Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
175


__ADS_3

Flashback saat Yudi siuman.


Saat Yudi terbangun, kaget melihat seorang perempuan di pelukannya tertidur pulas berbantal dadanya.


Pantesan nafasku sesak, Syukurlah aku masih hidup, hah! Tapi gadis dalam mimpiku ini kenapa ada di sini.


Dalam hati Yudi mesem-mesem teringat saat pingsan sempat-sempatnya ia mimpi mesum.


Bukankah aku dihajar preman sampai pingsan hampir mau mati.


Melihat tangannya kaku ada jarum infus, Yudi mencabut nya lalu perlahan menggeser Laras dari atas tubuhnya. Yudi duduk dari baringnya, menggeliat capek seolah bangun dari tidur yang panjang.


Yudi menatap sekeliling, setelah dikejutkan dengan perempuan tertidur di pelukannya, di pojokan ada seorang pria lagi sedang tertidur juga.


Hm siapa mereka ini, apa perawat? Lalu kenapa dia berani sekali tidur di kasur denganku.


Dalam hati Yudi memandang Laras.


"Laras, bangunlah." Yudi mengguncang tubuh Laras seketika menutup mulutnya.


Ups, bagaimana aku tau namanya Laras. Benarkah namanya Laras?


Dalam hati Yudi mengguncang tubuh Laras lagi. "Laras, bangunlah." panggil nya.


"Laras bangunlah." panggil Yudi lagi, akhirnya Laras membuka matanya.


"Abang Yudi, hiks hiks."


Hm, abang Yudi? Apa mungkin gadis ini punya abang yang mirip denganku, lalu kenapa dia agresif sekali. Main peluk aja, mana dadanya empuk lagi, ah.


Note: selanjutnya sudah tau kan


*


Di kamarnya Bram juga mendengar suara bel berbunyi.


Apakah ini tanda bahaya seperti di rumah besar, tapi tidak ada terasa guncangan lalu apa?


Dalam hati Bram gak tenang, pikiran buruk menghantui nya. Menatap sayang pada Kiara yang tertidur di pelukannya, mau membangunkan nya, kasihan.


Setelah memakaikan baju Kiara dan dirinya, Bram menarik selimut menutupi Kiara sampai lehernya, mengecup kening istrinya lalu bergegas keluar.


Bertemu Daniel di depan pintu antara kamarnya dan kamar rawat Yudi. "Dani, ada apa bel berbunyi?" tanya Bram.


Daniel gembira memandang Bram, kebetulan juga keluar jadi ia tidak perlu repot memanggil nya.


"Tidak apa-apa Bram, ayo kemari." ujar Daniel lalu menyeret nya ke ruangan konprensi.


"Duduklah." titah Daniel lalu mengambil laptopnya.


"Ada apa Dani?" tanya Bram gak sabar.


"Yudi sudah bangun, Bram." jawab Daniel meletakkan Laptopnya di depan Bram lalu ia duduk di sampingnya.


Oh, "Alhamdulillah, aku ingin bertemu dengan nya Dani."


Ucap Bram tersenyum ceria lalu berdiri, namun buru-buru Daniel menarik nya duduk lagi, membuka laptop lalu klik satu file.


"Bantu aku melihat rekaman ini." ujar Daniel


Yeakh, Bram bergidik melihat Video. "Kenapa kamu memintaku melihat ini, aku ingin melihat Yudi, Dani." sergah Bram buang muka.


"Ini video rekaman operasi Yudi Bram, coba kamu lihat bagian saat aku melepas chipnya apa aku sudah memasang nya dengan tepat?" tanya Daniel.

__ADS_1


Bram melihat dengan hati-hati.


"Menurut ku sudah benar, kalau posisinya tidak pas mana mungkin bisa masuk Dani. Bukankah Yudi sudah bangun lalu apa masalahnya, oh..."


Bram menghentikan ucapannya teringat sesuatu, mulutnya dan matanya terbuka lebar.


"Jangan bilang dia buta Dani." wajah Bram kelihatan shock, hampir menangis.


"Tidak Bram, tidak buta hanya ingatannya yang terhapus. Yudi cuma ingat sampai saat usia 20 tahun, sedangkan masa setelahnya ia tidak ingat kecuali Laras." jelas Daniel.


Ah, aci gitu!


"Ayo kita lihat apa dia juga tidak mengenal ku." Bram bangun dari duduknya kejar ke kamar Yudi, Daniel juga tidak menahan nya lagi.


*


Di ruangannya Yudi sedang makan dengan lahap seperti orang gak pernah makan.


Makanan ini sangat enak dan lezat.


Dalam hati Yudi memandang Laras yang dengan telaten menyuapi nya makan. Dengan senang hati Yudi membuka mulutnya sambil mengamati wajah Laras.


Apa gadis ini sangat miskin sehingga tidak bergaya, coba dipoles sedikit aku yakin dia bisa lebih cantik. Lalu kenapa dalam mimpi aku meniduri gadis ini tidak disangka orangnya ada, nyata di depan mata. Oh, bisa jadi itu benar bukan mimpi, bukankah saat bangun gadis ini berada di pelukan, hais jadi aku sudah tidak perjaka. Matilah aku, susah payah menahan diri dari Olivia malah tidur dengan perempuan yang lebih jelek. Ha!


Dalam hati Yudi mundur ke belakang, menjauh dari Laras.


"Kenapa Bang?" tanya Laras


"Tidak apa-apa Laras, berapa hari abang pingsan?" jawab Yudi balik nanya.


"Abang, sudah tidur 24 jam lebih, aaa." jawab Laras menyodorkan lagi sendoknya, yudi membuka mulutnya.


