
Masih di ruang kerja.
Alisha memandang putranya itu, merasa telah salah mendidiknya. Dengan mudahnya melakukan hubungan badan sebelum menikah bahkan merasa bangga dengan alasan akan bertanggung jawab. Hah!
"Jika semalam Mama tidak menghalang-halangi, pasti Bram sudah menikah dengan Kiara." lanjut Bram lagi melihat Mamanya hanya diam.
Alisha menarik napas dalam sebelum menjawab. "Bram, masalah Evita kita taunya baru semalam. Siapa tau dia juga bertemu lelaki seperti kamu, terperangkap dalam napsu yang berkedok cinta sampai harus memberikan kesuciannya pada lelaki brengsek seperti kalian." ujar Alisha dengan emosinya.
Bram diam membuang muka wajahnya ketat menahan marah.
"Dengan bangga kamu mengakui telah meniduri Kiara, bagaimana kalau kamu tidak berjodoh dengannya. Apa kata suami masa depannya jika mengetahui
Kiara sudah tidak suci lagi. Pasti dicap jelek seperti anggapan kamu pada Evita sekarang. Apakah menurutmu Kiara itu perempuan gak benar, tentu tidak kan! Begitu juga dengan Evita, bapaknya mafia Bram, siapa berani main-main dengannya namanya cari mati." lanjut Alisha berapi-api.
Wajahnya menengadah keatas, mengerjab-erjabkan matanya, berusaha menahan air yang menggenan agar tidak turun.
"Mbak, jangan begitu pada Bram. Kalau mbak khawatir masalah kontrak, itu bukan lagi karena Sibolon Company.
Itu hasil upaya Bram sendiri gak akan berpengaruh walaupun pernikahan batal.Jika setelah itu Evita menarik sahamnya biarkan saja." jelas Arjit.
"Tidak semudah itu Arjit sebaiknya aku jujur, kemungkinan Kiara ada bersama Raharja. Kalau tiba-tiba Bram membatalkan pernikahan, bisa-bisa keselamatan Kiara yang jadi taruhannya." ujar Alisha sedih.
Karena kecerobohan ku, gadis kecil yang malang itu yang jadi korban. Entah bagaimana nasibnya sekarang, ah. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat, dalam hati Alisha.
Mendengar ucapan mamanya, Bram semakin terpuruk dan semakin membenci mamanya. Dadanya sesak, tangannya mengepal sampai kuku-kukunya menusuk kulit tangannya.
"Bagaimana Bram?" tanya Arjit pada Bram yang merasa kasihan pada keponakannya itu. Semalam dengan terisak Bram memohon bantuannya, sampai di sini ia malah tidak bisa berbuat apa-apa.
Bram diam seribu bahasa, kelopak matanya memerah, wajah putihnya juga merah. Hidungnya juga memerah, bibirnya juga memerah. Entah marah, entah mau nangis gak taulah.
Memandang itu Yudi gak tega kemudian maju bicara. "Saya akan menyelidiki dulu Manager Arjit bagaimana keadaan Kiara sebenarnya, masih ada tiga hari untuk memutuskan." ujar Yudi.
"Begitu ya?" desis Arjit merasa tak berdaya.
"Nyonya sudah waktunya Tuan muda pergi ke kantor." ujar Yudi.
Pasti bos kecilnya sudah ngap dan gak tahan jika lebih lama lagi berada di ruangan ini, dalam hati Yudi.
Sesaat Alisha mengangguk seketika Yudi berdiri. Menunduk hormat pada Arjit dan Alisha melirik kepada Bram mengajak bos kecilnya itu keluar dari ruangan.
Bram berdiri dari duduknya, sebelum melangkah ia bersuara, "Kalau terjadi apa-apa pada Kiara, jangan anggap lagi Bram anak Mama." tegas Bram pelan tanpa menoleh pada Mamanya.
Alisha tersentak. "Bram! Kamu yakin sudah benar, sampai hati kamu bicara begitu pada mamamu!" sergah Alisha.
