Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
192


__ADS_3

Di mansion Daniel di rumah tamu 2, Sora kebosanan ingin ke tempat Kiara.


Karena di Penthause Daniel tidak ada lagi kamar selain ruang rawat inap rumah sakit, Bram memerintah mereka tidur di Mansion.


"Bu, ayo lihat adek bayi."


Sora merengek, menimpa pundak Dwi yang berbaring di sampingnya.


Ada juga Sabit, mereka bertiga menempati rumah tamu 2, padahal banyak kamar namun Yudi memberi mereka kamarnya.


"Besok pagi kita dijemput ayah Yudi melihat bayi, sekarang sudah malam ayo tidur."


Dwi memberi pengertian pada Sora, enak juga ditimpa Sora menghilangkan pegal badannya.


"Tidurlah Sora, biar tidak kepikiran."


Sabit ikut menegur Sora yang berisik, mereka bertiga di kasur dengan Dwi posisi di tengah.


"Aku gak bisa tidur, Sabit telpon ayah Yudi biar kita dijemput sekarang." Sora nada memaksa merampas ponsel Sabit.


"Ayah mencari Mama Laras, kamu mau tidak Mama Laras segera kembali." jelas Sabit, kembali merampas ponselnya.


"Kemana sih Mama Laras pergi, ah!"


Jerit Sora menghentak kesal ingin merampas ponsel lagi, Sabit mengangkat ponselnya tinggi tinggi.


"Bu, ayolah telpon Kiara, em." Sora memohon lagi menciumi wajah Dwi bertubi tubi, Dwi tertawa geli,


"Gimana kalau kita naik buggy car, keliling Mansion." ajak Sabit.


"Ya udah, ayok." jawab Sora cepat.


"Ayo, Bu." Sabit mengajak Dwi.


"Baiklah."


Jawab Dwi dari pada bosan di kamar, sesungguhnya ia juga tidak bisa tidur. Selain masih kangen dengan bayi Kiara, masalah perbedaan waktu siang malam antara Amrik dan Jkt juga membuat mereka bertiga susah tidur.


Hah!


Desah dwi teringat penghianatan suaminya Burhan dengan adik kandungnya Tri Utami.


Malam di Amrik sama saja dengan di Jkt, membosankan.


Dalam hati Dwi, apalagi sekarang di Jkt ia tinggal di Mansion reklamasi baru dipaksa Alisha.


*


Di Penthouse rumah sakit Daniel, Bram memandang keluar melalui jendela kaca. Sudah dini hari belum ada kabar dari Yudi, Bram khawatir ada apa apa pada asistennya itu.


"Bram gimana, apa ada kabar dari Yudi?" tanya Kiara.


Bram menoleh. "Belum sayang, kenapa bangun!" jawab nya kaget, segera menggendong Kiara yang berjalan menghampiri nya.


"Mungkinkah Yudi sudah bertemu Laras." Kiara mengalung lengan di leher suaminya.


"Semoga saja sayang."


Bram berharap, namun ia khawatir anak buah Beno mempersulit Yudi. Bram membawa Kiara mendekat ke jendela menikmati pemandangan malam kota NYC dari ketinggian memang indah.


"Aku bisa berdiri Bram, kamu jangan selalu menggendong aku seperti orang lumpuh."


"Baru seminggu pasca melahirkan kamu jangan lasak lasak dulu, ngerti Kiara!" Bram gemas, menggertakkan giginya.


Cis, dengus Kiara memonyongkan bibirnya.


"Ci~is! Itu karena aku mencintai mu, jadi aku memanjakan mu." Bram mendekatkan wajahnya ingin mencium bibir Kiara.


"Ha, ngapain itu!" sergah Alisha yang baru masuk dengan Arjit.


Bram dan Kiara menoleh. "Mama dari mana?" ketus Bram, membawa Kiara kembali ke kasur.


"Keluar cari angin bersama Daniel dan Icha." jawab Alisha sumringah menoleh ke bayi bayi yang terpejam.


"Mama gak betah di mansion, kangen Moni and Choi." lanjut nya berjalan ke ruang bayi.


"Mama, jangan digangguin nanti mereka bangun." sergah Bram, kasian bayinya baru saja tidur.


"Iya, cuma lihat doang." Alisha gak perduli mentoel pipi kedua bayi geram.


Ck, gak bis dibilangin.


Dalam hati Bram, namun begitu ia tidak khawatir malah bangga pada kedua putri kecilnya. Karena kalau bangun juga tidak rewel, gampang senyum sudah bisa diajak tertawa tawa seperti bayi umur sebulan padahal baru hitungan Minggu.


"Gimana Bram ada kabar dari Yudi?" tanya Arjit, kepikiran Yudi.


"Belum paman, ini juga Bram lagi nungguin." jawab Bram.

__ADS_1


"Coba telpon aja, Bram. Siapa tau ada apa apa." usul Arjit nada khawatir.


"Iya sih, Bram juga mikirnya gitu. Tapi Daniel juga mengirim bodyguardnya mengawasi Yudi."


