Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
156


__ADS_3

Masih di gedung perkantoran group WJ, Yudi mengejar Bram yang berjalan cepat ke parkiran VIP..


Sepertinya, si bos serius mau nyusul Nyonya muda ke mountain villa...


Hais, ada niat kerja gak sih? mentang-mentang perusahaan bapak moyang nya, padahal masih satu kali meeting lagi!


Tadi juga sudah keluar awal...


Dalam hati Yudi menggerutu, lalu buru-buru menghubungi anak buahnya melalui headsetnya yang terhubung langsung ke satuan pengaman yang mengantar Kiara, Laras dan Sora ke Mountain Villa.


"Posisi Nyonya?" tanya Yudi.


"Masih di kediaman Chef Junaidi, Bos." jawab anak buah Yudi.


"Awasi terus, jangan biarkan Nyonya pergi ke kediaman Beno! Tuan muda otw, ngerti!" Yudi suara tegas.


"Siap Bos." jawab anak buah Yudi di ujung panggilan mengerut dahi.


Soalnya tadi Yudi sudah berpesan pada mereka, kalau Nyonya muda mau menyelinap biarkan saja namun tetap diikuti ke mana pun dia pergi, diawasi secara diam-diam.


Ternyata si Bos mau nyusul, hais merepotkan saja.


"Tuan muda, sebaiknya kita nyusul selesai satu meeting lagi. Ada satuan pengaman yang mengawasi Nyonya, barusan juga saya dikabari bahwa Nyonya sedang mengikuti tes untuk penentuan kelasnya." jelas Yudi coba menahan Bram mengulur waktu lagi, soalnya kasihan Nyonya muda mau jumpa ibunya jadi tidak bisa.


Bram yang mau membuka pintu mobil pun menoleh ke Yudi. "Masalahnya aku kangen, Yudi." ujar Bram melotot pada Yudi, masih ngotot mau menyusul Kiara.


"Kamu saja yang meeting, biar aku yang nyusul Kiara." lanjut Bram gak sabar membuka pintu bagian kemudi.


Ck, dasar. "Biar saya yang nyetir Bos." ujar Yudi meraih handel pintu.


"Kamu tenang saja duduk di sampingku atau kamu duduk di belakang kalau mau aku pecat."


Bram mendorong Yudi soalnya dia mau ngebut gak tahan lagi mau jumpa istrinya, rasa khawatir menghantuinya, parno gaje.


Dengan cepat Yudi masuk duduk di samping Bram. Bram langsung mengebut, kedengaran roda mobil berdecit dengan sigap Yudi menggenggam penyangga mobil, hah!


*


Di gedung kelas Tata boga chef Junaidi.


Setelah mengikuti beberapa rangkaian prosedur pendaftaran, Kiara mencari celah bagaimana caranya bisa kabur sebentar dari pengawasan satuan pengaman, karena Lucita sudah menunggunya lewat jalan belakang.


Kiara sudah menyampaikan maksudnya pada Laras sambil daftar kursus sekalian ia mau nyelinap keluar diam-diam mau jumpa ibu Dwi di kediaman Beno tanpa memberitahu Bram.


Mendengar itu Sora minta ikut dengan Kiara, memohon dengan wajah mewek akting mau nangis dengan terpaksa Kiara membawa nya.


Sementara Laras menunggu di ruang kursus, sengaja duduk dekat jendela agar dua bodyguard yang mengantar mereka tidak curiga


Ck, "Lo ngapain sih ngintilin gue." Kiara mengomeli Sora sambil menyeret tangannya berjalan mengikuti lorong ke belakang.


"Ya mau jumpa ibu lah."


Jawab Sora padahal ia mau ikut Kiara jalan-jalan, ia bosan di gedung kursus yang isinya orang-orang pake celemek semua.


"Bukannya ibu lo, ada di rumah besar?" tanya Kiara menoleh heran, sama ibu sendiri gak kangen.


"Ah biarin dia entar juga pergi lagi, gue gak mau dititipin lagi ke orang lain maunya di rumah besar selamanya, gak pindah-pindah."


Jawab Sora, karena dipikiran Sora ibunya Salma datang mau mengambil dirinya seperti yang sudah-sudah kemudian kalau mau pergi dia dititip ke orang yang berbeda lagi, ogah.


Cis, Kiara merasa sebagai anak jebolan panti nasibnya lebih beruntung.


Bahkan sekarang ia jadi istri seorang Tuan muda yang tampan, ah teringat Bram Kiara merasa bersalah segera menarik tangan Sora keluar dari gerbang belakang menuju mobil Lucita yang sudah menunggu mereka.