Walau Bram berbicara pelan tapi sangat menusuk ke jantung Alisha, hatinya sangat sakit.
"Jangan bicara pada Bram sebelum Kiara ditemukan." tegas Bram lagi.
Kemudian Bram melangkah ke pintu keluar dari ruang kerja, disusul Yudi yang langsung menutup pintunya meninggalkan Arjit dan Alisha.
Di dalam ruang kerja Alisha menangis sejadi-jadinya, hatinya sedih tak tertahankan.
Melihat ruang kerja yang masih berantakan belum sempat dibereskan.
Sepertinya semalam sudah terjadi perang, dalam hati Arjit.
Arjit memeluk Alisha merasa miris dengan hubungan ibu dan anak itu, tidak tau mau bela siapa.
******
Di dalam mobil Bram diam di bangku belakang, pikirannya tidak tenang membayangkan nasib Kiara di tangan Raharja.
__ADS_1
"Bos, pagi meeting pertama dengan Manager Bagian." ujar Yudi memberi tahu jadwal bos kecilnya.
"Hm." gumam Bram tidak tertarik.
"Setelah makan siang meeting Dewan Direksi." lanjut Yudi lagi.
"Bagaimana membatalkan nikah dengan Evita Yudi? berikan idemu."
Hm. "Sebelum kita tau keberadaan Nona jangan gegabah Bos, tunggu nanti kalau sudah jumpa Raharja." jawab Yudi.
Bram menarik napas dalam, mengeluarkan ponselnya. Evita sudah menjawab pesannya, bersedia makan siang hari ini dengannya. Yudi meminta Bram melakukannya agar bisa memindai otak Evita, mencari tahu apa rencana Raharja.
Sesampai di kantor Yudi mengawal Bram masuk melalui pintu utama, arang-jarang Bram menampakkan wajahnya pada jam kerja di gedung Wijaya.
Semua Karyawan wanita terpesona memandang wajah Bram. Dari ujung rambut sampai ujung kakinya semua sempurna. Para karyawan pria merasa cemburu kenapa wajah mereka tidak setampan Bramasta.
"Mungkinkan itu Tuan muda Bram?" sesama mereka yang belum melihat Bram bertanya-tanya.
"Tentu saja, lihat itu si Yudi asistennya." jawab yang lainnya.
"Wah, tampannya."
"Dengar-dengar dia akan menikah."
"Kau benar, tunangannya Nona Evita Sibolon Company."
"Yah, mereka masih muda sudah mau menikah, mungkinkah Evita hamil duluan, ups." serta merta menutup mulutnya, semua penggosip melirik padanya.
"Kalian mau dipecat!" bentak Kepala HRD tiba-tiba muncul dari belakang para penggosip. Wajah para penggosip semua pucat segera bubar barisan.
Di ruangan kantor Dirut, Bram langsung berbaring di sofa memandangi wajah Kiara yang lagi menyedot es krim warna-warni di layar ponselnya.
"Hm." ...
******
Setelah sarapan Beno keluar, katanya mau ke kantor Manager Hendra.
Kiara dan ibunya Dwi di ruang tengah.
"Kiara, bagaimana hubungan kamu dengan nak Bram? Semalam dia minta restu ibu mau menikahi mu?" tanya Dwi pada Kiara
Kiara menatap Ibunya, benarkah, dalam hati Kiara.
"Tapi Alisha menentangnya, mereka bertengkar hebat. Sepertinya nak Bram sangat mencintai kamu, Ra. Bahkan Nak Bram mau membatalkan pernikahannya dengan Evita. Alisha jadi murka menghukum nak Bram tidak boleh keluar rumah." jelas Dwi lagi.
"Jadi Ara harus bagaimana Bu?" tanya Kiara.
"Nak Bram baik ibu gak masalah Ra, tapi kalau Bram mau nikahin kamu sebaiknya tunggu Bram dapat restu dari Alisha, ngerti Kiara."
