
Di ruang dapur utama.
Alisha sibuk mengatur pelayan, Dwi sibuk membantu menyusun makanan di meja makan utama.
Bram memasuki ruang makan, bersama Yudi yang mengikuti nya di belakang.
"Kiara mana, Bram?" tanya Alisha melihat kehadiran putranya itu.
"Masih tidur Mama." jawab Bram duduk di bangku ujung tempat biasa papanya selagi masih ada.
"Kenapa tidak dibangunkan Nak Bram, bibi mau minta diantar Kiara ke Krisant pagi ini, besok ada pesanan jadi siang mau belanja." ujar Dwi.
"Bram, Mama rencana mau daftarkan Sabit sekolah di dekat Krisant. Itu sekolah bagus, Jaguk internasional school. Kiara dan Laras juga lulusan dari sana." jelas Alisha duduk di samping kiri Bram, karena Yudi sudah mengambil duduk di samping kanan Bram.
"Hm." Bram menarik nafas, yang mana mau jawab duluan.
"Yudi, gimana?" tanya Bram pada Yudi akhirnya mengabaikan dua-duanya.
"Maaf jadi merepotkan anda Nyonya." Yudi berdiri lagi, menunduk hormat pada Alisha.
"Sudahlah ayo duduk." titah Alisha, "kamu benar bukan ayah kandung Sabit, Yudi?" lanjut Alisha bertanya pada Yudi.
"Saya tidak ingat pernah menikah Nyonya, dulu memang saya punya teman dekat seorang gadis tapi nama dan wajahnya beda dengan ibunya Sabit yang di gambar itu." jawab Yudi.
"Sudahlah Mama, biarkan kami sarapan." sergah Bram.
"Iya ya." Alisha berdiri dari duduknya.
"Dwi, nanti biar aku yang antar kamu sekalian kamu temani aku ke sekolahan." ujar Alisha pada Dwi lalu keluar dari ruang makan.
Dwi mengangguk. "Terima kasih Mbak." ucap Dwi.
"Pagi Mbak." Arjit muncul di hadapan Alisha.
Di meja makan Bram mengerutkan dahi, dalam hati Bram terkekeh.
Hm matilah si Icha.
"Arjit, kamu mau sarapan ayo duduklah." titah Alisha mempersilahkan Arjit ke meja makan.
"Iya saya memang belum sarapan, tapi saya mau lihat Icha dulu ke atas." pamit Arjit berlalu ingin ke lantai dua.
"Icha tidak ada di sini Arjit." jawab Alisha cepat.
Jawaban Alisha menghentikan langkah Arjit, dahinya mengernyit. "Semalam saya telpon katanya dia di sini, dasar anak itu." gerutu Arjit mengomel sendiri.
"Icha pergi ikut Daniel ke pulau. Nanti siang juga sudah di sini lagi, Paman jangan khawatir." jawab Bram menenangkan pamannya.
"Daniel." desis Alisha, "apa mereka pacaran Bram?" lanjut Alisha curiga bertanya pada Bram.
"Hm." gumam Bram.
Sudah ku duga, oh Tuhan, dalam hati Alisha.
"Arjit, kalau kamu mau buat pesta tolong jangan libatkan aku, aku masih capek yang ini saja belum kelar."
__ADS_1
Tegas Alisha pada Arjit mengingat pergaulan anak sekarang, silap-silap orang tua ikut menanggung dosa.
Alisha menepuk bahu Arjit yang terbengong, lalu pergi ke ruang keluarga.
"Duduklah Paman, ayo kita sarapan." ajak Bram.
Di televisi ruang makan.
Berita tentang kapal ikan karam di perairan tidak jauh dari selat sunda sedang di tayangkan. Kapal dan semua awak tenggelam di serang benda tak dikenal yang menghantam kapal, pukul dua dini hari pagi tadi. Korban selamat tiga orang, kapten dan dua penyelam profesional yang ikut menumpang.
Menurut kapten, data penumpang di tambah awak, semula total berjumlah 27 orang namun waktu kapal sedang berjalan 10 menit, seorang penumpang melompat ke laut membawa teman wanitanya kembali ke darat.
Setelah di konfirmasi oleh polisi, data dan gambaran ciri-ciri yang disebutkan kapten memang benar, mereka adalah dua orang buronan polisi yaitu Bryen dan Evita.
Bram dan Yudi saling menatap, begitu juga Arjit.
"Yudi, perketat pengawalan terhadap istriku." titah Bram.
"Siap Bos." jawab Yudi.
*
Di dapur kamar Yudi, Laras duduk termenung nungguin mesin cuci.
