
Evita di privat roomnya bersama Bryen.
"Bagaimana penampilanku, aku harus sempurna di depan Bram." tanya Evita berputar-putar di depan cermin. Beberapa saat lalu Bram berkirim pesan ingin makan siang bersamanya.
"Kamu tanya sendiri padanya nanti, lagipula ini masih pagi kamu sudah dandan. Belum siang make up mu sudah luntur." jawab Bryen naik tensinya.
"Cih, semalam papa memanggil kamu, ada apa Bryen?" tanya Evita, senyum di wajahnya merekah karena Bramnya mengajaknya lunch.
"Karena anak buah papamu tidak berhasil membawa gadis itu, beliau memintaku membunuh si Bram." ujar Bryen.
Seketika Evita naik marah.
"Sialan si papa, jangan kau lakukan itu Bryen! Aku akan membunuh kamu duluan!" bentak Evita menolak kening Bryen yang duduk di tepi ranjangnya.
Sehingga tubuh Bryen roboh kebelakang, membawa Evita jatuh bersamanya.
"Ahk!" teriak Evita.
"Itu kalau si Bram berani batalin pernikahan kalian." ujar Bryen memeluk pinggang Evita yang berada di atas tubuhnya, burung Kutilangnya terhimpit menjerit di celana.
"Kau mau mati Bryen, lepaskan aku!" bentak Evita.
Cup.
Bryen mendaratkan kecupan di bibir Evita, semakin menarik tubuh Evita kedalam pelukannya.
"Kau!" Evita gak bisa marah lagi pada Bryen, dia sudah lama tidak dibelai.
Bryen berguling di kasur membawa Evita bersamanya sehingga Evita terhimpit di bawah tubuhnya.
"Bryen, apa kamu sudah bosan hidup!?" ujar Evita melotot pada Bryen.
Tapi Bryen bergeming kemudian mencium Evita semakin rakus. Dia sudah ikhlas kalau harus mati setelah ini. Tangannya bergerak-gerak di tubuh Evita, merangsang area-area sensitif Evita yang sudah sangat dihapalnya.
Evita terbakar gairah membalas perlakuan serupa, ia juga sudah hapal area sensitif Bryen. Pagi yang cerah, dua anak manusia sedang bergelora.
Tiba-tiba Bryen menghentikan aksinya.
Cup! "Cukup sekian dulu, kamu baru operasi." ujar Bryen bangun dari tubuh Evita dengan menyeringai.
Hah, brengsek si Bryen!
Dalam hati Evita sangat malu karena menginginkan Bryen jug kemudian bangun menghajar Bryen bertubi-tubi, menjambaki rambutnya, memukul-mukul dengan sikap manjanya.
Gak tahan Bryen tertawa-tawa karena pinggangnya digelitik juga. Bryen gak tahan digelitik, dia tertawa sampai keluar air mata. Bryen menangkap tangan Evita, menekannya agar diam.
"Jangan menikah dengannya Evita." ujar Bryen berusaha mengatur napasnya yang capek karena tertawa.
"Lalu aku menikah dengan siapa?" tanya Evita menatap lekat ke manik Bryen.
"Denganku." jawab Bryen.
"Bisa-bisa aku janda sebelum menikah, karena papa keburu membunuhmu." ujar Evita.
glek. Bryen menelan ludah, sampai sekarang ia belum punya nyali mengaku di hadapan Raharja.
Kemudian Bryen memeluk Evita, sesaat hening. Mereka berpelukan dalam diam. Evita sangat nyaman di pelukan Bryen, matanya meredup. Gak lama Bryen merasakan napas Evita yang teratur.
Hm, tidur?
*****
__ADS_1
Di gedung WJ di ruangan Bram.
Yudi menatap nomor panggilan pribadi pada layar ponsel Bram, kemudian melakukan beberapa cara untuk membuka nomor Kiara dan berhasil. Yudi Menunjukkan nomornya pada Bram.
Hampir-hampir Bram memeluk Yudi Karena terlalu senang, kemudian mundur lagi pasang tampang dinginnya.
Cih! Dalam hati Yudi padahal dia sudah siap dipeluk dengan melebarkan tangannya.
Dengan berdebar Bram menatap nomor Kiara di layar ponselnya, diusapnya dengan mesra seolah mengusap wajah Kiara.
"Yudi, posisi Kiara di kota Kembang cari tau segera kita akan menjemputnya!" perintah Bram.
"Baiklah Bos, bisa kita meeting sekarang?" tanya Yudi.
"Hm." gumam Bram sambil tersenyum.
Yudi membawa Bram ke ruang meeting. Sesampai di ruang meeting percuma saja, Bram hanya sibuk memandangi nomor Kiara di ponselnya sambil senyum-senyum sumringah.
Hais! Yudi geleng kepala saat memindai otaknya.
Kalau terus dibiarkan bisa-bisa reputasi bos jatuh gak ada wibawa.
Yudi segera menunda lagi meetingnya sampai waktu yang tidak ditentukan, membawa Bram kembali masuk ke ruangannya.
Nah, di sini puas-puaslah senyum-senyum seperti orang gila.
Dalam hati Yudi.
