
Di ruang Spa di lantai dua.
Melalui panggilan telepon Alisha diberitahu Samsir bahwa pelamar yang lulus seleksi yang bernama Salma adalah ibunya Sora.
Hais, ada-ada saja.
Dalam hati Alisha menutup panggilan mengatakan bahwa ia akan turun sebentar lagi.
"Sudah mbak, selanjutnya kamu tunggu di balkon di depan ruang sholat nanti asisten saya menemui kamu."
Ujar Alisha segera menyudahi perawatannya, padahal tinggal sebelah kuku jempol kakinya saja yang belum dilukis.
"Baik Nyonya." ucap pelamar menipedi undur diri menyusun peralatannya.
Alisha masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. "Seharusnya aku mengambil satu asisten perempuan untuk membantuku bersiap,hm. Kalau Kiara tidak mau punya asisten, biar si Tika jadi asisten ku saja."
Alisha bermonolog sendiri dengan segera memakai baju rumahannya segera turun ke ruang keluarga, hari ini tidak kemana-mana. Ingin shoping dengan menantunya, putranya itu memonopoli istrinya untuk dirinya sendiri.
Alisha jadi kangen Pramudya, suaminya itu juga dulu begitu bahkan sampai akhir hayatnya, kalau tidak lagi bersama Burhan ya bersama nya, hah!
Alisha menarik nafas rindu, turun ke ruang keluarga. Melihat kehadiran Alisha Yudi bangun dari duduk nya menunduk hormat, lalu Alisha bergabung mengambil duduk di samping Salma di sofa panjang.
Melirik ke Sora yang dengan cueknya menjilat-jilat es krimnya.
Karena segan Laras hendak berdiri meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya, namun Yudi menahannya.
"Di sini dulu, temani aku." bisik Yudi di telinga Laras mengusap dagu Laras dengan jempol dan jari telunjuknya lembut. Hampir-hampir ia menghirup pipinya gak tahan dengan keharuman Laras yang segar baru mandi.
Nasib jomblo, dalam hati Samsir ngenes melihat kemesraan di depannya mengurut dada.
"Apa Bram dan Kiara sudah diberitahu?" tanya Alisha pada Yudi dan menoleh pada Samsir juga.
Melihat kedua pegawai kepercayaan keluarganya itu saling pandang, sepertinya belum dalam hati Alisha, hais.
"Lagi apa anak asuhmu itu Yudi, sehingga kamu segan mau memberitahu nya. Apa lagi buat dedek bayi?"
Tanya Alisha menatap sinis Yudi, karena akhir-akhir ini trending topik di rumah besar adalah gosip tentang Yudi dan Bram yang seperti nya saling berlomba membuat dedek bayi.
Bahkan satuan pengaman vs koki dan tukang kebun taruhan siapa duluan jadi ayah antara Yudi atau Bram, sesuai dengan laporan Samsir padanya.
Sementara Samsir diberitahu oleh Sabit karena ia juga ikut taruhan memegang pihak Ayah Yudi.
Menyadari tatapan Alisha segera Yudi menggeser duduknya yang terlalu rapat memberi jarak antara dirinya dan Laras.
"Belum Nyonya." jawab Yudi menatap Alisha penuh arti.
Bagaimana mau memberitahu Bram dia lagi asik berendam bersama Nyonya muda, dalam hati Yudi.
Mana berani aku mengganggu Tuan muda masih ada si Yudi asisten nya, dalam hati Samsir.
Ck. "Tidak bisakah kamu panggil sebentar saja, Yudi?" tanya Alisha nada ketus menggertakkan giginya.
"Maaf Nyonya anu,..." Yudi tersenyum canggung tak sanggup melanjutkan ucapannya lalu mengirim pesan chat pada bosnya.
Dibaca sukur gak dibaca ya sudah yang penting tugas selesai.
Ck, "Berusaha sampai sekeras itu. Kalau tahun ini belum beri aku cucu, biar aku yang akan beri adik buat si Bram, beritahu dia begitu, mengerti Yudi!"
"Hahaha."
Samsir tak kuasa menahan tawa, lalu buru-buru menutup mulutnya menahan senyuman di balik jemarinya sesaat Alisha menatapnya, "maaf Nyonya." ucap nya kembali pasang tampang serius.