Cuma 24 jam, bagaimana aku bisa sembuh secepat itu, perasaan aku dihajar sampai babak belur. Sakitnya saja masih terasa saat mataku menghantam tong sampah.


Dalam hati Yudi merasa bingung, kenapa ia tidak terluka parah hanya di kepala itupun tidak terasa sakit. Ingin rasanya ia melepas perbannya.


Empat jam, mana mungkin aku paling suka tidur. Oh, maksudnya abangnya yang mirip aku kali, ah!


"Laras boleh tolong ambilkan dompet sama hape abang." mohon Yudi.


"Makan dulu bang, nanti main hape, aaa!" jawab Laras menyodorkan sendoknya menyumbat mulut Yudi.


Hais, kasar sekali.


"Laras, adik abang yang baik tolong ya. Ada seseorang yang mau abang telpon, pasti ia sangat khawatir nyariin abang. Cuma mau bilang bahwa abang baik-baik saja di sini." mohon Yudi lagi mengusap ujung kepala Laras lalu di tarik lagi, kaget.


Seolah ada magnit yang menarik tanganku menyentuh gadis ini.


Dalam hati Yudi, pusing sendiri. Hm, Laras menarik nafas berat.


"Kita sedang di pesawat, apa abang tidak tau peraturan di pesawat tidak boleh nelpon." jawab Laras.


"Oh gitu. Maklum abang tidak pernah naik pesawat hehe." ujar Yudi tertawa.


"Aku juga baru pertama bang, tapi gak bodoh-bodoh amat."


Jawab Laras hatinya miris Yudi hilang ingatan, walaupun Yudi mengingat namanya tapi tetap tidak mengenali dirinya.


"Cuma mau lihat, boleh kan." mohon Yudi lagi.


"Yudi, syukurlah kamu sudah bangun." suara Bram masuk ke ruangan menggeser pintu dengan keras.


Hais, ini pesawat ku bukan rumahmu.

__ADS_1


Dalam hati Daniel yang mengikut di belakang Bram geleng kepala. Yudi memandang Bram terpana, lalu menoleh ke Laras.


"Siapa?" tanya yudi dengan gerakan mulut tak bersuara.


"Tuan muda, bos abang kerja masa abang lupa." jawab Laras.


Bos ku kerja, memangnya aku kerja di mana, hais. Apa ini masih mimpi yang bersambung, ah.


Bram menatap Yudi, kelihatan memang Yudi tidak mengenalnya. Hah! Bram menoleh pada Daniel yang sudah berdiri di sampingnya.


"Jadi, dia memang tidak ingat bahkan padaku."


Bram bergumam, Daniel mengangguk.


"Dokter boleh tolong buka perban di kepalaku ini." mohon Yudi pada Daniel.


"Nanti saja Yudi, tunggu kita sampai di rumah sakit Amrik." jawab Daniel.


"Apa luka di kepala saya parah, dokter?" tanya Yudi lagi, kok aku gak ngerasa sakit dalam hatinya.


"Parah, sangat parah!" Bram yang jawab suara ketus.


"Selesai makan kita meeting." lanjut Bram menunjuk pada Yudi lalu keluar dari ruangan.


Mendengar itu. "Cepat Bang habisin dikit lagi." ujar Laras menyumbat lagi mulut Yudi dengan makanan.


Ah, apa setelah mati aku tersesat di dunia pararel, dunia serupa tapi tak sama. Kuliah saja aku DO, kenapa tiba-tiba bekerja.


"Laras, coba kamu ceritakan secara singkat bagaimana abang bisa berada di dunia ini, dan bekerja pada bos galak itu?" tanya Yudi.


"Bagaimana aku tau bang, kita saja baru menikah dan abang pelit sekali kalau cerita mengenai kehidupan abang." jawab Laras ketus.


Mendengar itu, Yudi membelalak.


Aku bahkan menikahi gadis ini, astaga jadi benar aku sudah tidak perjaka. Ah, mungkin abangnya yang mirip denganku, secara tidak sengaja kami tukar dimensi. Kalau di dunia nyata mana mungkin aku mau pada gadis ini


Dalam hati Yudi menghibur dirinya sendiri lalu berkata lagi. "Laras, apa di dunia yang kita tinggal ini ada gadis yang bernama Olivia." tanya Yudi.


Hah! Laras mendesah.


"Banyak Bang gadis yang bernama Olivia di dunia ini, bukalah ig juga fb abang beratus bahkan beribu ada nama Olivia."


Jawab Laras masih ketus, jelas-jelas ia tau siapa Olivia yang dimaksud Yudi.


"Di mana kita bisa buka ig dan apa lagi tuh fb?"


Tanya Yudi antusias merasa punya harapan sekaligus penasaran bagaimana kehidupan Olivia di dunia yang dianggap nya paralel ini.


Laras mengambil ponselnya dari laci. "Nih, ig dan ini fb." Laras menunjuk dua aplikasi di layar bergantian.


Yudi merampas ponsel Laras, takjub melihat benda pipih dan lebar. "Benda apa ini?" tanya Yudi membolak-balik ponsel.


"Ini namanya android Bang, Abang juga punya yang lebih canggih apel kegigit, bisa nelpon juga video call, bisa photo, sini muka Abang."


Laras membuka aplikasi kamera lalu cekrekk, menjepret wajah Yudi kemudian membuka galeri ponselnya banyak gambar Yudi di sana yang dicuri Laras secara diam-diam.


"Tuh, lihat muka Abang semua." ujar Laras.


Yudi membelalak, menutup mulutnya yang menganga menatap tak percaya.


"Ini wajahku, tua amat!" pekik Yudi alay.


****

__ADS_1


Hi, pembaca setia. Ikutin terus Tuan muda romantis ya, jangan lupa tekan jempolnya, vote dan hadiah juga semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2