Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
155


__ADS_3

Yudi bergegas naik ke Apart Bram, dengan membawa beberapa menu pesanan toge goreng si bosnya.


Laras dan Sora ia tinggal di bawah, lagi makan juga di ruangan sekuriti sambil menunggu Kiara turun dari Apart.


"Bos, ini toge goreng bermacam resep rasa ada." ujar Yudi dengan dada berdebar menunjuk box makanan ada 5 porsi.


Bram duduk di sofa ruang santai Apartnya, lagi menguyel-uyel Kiara tersenyum sinis pada Yudi.


"Yudi, jangan karena taruhan itu kamu jadi tidak disiplin." tegur Bram suara tegas.


"Maaf, Bos. Tadi nunggu ketupatnya yang lama." jawab Yudi alasan.


"Kenapa, apa mereka tidak mempunyai menu yang berbahan dasar ketupat?"


"Ada bos, hanya week end. Semalam minggu habis total jadi mereka perlu memasak lagi."


Jawab Yudi, tadi dia juga sudah naik tensi menunggu sampai masuk ke dapur karena tidak percaya.


Cih, "Baiklah, karena kasurnya mantap, aku maafkan kamu. Bagaimana dengan bunga, berapa si Danu menetapkan harga?" tanya Bram teringat bunga.


Gleg, si bos tau aja itu dari kebun bunga Nyonya.


"Tidak apa-apa Bos, anggap saja itu hadiah pernikahan dari saya ditambah lagi rasa terima kasih kerena bos sudah memberi saya saham." jawab Yudi


Cis, "Apa masih sempat makan, Yudi?" tanya Bram.


"Masih Bos, sebaiknya bos makan. Nanti meeting, biar tidak kelaparan." jawab Yudi segera mengatur makanan di meja makan.


"Ayo sayang, kalau toge gorengnya tidak enak kamu pecat kokinya."


Nada Bram ketus pada Yudi, meraih jemari Kiara membawa nya jalan ke ruang makan lalu menarik satu kursi untuk Kiara duduk.


Kiara yang dari tadi tidak ada kesempatan buka suara, kenapa ia tidak melihat Laras pun akhirnya bertanya, "Yudi, mana Laras?"


Waduh!


Yudi serba salah mau menjawab seperti makan buah simalakama. Jelas-jelas si Bos tidak suka kehadiran orang lain di Apartnya, bagaimana ia yang cuma bawahan berani melanggar peraturan itu, walaupun Laras itu istrinya.


"Ada di bawah Nyonya, di ruang sekuriti." jawab Yudi.


Ruang sekuriti, teman macam apa aku? Selangkah lagi rumah suamiku, temanku harus menunggu di ruang sekuriti karena alasan privasi tidak diperbolehkan masuk..terlalu.


Dalam hati Kiara kecewa pada suami dan juga si asisten yang prinsiple, gak jelas.


"Bram, kamu makan bersama Yudi, aku akan ke bawah."


Ujar Kiara berjalan cepat ke lift setelah menyambar tas kecilnya di meja kecil sofa lalu menekan tombol lantai sekuriti.


Ah, Bram mendesah mengejar Kiara menahan lift yang sudah terbuka. "Sayang, aku mau kamu yang menemaniku makan!"


Tegas Bram menatap Kiara sayu memohon, namun Kiara bergeming tidak perduli.


"Bram, Laras itu temanku. Tidak apa-apa kalau ia tidak diperbolehkan naik tapi biarkan aku yang turun menemui teman ku itu, minggir!"


Kiara suara tegas juga sambil menepis tangan Bram yang bertengger di pintu lift lalu masuk menutup pintu segera meluncur kebawah.


Hah!


Bram menahan geram, istrinya lebih memilih temannya daripada ia suaminya.


Yudi terdiam, walaupun Laras istrinya dia tidak merasa tersinggung toh Laras tidak marah dan sangat pengertian. Sudah maklum resiko menikah dengan nya harus banyak-banyak berlapang dada.


