Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
99


__ADS_3

Di sebuah motel kumuh di pinggir kota dekat perairan asin.


"Sit!"


Seorang pria mengepalkan tangannya geram.


Praannnng!!


Pria itu melempar semua benda yang ada di meja kecilnya. Beberapa gadget, Laptop dan smartphone hancur, juga berkas kertas berserakan di lantai berhamburan.


Rencana yang telah disusun matang telah digagalkan oleh entah siapa. Dan apa urusannya ikut campur terhadap keluarga Wijaya.


Beberapa anak buahnya yang masih setia, terdiam kaku menanti hukuman mereka.


"Pergilah!" sang Ketua lalu masuk ke kamarnya.


Akhirnya para anak buah bernafas lega kala sang ketua memerintahkan mereka pergi, tidak ada hukuman seperti majikan mereka terdahulu yang telah masuk bui.


Seorang perempuan muda duduk gemetar di sisi dipan reot di dalam kamar motel tersebut.


"Evi sayang, maafkan aku, aku belum bisa membalaskan dendam mu."


Bryen memeluk Evita. Wajah polos wanita yang dicintainya dengan segenap jiwa raganya itu terlihat pucat, tanpa riasan. Namun tidak mengurangi kadar kasih sayangnya terhadap sang pujaan hati.


"Bryen, aku kangen Mama." Evita menatap sendu Bryen.


"Belum bisa Evi, Mama Karen diawasi polisi dua puluh empat jam." jelas Bryen.


"Bersiaplah sayang, malam ini kita bergerak ke dermaga menumpang kapal ikan. Penyisiran polisi rahasia anak buah Walikota sudah dekat kemari, kita harus keluar kalau tidak ingin tertangkap." Bryen memujuk kekasihnya.


"Tapi aku gak mau Bryen, hiks hiks."


Evita terisak, biasanya ia ke sana kemari naik jet pribadi kini harus naik kapal nelayan yang tentunya sangat kotor dan berbau. Tinggal di motel kumuh juga terpaksa ia jalani.


"Evi, percayalah padaku sebaiknya kita menyingkir dulu. Sudah banyak anak buah Raharja yang setia ditangkap secara diam-diam disekap entah di mana."


Evita menangis sedih. Sejak papinya Raharja masuk penjara, penderitaan demi penderitaan menghampirinya. Selain kebebasan dan hartanya yang di blokir pihak pemerintah.


Ia menyesal sekali tidak menyimpan duit cash, sehingga sekarang ia miskin total. Hanya mengandalkan hidup dari Bryen. Ditambah sakit hatinya terhadap Bram dan juga istrinya, si perempuan kampungan itu, lengkaplah sudah penderitaannya.


Bryen merasa heran, bagaimana anak buahnya selalu ketahuan setiap kali mendekat ke rumah besar atau ke si Tuan muda Wijaya itu, saat menyusup di keramaian pesta.


Sehingga pembalasan dendam dialihkan ke istrinya. Ternyata istrinya juga dijaga oleh seorang wanita, siapa yang menyuruhnya? Ada kepentingan apa?


Seperti tadi siang Bryen hampir saja tertangkap oleh seorang wanita saat membuntuti istri si Wijaya di JK Market.


Barusan juga ia memancing agar si Yudi dan si Wijaya keluar dari rumah besar dengan mengacaukan database agar bisa membunuh istrinya, masih digagalkan oleh seseorang yang menghadang pelurunya.


Dalam hati Bryen sangat putus asa. Mau tak mau ia melumpuhkan Evita agar mudah membawanya, karena mereka sudah tersudut.


Jika mereka tertangkap oleh anak buah Walikota, tidak akan ada pengadilan. Mereka akan mati membusuk, tanpa ada yang perduli.


Walikota itu, suatu hari aku juga akan membunuhnya, dalam hati Bryen.


"Bos, silahkan. Kapal sampai dalam lima belas menit, mereka tidak akan menunggu." seorang anak buahnya memberi laporan.


Bryen menggendong Evita yang terkulai ala bridal dikawal anak buahnya menuju dermaga.


*


Tak jauh dari situ, melalui panggilan aman Internasional.

__ADS_1


"Tuan Beno, tangan kanan Raharja sedang menuju dermaga, saya akan menahannya." lapor Lucita.


"Biarkan saja, sampai di tengah laut kapalnya juga akan karam sendiri. Kita lihat apa mereka bisa menyelamatkan diri." jawab Beno.


Gleg, Lucita menelan ludah, sadis juga, dalam hatinya. "Baik Tuan, si Yudi juga sudah menyadari keberadaan saya."


"Sepertinya sudah aman untuk sementara, kamu tidak usah terlalu dekat dengan Kiara. Cukup awasi pakai Spy fly yang baru aku kirim ke locker di airport nomor biasa." jelas Beno.


"Baik, Tuan." Terdengar panggilan di putus.


Lucita menarik nafas dalam membuangnya perlahan. Merasa cemburu dengan kasih sayang Beno yang teramat besar pada Kiara.


Mungkin Tuan Beno berutang nyawa pada Kiara di kehidupan nya dahulu, dalam hati Lucita tetap mengawasi Bryen sampai naik ke kapal.


*


Kiara menghampiri ibunya di dapur.


"Bu, apakah sudah jadi masak pedasnya?"


"Sebentar Kiara, sedikit lagi." Alisha yang jawab.


Ia juga penasaran dengan masak pedas yang dimaksud Kiara ternyata menggugah selera, cuma ia khawatir sakit perut jika berani mencoba memakan nya.


