belum siap."
Bram menatap frustasi, apa ku terkam saja sekarang.
Kriuk kriuk, suara perut berbunyi.
Kriukk kriukk
Pandangan Bram jatuh ke area perut Kiara nanar, "kamu lapar?" tanyanya dengan suara serak.
"Yang bunyi itu perutmu Bram." jawab Kiara dengan nafas tercekat di tenggorokan .
"Baiklah kita lanjutkan setelah makan."
Huh, Kiara bernapas lega.
Bram bangun mengambil ponsel Kiara yang tadi diletakkannya di nakas, waktu menunjukkan jam sembilan malam.
"Apa masih ada yang buka?" ia melihat aplikasi food delivery.
"Kita makan pizza ya." Bram membuat pesanan setelah Kiara mengangguk setuju ia melempar ponsel kembali ke nakas.
"Jadi kita ngapain neh menunggu pizza datang?" Bram menghujani wajah Kiara dengan ciuman, kulit pipi halus seperti kulit bayi. Kakinya yang ramping dan panjang mengikat tubuh mungil itu.
Kiara menggeliat pelan. "Kenapa dari tadi kamu pesan apa-apa dari ponselku?" protesnya menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Haha, sepertinya uangmu banyak juga, tidak apa kan kamu traktir aku."
"Cih!" bibir Kiara mengerucut.
Melihat itu Bram terkekeh berkata lagi. "Hanya aku gak bawa ponsel, untuk mengelabui Mama Alisha mengetahui keberadaanku melalui GPS. My pocket gak ada cash tadi sekretaris Yudi nurunin aku di pertigaan arah rumah kamu dari sana aku jalan kaki ke rumah Pak Burhan dan itu jauh!" jelas Bram panjang kali lebar sembari memberi rangsangan-rangsangan halus di tubuh Kiara.
"Hm! Tuan Muda kere itu lumayan." ujar Kiara menggeliat menatap kagum usaha Bram mau jalan kaki hanya untuk bertemu dengannya. Tapi dalam hatinya miris kenyataan bahwa Bram menyembunyikan hubungan mereka dari Alisha.
Bram tersenyum bangga, dipeluknya tubuh mungil yang menahan ketar ketakutan itu.
* flashback on*
Setelah kematian Papanya dan Om Burhan yang mendadak, WJ Group mengalami kekacauan dengan anjloknya harga saham. Sebulan ini Bram sibuk mencari dukungan sana sini, dibantu Om Arjit adik Mamanya dan juga Yudi yang sebelumnya staf sekretaris Presdir setelah mendiang Om Burhan. Sampai satu kenyataan yang membuatnya shock.
Hanya karena perusahaan terancam akuisisi ia harus menikahi Evita, saham Evita yang akan mengokohkan kelangsungan hidup perusahaan dan posisinya sebagai Presdir pengganti Papanya harus dibayar dengan dirinya.
Kalau bukan karena Mamanya, ia juga gak mau jadi Dirut. Persetan dengan perusahaan lagian ia baru dua puluh tahun, masih ingin bebas. Ia juga masih punya warisan dari kakek tidak akan miskin mendadak. Tapi karena air mata Mama Bram harus mengorbankan perasaannya dan perasaan gadis yang dicintainya.
Bram ingin Kiara yang pertama merasakan tubuhnya karena ia gak yakin bisa bertahan untuk tidak menggauli Evita. Wanita gila itu mengincar tubuhnya.
Selain itu Bram juga ingin yang pertama bagi Kiara. Ini memang gak adil bagi Kiara dan merugikan gadis itu tapi ia tidak sanggup membayangkan Kiara dimiliki pria lain. Ia akan dan harus membuat tanda kepemilikan, segera!
Setelah lepas dari Evita ia akan kembali pada Kiara, pemilik sejati cintanya dan juga tubuhnya.
*flashback off.*
Pengantar Pizza menatap Bram dari atas sampai bawah, hanya pakai boxer kulitnya putih bersih.
Apa ini orang?
Sungguh ia tidak menyadari pesanan Pizza-nya berasal dari villa kosong ini. Banyak rumor di medsos tentang keangkerannya, pernah juga dipakai untuk shooting acara uji nyali di salah satu tv channel.
__ADS_1
****tbc
Hi, readers terima kasih yang sudah mampir, tinggalin jejak ya dengan like atau komen baik dan membangun . 💝💝