
Masih di Amrik, di rumah sakit Daniel.
Pagi pagi Laras membuka matanya, kelihatan Yudi telah duluan bangun baring baring santai sedang bermain dengan duo bayi perempuan nya sementara baby Duta bermain sendirian.
Hm, Laras mendengus pada ayah dari anak anaknya itu merasa lebih sayang pada Sebi dan Sevi jadi kasihan pada Duta.
"Bentar ya Duta, anak baik. Mama ke kamar mandi dulu entar kita main berdua," Laras mencubit pelan pipi kenyal Duta, yang asik menggigit gigit mainan karetnya. Sejenak Duta berhenti menggigit memandang Laras lalu kembali asik menggigit.
"Abang mainnya sama Sebi dan Sevi aja sih, Duta dicuekin," Laras mengomeli Yudi.
Nyebrang ke pinggir mau turun dari kasur harus melewati tubuh suaminya itu jadi lah Laras ikut menindih Yudi.
"Eummah," tegur Sebi memandang Laras.
"Apa?"
Laras membalas bayinya melotot, setelah turun dari kasur enggak tahan menepuk bokong Yudi
Plak!
Duo Sebi dan Sevi yang melihat ayahnya dipukul kaget mengomel duet. "Euummm mammah," Sebi yang paling vocal suara satu Sevi pada backing suara dua.
"Main mulu sama Ayah, gak mau gantian sama Duta," Laras jutek pada kedua bayi perempuan nya.
Kedua Sebi dan Sevi menjilat jilat bibirnya, tatapan pada dada Laras, "Aish mau susu lagi, main sama ayah dulu," Laras kabur ke lemari mengambil baju ganti.
"Emmamnmah," rengek Sebi lagi.
"Bentar mama mandi, hm," suara berat nan lembut Yudi memujuk bayi perempuannya.
Cis, gemas Laras balik lagi mau mencium pipi Sebi, Yudi menyambut dengan bibirnya.
Ah!
Jerit Laras kaget menutup mulutnya takut bau jigong.
__ADS_1
"Abang ih, aku belum gosok gigi tau! Apa ndak ingat semalam makan jengki," Laras malu segera beranjak ke kamar mandi takut keterusan.
Hihi, Yudi ikut geli jadi ingat jaman dulu kata orang orang. "Kalau sudah cinta, taik gigi rasa coklat eh keju basi tapi enak," Yudi terkikik mencium pipi putra putrinya bergantian.
Masih ada dua jam menghadap Tuan muda, saat Yudi membaca Bram masih di pelukan Kiara gara gara ketahuan istrinya itu gak lagi pake pembalut.
Dasar si mesum itu selalu beruntung, aku justru belum dapat jatah.
Batin Yudi memandang ketiga buah hatinya sendu enggak puas puas memandang, menciumi mereka bergantian.
Selesai dari kamar mandi merasa badannya segar, Laras sudah pede kalau kalau Yudi mau mencium nya lagi. Biar seksi Laras pakai lotion pewangi tubuh dan wajah, minum segelas air lalu bergabung dengan keluarga kecilnya.
"Ini dodot bekas minum barusan apa sudah lama ya, bang?" tanya Laras pada suaminya menggenggam 3 dodot di nakas.
"Masih hangat, jadi mereka udah kenyang dong," ujar Laras duduk di pinggir kasur di samping Yudi bahkan sengaja tubuhnya menempeli.
"Hm," angguk Yudi mengendus bau istrinya.
"Ayahnya yang masih lapar," lanjut Yudi, tangan terulur mengusap wajah Laras. Laras memicing masih aja deg degan setiap kali Yudi bersikap mesra padanya.
Laras tersenyum melihat bayi kembar tiganya, lengkap sekali kebahagian nya. Penderitaannya saat mengandung dan berpisah dari Yudi walaupun masih ingat tapi sudah lupa rasanya gimana gak ingat lagi.
Membaca istrinya Yudi merasa bersalah, meraih Laras ke pelukannya mengendus endus di lehernya.
Laras balas memeluk suaminya. "Abang gak lapar? Mau sarapan apa, aku pesan ya?" tanya Laras mencoba mengalihkan agar tidak terpancing gairah.
"Makan kamu, dari semalam belum jadi kita menyatu," Yudi sayu menatap Laras mengecup kilas di bibir, yang ditatap salah tingkah.
Astaga.
Teringat tadi malam berapa kali saat Yudi hendak menyatu dengannya, Laras bolak balik buang angin bolak balik juga ke kamar mandi. Akhirnya Yudi tertidur sampai pagi belum jadi jadi, hehe.
Laras terkekeh teringat dosanya mengabaikan suami.
Tapi kan gak sengaja..
__ADS_1
Ya Allah jangan dihitung dong, aku juga pengen tapi gimana perut mules.
"Sekarang ya," Yudi berbalik seketika memanjat di atas Laras dalam kungkungan nya.
Gleg, Laras menelan ludah.
"Tapi bayi sudah pada bangun, entar rewel gimana?" desis Laras di wajah Yudi, meski begitu ia berharap jangan sampai tertunda lagi.
Kan emaknya juga mau disayang masa Sebi dan Sevi doang.
Hm, membaca Laras Yudi mendekatkan wajahnya, Laras menyambut ciuman memejamkan matanya.
Sepasang anak manusia bergelung saling bertukar saliva. Nafas memburu, Yudi turun ke leher menyesap agresif berusaha tidak meninggalkan jejak.
Laras mendesah, mengerang menggelinjang saat Yudi melu mat gundukan daging di dadanya.
"Abang ah, masa di depan bayi bayi sih!" pekik Laras mendelik mengatur nafas, menatap pada ke tiga bayinya tak sengaja terpandang. Naluri seorang ibu ya prioritas pikirannya pada anak.
Ha!
Kaget Yudi menarik bibirnya dari dada Laras, mengikuti arah pandang istrinya. Terlihat memang ketiga bayinya sedang tengkurap menatap mereka, terpelongo menahan nafas dengan mulut mengences.
Mana mungkin mereka ngerti, baru umur berapa?
Dalam hati Yudi membaca pikiran bayinya.
"Arghh! Jangan bilang batal lagi," desah nya, benar saja gak lama.
"Uwaaaa," ketiga bayi serentak menangis takut susunya habis disedot ayah.
"Ooo, cup cup cup." Laras bangun, memujuk bayi bayinya yang mewek, Yudi terhempas di samping Laras.
*******♥️
Slow update ya, guys. ✌️
__ADS_1