Jelas Bram Meski begitu ia meraih ponselnya.


***


Di kamar Laras yang tersembunyi, suasana tiba tiba hening kecuali detak jantungnya yang berdebar gak karuan. Kehadiran Yudi sangat mengejutkan Laras, buliran bening tak henti mengalir di sudut matanya.


Lara Sebi di pangkuan nya merengek menunjuk Yudi. "Eum, mamma ma." Sebi mengoceh.


"Apa segitu kangen nya." Yudi menggoda Laras.


"Hm."


Laras mengangguk, mengusap air mata yang membasahi wajahnya, kelihatan wajah Yudi juga gak kalah sembab.


"Maaf, butuh waktu lama bagiku menemukan kamu." Yudi mengulur tangannya menghapus air mata Laras.


"Aaaaa! eum mamma ma." jerit Sebi merasa dicuekin.


Merasa Sebi gak mau nyusu lagi, Laras menyelipkan teti nya ke dalam bra, membenahi bajunya.


"Pegang bentar." ujar nya meletakkan Sebi di pangkuan Yudi teringat sesuatu.


Laras berdiri lalu berjalan ke meja makan menenggak susunya yang hampir dingin di gelas. Kemudian membuat susu formula sebanyak 3 botol, memasukkan nya ke dalam termos penghangat buat jaga jaga kalau kalau bayinya haus.


Di pangkuan Yudi Sebi kesenangan, Yudi menciumi kedua pipi empuk bayi bayinya gak puas puas, arhg! Desah nya mendekap kedua bayi di dadanya.


Melihat kedua Baby Lara gembira bersama ayahnya, kesempatan Laras ke kamar mandi membersihkan diri. Mencuci muka dan menggosok gigi, berganti baju juga underwear nya. Laras tidak ingin berpikir macam macam tau Yudi bisa melihat pikirannya.


Lara Sebi dan Sevi bergumul di wajah yudi, memukul mukul, menarik narik brewok, menggigit geram sehingga wajah Yudi penuh ludah. Biasanya mereka bergumul berdua sekarang berdua mereka kompak bergumul menghajar Yudi.


Selesai dengan urusannya Laras kembali ke kasur. "Sini Sevi, aku mau susui sebentar."


Suara Laras tercekat di tenggorokan, Yudi bingung memberi bayi yang mana karena ia berusaha untuk tidak membaca pikiran Laras.


Melihat kebingungan Yudi, Laras mengambil bayi di sebelah kanan Yudi.


Ini seperti Yudi banget, apa karena dia sudah kembali sehingga tidak bisa lagi melihat pikiran.


Dalam hati Laras membelakangi Yudi mengeluarkan susunya.


"Eum mamma."


Sevi celingukan mencari Yudi, gak perduli dengan susu. Laras memutar badannya balik menghadap Yudi agar Sevi leluasa melihat wajah ayahnya.


"Bagaimana abang bisa kemari?" tanya Laras mencairkan suasana tegang.


"Manjat, lewat jendela." jawab Yudi pelan menatap Laras sendu.


"Hm."


Gumam Laras menunduk gak tahan ditatap Yudi, mengusap wajah Sevi yang menghisap di dadanya. Selanjutnya hening larut dalam pikiran masing-masing.


Selang berapa lama Sevi tertidur di pangkuan Laras berhenti menghisap susu, Sebi juga anteng di pelukan Yudi matanya sayu. Yudi mengusap lembut wajah kecil putrinya, akhirnya Sebi terpejam.


Keringat sekali.


Dalam hati Laras meraba tubuh Sevi lalu menidurkan nya di samping Duta.


"Aku akan mengganti baju bayi abang letak Sebi di sini." Laras menepuk sebelah Sevi, meraih keranjang baju.


"Ehm."


Ini hasil karyaku hebat juga, sekali jadi langsung tiga.


Dalam hati Yudi hatinya miris membayangkan Laras saat hamil dan melahirkan ketiga bayinya.


Selalu dia yang menemani, di saat Laras kesusahan.


Dalam hati Yudi saat membaca pikiran Laras ada Zainal, hm desah nya menekan gigi antara giginya.


Yudi meletakkan wajah Sebi di pipinya sebelum membaringkan nya di samping Sevi. Dengan mata terpejam mulut Sebi mengerucut, mungkin geli dengan bulu di wajah Yudi.


"Sudah malam, apa abang mau tidur di sini?" tanya Laras menabur bedak di badan Sevi sebelum memakaikan bajunya.


Yudi membuka jaketnya. "Hm." gumam nya.


"Bentar aku ambil baju yang nyaman, abang pake kaos dan sarung ya."


Laras ke lemari mengambil baju ganti buat Yudi, Yudi bangun mengikuti Laras memeluk nya dari belakang.


Hm, sesaat Laras termangu. "Abang pakai ini." ujar nya memberi kaos dan sarung, Yudi semakin memeluk Laras.


"Abang ganti baju dulu, aku mau pakaikan baju Sevi kasian dia kedinginan."

