
Di rumah tamu 1.
Yudi berhadapan dengan Bram, sambil menunggu Kiara bersiap mereka ngobrol.
"Gimana Yudi, apa ada yang aneh pada data keuangan WJ?" tanya Bram.
"Tidak ada bos, selain bertambah nya aset 9 kali lipat dalam satu hari yang lain masih berjalan normal." jawab Yudi.
Bram menghembus nafas dalam. "Yudi, karena Jaguk telah melepaskan kepemilikan saham mereka yang 25% aku akan menambahkan pada saham kamu 5% lagi, kamu masukkan nama Kiara lima dan Mama lima."
Ujar Bram, Yudi mengangguk.
Di dunia ini aku lumayan berduit juga. Wah, Yudian kamu sangat bekerja keras. Jangan khawatir aku juga akan bekerja keras. Lalu di mana ayah dan ibu, kenapa mereka tidak ikut menikmati nya.
Dalam hati Yudi. Dia telah mengecek rekening dan aset yang di milikinya selama lima belas tahun ini, jumlahnya sangat fantastis namun tidak pernah pengiriman uang atas nama ayah ataupun ibunya. Hanya pada Sutoyo dan Laras.
"Aku minta maaf Yudi, kamu harus terluka atas ke kurang ajaran dua tamu makan malam sialan itu." ucap Bram dengan tulus.
"Tidak apa-apa Bos, lukanya juga tidak seberapa." jawab Yudi.
"Apa alat di kepala mu tidak terganggu?" tanya Bram.
"Tidak ada Bos, saya merasa nyaman."
"Saya diberitahu Paman Arjit, Om Burhan yang menemukan kamu dulu. Apa mendiang Om tidak memberitahu bahwa di kepala kamu ditanam semacam alat."
Tanya Bram penasaran juga, siapa sebenarnya Yudi sampai Papanya memberlakukan Yudi sangat istimewa, bela-belain membuatkan nya mata palsu.
Bram telah mendengar dari pamannya Arjit mengenai Yudi saat ditemukan dulu benar-benar dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Dalam pengawasan Burhan akhirnya, setelah Yudi bangkit dari keterpurukan nya dilatih untuk mendampingi dirinya kelak menggantikan Burhan.
Hais, siapa lagi Burhan.
Dalam hati Yudi membaca pikiran Bram. "Tidak Bos, saya tidak tahu." jawab Yudi jujur memang dia tidak tau.
"Aku sudah khawatir kamu akan buta Yudi, syukurlah tidak apa-apa hanya hilang ingatan itupun cuma sehari, haha." Bram tertawa senang.
"Kalau ada masalah segera beritahu. Dengan senang hati Daniel akan membantu, dia penasaran sekali padamu." lanjut Bram lagi.
"Siap Bos." jawab Yudi.
"Kita akan keluar, Kiara mau jalan-jalan kamu bisa membawa istrimu. Tidak perlu dandan kita putar-putar kota mampir ke satu restoran biasa, makan lalu pulang." tegas Bram
Yudi mengangguk lalu menghubungi Laras sambil membaca kamarnya. Namun ia tidak melihat istrinya itu bahkan di seputar Mansion yang luas tidak dijumpai bayangan Laras.
Kemana dia, gak mungkin dia kabur apa di culik, set! Siapa yang mau nyulik atau jangan-jangan pergi dengan si Koki, ah.
__ADS_1
Yudi membaca dapur, kelihatan Koki sedang membuat makan malam.
Hm, Yudi membaca pikiran para bodyguard siapa tau diantara mereka ada yang melihat Laras.
Akhirnya di pintu gerbang ia menemukan jawaban nya melalui pikiran Sekuriti. Laras dan Marissa keluar naik ferrari merah
Mau kemana mereka, apa si Laras tidak pernah pamit pada suaminya kalau mau pergi. Mana ponselnya dihubungi tidak diangkat lagi, bikin khawatir saja.
*
Laras di butik bersama Icha mencoba beberapa pakaian.
