Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
57


__ADS_3

"Seandainya Kiara bertemu Nak Beno duluan pasti dia kesemsem, Saya aja kesemsem." canda Dwi.


"Hm, Ibu saja yang jadi pasangan saya." ujar Beno sok serius.


"Haha ha." Dwi tertawa malu menutup mulut dengan tangannya.


"Pasti banyak cewek muda dan seksi yang ngejar ngejar, ditangkap satu lah." ujar Dwi.


Saya suka ngejar bukan dikejar, dalam hati Beno. Ia menyunggingkan senyuman.


******


Penata rias menemukan Alisha di luar pintu kamar lagi ngetuk-ngetuk. Ia baru dari toilet.


"Tuan muda minta privasi bersama Nona sebentar." ujar penata rias menjawab keheranan Alisha menatapnya.


Privasi, mana ada waktu buat privasi.


Tok tok tok


"Bram! Kiara! Buka pintunya kenapa dikunci?" suara Alisha.


"Ka, Mama di luar." ujar Kiara merem melek.


"Hm, bentar." desah Bram disela aktifitasnya.


Tok tok tok


"Bram, buka pintunya wali nikah sudah di ruang utama, mau nikah gak?" teriak Alisha lagi nada khawatir.


Jangan-jangan lagi berantem.


Alisha mendekatkan telinganya ke pintu. apa ada keributan atau suara erang-erangan gitu?


"Ka, ah." Kiara menahan aliran panas di tubuhnya.


Bram semakin menekan di dadanya.


"Ka, mau nikah gak?" tanya Kiara lagi menggigit bibir bawahnya.


Susah payah Bram menguasai dirinya, akhirnya bisa berhenti. Ia mengusap bibirnya, wajahnya meremang kembali menyerang.


"Ka sudahlah, Mama di depan pintu!" Kiara menjambak rambut Bram menarik wajahnya lepas dari dadanya. Ia membenahi kaosnya. Bram mendengus.


tok tok tok


"Bram, buka pintunya!" suara Alisha lagi.


Ck. Bram menurunkan Kiara dari pangkuannya, berjalan ke pintu lalu membukanya.


"Bram, kamu! Mana Kiara?" tanya Alisha mau marah segera ditahannya.


"Itu."


Unjuk Bram ke sofa dengan memonyongkan bibirnya yang memerah basah dengan mata mode mengantuk.


Alisha geleng kepala melihat Kiara belum apa apa, astaga mau nikah gak sih?


"Kiara cepat! Kamu bersiap Nak, duduk di sini."

__ADS_1


Alisha membawa Kiara ke meja rias.


"Mbak sini, di make over lagi." panggil Alisha pada penata rias.


"Bram, kamu sudah hapal belum bacaan qobul nya?" tanya Alisha pada Bram mengambil kotak di lemarinya.


"Sudah Mama, saya terima nikahnya Kiara Rosalinda Burhan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai, SAH." ujar Bram langsung menyedot bibir Kiara yang lagi di make up.


Penata rias gak kuku membuang mukanya.


Cih. Kiara menepuk punggung kekasihnya.


"Dasar gendeng." ujar Alisha. Ia memberikan kotaknya pada Bram.


"Bukan alat sholat tapi sepuluh batang emas masih-masing 10kilo gram, Ingat!" ujar Alisha.


"Mama mau bawa kotak ini ke bawah? minta dirampok!" Bram menatap Mamanya.


"Enggak satu saja formalitas. Sisanya di sini ya Kiara, sekarang ini kepunyaan kamu." Alisha memperlihatkan kotaknya pada Kiara.


Kiara mendelik melihat emas batangan 10 buah besar-besar. Penata rias menelan liurnya.


Kiara gak tau mau bilang apa hanya terbengong menatap Bram.


"Sayang, kamu kan orang kaya. Besok aku gak usah kerja lagi. Kita di rumah saja bikin anak." kata Bram, tangannya terulur menggenggam jemari Kiara dan meremasnya.


Gak tahan penata rias tertawa ngakak.


"Nona, melihat anda saya cemburu." ujarnya.


"Bram sini, kamu juga bersiap pakai jasnya!" titah Alisha pada Bram. Membawa putranya ke ruang ganti.


*****


Di sana ada Beno, Lucita, Laras dan Zainal menatap pangling pada Kiara dan Bram.


