Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
67


__ADS_3

"Sayangku." desis Bram menatap Kiara manja. Kiara memeluk erat di leher suaminya.


Marissa membulatkan matanya, setelah sadar lalu ia mendorong Yudi. Ciuman terlepas, tatapannya nanar pada Yudi.


Ia semakin membenci Yudi, ada marah dan juga malu. Di pipinya basah air mata, lalu dengan beringas Marissa menghajar Yudi, tangan dan kakinya menggebuk dan menendang nendang tubuh pria itu.


"Hah!" Yudi tergamang.


Ia tidak percaya pada dirinya, yang baru saja mencium seorang gadis. Ini adalah ciuman pertamanya, Yudi diam saja dihajar Marissa.


Marissa semakin kalap, berteriak histeris penuh emosi menghajar Yudi. Sehingga tubuh Yudi terdorong ke tembok.


Yudi kewalahan dengan perlakuan Marissa, akhirnya ia mengangkat Marissa ke pundaknya, membopong gadis itu keluar dari toilet seperti memanggul sekarung beras. Walau Marissa meronta-ronta Yudi bergeming, gak mau menurunkan nya.


Bram geleng kepala dan tersenyum lebar di wajahnya, ia mengikuti Yudi keluar dengan masih menggendong Kiara.


Melihat itu Beno bertanya pada Laras yang masih di dekapannya.


"Apa kamu mau digendong juga?"


"Ha!" Laras melihat di toilet sudah tinggal mereka berdua sedang berpelukan, ia segera mengurai diri dari Beno.


"Tidak, aku bisa jalan sendiri." ujarnya, lalu keluar dari toilet disusul Beno mesem mesem sendirian.


Sepanjang jalan keluar Mall menuju parkiran, beberapa pengunjung yang melihat Yudi membopong Marissa merasa geli. Seorang remaja mengambil ponselnya langsung merekam.


Melihat itu Bram melirik Beno. Seolah paham, Beno menarik ponsel anak remaja menghapus dari filenya. Mengembalikan ponselnya, memberinya sejumlah uang.


"Siapa berani meng-upload, siap-siap masuk jeruji besi!" ancam nya pada pengunjung lain yang juga mau mengambil gambar.


Beno menyusul Laras yang sudah berjalan jauh ke depan. Setelah dekat meraih tangannya, Laras kaget menarik jemarinya namun Beno menggenggam nya erat.


Sampai di parkiran, Yudi menghempas Marissa masuk ke Mobil. Dia memutar badan masuk di bagian kemudi.


Bram menurunkan Kiara dengan lembut membawa masuk ke mobil. Dari pintu sebelah disusul Laras duduk di samping Kiara kemudian Beno. Bram terakhir dari pintu sebelah Kiara.


Marissa di sebelah Yudi terisak membuang muka. Antara marah bercampur malu, dalam hati ia berjanji akan membalas dendam atas pelecehan yang diterima nya.


Yudi tersungging melirik gadis di sebelahnya.

__ADS_1


Dia tidak tau kalau aku bisa membaca pikirannya, he he he.


Yudi menyeringai dalam hati, ia menjalankan mobil menuju rumah besar.


*****


Di rumah besar Alisha sedang kesal.


Bolak-balik nelpon Si Bram tapi panggilannya gak diangkat-angkat oleh putranya itu. Akhirnya ia menelpon Yudi.


Sambil mengemudi Yudi menerima panggilan melalui headset yang terpasang di telinganya.


"Hallo Nyonya!" jawab Yudi.


"Mana Bram! Kenapa telponnya gak diangkat-angkat!" suara Alisha gusar dari ujung panggilan.


"Ada perlu apa Nyonya, nanti saya sampaikan." jawab Yudi.


"Pak Walikota ada di rumah besar, bawa pulang Bram dan Kiara segera, ngerti!" titah Alisha.


"Baik Nyonya, otewe." jawab Yudi. Panggilan diputus.


Yudi membawa mobil kecepatan maksimal, di bangku belakang empat orang berpegangan erat takut terlempar.


Bram tau suasana hati Yudi, ia gak masalah kalau hanya mereka berdua. Yang Bram khawatirkan adalah Kiara, Ia gak akan memaafkan jika sesuatu menimpa Kiara nya.


Membaca pikiran bosnya, Yudi menurunkan kecepatannya.


"Maaf Tuan muda." jawab Yudi pelan.


