Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
29


__ADS_3

Kemudian Bram meracik, mulai dengan hidangan pembuka yang hanya memakan waktu lima menit di bantu Yudi semakin memudahkan kegiatan memasaknya.


Yudi bertindak langsung sebagai asisten. Yudi yang bisa memindai otak Bram tidak kesulitan karena ia tau apa yang dipikirkan oleh bosnya. Dan mendapat tatapan heran dari Bram.


Hehe, Yudi hanya memamerkan giginya.


Bram mengkombinasikan beberapa menu masakannya menggunakan bahan-bahan ciri khas dari Korsel. Walaupun menu masakannya ala barat tetap memiliki cita rasa dari negara Korsel yang menurut Bram negara ternarsis sedunia itu.


Kedua kelompok bisnis merasa puas dengan menu yang dimasak Bram.


"Wow, this is the most delicious food i've ever eaten." pujian datang dari pihak Mossen Amrik.


"Yes, we are to the same." suara dari pihak Jaguk Korsel.


Sambil makan mereka saling melempar pujian masakan Bram. Tak lupa Bram mengeluarkan koleksi wine termahal peringkat sepuluh dunia milik mendiang kakeknya yang lama tersimpan di gudang anggur hotel WJ.


Yang harganya mencapai ratusan juta setiap satu botolnya. Semakin menambah nilai plus Bram, bagi kedua kelompok bisnis itu.


Dengan senang hati mereka semua sepakat akan melakukan perjanjian bisnis dengan group WJ. Yang ditanda tangani langsung saat itu juga di meja makan.


Yudi yang merasa terharu langsung memeluk Bram karena kaget Bram mendorong Yudi sampai jatuh. "Eh eh, maaf." ucap Bram.


"Kamu sih main peluk-peluk aja." lanjut Bram sambil menarik tangan Yudi untuk bangun.


Kedua kelompok bisnis tertawa sampai keluar air mata. Sambil menikmati hidangan penutup mereka memuji terus masakan Bram.


********


Saat ini sudah lewat tengah malam, Bram bersama Yudi masih di hotel WJ.


Dengan dua kontrak di tangan mereka yang masing-masing seharga ratusan juta dollar setara dengan ratusan juta triliun rupiah. Ini adalah pencapaian pertama Bram yang signifikan.


Yudi hampir gila saat kontrak ini lepas dari tangan mereka sekarang lebih gila lagi hanya dengan memasak kontrak ini berhasil mereka dapatkan. Kemudian Yudi menelepon Manager bagian perencana yaitu Paman bosnya sendiri Tuan Arjit.


Dengan bergegas Arjit menemui Bram dan Yudi di hotel. "Bram, kamu! Bagaimana kamu memiliki ide brilian ini." Arjit tersenyum bangga menatap keponakannya dengan mata berkaca-kaca.


Arjit juga lemas seperti Yudi. Merasa salah telah mendukung Alisha kakaknya untuk menjadikan Bram sebagai direktur utama. Ternyata dibalik sikap cueknya Bram memiliki aura kesuksesan yang luar biasa.


"Ini bukan ide, Bram hanya ingin berterima kasih pada mereka karena telah menolak kerja sama, dengan begitu perusahaan bangkrut sehingga mama tidak lagi meributkan posisi Presiden Direktur."  ujar Bram dengan nada kecewa.


Cih! Yudi geleng kepala. Di balik kemesuman nya, kepolosan Bram juga telah menawan hatinya


Tuan Pramudya pasti bangga di alam sana.


Dalam hati Yudi berjanji akan selalu loyal pada bos kecilnya yang omesnya minta ampun ini.

__ADS_1


"Baiklah Bram, bersenang-senanglah. Biar Paman yang urus sisanya." Ujar Arjit mengusap kepala ponakannya itu.


Setelah Arjit meninggalkan mereka membawa kontrak dengan wajah ceria. Bram menatap Yudi seperti ada yang terlupa.


"Waktunya menjemput Nona bos." ujar Yudi yang bisa menebak raut wajah bosnya.


Ahh ya, nikah!


Pikiran Bram kembali dipenuhi Kiara, ia tersenyum sumringah.


"Ayo Yudi, segera atur menjemput Kiara! Sebelum hari ini berakhir Kiara harus sudah sah menjadi istriku!" perintah Bram tak sabar.


Tunggulah Kiara sayang, aku akan mengikatmu di sisiku selama-lamanya, dalam hati Bram.


