Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
42


__ADS_3

"Tentu saja tidak Ka, mana mungkin hamil." jawab Kiara spontan tersipu malu.


"Kenapa tidak, kita sudah menyatu sayang. Satu kali saja bisa jadi, kita sudah berkali-kali, ah aku jadi pingin."


"Tidak Ka, ini hanya telat biasa bukan hamil. Belikan ya, nanti bawa kemari."


"Sayang jangan macam-macam ya! Biarkan bayi kita tumbuh di sana. Kalau bisa dipindah, aku bersedia menggantikan kamu mengandung." tegas bram antusias.


"Aaa Bram! Aku baru delapan belas dan belum menikah, aku gak mau hamil." rengek Kiara hampir menangis.


"Iya sayang, kita akan menikah. Aku akan menjemput kamu ke sana bersama wali nikah. Aku sudah dapat alamat kamu itu, dekat rumah kakek."


"Benarkah?"


"Benar sayang apa kamu bisa keluar saat aku menelpon nanti, aku menunggu kamu di gerbang."


"Ka, tadi juga aku mau keluar tapi Lucita melarang aku kemana-mana. Dia sangat ketat dan bisa bela diri bagaimana aku bisa lari?"


"Hm, begitu ya jadi kamu dikawal bodyguard." Bram berpikir-pikir.


Jadi harus aku yang terobos masuk,


baiklah, dalam hati Bram.


"Sayang, buka bajumu."


"Untuk apa?" Kiara heran.


"Aku pingin lihat."


"Lihat apa?"


"Lihat baby."


"Mana ada, masih rata." unjuk Kiara membuka perutnya.


"Sedikit lagi sayang, lebih keatas."


Kiara mengangkat lagi sampai kelihatan susu. Di layar ponsel Bram menelan ludah, liurnya menetes.


"Sayang, buka branya!"


"Ha!"


Tok tok tok..tok. " Nona" terdengar suara Lucita.


Kiara kaget langsung menurunkan bajunya. "Iya, sebentar aku lagi buang air , agak keras susah keluar!" teriak Kiara.


Makin lancar aja aku bohong, dalam hati Kiara.


"Baiklah Nona, kalau sudah cepat keluar! Tuan Beno menelepon tapi ponsel Nona sibuk, Nona telpon sama siapa?"


gleg. Ketahuan deh.


******


Bram terbengong menatap ponselnya. Tiba-tiba Kiara memutus panggilan, saat-saat dia sudah bergairah, ah.


Kemudian masuk chat dari,

__ADS_1


💞My wife : "Ka Bram sudah dulu ya aku ada urusan, bye.😘


Bram mengusap wajahnya kasar, kemudian telanjang mandi di bawah guyuran air dingin, memberi pelumas melemaskan ototnya yang tegang.


Setelah selesai Bram keluar dengan rambutnya yang basah, Yudi tidak heran karena ia tahu apa yang terjadi di dalam kamar mandi.


Dasar!


"Bos, waktunya makan siang dengan Evita." ajak Yudi.


Bram menarik napas malas terhempas di sofa. "Yudi, aku kangen Kiara. Bisa tidak kita gak usah ikut meeting?" ujar Bram.


"Ini Rapat Dewan direksi pertamamu Bos, sebaiknya Bos hadir. Bukankah posisi Nona sudah aman?" jelas Yudi.


"Argh, baiklah Yudi jangan lupa kamu hubungi wali nikah, suruh mereka siap-siap. Bayar dua kali lipat, aku ingin menikahi Kiara malam ini juga di rumah kakek dan membawanya langsung ke apartemen, mengerti Yudi." tegas Bram.


"Baiklah Bos, kita makan siang sekarang agar tidak terlambat pada rapat Dewan." ujar Yudi.


Walau malas, Bram berusaha tetap menurut pada Yudi. Ia sadar, belum paham betul dunia kerja. Berjanji akan banyak belajar dari Yudi untuk kemajuan perusahaannya.


Yudi membawa Bram turun dari pintu rahasia, menuju mobilnya pergi ke resto Hotel WJ. Bertemu Evita makan siang dengannya, agar Yudi bisa memindai otaknya.


Sesampai di resto, meja reservasi masih kosong tidak ada Evita padahal jam makan siang sudah lewat lima belas menit.


Kenapa belum datang, dalam hati Yudi.


Yudi memindai lokasi, selalu ada dua anak buah Raharja yang mengintai di setiap tempat usaha group WJ.


Ada apa Raharja sangat terobsesi dengan group Wijaya, dalam hati Yudi.


Yudi menarik kursi untuk bos kecilnya kemudian untuk dirinya.


*****


"Cepatlah Bryen, Bram sudah menungguku!" desak Evita yang sudah tak sabar bertemu calon suaminya tercinta.


Hais, kenapa tadi aku bisa ketiduran di pelukan Bryen lagi, kesal Evita.


Bryen menatap wajah kesal Evita, semakin cantik saja di matanya.


Semua sudah kulakukan untukmu Evi tapi kamu malah tergila-gila pada pria yang tidak perduli padamu, dalam hati Bryen.