*****
Setelah menelpon Bram, Kiara menatap wajahnya di cermin kamar mandinya. Merasa bahagia karena telah mendengar suara kekasihnya. Rasa rindu ingin berjumpa tapi bagaimana bisa, keluarga Mafia mengincar nyawanya. Yang benar saja, hidupku seperti di Novel saja..
Mafia, emang ada ya?
Apa Beno juga membuangnya, ah.
Kiara keluar dari kamar mencari Lucita. Lucita bersama ibu, mereka di dapur sedang membuat makanan.
"Ibu masak apa?" tanya Kiara mendekati ibunya.
"Masak soto Betawi." jawab Dwi, ia sedang menumis sambal nanti dimakan bersama sotonya.
Apa Lucita mengetahui di mana pil-pilnya?
Dalam hati Kiara, tapi ia malu bertanya apalagi di depan ibunya. Kiara memandangi Lucita.
Dia masih muda, cantik. Bodynya seperti model, kenapa mau jadi pelayan?
Dalam hati Kiara. "Lucita, berapa umurmu?" karena penasaran akhirnya Kiara bertanya.
"Dua puluh tujuh Nona." jawab Lucita.
Wah aku kira masih 20 tahun, dalam hati Kiara.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Beno Ka Lucita?" tanya Kiara lagi.
"Melalui audisi Nona. Panggil saya nama saja Nona, saya adalah pelayan anda." ujar Lucita.
Audisi? Berarti dia benar-benar seorang model, dalam hati Kiara.
"Baiklah Lucita, berarti kamu juara satunya?" tanya Kiara lagi.
__ADS_1
"Hm." gumam Lucita. Dia lagi mengukus pansit sepertinya sudah matang, Lucita mematikan kompornya.
"Kamu bisa bekerja di model Agency, kenapa malah bekerja jadi pelayan Lucita?" tanya Kiara semakin penasaran.
"Saya bukan model Nona, saya atlit beladiri." jawab Lucita.
Etdah! "Bela diri, jadi audisinya bela diri." Kiara mengerutkan dahinya.
"Yup." jawab Lucita singkat.
"Kamu sudah menikah Lucita?' tanya Kiara lagi.
"Kalau sudah, apa saya masih ada disini Nona?" Lucita balik bertanya sambil mengeluarkan pansit nya dari kukusan menyusunnya di wadah.
Bibir Kiara mengerucut, benar juga.
"Lucita beritahu aku di mana pasar, ada yang ingin aku beli." tanya Kiara.
Bukan hanya Lucita, Dwi juga menoleh pada Kiara. "Sebut saja Nona mau beli apa, nanti saya pesan lewat online." jawab Lucita.
cih! itu juga aku bisa, dalam hati Kiara.
Lucita meletakkan pansit nya di meja di depan Kiara masih berasap. Pandangan Kiara tertuju pada pansit di depannya. Kelihatannya lezat.
Ini seperti Pansit Korsel yang sering aku lihat di drama, dalam hati Kiara.
"Kalau online biar aku sendiri yang pesan." ujar Kiara.
Pandangan Kiara tak lepas dari pansit-pansit di depannya, ingin segera mencicipinya, "boleh aku minta?" lanjut Kiara menunjuk pansit Lucita.
"Boleh Nona, ambil saja seberapa Nona mau." jawab Lucita.
Kiara mengambil piringnya, mengisinya dengan dua pansit. Dengan lahap kiara memakannya setelah habis diambil lagi, wah enak sekali.
Tidak terasa sudah habis sepuluh, sehingga di wadahnya tinggal sisa enam. Lucita membuatnya enam belas, rencananya akan dimakan berempat jadi seorang jatah empat.
Saat Kiara mau mengambil lagi, "Kiara, kamu makan gak baca bismillah Nak?" suara Dwi menegurnya.
Hm...
"Baca Bu, memangnya Kenapa?" tanya Kiara memandang ibunya.
"Itu pansit besar-besar kamu sudah makan sepuluh, jangan tambah lagi. Nanti perutmu pecah." ujar Dwi mengingatkan, menatap heran putrinya.
Padahal baru sarapan, dalam hati Dwi.
Kiara kaget.
Masa sih aku sudah makan sepuluh bukannya tadi aku ambil cuma dua, nih masih mau nambah.
Dalam hati Kiara masih mengences melihat pansit di wadah yang memanggil-manggil padanya.
Kiara menjilat-jilat bibirnya.
"Makanlah Nona, nanti saya kukus lagi masih ada mentahnya di dalam kulkas."
Ujar Lucita merasa senang karena masakannya diminati Kiara, berarti pansit nya enak dong. Baru ini Lucita mencoba membuatnya, mengambil resepnya dari website.
"Sudah jangan berikan lagi, Lucita!" sergah Dwi marah.
Kiara merengut bibirnya mengerucut. Kembali ke kamar mengeluarkan ponselnya, mau pesan pil pelancar datang bulan melalui online.
__ADS_1
*****tbc
hi , readers. Terima kasih Like dan votenya. Dukung terus ya, Kiara dan Bram. klik ♥️favorit biar terus terupdate ya guys. 🙏