Yudi melirik gadis di sebelahnya, memikirkan cara bagaimana agar gadis ini bisa jadi miliknya. Sementara di pikiran si gadis hanya ada kebencian dan balas dendam terhadap dirinya, hm. Yudi menghela napas dalam.


Kiara di pelukannya, Bram melihat raut istrinya yang tegang jadi khawatir. "Sayang tadi kamu jatuh, apa masih sakit?" bisik Bram di telinga Kiara.


Kiara menoleh pada suaminya. "Sedikit." jawab nya pelan.


"Sakit ya sakit, mana ada sedikit." Bram memeluk di bahu Kiara semakin mendekap nya, menangkup wajahnya menyesap lembut ujung bibirnya.


Kiara jadi malu pada orang di sebelahnya. "Bram." desis nya menggeleng mendorong wajah Bram. Ia gak enak hati pada temannya Laras yang duduk di sebelahnya. Akhirnya Bram menarik kepala istrinya itu agar bersandar di bahunya.

__ADS_1


Sebenarnya Kiara merasa gerah. Kelihatannya Beno memeluk Laras dari belakang tapi jemarinya merapat kebagian panggulnya. Bahkan bergerak gerak naik turun membuat gesekan.


"Yudi ngebut saja, gak apa." ujar Kiara menegakkan kepalanya.


Bram menatap Kiara. "Biar cepat sampai." kata Kiara menjawab tatapan Bram. Gak mau lebih lama lagi Beno mengusik ketenangannya.


Sementara Laras juga gerah. Semakin risih karena Beno merapatkan tubuhnya bahkan mengendus-endus dirinya.


Ini bule emang ganteng tapi aku gak suka baunya. Bau keju dan susu, serasa pacaran sama lembu, dalam hati Laras.


Laras mengalihkan perhatiannya pada dua makhluk di depannya, yaitu asisten Tuan muda dan si gadis di sebelahnya.


Apa setelah ini mereka akan jadian, jelas-jelas sepupu Bram sukanya sama si Beno.


Dalam hati Laras, ia terlihat luka di pelipis Yudi mengeluarkan darah.


Ini karena perempuan gila itu mencakar wajahnya, leher dan kepalaku juga masih sakit karenanya.


Dalam hati Laras masih geram pada Marissa. "Om, keningnya berdarah itu." ujar nya kasihan.


Beno di sebelahnya menegur Laras. "Biarkan dia mengemudi. Pria dewasa luka sekecil itu, gak apa." kata Beno menepuk di panggul Laras.


Jemarinya juga menyentuh panggul Kiara, sangat lembut dan menggetarkan hatinya. Beno merasa betah berdekatan dengan Laras dan tidak masalah bersentuhan dengannya. Bukan karena apa, bau badannya mengingatkan Beno pada Kiara waktu kecil dulu. Beno suka mencium Kiara gara-gara baunya.


Saat di Panti, Kiara rajin menggosok minyak kayu putih dan baby powder di badannya setelah selesai mandi. Bahkan Beno sering meminta pada Ibu Panti, agar dia yang mengolesi minyak dan bedak di tubuh Kiara. Tentu saja dengan pengawasan ibu Panti.


Nb : Sebenarnya Kiara masih suka pakai minyak kayu putih dan baby powder habis mandi. Tapi karena di kamar Bram gak ada, sekarang bau tubuhnya mengikuti bau tubuh Bram. Karena ia memakai semua perawatan tubuh suaminya itu.


Kalau aku ceritakan ini pada si Wijaya, pasti dia panas.


Dalam hati Beno menyesal banget kenapa lama baru mencari Kiara. Itu karena keasikannya mengembangkan bisnisnya. Apalagi sekarang merambah ke negara Eropa.


Apalah artinya semua ini, kalau hatiku hampa. Gak nyangka Kiara akan cepat mendapatkan jodohnya. Lucita! Mana Lucita, mengapa belum menghubungi. Apa jet masih belum bisa terbang ah, ini sudah siang lam-lama di sini aku bisa gila.


Dalam hati Beno nelangsa, ia menarik tangannya keatas kepalanya mengusap rambutnya kasar. Ia membuang mukanya ke arah jendela luar di sebelahnya.


Kiara dan Laras merasa lega, tidak ada lagi tangan di antara duduk mereka.


Mendengar perkataan Laras tadi, Yudi mengambil tissue di dashboard, mengusap wajahnya yang terasa perih.

__ADS_1


******


enjoy reading and see you to the next episode.


__ADS_2