
Suaminya menghadap Tuan muda Wijaya, di kamarnya Laras beberes kesempatan.
Bayi bayi juga sedang tidur, aih lucunya.
Gemas Laras pada trio bayinya. Pada dasarnya ia juga suka adik kecil, apa tah lagi ini anak sendiri yang keluar dari perutnya. Bertambah tambah kasih sayang Laras pada ayah bayi nya.
Hehe, Bang Yudi ah. Baru ditinggal sebentar sudah rindu hati ini.
Sambil nge-vacum clean lantai, Laras mesem mesem.
Wah, ini tekhnologi hebat. Vacum biasanya berisik, kok ini gak ada suaranya halus di telinga jadi gak ganggu bayi tidur.
Beruntung selesai membereskan kamarnya Laras kedatangan tamu dari Mansion. Siapa lagi kalau bukan Sora dan Sabit, mereka datang bareng Icha.
"Adek," seru Sora suara histeris menghampiri baby box.
Hah, "Beruntung sudah tidur agak lama," gumam Laras, kasian pada bayinya diganggu Sora.
"Jadi boleh neh dibangunin." Icha ikut gemas pada bayi bayi Laras. Pipi chubby, bibir semerah cabe keriting.
"Hm, mau gimana lagi suara Sora gak ngerti pelan."
"Hei, kamu jangan berisik." toel Sabit di pipi Sora.
"Udah siang ini ya, bangun woy bayi bayi." Sora gak perduli balas mentoel pipi bayi bayi bergantian.
"Enggak apa Sabit, kalau nangis paling disumpal susu." jawab Laras.
"Taraaaa, ini aku bawa hadiah buat trio baby Lara," ujar Icha menyerahkan paper bag pada Laras.
"Wah, tante Icha. Merepotkan aja nie bayi bayi?" Laras rasa gimana gitu.
Semua peralatan bayinya kebanyakan hamper pemberian Icha. Habis gimana, ia sendiri gak sempat keluar belanja belanja kebutuhan.
Makan dari katering mansion Daniel masakan Bu Dwi sementara ini, entar kalau Bu Dwi pulang ke Jkt paling masakan Koki Mansion Dokter Daniel.
"Dan ini, makanan. Ayo Laras bantuin aku ngabisin," ajak Icha.
"Kamu sempat belanja ya Cha, entar deh. Kalau kamu lahiran aku balas budi." ujar Laras.
"Hei, tidak perlu. Ini aku lakukan bukan untuk kamu, tapi untuk ku sendiri. Bisa pusing pala kalau satu hari saja gak belanja. Hobby shoping gak tersalur pening, hehe." Icha terkekeh, berjalan ke sofa.
Aish, dasar banyak duit.
"Sini, mumpung bayi ada teman main." ajak Icha.
Box bayi Laras gede, Sora suka ikut masuk bikin khawatir Laras.
"Sabit liatin itu Sora ya, jangan main kasar sama bayi." seru Laras pada Sabit yang berjaga di sisi baby Box takjub melihat ketiga bayi.
Tiba tiba saja aku punya adik 4 orang, ditambah Junior kalau gak psyko kan seru bisa main bareng, ah.
"Iya, Ma," jawab Sabit.
"Enggak kasar, ye." Sora marah dituduh sembarangan.
"Iya, jangan ya," ujar Laras lalu duduk di samping Icha di sofa yang lagi nyusun makanan.
*
Siang hari istirahat makan Yudi kembali ke kamarnya.
"Ayah," panggil Sora gembira.
Mereka telah pindah main di kasur. Ada Laras dan Icha duduk di pinggir jadi penjaga sambil gosip, Sabit di sofa main hape.
Hm, senyum Yudi, ia menuju kamar mandi.
Yudi sudah membaca bahwa di kamarnya ramai orang, selain Sora ada juga Sabit dan Nona Marissa.
Dokter Daniel sedang praktek, hm. Ibu Dwi dan Nyonya Alisha barusan juga ada di kamar Tuan muda menengok cucu cucunya.
