Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
36


__ADS_3

Di rumah besar Wijaya dini hari.


Di dalam kamarnya Alisha benar-benar gelisah, Dwi yang gak sabar mendesak terus agar ia memberitahunya di mana Kiara disembunyikan.


Aku mana tau di mana Kiara, Intel-intel saja babak belur diserang orang yang tak dikenal, ah.


Sebenarnya tadi Alisha berniat mau memberitahu Dwi di mana Kiara, tapi karena Kiara menghilang jadi gak tau mau bilang apa.


"Sabarlah Wi, aku janji akan membawamu pada kiara besok pagi." pujuk Alisha beralasan mengulur waktu.


Dwi tak sanggup membayangkan Kiara kecilnya yang ketakutan saat tau dirinya diculik, apakah penculiknya bersikap ramah ataukah sebaliknya. "Tapi ditelpon nomornya gak aktif mbak." ujar Dwi lagi.


Alisha memandang Dwi dengan suara lembut berkata. "Mungkin sudah tidur Wi, ini juga sudah larut malam sebaiknya kita tidur, kembalilah ke kamar kamu Dwi saya juga mau istirahat." Alisha memohon agar Dwi jangan mendesak lagi.


Alisha menjadi gugup tak sanggup membayangkan kalau Kiara benar-benar bersama Raharja, bisa-bisa Kiara tak kembali hilang bak ditelan bumi.


Alisha semakin gak bisa bernapas, membayangkan besok Bram akan marah dua kali lipat lagi jika Kiara menghilang.


"Mbak dalam situasi begini mana bisa saya tidur, saya harus mendengar suaranya dulu baru saya bisa tenang." mohon Dwi lagi dengan suara memelas.


"Dwi, saya juga pusing karena Bram ogah-ogahan mau menikahi Evita, kemungkinan Raharja mengawasinya. Ditambah Bram mau gagalin pernikahan, bisa-bisa nyawa mereka terancam Wi! Ini juga demi mereka berdua, makanya saya memisahkannya sementara!" suara Alisha naik satu oktaf.


Dwi tak tau mau berkata apa lagi, napasnya sesak lama-lama di samping Alisha. Sehingga memutuskan kembali ke kamarnya, membanting pintunya kuat-kuat.


Walau kaget, Alisha bernapas lega.


hancur-hancurlah pintu, yang penting si Dwi pergi dulu. Apa aku telpon Raharja, kemungkinan Kiara ada padanya.


Siapa lagi kalau bukan Raharja, tapi apa dia mau ngaku, ah.


"Jangan memperkeruh keadaan Alisha."


Ujar Alisha pada diri sendiri berjalan mondar-mandir gak bisa diam.


Alisha pergi ke laci mengambil obat penenang yang sudah seminggu ini ia konsumsi melalui resep dokter. Langsung sekali telan tiga butir, kemudian membaringkan tubuhnya, memejamkan matanya.


Lain Alisha lain lagi Dwi.


Di kamarnya Dwi langsung berwudlu mengerjakan sholat sunat dua rakaat, berdoa untuk keselamatan Kiara.


Doanya panjang sampai ia terbaring di atas sajadahnya masih dengan mukenanya.


Dwi berharap Semoga hari cepat terang agar bisa segera bertemu Kiara. Dalam hati ia Berjanji akan membawa Kiara pergi jauh dari kehidupan keluarga Wijaya selama-lamanya.


******


Di ruang rahasia Sibolon.

__ADS_1


Raharja sedang menghukum anak buahnya, bagaimana bisa babak belur dihajar orang tak di kenal. Tapi Raharja bukannya kasihan malah menambah panjang daftar penderitaan anak buahnya.


"Membawa satu anak perempuan saja gak bisa!" bentak Raharja geram menendang anak buahnya gak puas-puas. Tapi kakinya juga jadi sakit, nafasnya juga ngos-ngosan, akhirnya dia berhenti.


Mungkin faktor usia tenagaku jadi melemah.


Dalam hati Raharja kemudian fokus pada layar monitor tenaga IT.


"Cepat, sudah ketemu belum!" bentaknya pada tenaga IT yang sedang meretas CCTV jalanan kota.


glek.


Tenaga IT keringat dingin jemarinya getar-getar, scroll2 di menit-menit saat-saat anak buah Raharja diserang orang tak dikenal. Hasilnya nihil.


Pada menit itu CCTV lompat kesepuluh menit berikutnya, sepanjang jalan juga semua CCTV tak menunjukkan ciri-ciri mobil orang yang membawa Kiara.


Akhirnya tenaga IT menyerah.


"Maaf Bos." ucapnya pasrah menerima takdirnya, sesaat setelah itu bogem mentah mendarat di pipinya, Ahh.


"Panggilkan Bryen!" perintah Raharja.


*****


Di kediaman Bernard.


"Pak berikan tas saya, saya mau nelpon ibu dan Laras agar mereka tidak khawatir." mohon Kiara mengulurkan tangannya seperti peminta-minta.


