Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
181


__ADS_3

Di rumah tamu 2.


Laras makan di samping Yudi, mereka duduk di bawah beralas karpet di depan TV diam seribu bahasa masing-masing menikmati makanan nya.


"Bang, enak gak kalkun penyetnya?" tanya Laras pada Yudi yang dari tadi diam saja.


Ada apa,


Dalam hati Laras juga heran melihat wajah Yudi yang sendu.


"Ehm." Yudi mengangguk sekedarnya.


"Biasanya lebih pedas dari ini, tapi karena Tuan muda marah kalau kita masak terlalu pedas makanya dikurangin deh cabe nya." celoteh Laras mengajak bicara Yudi.


"Ehm." jawab Yudi lagi hanya mendehem.


"Abang lagi bete sama siapa, kok manyun?" tanya Laras melihat Yudi gak mood diajak bicara.


Ya, sama kamu lah siapa lagi.


Dalam hati Yudi mengangkat gelasnya minum air putih lalu masuk kamar.


Laras terbengong dengan sikap Yudi tapi ia cukup maklum karena Yudi hilang ingatan.


Anggap aja abege labil, kan emang dia merasa masih umur 20-an. Cis, ternyata si Yudi mudanya begini masih mending Zainal gak ambekan.


Dalam hati Laras cuek juga kembali fokus makan, sekalian dia ngabisin sisa Yudi.


~


Di kamar, Yudi mengambil peralatan kantor WJ untuk dipelajari.


Bram telah menyerahkan semua gadget yang biasa dipergunakan Yudi untuk bekerja mulai dari ponsel, sesuai yang disebut Laras memang canggih.


Yudi sangat takjub dengan benda pipih pintar itu, dengan cepat juga ia sudah mahir menggunakan nya. Yudi sangat senang, sampai ia lupa kekesalannya pada Laras. Ada juga tablet, dan laptop MacBook.


Sekarang semua tugas kantor tidak pakai kertas, mau nulis atau tanda tangan ada stylus pen magnetik.


Dalam hati Yudi sangat excited.


Karena ia tidak punya ingatan apa-apa lagi, Yudi harus belajar dari awal sedikit demi sedikit mengisi memory nya yang kosong.


Herannya Yudi pada dirinya, bisa cepat sekali menghapal semua tugas yang diberitahu Bram, email masuk yang lama maupun yang baru langsung nempel di otaknya.


Menggunakan MacBook juga ia cepat belajar, ngetik dengan cepat dan tidak ada kata malas atau capek. Jari-jarinya sangat lincah menari-nari di atas papan keyboard membalas setiap email yang masuk tanpa susah-susah berpikir semua ngalir begitu saja di otaknya.


Setiap ada soal yang keluar seketika itu muncul kunci jawabannya.


Siapa kah aku ini, kenapa ada alat canggih yang ditanam di kepalaku dan siapa yang melakukan nya.


Dalam hati Yudi bertanya-tanya seketika ia larut dalam pekerjaannya.


~

__ADS_1


Sementara Laras sudah selesai makan, setelah membereskan peralatan makannya ia ngintip mau melihat Yudi di kamar lagi ngapain.


Hm, yang ini seperti Yudi banget.


Dalam hati Laras teringat Yudi sebelum hilang ingatan kalau sudah bekerja pasti serius.


Laras masuk kamar mau ngambil ponselnya yang lagi di charge. "Ehm." sengaja ia berdehem namun Yudi sedikitpun tidak menoleh atau mengangkat wajah padahal ia duduk nyandar di headboard kasur.


Akhirnya Laras keluar lagi, baring di sofa browsing-browsing di ponselnya. Mau nonton TV acara bahasa inggris semua, Laras malas gak ada teks terjemahannya.


Gak lama masuk pesan dari Icha. "Ras, mau kan kita keluar cari angin, gue minta mobil sama Daniel kita jalan-jalan." tulis Icha di pesannya.


Yes akhirnya, Laras bersorak riang. "Oke, ntar gue siap."


Jawab Laras lega, tadi sudah bete juga masa ke Amrik dikamar mulu gak jalan, gak asik banget.


"Kiara diajak kan?" tanya Laras lagi.


"Mana mungkin sepupu gue yang mesum itu memberi ijin istrinya si pendek itu keluar, jangan khawatir gue dah sering ke Amrik, LA, NYC, Washington DC juga gue pernah." jelas Icha.


