
Mobil Yudi berhenti di perempatan antara pasar induk dan warung nasi padang yang penyinaran cahayanya lumayan terang. Walaupun masih ada beberapa pengunjung di warung makan sepertinya mereka tidak memperhatikan ada mobil jalan sendiri tanpa pengemudi.
Algojo Tuan Suga dan Thamrin yang mengikuti dari belakang ikut berhenti, mereka mengintai tak jauh dari mobil anak buah Yudi menunggu.
Saat salah seorang algojo Tuan Suga turun dari mobil mereka, saat itu juga salah seorang anak buah Yudi keluar dari mobilnya lalu masuk ke mobil Yudi dengan peralatan khusus pembuka mobil.
*
Yudi sampai di halte tak jauh dari pasar setelah berjalan sekitar 80 meter dengan waktu tempuh sekitar hampir setengah jam. Laras bahkan ketiduran di gendongan Yudi.
Melihat Laras, Yudi gak tega membangunkan nya. Kelihatan mobil Yudi dari kejauhan. Setelah mobil berhenti di depannya, anak buah Yudi keluar membuka pintu belakang.
Yudi membaringkan Laras di jok lalu menutup pintu mobil.
"Kalian kembalilah ke pasar induk, siaga di dekat rumah yang tadi lagi." titah Yudi, lalu ia masuk di bangku kemudi.
"Siap Bang." jawab anak buah Yudi.
Setelah mobilnya berjalan barulah anak buah Yudi masuk ke mobil satunya, mobil pertama ia dan temannya saat mengintai rumah Laras.
Yudi membawa mobil kecepatan sedang, ia melirik Laras yang tidur di jok belakang.
Tiba-tiba di pertigaan yang sunyi mobil Yudi oleng, ia mengira ban mobilnya yang kempis. Namun roda mobil berjalan normal, oleng karena apa?
Yudi segera memindai, sebuah mobil mengikutinya di belakang yang melepaskan tembakan. Bukan algojo Tuan Suga bersama si Thamrin paman Laras, namum masih algojo Tuan Suga kelompok lain nya.
Seketika Yudi mengebut, sehingga Laras yang terbaring jatuh di bawah jok.
Aduh!
Laras terjaga, berusaha bangun mengambil posisi duduk dengan mata masih merem, tangannya mengusap kepalanya yang sakit karena terantuk.
"Laras, cepat menunduk!" teriak Yudi.
"Om Jangan ngebut ngapa." Laras hanya bergumam, matanya masih terpejam.
Mobil yang mengejar Yudi kembali mendekat, Yudi bermanuver menghindari tabrakan dengan mobil algojo Tuan Suga.
Walaupun mobil dilengkapi dengan sistem keamanan anti serangan dan senjata tajam tetap saja Yudi mengkhawatirkan Laras.
Kembali mobilnya ditembaki kali ini dari arah samping, Yudi menekan break mendadak. Mobil algojo Suga melaju kencang ke depan meninggalkan mobil Yudi jauh tertinggal di belakang.
Yudi putar kemudi dengan cepat, arah berlawanan dan menghilang di jalan rahasia. Gerakan patah Yudi, membuat Laras kembali terjungkal.
Ah!
Laras kembali nyungsep di jok belakang.
"Laras! Laras!" panggil Yudi.
"Laras! Bangun Laras!"
Teriak Yudi lagi, ia memindai Laras tidak kenapa-kenapa hanya benjol di kepalanya kerena terjatuh, jidatnya mengenai kerangka bangku depan.
__ADS_1
Yudi menghubungi satuan pengaman rumah besar, Tak lupa ia memberitahukan ada penembak yang mengikuti nya. Satuan pengamanan di rumah besar segera siaga dan Satpam membuka gerbang lebar-lebar agar Yudi masuk bebas tanpa hambatan.
Sesampai di daerah kawasan rumah besar, Yudi memindai lagi mobil yang mengikuti nya berhenti jarak 40 meter di belakang Yudi.
Laras sudah sepenuhnya terbangun berpegangan kuat sambil menunduk di jok belakang, jantungnya deg degan seperti habis lari maraton.
Yudi menekan gas masuk ke halaman rumah besar yang gerbangnya sudah terbuka sempurna.
*
Kiara di pelukan suaminya, baru selesai posisi bercinta ketiga, artinya baru dua ronde.
"Sayang, bunyi apa itu?" tanya Kiara mendengar bunyi bel. Baru ini ia mendengar bel berbunyi di rumah besar.
Bram juga terkejut, jarang-jarang bel bunyi di rumah besar. Ia segera loncat dari kasur lalu mengenakan celana dan jubah tidurnya.
Suara bel adalah kode peringatan siaga satuan pengaman, pertanda ada bahaya yang mengintai.
"Sayang, ayo berpakaian kita ke ruang keluarga!"
