
Setelah mendapat telpon dari Yudi, Laras melihat jam 00.05wib,
Tega benar si Om nyuruh gue keluar larut malam gini, besok kan bisa datang lagi. Lagian ngapain juga dia nunggu di belakang, ada juga jalan samping lebih lega. Bagaimana juga dia tau gue belum tidur, aah!
Dalam hati Laras mengeluh, segera ia bersiap lalu keluar menuju dapur. Eh copot, Laras kaget di dapur ia terpergok ayahnya, terpaksa ia bohong, ngeles berpura-pura mau minum dan buang air.
Jantungnya berdebar kencang, antara rasa grogi akan bertemu Yudi dan rasa takut ketahuan orang tuanya mau keluar rumah.
Syukurlah ayah tidak mencurigainya, kebetulan sakit jadi gak aneh juga kalau ia mengenakan jaket di dalam rumah menutupi piyama tidurnya yang tipis.
Terdengar suara Zainal dan beberapa anak kost lain dari ruang tengah, yang berpartisipasi ikut jaga malam di rumah Laras.
Mereka jadi semangat karena Pak Toyo berjanji setelah kamar kost-an selesai direnovasi ia akan memberi tiga bulan gratis sebagai tanda terima kasih.
Anak kost merasa berdosa, seolah bersyukur atas musibah yang dialami Pak Toyo, karena sebenarnya mereka juga belum mendapatkan kost-an yang baru. Dapat tidur di ruang tengah rumah Laras sudah merupakan anugrah terindah bagi mereka yang gajinya pas-pasan.
Laras mengendap di jalan belakang melewati parit-parit dapur rumah-rumah tetangganya, sambil menutup jalan napas dari hidungnya gak tahan mencium bau busuk bekas pembuangan sampah bercampur kotoran manusia, yeakh!
Yudi memindai Laras yang sedang mengendap, merasa kasian ia segera keluar dari mobilnya bergegas menuju Laras memutar di belakang istrinya itu.
Ah!
Pekik Laras merasa ada yang menarik tangannya dan mulutnya dibungkam sebuah tangan yang wanginya sangat familiar bagi Laras.
Om Yudi,
Dalam hati Laras lega gak jadi meronta, namun yang membuat Laras kesal adalah debaran jantungnya semakin kencang membuncah serasa dadanya mau pecah.
Apa udah terlalu dalam gue suka sama Om Yudi, kenapa deg deg an banget sih,
Dalam hati Laras hampir menangis, ingat tadi di rumah Tuan Suga juga bayangan Om Yudi menghantui pikirannya.
Walaupun Yudi mengetahui isi hati Laras yang mellow, segera ia menarik tangan istrinya itu berjalan cepat menuju mobilnya diparkir.
Gak ada waktu untuk romantis sekarang,
Dalam hati Yudi, namun seketika langkahnya terhenti, kelihatan ada beberapa orang berdiri memerhatikan mobilnya.
Laras yang merasa aneh kenapa Yudi tiba-tiba berhenti melihat ke wajah Yudi dan ke arah pandangan suaminya itu bergantian. Alangkah terkejutnya ia menutup mulutnya hampir menjerit.
Beberapa orang yang berdiri di samping mobil Yudi, adalah Algojo dari rumah Tuan Suga. Salah seorang yang sangat dikenalnya, adalah Thamrin, pamannya sendiri.
Yudi membawa Laras bersembunyi di balik dinding salah satu rumah warga. Laras mengatur nafasnya yang mengalir tak beraturan, terasa Yudi semakin erat mendekapnya.
Merasa nyaman di pelukan suaminya, Laras menjadi serakah balas memeluk pria yang telah membobol gawangnya itu. Laras menyembunyikan wajahnya di dada Yudi, kedengaran detak jantungnya sama seperti debaran di dadanya sendiri.
Rasa khawatir, rasa gundah, rasa gelisah terbang entah kemana, harum tubuh Yudi seperti Aromaterapi yang mampu menenangkan jiwa Laras. Sepertinya ia akan ikhlas sekiranya meninggal setelah ini.
Pltak!
Aduh! Sebuah sentilan di kening Laras
"Jangan berpikir yang aneh-aneh." suara Yudi pelan di pucuk kepala Laras.
__ADS_1
Laras mengerut dahi, apa salahku tiba-tiba kena sentilan. Apa karena berpelukan dia jadi bisa mendengar isi pikiranku, dalam hati Laras mengusap keningnya yang perih, cis.
Ke empat orang algojo Tuan Suga dan Thamrin kelihatan mengitari pandangan nya, masih belum beranjak dari mobil Yudi.
"Ini bos." seorang algojo memperlihatkan ponselnya pada Thamrin.
"Jadi ini mobil dari Group WJ." desis suara Thamrin.
"Ayo berpencar! Aku yakin dia masih di sekitar sini!"
Suara Thamrin kebaca jelas di pandangan Yudi lalu ia menghubungi anak buahnya.