"Laras, aku ke kamar Kiara ya." ujar Marissa merasa segan ada Yudi.
Hm, angguk Laras.
__ADS_1
Lagian sudah cukup lama juga mereka ngobrol hampir dua jam sambil main sama trio baby Lara yang terbangun mendengar suara Sora yang gak ngerti mau pelan.
"Tante Icha, ikut." suara Sora.
"Ya udah ayuk, kamu Sabit?" tanya Icha, mengusap perut buncitnya. Dua bulan lagi insha Allah lahiran.
Hm, angguk Sabit berdiri dari Sofa. "Aku juga mau ke atap," jawab nya, ia ingin menemani Zainal kongkow.
Mesin mesin Laras belum tiba namun begitu Zainal harus tetap di dekat Laras atas perintah Beno. Beno memerintah Lucita membeli mesin Baru, yang di pabrik dibiarkan untuk cadangan.
Mendengar Sabit. "Aku ikut ke atap, Sabit." ujar Sora cepat cepat turun dari kasur.
"Enggak boleh," jawab Sabit juga cepat.
"Aaa...ikut." rengek Sora.
"Kamu mau ikut siapa sih Sora, aku atau Sabit?" tanya Icha.
"Ikut Sabit," jawab Sora.
Ia yakin, pasti kakak laki lakinya mau bertemu Zainal. Tadi pagi ia bangun Zainal sudah gak ada di kasur, Sora kaget mendapati dirinya tidur di kamar Dwi. Kok bisa! Siapa yang gendong, Sabit apa Zainal, Sora penasaran berharap yang gendong adalah Zainal.
"Sora, kamu disini saja." suara Yudi keluar dari kamar mandi. Duduk di sofa membuka Laptopnya alasan memberi waktu bagi Icha dan Laras pamitan.
"Tidak mau, ayah!" Sora menjerit protes.
Namun setelah berpikir pikir. "Ya udah aku ikut tante Icha ke kamar Kiara, deh." lanjut nya suara pelan.
Hm, gumam Yudi.
Yes, yang penting keluar dulu dari sini. Nanti kan dari kamar Kiara bisa nyelinap ke atap sendiri, haha.
"Ayah, pergi dulu," pamit Sabit pada Yudi.
Hum.
Angguk Yudi bergumam, gak bisa lebih ramah lagi.
Walaupun ia tau akal bulus Sora ingin menyelinap ke atap jumpa Zainal namun Yudi membiarkan saja Icha membawa nya. Lagian si berisik itu menggangu kalau di kamarnya. Tinggallah Yudi dan Laras serta ketiga bayi yang anteng main di kasur.
Di meja sofa banyak makanan, Laras menghampiri suaminya setelah menaikkan pagar tempat tidur. Maklum kasurnya adalah dua brankar rumah sakit yang disusun.
"Bang, makan sekarang?" tanya nya lembut pada pria pujaan nya itu miris, makin hari kok ya makin tampan sementara dirinya.
Ah, nasib emak emak gak sempat dandan lagian gak bagus buat bayi kalau memakai kosmetik berlebihan.
"Bayi bayi lagi anteng, tante Icha menghadiahi mereka gigitan baru." jelas Laras duduk di samping suaminya.
"Kita makan bareng, kamu juga lapar kan?"
Yudi memandang Laras sayu, pura pura nawar padahal sudah tau kalau Laras banyak ngemil barusan.
"Masih muat kalau mau makan lagi, Icha bawa jajanan. Ini untuk abang aku sisakan satu porsi." Laras membuka nampan memberi Yudi pertama minun air putih lalu sekeping manisan buah.
Hm, enak.
"Apa ini? Manisnya kayak kamu." Yudi bertanya tentang buah yang dikunyah nya.
Ah, Laras tersipu malu dikatain manis. "Tau, buah kalengan tulisannya peach (persik)." jawab Laras.
"Ini Lasagna, enak banget. Coba deh." Laras mengambil sendok menyuapi Yudi.