Laras juga sudah paham dengan sikap Tuan muda yang kadang-kadang kekanak-kanakan, yang membuat semakin bertambahnya rasa sayang Yudi pada Laras.


"Yudi, aku tidak jadi makan." ujar Bram menekan tombol lift turun, sepertinya Kiara sudah ada di lantai bawah.


"Sebaiknya makan dulu Bos, di bawah ada satuan pengaman dan juga sekuriti Nyonya muda pasti aman." jelas Yudi.


"Tapi aku sudah tidak selera lagi." Bram suara ketus.

__ADS_1


Hais, kenapa itupun jadi masalah!Sepertinya dimasa tua justru hidupku makin tidak bisa tenang, harus ngurusin remaja labil dan anak- anak terlantar, hah!


"Baiklah Bos, kita ke kantor sekarang."


Jawab Yudi lemas, membawa lagi kotak-kotak makanan masuk ke lift mengikuti si Bosnya yang merajuk tidak jadi makan.


*


Di ruangan sekuriti.


Laras sedang makan sambil menyuapi Sora, melihat Kiara keluar dari lift sendirian, ia mengerut dahi menatap heran.


Sora yang melihat berteriak riang. "Kiara!" panggil nya bertepuk tangan hore, tau bahwa Kiara yang akan membawa mereka jalan-jalan jadi dia harus bersikap manis.


"Hm, makan apa?" tanya Kiara, sememangnya ia juga Lapar.


"Lontong sayur padang, itu ada satu lagi kalau lo mau." unjuk Laras pada kotak makanan di atas meja.


Melihat Kiara masuk, sekuriti serba salah namun begitu ia memberikan kursi terbaik yang ada di ruangannya.


"Terima kasih Pak" ucap Kiara duduk di samping Laras segera membuka Kotak lontong sayur padang, terlihat menyelerakan.


"Lo, udah makan Ras?" tanya Kiara meraih sendok basa-basi segan mau makan kepunyaan Laras.


"Lo makan aja Ra, ini gue kongsi sama Sora dia gak makan banyak karena kuat minum Susu sudah kenyang." jawab Laras mempersilahkan Kiara.


"Sora, lo jangan ngerepotin Laras, ngerti!"


"Iya, gue ngerti Kiara. Lo gak usah khawatir." jawab Sora cepat.


Cis, Laras lo panggil Mama, gue lo panggil nama. Apa pangkat lo, gue lo gue lo ke gue. Lo gak tau kalau gue Nyonya muda." Kiara mengomeli Sora, sambil menyuapi mulutnya.


"Pangkat kita sama Kiara, sama-sama anak pungut Ibu Dwi. Lo kakak gue, gue adik lo." jawaban Sora dengan lancarnya, membuat sekuriti dan satuan pengaman senyum-senyum dikulum begitu juga Laras geli melihat Kiara dapat lawan yang seimbang.


"Hah, serah lo deh! Gue makan jangan ganggu!" Kiara suara ketus.


"Yoi, Tuan muda!" panggil Sora, tiba-tiba Bram sudah berdiri di samping Kiara memandangi istrinya itu makan.


Jantung Kiara berdebar menunggu apa yang akan dilakukan Bram padanya, pura-pura konsen pada makanannya namun begitu ia susah mau menelan, ahk! Kiara menepuk-nepuk dadanya.


Melihat itu, "neh minum." Sora memberi Kiara botol air minumnya, menatap heran pada Kiara dan Bram bergantian, ada apa kok tegang kalee.


Sekuriti keringatan tiba-tiba cuaca terasa panas di atas derajat kompor, jangan meleduk aja udah. Apalagi sudah tidak ada bangku yang bisa diberikan nya pada Tuan Muda, hah!


Akhirnya Laras memilih keluar membawa Sora menyingkir dari ruangan, meninggalkan Bram dan Kiara berdua dalam suasana mencekam.


Duduk di tembok taman dekat Yudi yang juga lagi mengawasi Tuan dan Nyonya muda yang sedang perang dingin.