Bryen merasa putus asa, dia sudah mendapatkan tubuh Evita tapi tidak dengan hatinya.


Salahnya di mana, itu karena statusku yang sebagai anjing ayahnya, ah.


Dengan patuh Bryen membawa Evita kekasih hatinya menjumpai calon suaminya. Bryen geram menggertakkan giginya.


Tanganku sudah gatal ingin membunuh si Tuan muda Wijaya itu, dalam hati Bryen.


Setelah sampai di parkiran resto hotel WJ, Evita gak sabar langsung melompat keluar, "auw" jerit Evita. High heelsnya patah.


Dengan cepat Bryen ingin menggendong Evita tapi Evita menepis tangannya, berjalan tertatih-tatih menuju pintu restoran.


Bryen yang menahan geram hanya bisa menelan ludah, mengikuti Evita. Sebagai bodyguard dia harus selalu dekat dengannya.


Yudi lagi memindai-mindai lokas, melihat bayangan Evita ada di lobby hotel di depan resto baru datang dengan kakinya yang terpincang-pincang.


Kenapa kakinya, dalam hati Yudi.

__ADS_1


Yudi melirik Bram, menunjuk ke pintu luar dengan ekor matanya.


Bram melihat Evita datang dengan kakinya yang pincang timbul belas kasihan, bangun mendatangi Evita.


"Kamu kenapa?" tanya Bram.


Evita sangat senang dengan perhatian Bram langsung bersandar pada tubuhnya.


Dalam hati Bram menyesal dengan tindakannya yang mendatangi Evita.


Hah! Siluman ini paling bisa nyari kesempatan.


Bram kesal sampai ingin mendorongnya, tapi ia tahan.


"Turun dari mobil tadi terburu-buru Bram, sepatunya patah kakiku ikut patah." ujar Evita dimanja-manja semakin memeluk di lengan Bram.


Yudi memindai otak Evita yang bersandiwara, berusaha menahan emosinya. "Silahkan duduk Nona." Yudi memberi kursi untuk Evita.


Dengan malas Evita duduk di kursi sambil meringis dilebih-lebihkan. Yudi semakin naik pitam, mengurut di kaki Evita dan menekannya lebih kencang.


"Auw! Kau ingin membunuhku." bentak Evita.


"Sepertinya kaki anda memang patah Nona, apa anda bawa asisten?" tanya Yudi melayani sandiwara Evita.


Kakiku gak kenapa-kenapa jadi patah beneran gara-gara si asisten bodoh ini, dalam hati Evita.


"Memang kenapa kakinya?" tiba-tiba Bryen bersuara di samping Evita


"Kita akan bawa anda ke rumah sakit Nona, agar kaki anda bisa segera ditangani." ujar Yudi semakin menjiwai aktingnya.


"Tidak tidak kita makan saja, aku gapa Bram, nah lihat." Evita berdiri menggoyang-goyang kakinya.


Padahal tadi aku mau mencari perhatian Bram, jadi gagal karena si asisten ini.


Evita menahan geram. "Bryen, ambilkan sepatu ganti di mobil!" perintah Evita pada Bryen dan tersenyum manis pada Bram.


Bram mau makan siang denganku, ini adalah kesempatan yang langka. Aku tidak akan menyia-nyiakannya, dalam hati Evita.


Hanya Tuhanlah yang tau betapa sakitnya hati Bryen, statusnya dianggap pembantu sama Evita di depan si Bram. Tangannya mengepal menahan marah.


Melihat ekspresi wajah Bryen, Yudi kepikiran memindai otaknya. Betapa terkejutnya ia melihat isi otak si Bryen, banyak kematian di sana. Seketika darah di tubuh Yudi mendidih, ingin rasanya membunuh Bryen saat ini juga.


"Bawa Nonamu pulang aku akan bawa Tuan mudaku, makan siang dibatalkan!" sergah Yudi pada Bryen membawa Bram bersamanya meninggalkan Evita yang kebingungan.


Bram juga gak banyak tanya, ikut saja dirinya diseret Yudi. Lagipula dia memang muak dengan tingkah Evita yang telah menjamah tubuhnya. Mengingat itu Bram membuka jasnya melempar ke dalam tong sampah yang dilewatinya.


Dalam pada itu ada anak remaja dengan beberapa temannya lagi makan di resto. Mengambil vidio dengan ponselnya. Mereka adalah followers Evita. Mereka menyukai selera fashion Evita dengan barang-barang brandednya. Apalagi Evita sering bagi-bagi barang bekasnya di akun sosial medianya.


"Sudah diunggah?" tanya teman satunya.


"Hm." angguk anak remaja.


"Coba lihat, wah mesranya."


Mereka mengunggah vidio Evita saat memeluk Bram. Dan diedit disatukan dengan saat-saat Bram membuang jasnya ke tong sampah. Mereka tertawa-tawa, saat itu juga akun anak remaja dibanjiri netizen. Fanatik marah , haters tertawa.


******tbc


hi, readers. Terima kasih Like dan Vote nya, klik favorit ♥️ biar terus terupdate ya guys.🙏

__ADS_1


__ADS_2