"Nona." panggil Lucita keluar dari mobil membukakan pintu jok belakang buat Kiara, Kiara membalas tersenyum.


"Ayo, buruan Lucita."


Ajak Kiara setelah mereka duduk di dalam mobil sambil menoleh kesana kemari mau melihat apa satuan pengaman melihat mereka.


"Siap Nona." jawab Lucita melajukan mobilnya.


Lucita melirik monitor di dashboard mobil sepertinya bodyguard Kiara belum menyadari kabur nya Kiara dari pengawasan mereka, Lucita segera memacu mobilnya.


Sora duduk di belakang di samping Kiara dengan gembira, naik mobil lagi. Memang kesukaan Sora naik mobil, kemaruk gak pernah naik mobil. Sekali nya naik, mobil mewah lagi, ha ha ha.


"Lucita, apa ibu tau aku akan datang?" tanya kiara.


"Sudah Nyonya, dia sudah menunggu anda dengan makanan pedas kesukaan anda." jawab Lucita meluncur di jalanan dengan mulus bebas hambatan.


Syukurlah, dalam hati Kiara merasa lega.


*


Di ruang kursus, Laras duduk manis, meski begitu hatinya deg deg an.


Apa Kiara sudah bertemu Lucita.


Dalam hati Laras melirik satuan pengaman samar melalui jendela pura-pura sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Salah seorang satuan pengaman memandang Laras tatapan curiga heran sudah lima belas menit dari tadi hanya Laras yang kelihatan lalu datang menghampiri nya memastikan lagi keadaan Nyonya muda.


"Nona Laras, di mana nyonya muda tidak kelihatan?" tanya satuan pengaman setelah dekat.


"Ada, lagi di kamar mandi." jawab Laras dengan jantungnya semakin berdebar.


Satuan pengaman yang terlatih membaca gerak-gerik orang menyadari kegelisahan Laras, jangan-jangan Nyonya muda sudah berhasil menyelinap.


"Silahkan ikut saya Nona Laras bantu lihat ke dalam kamar mandi, saya melihat jam sudah lewat lima belas menit Nyonya tidak bersama anda."


Tegas Satuan pengaman sambil menghubungi teman satunya yang menunggu di mobil agar memutari gedung, siapa tau Kiara belum jauh.


Hais mati lah aku, kalau ketahuan Kiara kabur pasti mereka akan melapor pada Yudi lalu menyalahkan aku yang telah ikut bekerja sama.


Dengan berat hati Laras mengikuti satuan pengaman ke toilet wanita.


"Silahkan Nona masuk ke dalam."


Tersenyum canggung Laras mengangguk lalu masuk ke kamar mandi pura-pura, tentu saja gak ada kiara. Kesempatan itu dipergunakan Laras untuk menelpon teman dari masa kecilnya itu.


Angkat Ra, please!


Dalam hati Laras gelisah mendengar nada di ujung sambungan, tut tut tut. Setelah beberapa kali menghubungi tidak ada jawaban, akhirnya Laras keluar dari kamar mandi pasang tampang khawatir kemudian menggeleng takut-takut pada satuan pengaman.


"Nona Laras Tuan muda menuju kemari kalau beliau tidak bertemu istrinya, anda sudah tau apa akibatnya kan. Kita semua akan kena marah." jelas satuan pengaman.


Gleg, Laras menelan ludah tertunduk lemas mencoba menghubungi Kiara lagi kali ini di depan satuan pengaman, masih tut tut tut. Laras menggeleng sambil mengangkat bahunya pasrah.


Walaupun Satuan pengaman sudah tau kemana kira-kira Kiara akan pergi namun untuk memastikan lagi mobil apa yang membawa Kiara, ia meminta sekuriti melihat CCTV dengan laporan bahwa Nyonya muda group WJ Kiara tidak ada di dalam gedung.


Chef Junaidi yang menerima laporan dari anak buahnya segera meminta sekuriti membuka CCTV, sebenarnya ia telah dihubungi oleh Lucita bahwa Nyonya muda group WJ mendaftar di kelas kursusnya.


Merasa mendapat kehormatan Chef Junaidi mau membantu Kiara lewat jalan rahasia dirinya dari belakang gedung, asalkan dirinya tidak dilibatkan dalam hal ini di samping Lucita juga berjanji memberi nya jaminan atas nama Tuan Beno.


Chef Junaidi menjadi lega karena ia mengenal baik Beno, pernah menjadi staf magang memasak pada resto hotel salah satu kakak Beno di NYC dan terkenal dengan masakan rendang padang nya dan Beno sering memintanya memasak untuknya kalau dia kangen indonesia.


"Apa menurut anda Nyonya muda diculik?"