Melihat Bram menatapnya sinis Kiara jadi gerah, ia yakin suaminya ini belum jadi makan, akhirnya Kiara mendongak menatap Bram. "Sayang, mau aku suap aaa."


Ujar nya berdiri menyodorkan sendoknya pada Bram, gantian Bram yang duduk membawa istrinya itu ke pangkuannya.


Astaga malunya dilihat banyak orang,


Dalam hati Kiara jengah namun mau gimana lagi, mencoba menyodorkan lagi sendoknya menyuapi Bram. Namun Bram mengatup mulutnya rapat menatap Kiara tajam, serasa ingin menerkam.


Semakin gerah ditatap Bram, kadung momen nya pas Kiara mengalung lengan di leher suaminya mendekatkan wajah mereka, cup lalu mengecup bibirnya ringan.


Semua makhluk bernyawa yang melihat buang muka kecuali Sora, segera Laras menutup mata nya yang melotot, replek Sora menarik lagi tangan Laras dari wajahnya pengen liat yutub channel favoritnya secara live.


"Aaaa," Kiara menyodorkan lagi sendoknya.


Di kecup Kiara barulah Bram mau membuka mulutnya menerima suapan Kiara, begitu seterusnya. Bram baru akan membuka mulutnya hanya bila Kiara mengecup bibirnya, astaga.


Kiara menyuapi Bram makan dan dirinya bergantian, sampai lontong sayurnya habis tak berbekas


Melihat itu Yudi menawarkan lagi, toge goreng meletakan nya di meja sekuriti siapa tau Tuan muda masih mau nambah jadi selera setelah disuapi Nyonya muda.


"Mau lagi?" tanya Kiara.

__ADS_1


"Hm." Bram mengangguk tersenyum imut seperti bayi kolot, minta ditabok.


*


Yudi memacu mobilnya ke gedung perkantoran group WJ, tak jauh dari Apart hanya 5 menit perjalanan mobil.


Dua puluh menit telah terlewati waktu untuk meeting, tapi setidak nya mood si bosnya dalam keadaan baik.


Nyonya muda lumayan juga, bisa cepat tanggap memperbaiki suasana hati si Bos, dasar memang cinta dalam hati mereka kuat sih, semoga Laras juga demikian padaku.


Dalam hati Yudi melirik Bram, melihat wajahnya lumayan lah walau tidak seratus persen ceria.


Itu karena Bram masih kepikiran Nyonya muda, ia sebenarnya gak rela Kiara pergi ke daerah mountain villa dengan alasan mau daftar kursus tata boga padahal mau jumpa ibunya.


"Yudi, nanti malam aku dan Kiara masih akan tidur di Apart, tiap hari siapkan aku menu makanan terbuat dari toge segar. Yang tadi lumayan enak, nanti makan siang begitu lagi." jelas Bram menyadari Yudi melirik nya dari spion.


"Siap Bos."


Jawab Yudi membawa mobil masuk parkiran VIP lalu mengawal bosnya menuju ruang meeting, semua yang hadir berdiri menyambut kedatangan Presdir utama WJ group yang tampan.


Di ruang meeting Arjit duduk di samping Olivia, ada juga beberapa manager serta direktur bagian lainnya yang berhubungan dengan perencanaan proyek tahap 2, termasuk Bram dan Yudi semua berjumlah sepuluh orang.


Sementara Arjit presentasi sebagai Manager perencanaan, Yudi melirik Olivia yang cuek sibuk dengan gadjet di tangannya sambil mengingat-ingat lagi kapan terakhir ia bertemu Olivia yaitu, kalau tidak salah saat itu ulang tahunnya yang ke dua puluh.


Seingat Yudi ketika itu tidak ada angin tidak ada hujan Olivia meminta putus dengan nya karena ia akan ke Amrik meneruskan studinya, tentu saja Yudi tidak terima.