"Iya bos." jawab anak buah Yudi di ujung panggilan.
"Tunggu mobil di perempatan antara pasar dan warung nasi padang, saya akan melajukan mobil melalui pengendali jarak jauh." titah Yudi.
"Bos dimana, biar kita jemput." suara anak buah Yudi khawatir.
"Ikuti saja arahan ku, ngerti!" tegas Yudi.
"Siap Bos." jawaban dari seberang telepon.
Lalu Yudi menghidupkan mobilnya melalui remot kontrol, membuka map dan mengaktifkan auto drive.
Salah seorang algojo yang hampir menemukan tempat mereka sembunyi menoleh ke arah mobil dan berbalik badan ingin mengetahui ada siapa di dalam.
Ke empat Algojo dan Thamrin merasa heran, mereka bergegas ke arah mobil Yudi tadi diparkir, namun saat itu juga mobil berjalan sendiri sementara tidak ada siapa-siapa yang mengemudi.
"Cepat kejar." teriak Thamrin.
Yudi bernapas lega, memeluk Laras semakin erat dan mengecup kening istri di pelukannya, kasian tadi udah kena sentil.
"Ayo ikut aku."
Kesempatan itu di gunakan Yudi ke luar dari persembunyian nya, sambil menggenggam tangan Laras berlari kecil ke tempat janjian bertemu dengan anak buahnya.
"Kamu bisa lari?" tanya Yudi memandang Laras tiba-tiba sadar kalau Laras sedang sakit, Laras mengangguk.
Namun begitu Yudi tidak tega, lalu mengendong Laras berjalan kecepatan sedang.
"Om, saya bisa jalan, memangnya kita mau ke mana?" tanya Laras.
"Ke rumah besar," jawab Yudi.
"Jalan kaki?"
"Hm." gumam Yudi.
****
Di kamar mereka, Kiara sedang negosiasi dengan Bram.
"Sayang ingat baik-baik ya, posisi satu dulu baru posisi tiga, masuk posisi empat kembali ke posisi dua, terakhir posisi lima." jelas Bram menunjuk posisi bercinta yang ada di tab nya.
__ADS_1
"Ka, tadi janji kan mau coba gaya baru. Ini posisi, kita sudah pernah coba semua kecuali posisi lima. Kita satu gaya aja, posisi yang kelima!"
Kiara protes. Menang banyak si Bram semua posisi dia yang bekerja keras. Iya kalau suaminya ini bisa cepat lemas, kayaknya enggak mungkin deh! Pasti dia menghajar ku lagi terakhir sampai dia merasa puas, ah! Kiara mendelik, sinis.
"Tidak bisa sayang, kamu utang masih banyak Kiara. Ini aku tagih masih hitung bunga belum pokoknya!" ketus Bram.
"Sini, ayo buka baju."
Bram meraih gaun Kiara menarik ke atas lepas dari tubuh istrinya, liurnya sudah menetes.
Ck, dasar! "Bentar dulu, aku mau pipis."
Kiara beranjak turun dari kasur menghilang di kamar mandi.
"Hm, jangan Lama-lama." teriak Bram meraih ponselnya mau melihat posisi Yudi.
***
Yudi menggendong Laras ala bridal berjalan perlahan, masih ada 50 meter menuju mobil. Tatapan mereka bertemu.
"Kenapa kamu tidak mau ke dokter?" tanya Yudi.
Hm, Laras mengerut dahi.
Bagaimana Om Yudi tau aku gak mau ke dokter, dalam hati Laras.
"Nyonya muda yang beri tahu." jawab Yudi agar Laras tidak berpikir macam-macam.
Oh, dalam hati Laras, "aku takut sakit." jawab nya pelan.
Yudi memindai pikiran Laras saat-saat mereka berhubungan badan. Laras berusaha relaks namun masih lebih besar rasa khawatir sehingga ia tidak bisa menikmati penyatuan.
Namun saat pemanasan, sepertinya Laras kelihatan ready, dalam hati Yudi meraba-raba apa sebabnya makanya Laras tiba-tiba tegang gak bisa orgasme.
Melakukan hubungan karena kewajiban membayar hutang dan kewajiban melayani suami, menekan perasaannya sendiri takut semakin mencintai Yudi, hm.
"Om, bagaimana kalau kita program bayi tabung aja jadi tidak perlu,..." Laras menggantung ucapan nya.
Yudi merasa Laras masih trauma dengan rasa sakitnya.
"Bayi tabung juga, ayahnya boleh mengunjungi bayinya selagi di dalam kandungan." jawab Yudi.
Gleg, sama aja dalam hati Laras.
"Nanti kalau darahnya sudah berhenti kita coba lagi membuat anak secara tradisional."
Oh tidak!
Jerit hati Laras.
****
Hi, readers yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Dukung author dengan like, vote dan hadiah yang banyak, semoga jadi berkah bagi anda semua.
__ADS_1
Jumpa lagi pada episode selanjutnya. 🙏