
Di kediaman Arjit, di kamar Marissa.
Tok tok tok.
"Icha." suara Arjit.
Daniel melompat ke sofa sambil membenahi celananya. Icha tergesa menyambar kaos rumahannya. Sedangkan kemeja dan bra masuk ke dalam bed cover setelahnya ia bergegas ke pintu.
"Icha, buka pintunya."
Tok tok.. Cklekk!
"Papi." sapa Marissa tersenyum polos, gak sia-sia ia mengikuti kelas drama di sekolahnya dulu.
Arjit melongo ke dalam kamar Icha. "Hi, Papi." Sapa Daniel yang berlagak santai menonton tv di sofa.
"Papi ada urusan sedikit mau keluar, apa dokter mau ikut." tanya Arjit pada Daniel.
"Papi, sebentar juga jemputan Daniel datang." jawab Icha menahan Daniel yang langsung berdiri hendak keluar. Ia tau secara tidak langsung dirinya diusir.
"Daniel tunggu di sini saja. Lagi pula besok ia sudah harus ke thailand bolehkan Pi, kita ngobrol sebentar, please." Mohon Marissa dengan manja.
Arjit tau Daniel bersungguh-sungguh pada putrinya. Tapi Daniel dan Icha lama hidup di barat. Pasti budaya Asianya sedikit banyak terkontaminasi dengan budaya Barat.
"Tapi, boleh tidak kalian nunggunya di ruang tengah sayang." ujar Arjit.
"Tentu Papi, saya akan ke ruang tengah." jawab Daniel.
"Papi keluar sebentar ada urusan, gak lama. Saya titip putri saya Daniel." Arjit.
"Baik Pi, take your time." jawab Daniel.
"Pi." tahan Marissa, Arjit menoleh.
"Icha ke rumah Bibi ya Pi. Nanti kalau jemputan Daniel datang Icha ikut minta diantar." mohon Icha lagi.
"Baiklah, Papi pergi dulu." pamit Arjit sememang nya dia punya genk bermain.
Kalau dokter itu mengkhianati putriku, maka aku tinggal membunuhnya saja, dalam hati Arjit, menyalakan mobil keluar dari kediamannya.
Setelah kepergian papinya Marissa melompat ke tubuh Daniel, menyerang wajahnya bertubi-tubi.
"Icha, jangan mulai." tegur Daniel.
Marissa merengut. "I want you." desis nya.
"Aku juga sayang, tapi di sini ada CCTV." Daniel mengelak saat Icha ingin mencium bibirnya. He is Asian, dalam hati Daniel.
"Sebelah situ." unjuk Marissa pada salah satu sudut rumahnya yang tidak tertangkap kamera.
"Tidak sayang, tadi kita sudah janji akan menunggu di ruang tengah." ujar Daniel duduk di sofa membawa Icha di pangkuannya. Memeluk erat gadis yang penuh gairah itu, meredakan debaran di dada mereka.
__ADS_1
"Daniel, apa dada ku terlalu rata?" tanya Icha tiba-tiba mengurai pelukan.
Daniel mengernyit. "Tidak, ini bagus aku suka."
"Mana bagus, sebagai model aku harus punya aset lebih besar dari ini." ujar Icha menggenggam dadanya.
Gleg, Daniel menelan ludah. "Sayang kamu tidak perlu bekerja, aku akan mencukupi mu."
"But, you promised me.
"Baiklah aku akan investasi di salah satu Agency modeling khusus untuk mu. Tapi tolong jangan merubah apapun yang ada di tubuhmu, ngerti sayang. Sebagai kekasih aku gak tega melihat kamu kesakitan. Percayalah pada pacar dokter mu ini."
Cis, "Babe, I want you now." Marissa menatap sayu Daniel.
"Lalu Papi mu akan membunuh ku." tidak perduli lagi, Daniel meraup bibir Marissa.
Adegan berciuman panas pun terlihat di layar monitor dashboard Arjit. Ia teringat masa mudanya dulu, kalau bukan karena mantan istrinya itu hamil mungkin ia juga tidak akan menikah muda.
Tidak Barat tidak Asia sama, pria tetap pria.
Dalam hati Arjit geram menggertakkan giginya, memutar mobilnya kembali ke rumah.
Gak lama mobil jemputan Daniel tiba. "Kita lanjut di mobil." desis Daniel. Marissa tersenyum mengangguk.
*
Yudi berjalan perlahan menuju ujung lorong. Di depan pintu ia menghela nafas sebelum masuk ke kamarnya. Yudi mencoba beberapa teknik kata-kata bagaimana memujuk seorang gadis.