"Ya udah kalau gak mau putus, kita buat tanda ikatan cinta." ujar Olivia saat itu menunjukkan satu bungkus pengaman pada Yudi, Yudi mendelik melihat benda yang dipegang Olivia.


"Apa kamu sudah gila!" sergah Yudi saat itu namun Olivia ngotot memberi nya hanya antara dua pilihan, putus atau membuat tanda cinta.


Dalam keadaan marah Yudi meninggalkan Apartemen Olivia, tiba-tiba ada yang menghadang nya. Mereka adalah deb kolektor kawanan preman yang mencari ayahnya karena kabur membawa uang bos mereka, sehingga Yudi yang jadi sasaran kemarahan mereka.


Wahyudi sempat melawan, namun melihat lawannya main keroyokan Wahyudi melarikan diri, namun ia tertangkap akhirnya kalah babak belur dihajar pakai balok kayu bagian wajahnya terjerembab mengenai pembatas tong sampah di sisi sebuah hotel kumuh.


Dalam keadaan setengah sadar ia melihat ada orang yang membantu nya menghajar kawanan preman setelah itu ia tidak sadarkan diri, pingsan.


Bangun-bangun Yudi sudah berada di ruangan isolasi dalam keadaan tidak bisa melihat. Kurang lebih dua tahun ia mengalami depresi sampai akhirnya ia bisa menerima kenyataan.


Suatu hari Burhan datang membawa kabar gembira bahwa tidak lama lagi ia akan segera bisa melihat, semua biaya akan ditanggung oleh bosnya yang bernama Tuan Pramudya.


Setelah Yudi mendapatkan kembali penglihatannya, Burhan mempekerjakan nya di balik layar mulai dengan tugas-tugas ringan. Karena berbakat selanjutnya Yudi dilatih menjadi seperti Burhan dipersiapkan untuk menjadi asisten Tuan muda Bram berikutnya.


Setelah 10 tahun ia mulai diperkenalkan ke dalam perusahaan dengan nama lain, yaitu Yudian. Waktu Yudi protes, Burhan mengatakan hanya kartu nama ini yang ada di kantong celananya saat Burhan menemukan nya, bagaimana ceritanya?


Yudi pun tidak mempermasalahkan lagi, yang penting ia punya identitas. Yudi kembali ke rumah orang tuanya setelah sepuluh tahun namun rumah itu kosong dengan tulisan Dijual. Akhirnya Yudi menebus kembali rumah orang tuanya.


Yudi tersadar dari lamunannya setelah lampu ruangan meeting menyala, setelah Arjit duduk, Olivia maju memberikan laporannya.


Yudi membuang mukanya tidak mau melihat lama-lama ke depan layar karena pasti akan terlihat wajah Olivia.


Yudi melirik bosnya, kelihatan wajahnya bete pasti pikirannya pada Nyonya muda.


Kapan dia tertarik dengan urusan kantor, hais!


Benar saja, belum selesai meeting Bram meninggalkan ruangan segera Yudi menyusul bosnya. Karena ada Arjit, Yudi tidak masalah jika tidak ikut meeting, lagian ia juga gerah karena ada Olivia.


"Yudi pesan toge goreng sekarang." titah Bram.


"Tiap hari beri aku menu toge, ingat Yudi." lanjut Bram membaringkan tubuhnya di sofa.


Yudi mengerut dahi membaca pikiran si bos, ternyata dia mau meningkatkan kesuburan, hah! Aku juga mau, dalam hati Yudi ikut-ikutan pesan toge goreng.


Namun saat makan Bram tidak selahap saat disuapi Nyonya muda di pos sekuriti, akhirnya dia cemberut lagi, hais!


"Yudi, ayo kita susul Kiara." titah Bram berdiri.


Gleg, 'kok tiba-tiba, mati saya', dalam hati Yudi.


*****

__ADS_1


Hi, Pembaca yang Budiman ikutin terus Tuan muda romantis. Jangan lupa, tekan tombol like nya, ya.


Jumpa lagi episode selanjutnya.🙏


__ADS_2