Alisha menoleh pada Salma dan Sora yang lagi asik makan es krim menjilati mangkoknya.
Hm, "Sepertinya kamu telah berbohong pada saya, Salma." Alisha suara tegas berkata pada Salma.
__ADS_1
Salma terperangah menyadari kesalahan nya tadi mengatakan bahwa putrinya ada bersama neneknya, buru-buru ia turun dari sofa duduk bersimpuh di lantai beralas karpet. "maaf, Nyonya. Bukan maksud saya demikian, ..." ucap Salma.
Jangan sampai Nyonya ini membatalkan kontrak yang telah ku tanda tangani, matilah aku.
Lanjut nya dalam hati sedikit memaksa agar air matanya keluar.
Sora di pangkuannya kaget es krimnya jatuh menggelinding di bawah meja. "Ah!"
Plak!
Pekik nya marah meng-geplak kepala Salma.
Kebetulan sekali dalam hati Salma merasa sakit di geplak Sora sekaligus sedih atas sikap putrinya yang menggampar dirinya di depan banyak mata, akhirnya air matanya pun tumpah.
"Hais." Alisha sampai menutup mulutnya, kaget melihat kelancangan Sora menggampar ibunya.
Ck, ck, ck, Alisha berdecak. "Bagaimana kamu mendidik anakmu!" sentak Alisha.
Laras juga kaget bergidik menatap Yudi, Yudi mengusap punggung Laras dari belakang duduknya tanpa menoleh namun dia tau maksud Laras menatapnya.
Ganas banget neh anak Suganda, begitu tatapan Laras diartikan Yudi.
Tak perduli pada ibunya yang menangis dan hardikan Alisha, Sora bangun dari pangkuan Salma, ingin mengambil es krimnya namun keduluan Laras mengutip nya mambawa ke dapur ingin membuang nya.
Melihat itu, "Aaaaa, es krim. Mama Laras, mau es krim!" jerit Sora mengejar Laras ke dapur.
Diikuti Sabit, di samping ia kaget melihat sinetron azab barusan, juga karena sebentar lagi kelas onlinenya akan segera dimulai.
Mama! Jadi sudah sedekat itu hubungan Sora dengan istri Yudi, dalam hati Salma.
"Salma karena kamu sudah berbohong, kontrak kamu akan saya batalkan." ujar Alisha suara tegas.
Salma menatap Alisha gusar, karena di gampar Sora barusan semakin mudah baginya memancing air matanya keluar.
"Hiks, Tidak nyonya, jangan lakukan itu. Saya butuh pekerjaan ini untuk menghidupi anak saya dan diri saya sendiri." mohon Salma berurai air mata.
"Tidak Nyonya, sudah 7 tahun ini saya bersembunyi dari ayah biologis Sora. Tidak ada pekerjaan tetap dan berpindah-pindah tempat."
Jelas Salma lemas kerena telah terbuka kebohongan nya yang lain.
Hm, desah Alisha. "Bohong lagi, duduklah di atas." titah Alisha menepuk sofa di sampingnya.
"Terima kasih Nyonya, saya di bawah saja. Tolong jangan batalkan kontraknya Nyonya, saya mohon." Salma bersikeras tetap berlutut sambil terisak-isak.
"Jadi pelayan juga saya mau Nyonya demi anak saya, hiks hiks." lanjut Salma lagi.
Alisha menoleh ke Yudi. "Yudi, waktu Dwi mengadopsi Sora apa ada surat resminya?" tanya Alisha.
"Ada Nyonya, ibu Panti ada memberi salinannya pada Nyonya muda." jawab Yudi.
"Nah Salma, anak kamu di sini ada yang mengurus nya. Jadi kamu cukup mengurus diri kamu sendiri. Saya tidak bisa menerima pembohong bekerja di klinik saya."
Salma terdiam, pasrah menyesali dirinya kenapa tadi dia keluar dan mengaku sebagai ibu Sora. Sekarang kerja gak dapat, anak juga kurang ajar demi es krim tega menggampar nya lalu ia menatap Alisha lebih sendu.
"Maaf Nyonya, saya terpaksa oleh keadaan, tolong beri saya kesempatan." Salma memohon penuh belas kasihan.