"Kiara, mana Laras gak jadi ikut makan?" tanya Alisha.


"Ma, makan di kamar Yudi kelihatannya seru. Boleh ya, kita makan di sana berdua." mohon Kiara, gak mungkin juga dia mengatakan Laras malu keluar karena kiss mark.


"Ya sudah tunggulah ibu siapkan, sudah hampir matang." jawab Dwi.


Alisha menggeleng melihat masakan, bakso, sosis, tofu, ceker, ati, usus bercampur dengan beberapa bahan lain yang tidak dikenal nya sudah berubah warna jadi merah menyala.


Di ruang santai dapur, Sabit lagi duduk di sofa sedang menonton tv. Ada juga Samsir.


Sembari menunggu, Kiara menghampiri nya. "Jadi kamu anak Yudi?" tanya Kiara.


"Benar Kaka." jawab Sabit.


Samsir mendelik,


Kalau Yudi manggil Kiara apa ya? Kemarin-kemarin Nona, apakah Sabit boleh memanggil Kiara, kaka, dalam hati Samsir.


"Nanti bantuin saya bawa makanan ke kamar Ayahmu, kamu manggil Yudi ayah atau apa?" tanya Kiara lagi.


"Belum ada manggil, Ka." jawab Sabit.


"Kiara, ini sudah." panggil Dwi.


"Iya, Bu." jawab Kiara, ayo Sabit." ajak Kiara.


"Tika, kamu bantu Nyonya muda bawa makanan." panggil Alisha pada Tika yang tak jauh berdiri darinya.


"Baik Nyonya." jawab Tika.


"Ma, Kiara dengan Sabit aja." ujar Kiara.


"Jangan buat Mama diomelin suami kamu Kiara." cegah Alisha menepuk tangan Kiara yang hendak mengangkat satu nampan.


"Tika bawa satu nampan, Sabit bawa satu." titah Alisha.


Tiba-tiba Kiara memeluk Alisha. "Mama , I love you." ucap nya.

__ADS_1


Cis, "Lihat anakmu Dwi." ujar Alisha mengusap punggung Kiara.


Dwi tersenyum, Kiara mengurai pelukan.


"Bu, Mama makasih ya. Kiara ke kamar Yudi sekarang mau makan pedas bareng Laras." liur Kiara sudah di ujung lidahnya.


"Hm." Dwi dan Alisha bergumam bareng.


Lalu Kiara menyusul Tika dan Sabit yang sudah lebih dulu jalan ke lorong.


*


Yudi membawa Bram kembali ke rumah besar, kali ini memakai protokol keamanan Presdir perusahaan atas usulan Arjit, dengan beberapa mobil di ke empat sisi mobil yang dibawa nya.


Mendekati gerbang depan ia kembali memindai, memang tidak ada lagi mobil Lucita seperti yang dilaporkan anak buahnya.


Memasuki area perumahan di mana keadaan sudah aman, mobil yang mengawal Bram berpencar menunggu di empat penjuru mata angin rumah besar.


Yudi memindai kamarnya. Kelihatan Kiara dan Laras lagi tertawa-tawa dengan seorang yang familiar, anak ketemu gede nya, Sabit. Yudi menelan ludahnya, gimana reaksi Tuan mudanya jika melihat istrinya nanti.


*


Daniel di kamar jet pribadinya lagi perjalanan menuju ke pulau pribadinya di salah satu kepulauan milik Negara Thai.


Marissa meringis puas setelah hentakan terakhirnya, terkulai di pelukan Daniel. Denyutan hangat terasa di kedalaman tubuh Marissa. Daniel menumpahkan hasratnya saat milik Marissa mencengkeram erat miliknya sambil menyesap leher Icha sehingga menimbulkan tanda merah di beberapa tempat.


Plak!


Marissa menepuk punggung Daniel kesal karena memberinya kiss mark di area terbuka bagian tubuhnya.


Hehe, Daniel mengusap punggung kekasihnya yang berpeluh-peluh di pangkuannya. "Apa kamu senang?" bisik Daniel suara serak.


Marissa masih mengatur nafasnya, belum bisa bersuara hanya mengangguk. Ia melirik ponselnya yang dari tadi bolak-balik berdering.


Ia jelas tau siapa yang menelpon nya, siapa lagi kalau bukan Papi Arjit ya Mami Sonia. Namun karena sibuk melunjak-lunjak di pangkuan Daniel, ia mengabaikan nya.


"Babe, bagaimana mau jawab itu." akhirnya Marissa bersuara, resah memandang ponselnya.


"Don't worry Baby, aku akan bertanggung jawab. Apa kamu mau kita putar balik sekarang, kita bisa ke pulau lain kali."


"Aaah! Tapi aku masih belum puas." rengek Marissa menjilat-jilat bibirnya.


Daniel tersenyum sumringah. "Haiih, kamu membuatku tak berdaya Icha."


"Alas, oh my gosh!"


Marissa terlonjak menepuk dada Daniel. "Kenapa kamu gak pernah ingat pakai pengaman, Daniel!" sergah Marissa.


Daniel terkekeh, kirain apa. "Aku gak punya, lagian pakai pengaman bagiku itu sikap pengecut." jawab Daniel santai.


"Ah! Kan aku belum mau hamil!" Marissa memukul-mukul Daniel manja.


Daniel memeluk Marissa menangkan gadis di pelukannya. "I love you, Icha. I love you."


"Ih, I hate you." balas Marissa cemberut.


*****


Hai, readers yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis. Like, vote dan juga hadiahnya author ucapkan terima kasih banyak.


Jumpa lagi pada episode selanjutnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2