Tapi sekarang Yudi yang pusing, Intel di luar bertambah lebih banyak. Seperti serigala yang siap menerkam mangsa.


Tadi dia fokus bantu memasak, setidaknya satu urusan selesai. Tinggal memikirkan urusan selanjutnya yaitu menjemput Nona ke lokasi nikah, dalam hati Yudi.


Tapi sepertinya rencana membawa Nona ke Hotel ini sekarang apa mungkin, banyak mata yang mengawasi, harus jalan memutar.


Yudi berpikir keras. "Bos, saya akan mengantar bos ke Apart dulu sekarang." ujar Yudi.


"Kenapa, apa ada masalah?" tanya Bram yang melihat Yudi seperti kebingungan.


Saat Bram hendak menoleh ke arah luar segera ditahan Yudi. Jangan, Yudi menggeleng.


"Sekarang bagaimana?" tanya Bram resah.


"Bersikaplah biasa Bos, mereka menggunakan kamera zoom skala besar megapixels. Sehingga taik hidung pun bisa kelihatan." bisik Yudi.


"Sialan kau Yudi, dimana posisi Kiara sekarang?" tanya Bram menggeram dengan suara pelan.


"Lagi di jalan bos, dikawal anak buah kita. Sepertinya Nyonya juga mengirim intel mengawasi Nona sehingga anak buah Raharja juga mengikutinya, jadi ada tiga mobil." jelas Yudi.


Bram mengepalkan tinjunya, sorot matanya menyala. Kelewatan si Mama, aku akan buat perhitungan. Bram sangat geram pada Mamanya.


Yudi mengernyit saat memindai otak Bram. Wah gawat! "Sabar Bos, pasang mode ceria." bisik Yudi.


"Mana bisa aku ceria, kalau pernikahanku batal awas kau!" bentak Bram.


glek. "Mari Bos ikut saya!"


"Sebutkan rencana mu!" bentak Bram menahan lengan Yudi.


"Nanti Bos, sekarang kita harus berpura-pura pulang dulu." ajak Yudi.

__ADS_1


Dengan berat hati Bram melangkah keluar hotel. Yudi memindai intel-intel yang siaga penuh seperti kalau salah sedikit nyawa mereka yang jadi taruhannya.


Menurut laporan Nona Kiara sudah keluar dari rumah besar menuju rumahnya di Krisant cluster.


Yudi memutar otaknya mencari celah bagaimana membawa Nona Kiara dan Tuan Mudanya bertemu wali nikah, ah. Semua jalan sepertinya buntu.


******


Sementara Kiara sudah hampir di depan gerbang komplek perumahannya. Telepon masuk dari Laras.


"Ra gimana, lo udah dapat tanda tangan?" tanya Laras di ujung telepon.


"Iya." jawab Kiara melalui earpiecenya.


"Ra, gue ke rumah lo ya. Ayah ibu ke rumah kakek nginap. Nenek sakit, gue sepi di rumah sendirian Ra." rengek Laras memelas.


"Ya udah, lo datang sendiri apa gue jemput?" tanya Kiara.


"Gue lagi di jalan gapa gue jemput lo sekalian." lanjut Kiara lagi.


"Gue udah minta antar si Zai, Ra." jawab Laras.


"Ya dah, gue tunggu di rumah ya." ujar Kiara.


"Thank you Rara cantik, ayok Zai." terdengar suara Laras di ujung telepon, kemudian sambungan terputus.


Kiara memeriksa menu panggilan, tak ada miss call dari 💞suamiku.


Katanya Bram mau jemput ini sudah tengah malam, apa dia lupa ?


Kiara memutar mobilnya masuk area komplek perumahannya, turun dari mobil membuka pagar kemudian memasukkan mobilnya ke dalam garasi.


******


Sementara itu di Apart Bram.


Yudi sedang berpikir keras sambil mengisi bak mandi bos kecilnya. Dalam hati ia berpikir, aku ini sekretaris atau baby sitter sih!?


Kemudian menghubungi anak buahnya yang mengawal wali nikah. Posisi mereka di dalam Van siap meluncur menunggu perintah.


Sepertinya pernikahan si bos terancam batal nih, bisa ngamuk dia nangis histeris. Kalau sampai kejang-kejang, mampos aku. dalam hati Yudi terkikik geli


******tbc


Hi, readers, ikuti terus Bram dan Kiara ya.  Dukung cinta mereka dengan Like dan vote ya guys. thanks 🙏

__ADS_1


__ADS_2