
Di rumah tamu 2.
Siang hari Laras bangun, membuka ponselnya ada pesan dari Yudi yang berisi salinan tiket ke Jakarta atas namanya pukul 17.00 waktu Amrik. Laras melihat dinding lalu menoleh pada Yudi yang tertidur pulas di sampingnya.
Sekarang jam 11.30, sempat gak sih. Benar-benar dia beli tiketnya, setelah apa yang terjadi semalam dia bahkan tidak berusaha menahan ku.
Desah dalam hati Laras, beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi Laras melihat Yudi masih tertidur.
"Abang Yudi, bangun."
Panggil Laras menggoncang tubuh Yudi, Yudi bergeming semakin melingkar menarik selimut.
Ini bukan Yudi banget.
Dalam hati Laras menghubungi Icha, ia ingat belum pamit.
Mengenai Kiara ntar aja tunggu dia sendiri yang menghubungi ku.
"Apa! Biar benar lo Ras." Icha kaget mendengar Laras, ditambah lagi bukti tiket yang dikirimkan Laras padanya benar-benar nyata.
"Tunggu, gue ke sana." ujar Icha menutup panggilan melompat dari kasur bergegas ke kamar mandi, cebur cebur Icha mandi bebek.
Dari semalam ia berbaring kesal pada Bram, malas malasan sampai lupa mandi.
~
Laras telah siap, Yudi belum juga bangun. Padahal, gitu heboh dia berkemas bolak balik ditambah suara ngocehnya bersama Icha, bukannya ngerti mau ngomong pelan.
Dia tidur apa mati sih.
Dalam hati Laras melihat Yudi gak terusik dengan keberisikan mereka. "Sempat gak sih, Cha?" tanya nya pada Icha.
"Sekarang 12.30 ke airport 2 jam kalau gak macet, boarding lagi, ya harus berangkat sekarang biar gak ketinggalan pesawat, Ras." jelas Icha mengira-kira.
"Lo, aja yang ngantar gue Cha." mohon Laras.
"Gak mau gue diomelin laki lo, bisa-bisa gue dibunuh ama bosnya si Bram gila itu." tolak Icha nada tegas.
"Lebai lo, gak lihat Yudi udah kasi tiketnya. Itu artinya dia nyuruh gue pergi sendiri, gak mau nganter jadi pura-pura tidur. Maka dari itu tolong Cha, anterin gue atau pesankan taksi."
Mohon Laras, Icha benar benar merasa geram dengan sikap Yudi.
Si Laras nih, baik apa bodoh sih! Kalau aku jadi Laras, sudah ku siram si Yudi pakai air cabe.
"Yakin Ras, ini Amrik ke jakarta bukan Bali ke jakarta. Lo berani?"
Tanya Icha meyakinkan lagi. Hatinya miris merasa prihatin dengan nasib teman barunya itu.
"Berani Cha, kan ke Jakarta bukan kemana mana." jawab Laras.
"Ayolah Cha, please." lanjut Laras lagi memohon.
Brengsek si Yudi, pengen banget gue jitak pala botaknya itu biar bangun.
Ck, "Lo bangunin satu kali lagi, bila perlu gue video in. Jadi kalau dia protes, gue bisa jawab." ujar Icha.
Laras masuk ke kamar, disusul Icha standby dengan ponselnya.
Yudi berbalut selimut, Laras menggoncang nya. "Bang, bangunlah. Katanya mau ngantar ke air port."
Panggil Laras, namun Yudi gak mau bangun bahkan dengkur semakin kencang, Laras dan Icha pandang-pandangan, hais.
"Ayolah, Cha." ajak Laras tidak mau memaksa lagi.
Icha mengangguk keluar duluan lalu disusul Laras juga keluar setelah mengecup pipi Yudi.
'Dah abang.' dalam hati Laras.
"Dasar, tidurnya nyenyak banget pake dengkur lagi." Laras mengomel pada Icha setelah di luar kamar.
"Ya, udah. Lo gak pamit ke Kiara?" tanya Icha.
Hm. "Bukannya gak mau, gue gak enak sama Tuan muda." jawab Laras menggeleng.
Ck, nasib nasib dalam hati Icha. "Ya udah kalau gitu, gue antar lo."
"Thanks Icha." jawab Laras senang.
~
Icha membawa mobil keluar dari mansion, dengan menunjukkan tiket pesawat. Kemaren ada perintah dari Bram kalau dua orang perempuan itu keluar lagi, segera melapor.
Namun saat sekuriti menghubungi Bram, ponselnya tidak diangkat, akhirnya sekuriti mengijinkan Laras dan Icha keluar dari pada ketinggalan pesawat namun tetap diikuti bodyguard dari jarak aman seperti perintah Tuan Daniel.
Mungkin karena aku akan kehilangan Kiara, Tuhan memberi aku teman baru yang sama baiknya dengan Kiara.