Tadi sehabis sholat subuh, alangkah kagetnya Laras melihat darah mengalir di pahanya, beruntung darah gak keluar saat sedang solat.
Makanya tadi Laras ke dapur utama mau minta pembalut pada pelayan wanita siapa tau ada yang nyetock. Sekalian minta sabun pada pelayan laundry.
Laras mau mencuci sprei yang ternoda, namun cucian semalam saja belum di putar karena Yudi keburu membopong nya ke kasur. Pagi ini mau nyuci ternyata sabun habis.
Laras merasa masa haidnya ini terlalu cepat, baru minggu lalu dia datang bulan masa datang lagi.
Apa karena ditusuk Om Yudi semalam jadi luka dalam.
Dalam hati Laras, ia merasa sedikit kesusahan kalau berjalan, saat buang air kecil juga perih.
Coba nanti aku tanya Kiara, apa dia juga sama seperti ini, dalam hati Laras masih merinding teringat semalam.
Pas ditusuk aja sakit banget, apalagi waktu Om Yudi bergerak-gerak. Tubuhnya seperti di koyak-koyak.
Sebenarnya Laras ingin menjerit, berhubung tengah malam bisa-bisa semua penghuni rumah besar terbangun dan memergoki mereka. Jadilah ia diam saja, mengatup mulutnya rapat-rapat.
Om Yudi ialah enak, aku...apanya yang enak, dalam hati Laras masih trauma.
*
Pagi juga, Di sebuah rumah kosong yang terlantar Bryen sedang merokok, duduk di sampingnya Evita yang lagi sarapan.
"Bryen, kenapa semalam kita turun dari kapal?" tanya Evita menyuap paksa mulutnya makan, walaupun ia tidak berselera.
"Aku berubah pikiran." jawab Bryen menatap ke awang-awang asap mengepul dari mulut dan hidungnya.
"Habis ini kita kemana?"
tanya Evita lagi, mengambil air memaksa makanan masuk ke lambungnya.
__ADS_1
"Sebentar lagi ada yang akan menjemput kita, cepatlah makan kalau ingin balas dendam kamu harus punya tenaga." Bryen mengusap kepala Evita, menatap lembut pada wanita kesayangan nya itu.
"Bryen, aku kangen Mama." rengek Evita.
"Nanti kita cari cara, aku janji sayang. Ayo cepat makan." tegas Bryen.
"Bryen apa kamu sudah tidak berselera lagi padaku?" tanya Evita tertunduk malu.
Bryen mengerutkan dahi. Pertanyaan Evita menggelitik hatinya, tentu saja Bryen tau maksudnya. Biasanya kalau Evita ada masalah atau ada kepikiran sesuatu Bryen selalu ketiban untung karena Evita akan mengajaknya bercumbu.
"Kamu mau?" tanya Bryen menatap sayu, sudah lama juga sejak Evita operasi selaputnya.
"Ehm." Evita mengangguk balas menatap sayu Bryen.
Cup. Bryen mengecup pipi Evita kilas.
"Kita dikejar waktu Evi, lihat malam ini ya. Kita cari tempat yang tenang." Bryen tersenyum lembut, sesungguhnya dia juga kepengen.
Bunyi suara mobil yang halus mengalihkan perhatian mereka. "Silahkan Bos." ucap anak buah Bryen berdiri di depan pintu.
"Ayo Evi." ajak Bryen.
Lalu mereka menaiki mobil Panther jadul, keluaran 20 tahun yang lalu.
*
Di kamar Bram, Kiara bangun dari tidur nyenyak nya. Sambil menggeliat ia melirik jam dinding, 09.30 wib.
Mana Bram, apa sudah pergi kerja.
Dalam hati Kiara merasa kamarnya sangat sepi. Ia bergegas ke kamar mandi, cepat-cepat membersihkan diri. Letak kamar Bram yang berada di belakang, Kiara merasa parno sendiri.
Keluar dari kamar mandi ia menghubungi nomor Laras.
"Napa Ra." jawab Laras di ujung panggilan.
"Lo di mana?"
"Di kamar Yudi, lagi nyuci." jawab Laras.
"Apa Yudi ada?" tanya Kiara.
"Sudah berangkat ke kantor Kiara. Lo enak ya jadi Nyonya bangun nya siang." sindir Laras.
"Oh ya udah, gue kesitu ya." panggilan ditutup.
"Hem." gumam Laras, kebetulan.
Cepat-cepat Kiara memakai gaunnya, keluar dari kamar Bram menuju kamar Yudi di ujung lorong.
******
Hi, pembaca setia yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya, Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.
Jumpa lagi episode berikutnya. 🙏
__ADS_1