
Di kamarnya di kasur.
"Buka sayang, cepat!" sergah Yudi gak sabar sambil membuka baju dan celana bahannya melempar sembarangan meninggalkan boxernya.
Laras gak tahan mendengar kata sayang terucap dari bibir Yudi, namun begitu dia dilema. Sebentar lagi kewajiban pada Tuhan, ia malas keramas entar kalau mau sholat rambut basah-basah. Di satu sisi kewajiban melayani suaminya yang terdesak,ck.
Entah ngapain tadi si Sora ngingetin buat debai, ah.
"Om, udah ngaji di masjid."
Jurus terakhir Laras menahan tangan Yudi yang menggantung di dadanya, walaupun ia tau itu gak ada gunanya memandang kan wajah Yudi yang sudah menggebu.
"Sebentar aja, secelup ya." mohon Yudi lagi mengingat kata-kata rayuan pamungkas si bosnya.
Atasan Laras sudah terlepas, Yudi langsung menyergap. Melu mat bibir, meremas buah kadang lembut kadang gemas, Laras mendesah menggelinjang.
Tok tok tok
"Ka, mau eek!"
Suara anak kecil dari luar kamar menghentikan aktifitas Yudi mencium, walaupun tangannya masih aktif di dada memilin-milin ujung bukit.
"Kakak, Om buka!" tok tok tok, suara Sora lagi mulai merengek.
Dor dor dor.
"Cepat buka pintu udah gak tahan...huaaaa." teriak Sora menangis.
Argh! Yudi mengeluh terhempas di samping Laras wajahnya merah padam menahan kesal.
Dengan napas masih bergemuruh buru-buru Laras mengenakan atasannya minus bra, turun dari kasur, cklekk.
"Huaaaa."
Di pintu, suara Sora menangis semakin kencang berlinang air mata.
"Mau berak, huuu." tangis Sora ketakutan eek nya keluar di celana.
Yudi membungkus tubuhnya dengan selimut. Di dalam selimut ia menutup telinganya dan menekan si otong dengan bantal guling, argh!
"Iya, jangan nangis."
Pujuk Laras meraih tangan Sora membawa nya ke kamar mandi melepas pakaian Sora.
"Bisa sendiri kan?" tanya Laras membukakan tutup kloset, lalu menghidupkan air mengisi ember.
Sora mengangguk lalu duduk di kloset. "Ka, mau mandi di situ." Sora menunjuk bathtub.
Memang waktunya mandi si Sora udah bau keringat tadi main dengan Sabit di kebun dalam hati Laras mengisi bathtub.
"Kelarin eek nya, cebok dulu baru masuk ya."
Iya." jawab Sora kesenangan.
Karena gak sabar mau masuk Bathtub, buru-buru Sora menyudahi buang hajatnya tanpa cebok main masuk aja.
"E e ee, bentar dulu." Laras menahan Sora, selain tuh anak masih ada kotoran, air di bathtub juga belum separoh terisi.
"Tadi bilang apa, cebok dulu kan!" suara Laras sedikit keras udah mulai hilang kesabaran.
"Hehe, maaf." Sora berjongkok membasuh pantat kecilnya.
"Ka, udah." ujarnya melempar gayung ke ember gak tahan melihat bathtub udah kepingin nyemplung aja.
"Cuci tangan pake sabun di situ." unjuk Laras ke wastafel ada bangku papan kecil Sora manjat mencuci tangan.
__ADS_1
Setelah Sora pewe di bathtub Laras menekan air keluar kloset, menyiram eek Sora, dalam hati Laras mengeluh namun buru-buru ia istighfar.
Sabar Laras, anggap aja latihan entar kalau punya anak udah gak canggung.
Dalam hati Laras keluar dari kamar mandi. Entah kapan Yudi sudah berdiri di pintu, menutup dan menguncinya dari luar.
Yudi meraih jeans Laras, dia sendiri udah polos dari tadi. "Sayang, lain kali jangan lagi pakai skinny."
Suara berat Yudi mengomel karena kesulitan membuka celana Laras yang sempit.
Mendengar kata sayang keluar lagi dari mulut Yudi, Laras melambung gak tahan semakin berhasrat ingin segera menyatu. Laras mempercepat gerakan nya menggantikan Yudi menelan jangi dirinya.
Yudi menyentak Laras menghempaskan tubuh mereka ke kasur. Karena memang sudah sama-sama berhasrat jadi langsung ke menu utama, argh.
Penyatuan pun terjadi, Laras bergetar jantungnya berdenyut, menggelinjang menikmati hentakan Yudi. Suara erangan dan desahan bersaut-sautan dengan suara Adzan.
*
Kiara di kamarnya berbaring lesu, Bram di sampingnya duduk bersandar di headboard dengan tabletnya menghapal pelajaran untuk bekal menghadapi ujian nya minggu depan.
Mendengar suara adzan Bram menghentikan aktifitasnya memandang istrinya yang melamun.
"Mau sholat berjamaah?" tanya Bram mengusap pipi istrinya, Kiara mengangguk.