Tanya Chef Junaidi pura-pura bekerja sama mencari Kiara lalu membuat heboh satu gedung dengan pengumuman,


Barang siapa yang melihat Nyonya muda silahkan melapor akan diberi hadiah sepantasnya sekalian dia promosi.


Kalau anggota kursusnya tau bahwa Nyonya muda group WJ akan mengikuti kursus bersama meraka, bisa jadi mereka akan bercerita pada keluarga, teman syukur-syukur ada lambe-lambe nyinyir yang kepo mengangkat nya jadi berita di medsos, nama kursusnya jadi trending. Walaupun dia sudah terkenal namun masih saja gila popularitas.


Semua yang ada di gedung kursus jadi heboh, mereka tidak menyangka Nyonya muda, istri dari Tuan muda Bram yang tampan barusan ada diantara mereka, seketika suasana jadi heuporia.


Yang mana...yang mana,


Oh itu.


Dalam hati yang lainnya karena tadi Kiara ada menyapa beberapa dari mereka, namun sialnya mereka tidak mengenali nya. Yang mereka ingat cuma kecantikan nya yang membuat mereka terpesona sekaligus iri, hah!


"Jangan khawatir Nona, Nyonya muda akan segera diketemukan."


Ujar Chef Junaidi pada Laras melihat kegelisahan sikapnya.


Laras gelisah bukan karena khawatir pada Kiara namun karena takut kena marah, karena Kiara telah ketahuan menyelinap.


"Apa anda asisten Nyonya, bagaimana anda tidak mengetahui Nyonya anda kabur." Chef Junaidi suara ketus.


"Dia bukan asisten Nyonya, dia temannya. Istri asisten Yudi!" jelas satuan pengaman suara ketus juga melihat gelagat Chef yang mau melimpahkan kesalahan pada Laras.


Gleg, Chef Junaidi menelan liurnya melihat ke Laras dari atas sampai bawah, dalam hati ia mencibir.


Beruntung sekali gadis kumal ini jadi istri si asisten tampan itu, jadi dia normal! Kirain gak nikah karena belok..atau jangan-jangan cuma kedok.


ah sepertinya tidak..


Karena dia menyembunyikan pernikahan nya karena kalau cuma formalitas pasti diberitakan ke publik..


Dalam hatinya menggigit jarinya gemas cemburu pada Laras pasti sudah mencicipi si asisten tampan.


Chef Junaidi pernah melihat Yudi bersama Burhan saat melakukan tes penerimaan chef di hotel WJ, wajahnya dingin dan datar. Waktu itu Chef Junaidi diundang menjadi salah satu dewan juri.


Dihatinya sudah terbersit harapan bahwa sebentar lagi ia bisa berkenalan dengan asisten Yudi, ternyata dia sudah beristri hah!


Chef mendesah lalu fokus ke monitor CCTV. "Bagaimana sudah kelihatan belum di mana Nyonya muda Wijaya berada?" tanya nya pada sekuriti, tangannya mengelus tengkuknya.


Gleg, sekuriti menelan ludahnya merinding. "Ini Chef, sudah 20 menit yang lalu Nyonya keluar dari jalan belakang." jawab nya menunjuk ke monitor nomor tujuh, dahinya mengerut.


Jalan belakang, bukankah cuma Chef yang bisa melalui jalan itu, bahkan remot tombol open close gerbang juga ada padanya.


Dalam hati sekuriti mulai keluar keringat dingin, ternyata si bos mereka mengetahui dan membantu Nyonya muda kabur, namun pura-pura tidak tau sehingga sekuriti juga memilih sikap pura-pura bodoh.


"Lihat, Nyonya anda sendiri yang menyelinap keluar jadi jangan salahkan saya atas hilang nya Nyonya anda dari gedung saya."


Chef Juna pura-pura marah pada satuan pengaman untuk menutupi keterlibatan nya.


Setelah memastikan memang Lucita yang membawa Kiara, "Ayo Nona ikut kami."

__ADS_1


Ujar satuan pengaman pada Laras karena yakin bahwa Kiara pasti di kediaman Beno di Ludwig residen sekarang.


Lalu satuan pengaman melaporkan kejadian nya pada Yudi.


Di mobil di samping Bram Yudi juga keringat dingin bukan karena takut mobil yang melaju kencang tapi karena ternyata Nyonya berhasil menyelinap dan anak buahnya tidak tau.


Mereka sudah di gerbang depan gedung Kursus, bahkan satuan pengaman belum lagi bergerak.


Bram membanting stir parkir di samping mobil satuan pengaman, melihat hanya ada Laras langsung turun dari mobil.