Cis, "Ya udah." jawab Laras masuk ke kamar menuju kamar mandi mau bersiap keluar dengan Icha.


*


Bram di sofa duduk bersama Kiara. Bram membaca di tablet mengulang pelajaran sementara Kiara bersandar di pelukan suaminya itu ada maksudnya.


"Sayang, masa kita di kamar doang, kan Amrik jalan dong."


"Sayang aku harus belajar, senin mau ujian."


Bram alasan menolak padahal ia karena malas keluar, malam minggu pusat hiburan pasti ramai. Banyak mobil turun ke jalan, keluarga, muda-mudi keluar mau hang out.


Apalagi, Amrik semua Bram sudah jalani, sedari SMP dia di sini. Tidak ada yang menarik hatinya kecuali kelon-kelonan dengan Kiara,.


Hehe pembibitan, biar cepat tumbuh jabang bayi.


"Sayang, kapan terakhir kamu datang bulan?" tanya Bram.


"Minggu depan." jawab Kiara.


"Ha!" jadi kalau minggu depan kamu haid..." tanya Bram menggantung ucapan nya.


"Kenapa kalau minggu depan haid?" tanya Kiara.


Hais, gak bisa dianggap remeh, harus tiap malam kerja keras membuat Kiara hamil kalau gak mau gundul kayak si Yudi.


Dalam hati Bram mencari akal bagaimana caranya agar Kiara mau diajak buat dedek bayi.


"Sayang, aku mau sering-sering setor benih biar minggu depan kamu gak datang bulan." suara Bram sendu.


Hm, "Alesan, kita jalan dululah. Otak juga harus fresh biar fokus dan ada gairah."


Kiara menjauh dari suaminya, mendengus kesal, huh.

__ADS_1


Ck, "Baiklah sayang, untuk kamu apa aja." jawab Bram, akhirnya ngalah meraih ponselnya memanggil Yudi.


*


Yudi lagi serius di depan MacBook nya, tiba-tiba dikejutkan dengan pesan teks dari si Bos meminta nya datang ke rumah tamu 1.


Hm, "Baiklah bos."


Jawab Yudi di pesannya seketika turun dari kasur membaca Laras lagi di kamar mandi buang air besar.


Hm, kapan dia lewat kok aku gak lihat,


Dalam hati Yudi mengirim pesan teks di ponsel Laras memberitahu bahwa ia pergi mau jumpa Bram di rumah tamu 1.


~


Laras keluar dari kamar mandi melihat di kasur tidak ada Yudi.


Kemana dia.


Dalam hati Laras mengambil gaunnya yang pernah dibeli bersama Icha lalu berdandan seadanya. Ia pernah ingat memakai gaun ini satu kali namun Yudi menyuruh nya buka.


Cis, apa setelah amnesia si Yudi masih ngelarang kalau lihat aku pakai gaun ini.


Setelah puas dengan hasil riasannya, Laras meraih ponselnya ingin melihat apa ada pesan dari Icha.


Laras mengerut dahi melihat ternyata ada juga pesan dari Yudi lalu ia keluar dari kamar di depan pintu Icha telah menunggu nya.


"Icha, keren amat gue jadi minder jalan sama lo."


Seru Laras terpukau melihat Icha make up lagi cantik banget kayak artis india.


"Ayo naik, kita jalan mumpung sore cuaca adem. Beruntung kita datang pas musim semi jadi gak perlu baju tebal." lanjut Icha.


Laras membuka pintu masuk ke mobil. "Kita mau ke mana?" tanya nya.


"Kita shoping dulu cari baju seksi setelah itu ke club." jawab Icha.


"Etdah, takut." suara Laras nada resah.


"Tenang saja, kita ke club nya Beno. Gue udah minta nomornya dari Kiara kalau ada apa-apa kita telpon saja." jelas Icha.


"Astaga! Daniel gak ngelarang lo ke club, Cha?" tanya Laras.


"Kan dia gak tau! Daniel akan di rumah sakit sampai senin sore, asik kan!"


Icha melajukan mobilnya keluar mansion, gak lama sebuah mobil juga keluar mengikuti mereka menjaga jarak aman.


****


Hi, pembaca setia ikutin terus Tuan muda romantis ya. Jangan lupa tekan jempolnya vote dan hadiah juga.


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏

__ADS_1


__ADS_2