Sebenarnya Kiara sudah filing siapa Bernard, ia mengangguk .


"Meno." desisnya.


Karena senang Tuan Beno memeluk Kiara. "Ah Kiwawa, ternyata kamu mengingatku." desis Beno suaranya mendesah.


Kiara merasa sungkan tapi mau menolak dia segan. Jadi Kiara membiarkan saja dirinya dipeluk Tuan Beno.Tapi Kiara tidak membalas pelukan Beno kemudian mendorongnya pelan.


Aroma maskulin dari tubuhnya sangat menenangkan. Kiara jadi teringat pada Bram, kekasih hatinya itu juga selalu wangi.


Tuan Beno membelai wajah Kiara, mengusap-usap pucuk kepalanya mencubit gemas pipinya.


Dulu, saat masih di Panti Asuhan Kiara sangat tembam lidahnya pendek sangat susah menyebut R. Sehingga kalau ditanya, 'siapa namanya' selalu dia bilang Kiwawa bukan Kiara.


Sehingga Beno remaja juga ikut-ikutan memanggilnya Kiwawa. Saat itu Kiara akan marah pada Beno remaja, memukuli wajahnya. Beno remaja akan memeluk kiara dan menciumi pipi tembamnya, sesekali mencuri cium bibirnya.


Beno remaja suka menggendong Kiara dan menggantungnya di udara. Kiara akan menangis karena gamang, saat-saat itu sangat indah bagi Beno remaja. Sebulan setelah Kiara diadopsi Beno juga dijemput keluarganya kembali ke Amrik.


Beno adalah bule nyasar di Panti Asuhan Al Fallah, gimana ceritanya Kiara gak tau soalnya saat itu ia masih kecil. Bertemu begini Kiara merasa canggung padahal dulu dia sangat manja pada Beno. Walaupun Beno jauh lebih tua sembilan tahun dari nya, kiara selalu memanggil namanya saja, Meno.

__ADS_1


"Kiara, sebaiknya kamu jangan menghubungi dulu siapa pun diantara mereka, sampai situasi benar-benar aman." ujar Tuan Beno menggenggam jemari Kiara.


"Kenapa Pak, saya gak mau mereka khawatir terutama ibu." ujar Kiara heran.


"Bisakah kamu jangan panggil saya Bapak lagi Kiara. Panggil aku seperti dulu Meno."


Walau Kiara merasa kaku tapi diusahakannya juga merubah panggilannya


"Baiklah Meno, biarkan aku menelpon Ibu." mohon Kiara.


"Ini sudah malam mungkin ibumu sudah tidur." jawab Beno masih menolak membiarkan Kiara menelpon.


"Saya hanya akan mengirim pesan." desak Kiara.


Dalam pada itu Lucita datang membawa beberapa perlengkapan pakaian wanita.


"Tuan Beno, pesanan Tuan sudah sampai." ujarnya.


"Kiara sebaiknya kamu pergi membersihkan diri dulu. Setelahnya saya akan biarkan kamu menelepon."


"Biarkan saya menelpon dulu, ibu pasti sangat khawatir sekarang." rengek Kiara memaksa.


Tuan Beno tidak menggubris.


"Bantu Nona Kiara membersihkan diri Lucita!" titah Tuan Beno tegas.


"Silahkan Nona, kita ke kamar mandi." ujar Lucita mengulur tangannya.


"Pergilah, saya bisa sendiri!" tolak Kiara menepis tangan Lucita menatap sinis pada Tuan Beno.


Namun begitu Lucita menyiapkan air mandi di bathtub Kiara, lengkap dengan sabun aromatherapy.


Kiara masuk ke kamar mandi yang sangat mewah seperti kamar mandi kekasihnya. Beberapa barang yang ada di kamar ini mengingatkan Kiara tentang Bram. Apa karena temanya yang maskulin jadi rada mirip, kamar ala-ala pria dewasa.


Kiara putuskan untuk mandi cepat-cepat. Mandi di bawah shower yang menunjukkan keran air hangat. Setelah mengenakan baju piyama tidur yang disediakan Lucita untuknya, Kiara keluar dari kamar mandi.


Kamarnya sepi tidak ada Meno, di mana dia? dalam hati Kiara.


Kiara mencari keberadaan Beno, ia keluar dari kamar tidur mewahnya.


"Nona ada yang bisa saya bantu." Kiara kaget, Lucita menyapanya di depan pintu seperti hantu muncul tiba-tiba.


"Mana Pak Bernard?" tanya Kiara angkuh.


"Silahkan kembali ke kamar Nona, saya akan memberitahu Tuan bahwa Nona mencarinya." ujar Lucita membuka pintu kamar lebar-lebar.


Sesuai perintah Tuan Beno, mulai saat ini Lucita mengabdi pada Kiara sebagai pengawal pribadinya termasuk mengurusi keperluan pribadinya.

__ADS_1


*******tbc


Hi, terima kasih yang sudah like dan vote. Dukung terus ya. 😂🙏


__ADS_2