Dalam hati Laras tersenyum memandang Icha yang lagi nyetir mobil sport keren banget. Cuaca musim semi Amrik, membuat Icha membuka cup mobil, sehingga Laras bisa melihat lihat pemandangan sepanjang jalan menuju airport.
"Lo keren banget Cha." puji Laras.
__ADS_1
"Iya, dong." jawab Icha sombong.
"Lo juga cakep Laras, kenapa gak masuk agensi model." lanjutnya bertanya.
Cis, "Gue, gak mau terkenal, Cha." jawab Laras.
Bah! Pulak.
*
Kiara terbangun di pelukan Bram, segera membangunkan suaminya itu.
"Sayang, bangunlah!"
Panggil Kiara mengguncang tubuh Bram, melihat jam di ponselnya, inikan waktu Jakarta, ah! Kiara melempar hape lalu dikutip lagi.
Kiara melihat jam dinding, 15.30 waktu Amrik sambil menghubungi nomor Laras namun nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Begitu juga dengan panggilan web tidak ada sambungan.
Sore jam berapa sih, tadi si Bram gak ngomong jam, cuma bilang sore aja, ah!
"Bram bangun, sayang!" panggil Kiara lagi mengguncang tubuh suaminya.
"Hm." gumam Bram namun matanya masih terpejam.
Gak sabar Kiara memakai jubah tidur Bram, lalu keluar dari kamar bergegas ke rumah tamu 2.
Tok tok tok.
Kiara mengetuk pintu, sepi tidak ada jawaban.
Tok tok tok, "Laras!" panggil Kiara lagi.
"Laras! Laras, buka pintunya. Aish, kan ada bel." gumam Kiara kesal pada diri sendiri.
Ting nong ting nong...ting nong nong.
Non stop Kiara memencet bel, membuat keributan.
*
Yudi menggeliat bangun mendengar suara bel, seperti orang mabuk sempoyongan ia turun dari kasur berjalan ke pintu setelah menyambar jubah tidurnya.
Cekklekk. Pintu dibuka.
Alhamdulillah dalam hati Kiara bernapas lega, artinya Laras belum pergi.
"Yudi, mana Laras!" cecar nya cepat sambil clingak clinguk ke dalam rumah.
Dimana Ini, kenapa kamar ku tembus ke halaman luar. Ini bukan di rumah besar.
Dalam hati Yudi seperti orang linglung, terakhir ia ingat mengejar Olivia di ruang VIP memasak, Bram sedang menjamu tamu dari Korsel.
"Yudi, mana Laras!"
Jerit Kiara mendorong Yudi yang terbengong, menerobos masuk ke kamar.
Hais, "Laras! Laras!" panggil Kiara memeriksa setiap sudut rumah.
Bram tiba di depan pintu, bertemu Yudi yang kebingungan. Setengah sadar tadi Bram membuka matanya, melihat istrinya itu berlari keluar kamar makanya Bram bergegas mengejar nya.
"Bos." sapa Yudi masih linglung namun ia tidak lupa menunduk hormat.
Deg.
Jantungnya Bram berdegup kencang, seolah bertemu dengan gebetan.
Ini baru sikap Yudi sejati lalu yang kemaren itu apa? Benarkah ada dua Yudi di dalam satu tubuh, seperti yang disebut Laras.
"Bos." sapa Yudi lagi, melihat Bram menatap nya dengan wajah heran.
Benarkan ini si Bos.
Dalam hati Yudi bernafas lega, merasa dia di tempat yang benar. Walaupun ia tidak mengenali tempat setidaknya orang-orangnya masih ia kenal.
"Iya, Yudi. Jam berapa mau mengantar istrimu?" tanya Bram.
"Mengantar? Istriku!" tanya Yudi heran, Bram tak kalah heran dengan sikap Yudi.
"Laras gak ada, Bram." suara Kiara keluar dari kamar menghambur ke pelukan suaminya, air matanya keluar.
"Sayang tenang dulu, Yudi masih di sini. Memangnya kemana dia bisa pergi." Bram menenangkan Kiara.
"Yudi, apa yang terjadi. Mana istrimu?" tanya Bram nada khawatir.
Yudi mencoba memahami keadaan dengan membaca sekitar terutama pikiran Bosnya, hais.
"Sepertinya ada kesalahan, Bos."
Ujar Yudi bergegas ke kamar mengambil ponselnya, ada rekaman pembicaraan antara dirinya dan Laras mengenai perceraian.
__ADS_1
Astaga! Jadi aku hilang ingatan setelah sadar dari koma dan membelikan tiket untuk Laras pulang ke Jakarta, Ya Tuhan.
Dalam hati Yudi mencengkeram erat ponselnya, geram mengusap wajahnya kasar lalu bergegas keluar.
Di depan pintu bertemu Bram, tak lupa menunduk hormat. "Bos, saya akan menyusul Laras, dia pergi diantar Nona Marissa ke airport."
Tegas Yudi setelah menyadari situasi nya, masih sempat nyusul kalau pake ngebut, dalam hatinya mengira ngira.