Ck nunggu sampai kapan, mana haidku bulan ini belum keluar keburu aku hamil duluan, dalam hati Kiara.
"Sekarang ibu di sini, siapa yang ngurus kateringan empat puluh hari Ayah dan Tuan besar?" tanya Kiara.
"Sudah beres semua barang-barangnya, nanti anak buah ibu tinggal masak saja."
Mengingat Bram Kiara jadi rindu pada kemesuman kekasihnya itu.
"Bu, Kiara ke toilet bentar ya, Ibu mau istirahat baring aja di kamar ?" ujar Kiara.
"Ibu gak betah di sini Ra, mau pulang ke rumah sebentar." ujar Dwi. Ia merasa gelisah meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
"Jangan sekarang Bu, tunggulah Bram dan Evita menikah." pinta Kiara khawatir takut ibunya ikut jadi korban penculikan seperti dirinya.
Benar juga, dalam hati Dwi.
"Ya sudah katanya mau ke toilet, ibu akan membantu Lucita." ujar Dwi.
Di toilet Kiara menimbang-nimbang,
telpon enggak, telpon enggak.
Kiara suka dengan angka-angka sehingga dengan mudah dia menghapal nomor Bramnya. Nomornya cantik jadi gampang mengingatnya lalu mengetik di layar ponselnya, 0123 4567 8910.
Baiklah, Kiara membuat pangilan.
****
Di kantor Gedung WJ.
Bram lagi termenung di ruang meeting. Melihat ponselnya berkedip kemudian ada panggilan masuk nomor pribadi. Bram ada dua sim card, nomornya yang ini tidak ada yang tau selain Kiara.
Bram terperanjat, matanya membulat. Dengan cepat berlari keluar dari ruangan. Semua yang ikut meeting saling berpandangan. Manager yang lagi presentasi keringat dingin, apa ada yang salah dengan uraiannya.
Kemudian Yudi maju bicara, "rapat di tunda", ujarnya bergegas menyusul bos kecilnya.
Bram berlari masuk ke ruangannya, menutup pintunya. Mengangkat panggilan tangannya getar-getar.
"Hallo." jawab Bram hati-hati menahan debaran di hatinya.
"Hallo, Ka Bram." suara kecil yang sangat dikenalnya terdengar di ujung panggilan. Bram berkaca-kaca.
"I-ya sayang ini aku Bram." jawabnya terbata-bata.
"Ka Bram sehat?" tanya Kiara.
Oh, aku sudah sangat khawatir dia tanya itu.
Dalam hati Bram mengusap air mengalir di wajahnya. "Sayang katakan kamu di mana? Aku akan datang padamu, I miss you so much baby!" ujar Bram terisak ingusnya keluar.
"Ka Bram jangan buat tante marah ya, menurutlah padanya, menikahlah dengan Evita." ujar Kiara.
Seketika Bram naik marah.
"Itu aku yang urus! Katakan kamu di mana!?" bentaknya. Kemudian menyesal jangan-jangan Kiaranya jadi takut dan semakin menjauhinya.
"Hallo, Kiara sayang katakan kamu di mana aku akan menjemput kamu sekarang juga sayang." ujar Bram lagi dengan lembut.
"Aku di Kota kembang, ibu sudah tanda tangan kontrak. Sekarang aku lagi kerja sudah ya Ka, bye."
"Say..ang." Terdengar suara panggilan di putus, Bram belum selesai bicara.
Yudi sudah di ruangan menunggu Bram yang sedang bertelepon. Bram menoleh pada Yudi.
"Yudi, itu tadi Kiara. Katanya dia di kota kembang." suara Bram sendu, matanya basah.
Yudi mengambil ponsel Bram, melihat nomornya. Panggilan pribadi.
"Hm, sebentar bos saya akan coba lacak nomornya."
****tbc
Hi readers , makasih ya atas dukungan nya. Ikutin terus Kiara dan Bram. 🙏 Klik ♥️ biar terus terupdate ya guys.
__ADS_1