Benar-benar serasi dalam hati mereka, yang wanita sangat cantik yang pria sangat tampan.


Melihat ibunya Kiara berlari ke pelukannya.


"Ibu." Kiara terisak.


"Sudah jangan menangis, nanti make up-nya luntur."


Juru make up membenahi wajah Kiara yang kembali basah. Kiara melihat Beno merasa bersalah. Bram menatap gak suka.


Ngapain dia datang, dalam hati Bram tangannya mengepal.


Melihat reaksi Bram, Kiara mendelik padanya. Ka, jaga sikap kamu, begitu tatapan Kiara diartikan Bram.


Alisha yang baru datang membawa mas kawin, berbicara.


"Ayo tunggu apa lagi, Yudi bawa Bram ke ruang utama, Kiara menunggu di ruang keluarga." titahnya.


Ck, dengan berat hati Bram meninggalkan Kiara di ruang keluarga.


Tatapannya mengandung ancaman terhadap Beno.


Lalu Bram menyiapkan mentalnya ikut Yudi ke ruang tengah utama untuk melaksanakan ijab kobul.

__ADS_1


"Ra." sapa Laras pada Kiara menggenggam jemari sahabatnya itu.


"Iya." Kiara duduk di samping Laras. Dan tersenyum pada Zainal.


"Maap ya Ras, gue gak ngubungin lo. Ponsel lama hilang, gue lupa no ponsel lo." ujar Kiara.


Kiara menatap Lucita dan tersenyum padanya. "Selamat ya Nona." ucap Lucita.


Kiara mengangguk tersenyum pada Beno, air matanya mengalir. Penata rias mengeringkan lagi wajah Kiara.


"Jangan nangis lagi Nona." ujarnya.


"Meno." desis Kiara.


Beno tersenyum datar, menatap sayu Kiara. Menyesali dirinya yang terlambat mencari Kiwawanya.


Gak lama terdengar suara, "Sah sah sah." dari ruang tengah Utama.


Saatnya janji pernikahan, penata rias membenahi dandanan Kiara sebelum dibawa ke ruang tengah utama.


*******


Flashback sebelum ijab kabul.


Dari ruang keluarga, Yudi mengawal Bram ke ruang tengah utama. Bram duduk bersila dibatasi satu meja berhadapan dengan wali hakim nikah.


Detik-detik ijab kabul, semua yang hadir baik yang di dalam maupun yang di luar menyaksikan dengan khidmat.


Yang di halaman luar, semua kegiatan terhenti. Baik itu musik ataupun yang lalu lalang. Bahkan kenderaan yang kebetulan lewat ikut berhenti sehingga menimbulkan kemacetan.


Polisi juga gak bisa berbuat apa apa, ikut berdebar menantikan saat-saat Tuan muda mengucapkan lafaz qobulnya. Semua mata tertuju pada layar lebar yang memang sengaja dipasang.


Tuan muda sangat percaya diri saat mengucap dengan satu tarikan napas. Semua terharu setelah para saksi mengatakan, sah sah sah.


Flashback of.


Setelah ijab kabul.


Bram dan Kiara masing-masing telah dipandu oleh wali hakim nikah untuk membacakan janji pernikahan.


Sesaat setelah janji pernikahan selesai, Bram meraih Kiara ke pelukannya, tak sabar ia mencium bibirnya dengan berurai airmata.


Suasana yang semula khusuk menantikan dengan berdebar saat saat Tuan muda mengucapkan bacaan qobul nya sekarang menjadi riuh, pecah.


"Wuuuu."


Terdengar sorak menggema seperti ombak, di halaman luar. Semua yang hadir mendadak histeris melihat kelakuan Tuan muda dari beberapa layar lebar yang dipasang di halaman luar.


Meraka semua yakin bahwa Tuan muda sangat mencintai istrinya, jadi yang kemarin itu apa? Bertunangan dengan Nona Evita, apakah dipaksa?


Yang di dalam ruangan tersipu malu, ada yang geleng kepala.


Kiara membulatkan matanya, gak nyangka Bram akan mencium bibirnya di muka umum. Pengen rasanya menggetok kepalanya.


Kiara mendorong Bram, ciuman terlepas. Kiara melotot pada Bram mengusap bibirnya yang belepotan bekas lipstiknya.


******


enjoy reading and see you to the next episode. 🙏

__ADS_1


__ADS_2