Suara Bram gugup, bukan khawatir pada dirinya namun pada istri kecilnya yang powerfull dalam bercinta.
Bram menyambar kaosnya yang agak tebal memakaikan nya pada kiara, ditambah sweaternya kelihatan sangat lucu. Merasa gemas, Bram melu mat bibir Kiara sebelum menggendong istrinya itu keluar kamar berjalan ke lorong tergesa menuju ruang keluarga.
Bersamaan dengan itu, Alisha juga sudah turun dari lantai dua.
"Bram!" panggilnya nada cemas.
"Iya, Ma." jawab Bram menurunkan Kiara duduk di sofa.
Alisha menahan Bram saat ia ingin ke ruang tengah.
"Jangan khawatir Ma, Bram pakai baju pengaman anti senjata tajam." ujar Bram memeluk Alisha menenangkan Mamanya itu lalu ia pun bergegas ke ruang tengah utama.
"Kiara." panggil Alisha suara gelisah mengulurkan tangan nya pada menantunya.
"Iya Ma." Kiara menggenggam jemari ibu mertuanya itu.
*
Di halaman Utama, Yudi baru turun dari mobil menggandeng tangan Laras masuk ke ruang tengah Utama. Melihat Bram, Yudi menunduk hormat.
"Yudi, kalian tidak terluka kan?"
Bram menatap Yudi, lalu menoleh ke badan mobil ada penyok membentuk lubang tetapi tidak sampai tembus.
"Tidak Bos." jawab Yudi.
"Laras, masuklah ke dalam." ujar Yudi pada Laras yang masih ketakutan.
**
Di kediamannya, Tuan Suga sedang berbicara dengan Bryen.
__ADS_1
"Bryen, bukankah wanita yang bersamamu bertunangan dengan tuan muda dari Group WJ?" tanya Suga pada Bryen.
"Hm, ada apa kamu bertanya Suga?" Bryen balas nanya.
"Apa kamu mengetahui asisten si Wijaya itu?" tanya Suga lagi.
"Aku bertemu kalau gak salah hanya dua kali. Sejak tukar kepemimpinan, asisten yang baru jarang terekspos ke publik. Aaa, namanya seperti nama kecilmu, Suga ." jawab Bryen.
"Apa kamu ingat dengan wajah lamaku Bryen, sebelum kecelakaan 15 tahun yang lalu?" tanya Suga lagi.
Bryen mengerut dahi. "Saat SMP kita masih sangat muda, Yudi." jawab Bryen menyebut nama lama teman masa kecilnya itu.
"Waktu aku menemukan mu, wajahmu hancur tidak bisa dikenali jadi aku tidak ingat wajahmu saat itu."
"Bryen, wajahmu saja tidak banyak berubah sampai sekarang bagaimana kamu bisa lupa wajah asliku." gerutu Suga menghisap cerutunya. Hembusan asapnya membentuk bola-bola.
"Mungkin karena aku terbiasa dengan wajahmu yang sekarang."
Maaf, dalam hati Bryen. Ia memang rada susah mengenali seseorang dan sangat mudah melupakan orang.
Dan itu perlu mengingat profesinya sebagai pembunuh. Kalau tidak segera melupakan wajah orang yang dibunuhnya, bisa-bisa ia dihantui rasa bersalah pada korban-korbannya.
Hm, Suga menarik napas berat.
Apa aku perlu menunjukkan gambar wajah Wahyudi pada Bryen. Lalu siapa yang memberi nama lamaku pada Wahyudi, dalam hati Suga.
"Bryen, apa kamu masih ingat wajah si asisten Wijaya itu?" tanya Suga lagi.
Hm, Bryen mengangguk. "Sepertinya begitu." jawab Bryen.
"Apa kamu bermasalah dengannya, Suga?" tanya Bryen.
Tok tok tok.
Bersamaan dengan itu ada yang mengetuk pintu ruangan Suga. "Masuk." jawab Suga.
"Tuan, ada dua orang dari kepolisian menunggu di halaman depan." lapor anak buah Suga.
Bryen mengerut dahi menatap Suga. Suga merasa gak enak hati di tatap Bryen.
"Tenang Bryen, aku juga penasaran apa gerangan yang membuat polisi itu berani menginjakkan kaki di rumahku." ujar Suga, menoleh ke anak buahnya
"Bawa Tuan ini ke ruang rahasia lewat jalan belakang!"
Titah Suga.
"Bryen ikutlah dengan nya kau akan aman." lanjut Suga lalu ia keluar dari ruangan nya.
Sesampai di ruang tamu Suga memerintahkan anak buahnya membawa polisi untuk menemuinya.
"Mau apa mereka!" geram Suga mengepal tangannya.
*******
__ADS_1
Hi, readers yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Dukung Like, vote, dan hadiah yang banyak, semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi pada episode berikutnya. 🙏