Bram beranjak dari kasur meraih tangan Kiara membantunya bangun dari tempat tidur mereka ke ruang wuduk.
"Apa kamu mau sholat di mesjid luar?" tanya Bram lagi ingin memberi Kiara suasana baru jadi tidak melulu kepikiran Dwi.
Kiara mengangguk lagi, setelah mereka bersiap Bram memberi Kiara sarung tangan agar ia bisa menggandeng tangan istrinya keluar kamar.
Walaupun ia gak jelas dengan beberapa mazhab boleh tidaknya menggandeng tangan istri setelah berwudlu baik Bram cari aman.
Di mesjid halaman rumah besar, para pelayan yang mau sholat dan juga satuan pengaman menunduk hormat dengan kehadiran Bram.
Bram duduk di belakang imam di sampingnya satuan pengaman berurutan ada empat barisan penuh-penuh. Sabit mengambil tempat di belakang Bram.
Kiara di barisan perempuan, hanya Tika yang di kenalnya. Selesai Sholat, sedikit Bram memberi arahan.
Setelah itu kesempatan semua jamaah bersalaman dengan Tuan muda yang merupakan peristiwa langka. Saking langkanya bisa dijadikan catatan sejarah. Bahkan hari lebaran pun mereka tidak ada kesempatan salam-salaman dengan Tuan muda yang satu ini.
Bram masuk ke rumah besar duduk di ruang keluarga, kiara membuka mukenah nya meletakkan di sandaran Sofa.
"Besok mau kemana jalan-jalan?" tanya Bram.
Kiara menggeleng. "Tidak tau." jawabnya.
"Kita date aja ke Mall, ke sinema mau gak?"
Ck, "Kita ke panti aja, ziarah kubur ibu." usul Kiara.
"Baiklah sayang, untuk kamu apa aja." jawab Bram.
"Terima kasih sayang." ucap Kiara.
"Ehm, ehm." Bram menggeleng.
"Malam ini, sepuluh gaya." Bram menyeringai, Kiara mendengus.
"Biar ini cepat isi." Bram mengusap perut istrinya.
"Ah!" Kiara tersipu malu menepuk dada suaminya.
Hehe, karena gemas Bram menyedot istrinya kilas.
"Masuklah ke kamar kalau ingin bermesraan, ini Jakarta Yam bukan Amrik."
__ADS_1
Suara Marissa masuk bersama Daniel, mereka bergabung duduk di Sofa.
Ck, "Kalian kapan menikah!?" ketus Bram.
"Papi bilang tiga bulan lagi." jawab daniel.
Hah! "Jadi kamu sudah manggil papi sekarang?" Bram meledek Daniel.
Hehe, Daniel cengengesan, "Bram, kamu juga mau ke Amrik?" tanya nya ingat tadi ucapan Marissa agar mereka pergi bersama.
"Hm, mau ujian." jawab Bram.
"Kapan kamu lulus?"
"Tahun depan, aku akan mulai sekolah daring untuk selanjutnya." jawab Bram.
"Yam, ikut aja jet Daniel tadi dia sudah setuju. Iya kan Babe?" usul Marissa menatap genit pada Daniel.
"Ehm." Daniel mengangguk.
"Jadwal jumat malam, 21.30wib." lanjut Daniel.
"Begitu, nanti tanya si Yudi dulu."
Bram merogoh kantong mengeluarkan ponsel, menghidupkan nya karena tadi waktu sholat ia mematikan nya.
*
Di kamarnya Yudi terhempas ngos-ngosan.
Laras juga badannya berat mau bangun, namun dipaksa nya juga berjalan ke kamar mandi.
Di bathtub Sora bermain busa yang kelihatan mata bulatnya yang besar. Sepertinya Sampo dan sabun semua habis di tuang ke dalam air.
"Ya Tuhan, Sora udah mandinya." ujar Laras melihat bibir Sora sudah membiru.
"Iya, bentar lagi." jawab Sora bibirnya bergetar.
"Sora udah itu, nanti kamu masuk angin."
Ujar Laras membuka pembuangan air, mengosongkan bathtub.
Sora menjerit-jerit kegirangan saat Laras menghidupkan hujan shower. Laras mandi buru-buru mengejar maghrib, sekalian membasuh Sora.
Selesai mandi berbalut handuk Laras membawa Sora keluar dari kamar mandi. Segera Laras memakaikan baju Sora kemudian ia sholat, membiarkan Sora sendiri bedak-an dan sisiran.
Gantian Yudi bangun dari kasur hanya memakai boxer, beranjak ke kamar mandi. Sora sampai memutar kepalanya memandang Yudi menghilang di balik pintu.
Saat di kamar mandi ponselnya berdering di nakas, Sora mengangkat nya.
"Hallo." jawab Sora.
Di ujung panggilan Bram mengerut dahi mendengar suara anak kecil.
"Mana Om yudi?" tanya Bram.
"Di kamar mandi, baru buat dedek bayi." jawab Sora.
Laras yang lagi sujud terakhir jadi gak fokus, gak kuat menahan senyum segera salam menyudahi sholatnya.
*
Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏
__ADS_1