
Tok tok tok.
Laras buru buru membenahi pakaiannya, Yudi kabur ke kamar mandi.
Cklekk.
Setelah rapi Laras membuka pintu. "Ya," jawabnya pada seorang perawat yang berdiri di Pintu.
"Saya mendengar suara bayi menangis," perawat berkata (setelah diterjemahkan ke dalam bahasa nusantara)
Perawat melongo ke dalam kamar, ketiga bayi tengkurap memandang ke pintu ke arah Laras tidak bersuara, hanya wajah dan mata besar mereka yang basah menandakan ketiga bayi lucu itu baru saja menangis.
Hm.
Laras menarik ujung bibirnya, "Saya ke kamar mandi sebentar dan mereka menangis karena kehilangan saya," jawab Laras mengerti arti tatapan perawat.
"Oh, baiklah. Mengenai sitter kalau memang mendesak boleh mulai saat ini, mereka sudah ready Nyonya," jelas perawat lagi, takut bayinya kembali menjerit.
"Tidak apa besok saja, bayi menangis kan biasa. Mereka hanya kehilangan saya sebentar, setelah melihat saya mereka tidak menangis lagi, jangan khawatir."
"Baiklah Nyonya, saya permisi. Kalau butuh bantuan jangan sungkan."
"Iya."
Laras menutup pintu kamar tak lupa mengunci nya lalu menghampiri ketiga bayinya.
"Hei, maafkan Mama anak anakku." ucap Laras membalikkan ketiga bayinya satu persatu.
Mereka terlentang seperti kecoak terbalik kakinya bergerak gerak, senyuman menghiasi bibir semerah cabe. Rebutan minta digendong.
Laras menggendong Sebi pertama, mengusap pipi basahnya. "Eummah," ujar nya menarik baju depan Laras.
"Sebentar nak."
Laras meletakkan Sebi, lalu ke wastafel membersihkan dadanya. Setelah bersih Laras kembali ke kasur segera menyusui bayinya.
Yudi keluar dari kamar mandi, hanya pakai handuk sepinggang sambil mengeringkan rambutnya.
Yudi memandang istrinya sedang menyusui bayinya. Ia masih bel bisa membedakan mana Sebi mana Sebi, kecuali Duta karena dia berbeda.
Yudi menyambar seadanya kaos dan celana pendek dari lemari sambil membaca Tuan muda ternyata sedang bercengkrama dengan Nyonya Aishah dan Bibi Dwi mengenai kepulangan mereka.
"Emang Abang gak balik ke Tuan muda lagi?" tanya Laras.
"Hmm." Yudi menggeleng.
"Aku akan disini menemani kalian, Tuan muda juga sibuk dengan Moni dan Choi."
Setelah berpakaian Yudi menghampiri Laras mau main dengan bayinya. Laras menahan senyuman dan kesal bersamaan.
"Bang, Laras setuju bayi dijaga sitter."
"Abang yang gak sanggup dek, pisah tidur dengan bayi bayi," jawab Yudi mencium Sevi dan Duta bergantian.
"Siang aja kasi sitter, malam tidur bareng kita kan bisa."
__ADS_1
Hm, Yudi menatap sambil membaca Laras ternyata istrinya itu juga kecewa atas gagalnya acara ena2 mereka.
Laras mencium pipi Yudi malu-maluin, Yudi menarik ujung bibirnya balas mencium pipi istrinya. Si otong sudah tenang jangan dibangunkan lagi, Yudi membuang jauh pikirannya.
Sebi tertidur di teti Laras mulutnya menganga, pintil lepas dari mulutnya. Laras memasukkan Sebi ke baby box, belum niat memasukkan tetinya, Yudi menelan ludah.
Kemudian meminta Duta dari pangkuan Yudi. "Sini bang."
Laras mengulur tangannya. Secara urutan memang Sebi lahir duluan diikuti Sevi barulah Duta.
Lagi-lagi Yudi menelan liurnya, memandang Duta mengenyot teti beda dengan Sebi dan Sevi. Duta lebih rakus mirip dirinya saat mencumbu Laras.
Laras mengalung lengah dileher Yudi, gak tahan lihat wajahnya, menggemaskan dan segar baru kena air. Yudi meraup bibir Laras, mereka kembali saling ngelu-mat, Yudi kembali bangun menyesak di dalam cempak.
Arghh.
Desah Laras disela ciuman, benar benar terotak. Hasratnya yang belum tersalur membuatnya spaning.
Yudi melepaskan pagutannya membaringkan Laras 135 derajat meletakkan Sevi di dada satunya lalu ikut baring menyamping.