"Icha, lagi." geram Bram menggertakkan giginya.
Mendengar itu, "Ayo, sayang, kita ikut!"
Kiara semangat menarik Bram mengejar Yudi yang berlari ke garasi mengambil Mobil.
Dengan pakaian tidur gini ke air port, ini Amrik bre.
Dalam hati Bram, menahan istrinya. "Sayang, Yudi buru-buru. Kita tunggu kabar dari rumah ya."
Bram memujuk istrinya, dia sudah tau pasti Yudi bakalan ngebut. Kalau Kiara ikut bisa memperlambat tapi setidaknya Yudi aman, tidak tabrakan atau nekad menabrakkan diri. Takut terjadi apa-apa pada Yudi,
Oh Tuhan aku gak mau kehilangan Yudi lagi.
"Ayo sayang." gantian Bram menyeret istrinya.
"Yudi!"
Panggil Bram menghalangi jalan, Yudi telah mendapatkan mobil siap-siap mau tekan gas.
Yudi menahan break cepat, hampir saja menabrak Bram.
"Yudi buka!" teriak Kiara mengetok jendela samping mobil, menggoyang goyang bukaan pintu.
"Saya buru-buru Nyonya, pinggir lah." Yudi suara keras.
"Gak mau tau! Buka Yudi aku mau ikut." jerit Kiara.
Hais gimana ini, bos di depan menghalangi jalan, Nyonya di samping.
Akhirnya Yudi ngalah, membuka kunci pintu otomatis.
"Ayo sayang!"
Jerit Kiara mengajak suaminya kegirangan membuka pintu mobil, Bram menghampiri istrinya mereka masuk di jok belakang.
"Saya ngejar waktu Bos, bukan mau plesiran." jelas Yudi.
"Justru itu, aku gak mau kamu ngebut dan membahayakan dirimu." tegas Bram.
Ck, "Tapi saya tetap akan ngebut Bos, berpelukan lah yang erat pakai sabuk pengaman." tegas Yudi menekan gas.
"Aaahhh!" jerit Kiara hampir terlempar.
"Yudi, aku akan memecat kamu." bentak Bram memeluk istrinya.
"Hm, siapa suruh ikut." gumam Yudi menarik ujung bibirnya gak perduli fokus membaca jalanan.
~
Ketiga orang dari kalangan atas itu berangkat ke Air port dengan baju tidur ditambah Kiara memakai baju Bram yang kedodoran, tak satu orang pun di antara mereka ada yang mandi.
Yudi membaca jalanan sepanjang ia mampu, mengebut seperti orang gila. Tidak perduli dengan penumpang nya di belakang mengumpat kesal padanya.
Masih ada setengah jam, apakah terkejar, setidaknya Laras bersama Icha, membuat Yudi merasa sedikit lega semakin mempercepat laju mobilnya.
Saking ngebutnya mobil mereka diikuti polisi patroli dua dengan mobil dan dua dengan motor lengkap dengan bunyi sirene dan suara toak yang meminta Yudi untuk berhenti.
Yudi tidak perduli menyetir semakin ngebut meninggalkan kemacetan setiap persimpangan yang dilalui nya, ia tau supir supir mobil itu berteriak mengumpat dirinya.
Semakin banyak pula polisi yang mengikuti nya, beberapa berusaha mencoba memblokir jalan namun dengan gesit pula Yudi bisa lolos, membuat polisi Amrik marah dan geram kenapa orang gila berkeliaran di jalan. Heli juga mengikuti mobil Yudi dari udara.
"Yudi, jangan gila berhentilah kita sudah di kepung." bentak Bram memeluk Istrinya erat.
"Bertahanlah Bos sedikit lagi, kamu akan lebih gila lagi kalau Nyonya muda yang menghilang." jawab Yudi.
Hah! Sudah pasti itu, dalam hati Bram tidak bisa berbuat apa apa.
Yudi membanting stir sesaat mereka telah sampai di bandara JFK. Bram bernafas lega, walupun Yudi parkir sembarangan setidaknya mereka selamat.
Yudi bergegas keluar dari mobil menuju counter penerbangan Laras, semakin gelisah saat membaca airport tidak menemukan bayangan istrinya itu, ah!
Para pengunjung bandara tidak boleh tidak melihat ke Yudi pakai jubah tidur berkeliaran di air port kalau bukan orang gila ya orang stres, dalam hati meraka menjaga jarak aman.
Sementara Bram dan Kiara tidak berani keluar dari mobil sampai polisi mengetuk pintunya.
Yudi mempertajam penglihatannya, kelihatan bayangan Icha di lounge sedang duduk menikmati cake dan kopi di depannya, baiklah...
Saat ingin masuk menghampiri Icha, Yudi ditahan petugas polisi bandara.
"Sir, You're under arrest!" Polisi bandara memborgol tangan Yudi.
__ADS_1
****
Jumpa lagi. 🙏