"Mana Kiara?!" tanya nya gak sabar melihat ke Yudi yang sudah turun dari mobil juga berdiri di belakangnya.


"Maaf Tuan, Nyonya muda tidak ada di gedung beliau keluar lewat jalan belakang."


Bug! satu tonjokan mendarat di wajah satuan pengaman.


"Yudi coba kamu jelaskan ada apa ini?!" Bram merah padam.


Laras terperanjat ketakutan mendengar suara Bram membentak Yudi. Daripada nanti Yudi kena tonjok seperti satuan pengaman, betapa sakit hatinya tak sanggup membayangkan.


"Maaf Tuan, saya yang salah telah bekerja sama membantu Nyonya kabur " ucap Laras dengan tubuh gemetaran menjatuhkan dirinya berlutut di kaki Bram,


Yudi membesarkan matanya membaca pikiran Laras merasa bersalah, bahwa laras melakukan ini untuk membela dirinya jangan sampai kena tonjok seperti satuan pengaman, hm!


Yudi menarik napas dalam, walaupun ia tidak tega melihat Laras, namum belum bisa masuk campur takut memperkeruh suasana.


Bram memandang Laras, menahan geram kalau bukan perempuan pasti tinju juga sudah melayang ke wajahnya.


Kiara! Kabur! Kenapa?


Kalau sudah tidak suka bisa bilang terus terang.


Dalam hati Bram gak bisa dicerna oleh akal pikirannya, istrinya kabur darinya. Lalu kabur ke mana?


"Bangunlah, coba ceritakan."


Suara Bram melunak, Yudi meraih tangan Laras bangun dari berlutut nya.


Kemudian Laras menceritakan pada Bram, bagaimana kronologis dia membantu Kiara menyelinap keluar gedung karena mau berjumpa dengan Bibi Dwi di rumah Beno, di jemput Lucita ke Ludwig residen.


Hah! Awaslah kau Kiara, berani menyimpan rahasia dari suamimu.


Dalam hati Bram mengepal tangannya menahan geram namun sudah bernafas lega, sedikit.


"Yudi cepat kita susul ke sana!"


"Siap Bos."


Yudi membuka pintu mobil belakang untuk Bram setelah menutup pintunya lalu meraih tangan Laras membuka pintu depan di samping kemudi, ia sendiri duduk di bangku kemudi.


Tiba-tiba chef Junaidi menghadang mobil sebelum jalan, mengetuk kaca bagian Yudi.


"Asisten Yudi apa anda tau kemana Nyonya muda pergi?" tanya nya setelah Yudi menurunkan kaca jendela mobil, menatap Yudi mesra.


"Sudah tau bahwa anda yang membantu Nyonya keluar dari gerbang di mana hanya anda yang bisa mengaksesnya bahkan remot nya anda yang pegang."


Jawab Yudi ketus menunjuk gantungan kunci di tangan Chef Junaidi lalu menaikkan lagi kaca jendela segera start engine melajukan mobilnya.


Gleg, Chef Junaidi menelan ludahnya.


Bagaimana si manusia kutub itu tau, hais matilah aku.


Dalam hatinya segera menghubungi Lucita mau minta perlindungan.


*


Sementara itu di suatu tempat di kediaman Beno, Kiara di pelukan Dwi di mana Sora juga ikut-ikutan memeluk nya.


"Bu, Kiara minta maaf." ucap Kiara.


"Ibu juga salah, maafkan ibu." Dwi mengusap rambut Kiara sayang.


Setelah mendapat telepon dari Chef Junaidi, Lucita tersenyum geli. Sudah lama ia dendam pada si Tuan muda Bram, sekarang ada kesempatan membalas.


Biar tau rasa dia pusing tujuh keliling mencari istrinya.


Dalam hati Lucita tersenyum puas, karena ia tidak membawa Kiara ke Ludwig residen tapi ke kediaman Beno lainnya yaitu ke Apart tak jauh dari daerah situ juga.


"Nona, suami anda sudah tau anda menyelinap dari gedung kursus, sekarang mereka berada di daerah mountain villa." ujar Lucita.


Astaga, dalam hati Kiara siap-siap kena marah.


Tiba-tiba terdengar bel berbunyi, Lucita melihat ke layar monitor wajah Bram tersembul sambil menekan-nekan bel gak sabar.


Tidak berapa lama ia juga menerima telepon dari sekuriti Apart Beno melaporkan bahwa Tuan muda Bram ada di gerbang depan mau menjemput istrinya.


Hah, bagaimana mungkin? Tidak ada yang tau kediaman Beno yang satu ini.


****

__ADS_1


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Dukung dengan Like , vote dan hadiah nya.


Jumpa lagi pada episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2