"Hm." gumam Alisha.
"Ada apa Ma?" suara Bram muncul dari lorong menggandeng Kiara.
Tadi Yudi mengirimi nya pesan chat bahwa mama Alisha menunggu nya di ruang keluarga segera Bram menyudahi berendam nya.
"Ha, udah jadi dedek bayinya." jawab Alisha balik nanya.
"Mama!" sergah Bram melirik pada Salma yang menunduk, bersimpuh di lantai.
__ADS_1
"Dia ibunya Sora." jelas Alisha menyadari tatapan Bram.
Bram menoleh ke istrinya, Kiara hanya mengangkat bahunya tersenyum kecut. "Begitu, dia datang mau apa?" tanya Bram lagi pada Alisha.
"Mau minta kerja." jawab Alisha singkat.
"Mama beri dia kerja apa? Ha, Yudi kamu atur!" titah Bram teringat sesuatu.
"Aku mau makan dulu, Ma biar Yudi yang urus." lanjutnya membawa Kiara ke ruang makan.
Ck, Alisha berdecak.
Yudi yang sudah ngerti maksud Bram. "Nyonya, kita sedang mencari sitter untuk Sora. Maksud Tuan muda biar ibunya saja yang jadi sitter nya." jelas Yudi pada Alisha.
Hm, "Baiklah tapi dalam pengawasan yang ketat, ngerti Yudi." tegas Alisha bangun dari duduknya.
"Samsir, panggil Tika ke kamar saya!" titah nya naik ke tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Baik Nyonya." jawab Samsir.
Di ruang keluarga Yudi berdua dengan Salma. "Duduklah di sofa." ujar Yudi
"Terima kasih Tuan." ucap Salma bangun duduk di sofa semula ia duduk.
"Apa anda tau Suganda masuk penjara?" tanya yudi.
Salma terkesiap, memandang Yudi lalu menggeleng.
"Saya ingin mengambil sampel darah Sora, memastikan apakah benar Sora itu anak Suganda. Kalau anda bisa membujuknya maka anda akan diberi kerja sebagai baby sitter Sora." jelas Yudi.
"Baik Tuan, akan saya coba."
"Sekarang kamu boleh pulang untuk bersiap, datanglah malam ini menemani Sora. Kamu ada waktu 3 hari untuk membujuk nya." lanjut Yudi lagi, ia sudah membaca untuk apa Salma ke rumah besar.
Salma berdiri dari duduknya lalu menunduk hormat setelahnya ia keluar dari rumah besar dengan perasaan lega.
Yudi bergabung di ruang santai dapur, duduk di samping Laras yang sedang mengamati Sora menggambar. Ada juga Sabit sedang mengikuti kelas belajar online di tabletnya.
Yudi menggenggam jemari Laras sambil membaca pikiran Bram yang ingin tidur di Apart malam ini.
Lalu Yudi membaca kulkas besar, melihat persediaan bahan makanan apa yang dibutuhkan bosnya, karena si bos sepertinya mau masak buat Kiara malam ini.
Yudi merapatkan duduknya pada Laras, Laras menoleh memonyongkan bibirnya menunjuk Sora lalu menggeleng, malu begitulah maksudnya.
Namun Yudi semakin mendekatkan bibirnya ke telinga Laras. "Malam ini Tuan muda tidur di Apart, Sora akan bersama ibunya." bisik Yudi.
"Lalu?" tanya Laras juga berbisik.
"Lalu kita bisa berduaan." bisik Yudi lagi.
"Siapa bilang." tiba-tiba suara Bram di belakang mereka.
Yudi kaget lalu berdiri. "Eh bos, sudah selesai makan." ucap nya tersipu.
"Kamu siapkan Apart Yudi, aku dan Kiara mau tidur di sana malam ini." titah Bram.
"Baik bos, siap laksanakan."
"Ayo sayang." ajak Bram pada Kiara menyeret istrinya.
Cih, Yudi menatap Laras bibirnya mengerucut, Laras tersenyum lucu. "Aku pergi dulu, tunggu aku ya." Yudi mengedip mata.
"Hm," Laras mengangguk menarik ujung bibirnya.
******
__ADS_1
Hi, Pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya, Like vote dan hadiah author ucapkan terima kasih.
Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