Butik langganan gadis-gadis yang ingin bersenang-senang di club. Setiap membeli satu gaun dapat bonus satu kali make up jadi lumayan bisa hemat dan tidak perlu cari salon lagi.
"Icha, please deh gue gak nyaman banget pake ini."
Keluh Laras protes pada gaun yang dipilihkan Icha, seolah mau menjual diri.
"Hei, ini belum seberapa, kalau baju sopan mana boleh masuk club. Ayolah Laras kita bersenang-senang, gue gak akan njerumusin lo!"
"Percaya deh, ini gue bawa lo ke club yang sore. Club anak remaja, banyak anak sultan dari berbagai negara main ke club daerah sini. Kalau lo suka minggu depan kita yang ke midnigth show orang dewasa itu juga kalau ayang mbeb gue ngijinin."
Jelas Icha, ia juga telah menemukan baju yang cocok untuk dugem.
Ck, hais. Laras berdecak.
~
Selesai make up, Icha terperangah melihat hasilnya. "Oh my gosh Laras, lo cakep banget sumpah pake bingit."
Cakep apaan, kayak luna iya.
Dalam hati Laras. seseorang datang menghampiri mereka gerakan gemulai.
"hello I am Manager, please introduce me." sapa orang itu memperkenalkan diri lalu memandang Laras.
"Girl, can I take photos of you for endorsement and we'll give you free for the service include the cloth and payment a thousand dollar after ten transaction reached." ujar nya.
Laras terbengong, memandang Icha.
"No, thanks."
Icha yang jawab mengajak Laras pergi, ada cemburu di hatinya karena Laras ditawari endorse.
"Oke, both of you." ujar Manager lagi melakukan penawaran.
__ADS_1
Mendengar ia juga diikut sertakan, Icha berbalik badan. "Deal." Jawab nya.
Manager tersenyum licik yang samar. "Come with me." ujar Manager mempersilahkan mereka mengikuti nya.
"Ayo Ras." ajak Icha mengandeng tangan Laras mengikuti Manager.
"Apa sih, Cha?" tanya Laras, seperti sapi ompong ia nurut saja diseret Icha.
"Kita akan di endorse, lo tau kan. Baju dan make up gratis, setiap sepuluh pelanggan yang mampir dan melakukan transaksi kita akan mendapatkan seribu dollar." jelas Icha.
Laras menahan Icha. "Pelanggan?"
Tanya nya menangkap gelagat gak benar, apa si Icha kekurangan duit pake jual diri dalam hatinya.
"Laras, di sini tuh daerah club kelas atas. Butik-butik di sekitar sini bersaing mendapatkan pelanggan menggunakan jasa mereka. Kita cuma di photo, terus photo kita dipajang di depan butik atau di brosur ataupun di laman web untuk menarik perhatian pelanggan."
Jelas Icha kesenangan photonya akan dipajang di kawasan butik bergengsi, syukur-syukur ada produser yang melihat photonya.
Jalan pintas menjadi artis terkenal di depan mata, ah.
Dasar si Icha, "Bentar dulu." tahan Laras.
Laras merasa tas kecilnya bergetar lalu merogoh nya, panggilan masuk dari Yudi dan beberapa panggilan lainnya.
"Siapa?" tanya Icha.
"Yudi." Laras menggerakkan bibirnya tak bersuara.
"Hallo." jawab Laras.
"Keluar sekarang!" tegas Yudi nada marah di ujung panggilan.
Astaga. "Iya." jawab Laras kaget.
"Cha, Yudi ada di depan butik." ujar Laras nada kesal.
"Apa! Bagaimana dia tau kita ada di sini. Apa dia cenayang!" pekik Icha gak percaya.
"Girls, over here." panggil Manager di depan pintu sebuah ruangan mempersilahkan meraka masuk.
"Sorry, we have to go out now." jawab Laras cepat menarik Icha berjalan cepat ke pintu depan.
Ck, Icha berdecak kesal gagal jadi artis terkenal.
***
__ADS_1
hi pembaca setia. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Jangan lupa tekan jempolnya, vote dan hadiah semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode selanjutnya.🙏