Lengan Yudi melingkar di leher belakang Laras, Laras berbantal lengan Yudi dahinya mengernyitkan.
Mau apa suami ku ini.
Tangan Yudi satunya menyusup ke dalam gaunnya ternyata Laras belum mengenakan cdnya, dengan mudah ia menjamah nunuk istrinya yang lembab dan lengket bekas cumbuan di kolong
Ah, desah Laras menoleh menatap sayu Yudi.
Dengan sayu juga Yudi ngelu mat bibir istrinya dengan jemarinya yang bermain main di bawah sana sehingga kembali basah. Uhh, lenguh Laras menggelinjang.
"Bang, ah!"
Desah Laras, merasa ganjalan di area sensitifnya terasa lebih penuh dan ngap. Laras menatap Yudi semakin sayu memohon, gak tahan lagi ingin segera dituntaskan.
"Aku mencintai mu," bisik Yudi di telinga Laras, di akhir penyatuan.
"Aku juga mencintai mu," jawab Laras kembali mereka berciuman, saling mengisap masinnya cinta.
*
Sora berhasil menyelinap ke atap, dengan dada berdebar ia naik lift sendirian. Benar saja ada Zainal dan Sabit duduk di kursi malas.
Ternyata di atap sejuk walaupun di waktu siang. "Om Ze," pekik Sora melompat ke atas tubuh zainal.
Ngeek!!
Ahh, "Sora pelan-pelan." Zainal bengek serasa dadanya tertimpa balok.
"Sora!" tegur Sabit.
Sora gak perduli duduk mengangkang di pangkuan Zainal.
Neh anak, dia pikir aku kuat iman apa. Silap silap kemakan juga entar, ah!
Batin Zainal jengah, apalagi ada Sabit.
__ADS_1
"Sora!" panggil Sabit lagi.
"Apa sih berisik, tau! Om Ze tuh calon suamiku," sinis Sora menyuap Zainal dengan snack yang dibawa nya.
"A," ujar Sora, Zainal membuka mulutnya.
Ck, decak Sabit gerah melihat keintiman Sora dan Zainal.
"Udah, gak apa Sabit. Aku kuat iman, kok." ujar Zainal ngerasa gimana gitu.
Sensasi dudukan Sora tak ayal membuat batangnya mengeras, mana pantat Sora gerak-gerak lagi, jadi semakin nikmat.
Mulut atas penuh kudapan, selangkangannya pas banget di mekmek Sora. Astaga, cobaan ini enak sekali, batin Zainal.
"Itu apa yang keras?"
Sora berbisik di telinga Zainal, merasa bawahnya menduduki ganjalan aneh tapi kok bikin nagih.
Zainal tersenyum dikulum, kegelian. "Lagi dong aaa," pinta Zainal membuka mulutnya pura pura gak dengar. Sora menyuapi Zainal lagi cemilannya, cup. Satu kecupan mendarat di bibirnya.
Ah!
Sabit jengah memandang dua orang omes di depannya, saling tersenyum.
Kok bisa aku punya adik si genit ini, usia baru 8 tahun. Kayaknya gen Suganda melekat dominan di tubuhnya.
Batin Sabit, tapi karena Zainal orang yang dikenalnya, ya sudahlah. Awas aja kalau sampai khilaf, tinggal bacok.
"Aku ke toilet dulu," pamit Sabit.
"Hm," angguk Zainal.
Kesempatan, Sora semakin menghimpit Zainal, mengalung lengan di lehernya. Sora berusaha mencium bibirnya, namun Zainal masih waras, menolak nya berpaling ke kiri berpaling ke kanan.
"Jangan!" tegas nya mendelik ke Sora, saat bocil omes itu memaksakan kehendaknya.
Sora merengut, cup. Satu kecupan di kening Sora dari Zainal.
"Kamu jangan begini ke pria dewasa lain tau, entar Om ze gak mau nikahin kamu!" ancam Zainal.
"Iya, tapi cium dulu!" Sora memonyongkan bibirnya.
Cis, dasar omes.
Cup.
Mau gak mau Zainal mengecup, hanya kecupan. Sora ngelunjak mulutnya menganga. Zainal mendorong kening nya, aish keluhnya.
Tubuh Sora yang empuk memang enak dipeluk, kulit masih halus mulus. Zainal paling suka rambut keritingnya serupa Laras wanginya serupa bayi, Zai memeluk Sora.
Sora terdiam di pelukan Zainal, terlalu muda untuk mengerti apa yang dirasakan nya. Hanya merasa disayangi, tidak ada dada berdebar debar.
***
Jumpa lagi, 👍
__ADS_1