"Abang, biar matanya biru makan ginian." ujar Laras, Yudi membuka lagi mulutnya.
"Enak kan?" tanya Laras lagi.
Hm, "Lebih enak karedok bikinan Bu Dwi," jawab Yudi mulut penuh keju lengket lengket.
"Hehe, iya bener. Aku mah menu nusantara is number one, tapi ini juga enak, aaa lagi," ujar Laras kembali menyuap Yudi.
"Kamu baik banget sayang, ada yang kamu inginkan?" tanya Yudi membaca Laras.
Hm, tau aja sih sayang.
Batin Laras. Yang dipikirkan nya adalah tawaran Icha mengambil sitter untuk bayi bayi, biar ada me time untuknya dan Yudi buat manja manja.
__ADS_1
Hm, begitu.
Batin Yudi membaca Laras senang banget, kalau masalahnya itu aku juga mau.
"Tadi Tuan muda memerintah agar mengambil sitter untuk kelima bayi. Sudah pesan ke bagian perawat mulai besok mereka bertugas, bayi akan pindah ke kamar khusus." jelas Yudi.
"Gimana, kamu siap berpisah tidur dengan trio bayi Lara." lanjut nya bertanya.
"Ya enggak lah, ah."
Jawab Laras serba salah, senyuman nya menghilang gak siap dia.
Melihat ekspresi istrinya, Yudi meraih pinggang Laras sehingga tubuh istrinya menempel di tubuhnya. "Jadi waktu kita bermesraan lebih panjang." ujar nya suara berat.
"Ummmph,"
Laras kaget Yudi mencium nya, mana pake ngelu-mat lagi. Ah, Laras membalas ciuman, bibir rasa Lasagna.
Yudi semakin semangat mencium Laras, Laras mengalung lengan di pundak Yudi.
"Aaa, Eummah!" Sebi si paling bawel menjerit.
Yudi berhenti mencium, melihat ke kasur ketiga bayi kembali melongo,mengences menatap mereka.
"Sebi, gede nya pasti bawel deh Bang." ujar Laras mengusap bibir basah Yudi.
Hehm.
Desah Yudi keliyengan, lagi seru serunya ada gangguan tekhnik.
"Tapi aku mau makan kamu duluan sebelum lunch." suara Yudi serak.
Aish, si abang.
"Bayi liatin tuh, gimana?" tanya Laras, melihat lucu pada bayinya. Kompak banget melongo, jika melihat gelagat mama dan ayah mereka lagi bermesraan.
"Sebentar saja ya, neh si wahyu dah bangun perlu dihajar biar anteng." ujar Yudi, tak ayal ia geli juga membaca pikiran bayinya.
Masa mereka mikir nya ayah bakalan ngabisin susu, ya gak mungkin tapi gimana mau jelasin ke bayi bayi.
Hm, "di sini?" tanya Laras, bego.
Yudi menatap posisi kamar, dimana enaknya gak dilihat bayi bayi.
Bayi masih kenyang dan ada mainan jadi bolehlah curi kesempatan.
"Kita tiarap di bawah kasur, kan ada karpet." Yudi menarik Laras gak sabar.
Sambil membaca ke tiga bayinya Yudi menyalurkan hasrat nya, kolong kasur gak terlalu tinggi hanya bisa rebahan.
Ah, uh uh ah...ah!
Arrrgg!
Aaakh!
Itulah silapnya, bagaimana pun ditahan suara desahan dan erangan gak bisa pelan.
Seolah mendengar suara gaib, seram membuat ketiga bayi merinding. Kecarian, dimana Mama dan Ayah gak keliatan.
"Uawaaaa!!!!" serentak bayi menjerit.
"Abang," Laras kaget.
"Ais, buat silap." gerutu Yudi.
Tok tok tok.
Suara pintu diketuk.
Astaga!
Laras dan Yudi panik keluar dari kolong kasur.
"Aduh!" pekik Laras, kepalanya terantuk.
__ADS_1
*******♥️
Slow up, ya guys. Jangan di tungguin. Klik favorit biar ter update. 👍