"Laras dengarkan dulu penjels,..."
"Laras ini bukan seperti yang kau lih..., ah sudahlah!" Yudi pasrah.
Dengan langkah berat Yudi membuka pintu kamarnya, sepi. Ruang tidurnya juga terbuka, Yudi melongo. Melihat pakaian Laras berserakan di lantai, suasana hati Yudi yang semula mellow tiba-tiba naik pitam.
'Laaraaaas!'
Yudi menggeram menggertakkan giginya, menahan suaranya agar tidak keluar.
Oh, begini sifat aslinya. Anak gadis kamarnya berantakan. Apa dia pikir ini kamar nenek moyangnya.
Kepikiran ingin memindai, tapi Yudi menahan dirinya. Ia ke dapur membuat kopi, Yudi teringat dengan roti tawar expired lalu membuka kulkas.
Bisa dia gak sakit perut,
Dalam hati Yudi heran mengingat Laras baik-baik saja setelah menyantap roti expired lalu melempar nya ke dalam tong sampah
Saat menyesap kopinya, tiba-tiba Yudi kebelet pipis.
Ngapain aja perempuan itu di kamar mandi lama-lama, apa dia tidur.
Gak tahan akhirnya Yudi kembali ke ruang tidur, pakaian Laras masih di lantai. Di pintu kamar mandi ia mengintip, langsung mendelik.
__ADS_1
Ya Tuhan, benar-benar tidur.
Laras tanpa sehelai benang, matanya terpejam. Yudi membuang mukanya, ada sesuatu yang bergejolak di tubuh Yudi saat melihat keindahan di depannya. Semakin tambah kebelet, gak tahan Yudi berjalan perlahan menuju urinoir. Selesai pipis, Laras masih terpejam. Ck, ck ,ck, ck.
Yudi berdecak dalam hati, ia berjongkok di sisi Bathtub. Tangannya perlahan masuk ke dalam air, bergerak mengikuti lekuk tubuh Laras menyusuri gunung dan lembah. Susah payah Yudi menelan ludah, jakunnya bergulung saat ia berhasil menelan angin. Dadanya bergemuruh.
"Om." Laras membuka matanya, bingung bagaimana mau menutupi tubuhnya.
"Jangan bergerak." suara Yudi serak.
Seketika tubuh Laras membeku kaku, terasa dingin seperti tidur di atas balok es. Jantungnya dag dig dug.
Bukanya dia di Apart, dalam hati Laras menyesali kecerobohan nya. Tubuh polosnya terpampang nyata di depan Yudi.
"Ternyata kamu baik-baik saja." desis Yudi.
"Ha!"' suara Laras pelan hampir tak terdengar.
Sia-sia aku khawatir.
Dalam hati Yudi, jemarinya berhenti di area pusat, tak berkedip menatap di tengah antara dua paha ditutupi rambut halus.
Laras menahan napas, menjilat bibir bawahnya.
Seketika tangan Yudi meraih tubuh atas Laras keluar dari air. Satu tangan di pinggang satu tangan menekan tengkuk. Tatapan Yudi terkunci pada bibir ranum Laras, dengan napas memburu Yudi mencium nya.
Laras mendelik, bibir Yudi terasa lembut beraroma kopi. Laras memejamkan matanya membuka bibirnya perlahan, terasa lidah Yudi menyesap masuk ke dalam mulutnya. Laras tidak mengerti bagaimana mau membalas, hanya bisa mangap-mangap.
Laras menggenggam erat sisi bathtub, menahan tubuhnya namun ia merasa semakin ketarik ke dalam pelukan Yudi.
Beberapa saat hening waktu seolah berhenti, yang terdengar hanya deru napas dan bunyi kecapan dari mulut Yudi
Setelah ngap Yudi melepas ciuman, mengurai pelukan. Laras masih ternganga.
"Om, mau.."
Suara Laras tercekat di tenggorokan, saat Yudi berdiri menarik kaosnya ke atas dan melorotkan pants nya, meninggalkan boxernya.
"Mau apa lagi ya menagih hutang, sudah boleh mulai dicicil."
Gleg, "Bukannya mulai Selasa malam?" tanya Laras, mengendalikan dirinya agar tidak gemetar.
"Kelamaan! Kamu besok dan seterusnya juga sudah jadi pengangguran. Jadi bisa nyicil utang sepuluh kali sehari."
Yudi memasukkan satu kakinya ke dalam air, Laras menggeser tubuhnya memberi ruang bagi Yudi.
******
Hi, readers yang Budiman. Like, vote serta hadiahnya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode berikutnya.🙏
__ADS_1