__ADS_1


Laras mengurai pelukan, Yudi menerima kaos dan sarung, hah! Desah dalam hati nya.


Laras kembali ke kasur memakaikan Baju Sevi, kemudian membuka baju Sebi yang ternyata lebih basah dari baju Sevi.


"Besok kita pindah dari sini, aku tidak ingin jauh jauh dari anak anak dan istriku."


Yudi suara tegas, selesai berganti baju kembali ke kasur. Tangan Yudi terulur menggapai pipi Duta, sangat lucu ketiga bayi tidur terlentang dengan tangan ke atas.


Ternyata baby Duta lelaki, lengkap sekali kebahagian ini.


Dalam hati Yudi, melihat Laras terdiam. "Apa kamu keberatan?" tanya nya.


Laras menggeleng. "Tidak, cuma aku ada tanda tangan kontrak kerja dengan Beno selama dua tahun." jelas nya.


"Nanti aku bicara padanya." tegas Yudi lagi.


"Abang mau minum susu?"


Tanya Laras langsung menutup mulutnya takut Yudi salah paham, ia hanya ingat dulu Yudi suka minum segelas susu saat mau tidur, tidak ada maksud apa apa.


Hm, "Buatkan aku susu."


Apa Laras akan menendang ku jika minta jatah sekarang.


Dalam hati Yudi tersenyum mesum. Kaos Laras sangat pas di badannya, sudah lama Yudi tidak pakai sarung terasa lega lebih leluasa.


Laras bangun mau membuat susu, seketika ia ingat yang ada hanya susu bayi dan susu buat ibu menyusui.


Gimana ini, kenapa aku gugup sekali.


Dalam hati Laras menoleh pada Yudi yang sedang memandangi ketiga bayi.


Selesai membuat susu Laras menghampiri Yudi. "Nah abang, susu Ibu menyusui." Laras memberi gelasnya pada Yudi.


Sesungging senyum di ujung bibir Yudi bangun dari baringnya duduk di kasur bawah bersandar di kasur atas, hangatnya yang sedang sehingga dengan mudah Yudi menghabiskan susunya.


Saat Laras meminta gelas kosong, Yudi meletak nya jauh di sudut kasur lalu membawa Laras duduk di sela kakinya yang terbuka, memeluk nya erat di pinggang.


Betapa aku sangat merindukan perempuan ini, aku tidak mau kehilangan lagi.


Dalam hati Yudi menghirup tubuh Laras beraroma susu. Dengan jantung berdebar Laras bersandar di dada Yudi.


"Tubuh kamu kurus kenapa yang ini gempal." desis Yudi di telinga Laras meraba payu dara.


Laras menoleh ke belakang menatap wajah Yudi. "Abang juga kurusan." jawab nya menahan tangan Yudi di dadanya agar jangan bergerak gerak.


Hm. "Kamu jahat Laras." desis Yudi lagi.


Rambut Laras dikuncir ke atas memudahkan Yudi menghirup leher jenjangnya.


"Hm, kamu baik." gumam Laras, menahan aliran panas di tubuhnya.


"Aku benci padamu." ucap Yudi.


"Kalau benci kenapa memeluk ku." jawab Laras.


"Benci, benar benar cinta." jawab Yudi.


"Cis, gombalan jadul. Apa abang masih hilang ingatan?"


Tanya Laras meraba wajah Yudi yang berbulu kepala gundul, pipi cekung nampak garang namun tetap tampan.


Yudi menggeleng. "Aku hampir gila mencari mu, hebat sekali Beno menyembunyikan kamu. Aku sudah pernah kemari namun tidak melihat mu."


Yudi mendekatkan wajah nya, meraih bibir yang lama tak dikulum nya. Laras membalas ciuman sekadar kecupan.


Namun Yudi menuntut lebih, kedua anak manusia melepaskan rindu yang lama tertahan. Masih berciuman Yudi membaringkan Laras dalam kungkungan nya.


"Aku mau masuk Laras."


Yudi menatap sayu Laras, sarung juga simpulnya sudah terlepas. Jantung Laras deg degan.


"Apa kita masih suami istri?" tanya nya.


"Tentu saja sayang, kalau kamu masih menganggap aku suami mu."


Yudi mengusap kening Laras juga matanya yang sembab. Laras tersanjung dengan panggilan sayang Yudi.


"Baby masih kecil, jangan membuatku hamil." Laras menolak halus.


"Aku ingin menyatu sekarang juga, buktinya kamu masih istriku."


Laras menangkup wajah Yudi. "Bisa tidak kamu tahan sampai besok beli alat kontrasepsi."


"Aku sudah menunggu setahun, satu kali belum tentu langsung jadi."


Yudi tidak perduli. Saat ingin mencium Laras terdengar suara ponsel berbunyi, ponsel siapa lagi kalau bukan ponsel Yudi karena Laras sudah setahun tidak memegang ponsel.

__ADS_1


****


Jumpa lagi ♥️


__ADS_2