
Hari berikutnya, waktu menunjukkan angka 09.30 waktu NYC.
Mesin-mesin bengkel Laras telah sampai ke Mansion Daniel, Zainal sudah siaga menunggu Pedro yang mewakili Lucita mengantar barang-barang.
Laras tiba setengah jam kemudian. "Ras, mau disusun gimana?" tanya Zainal pada bos besarnya.
"Lebih kurang samain dengan yang di pabrik ya Zai, jaraknya aja agak dijauh-jauhin. Kan ini ruangan gak perlu rangkap lagi sama kamar tidur," terang Laras.
"Oke, siap."
"Lo, bisa sendiri kan? Gue gak bisa bantuin, sekarang ada si kembar." Laras alasan mau pulang kandang.
Ada si kembar atau ada Yudi batin Zainal nelangsa. "Tenang aja, ada Pedro dan Sabit ini. Dulu di pabrik juga lo bantuin apa? Cuma bantu doa kan!" Sindir nya.
"Hehe," Laras terkekeh jadi teringat dulu saat buat bengkel di Pabrik Beno, memang dia gak bisa bantuin apa-apa. Selain gak ngerti lagi hamil juga kan...
"Iya, Mama Laras tenang aja. Ada Sora juga bantuin Om Ze." Celetuk Sora yang gak mau jauh-jauh dari Zainal. Melek mata melek Om Ze dia, padahal masih ada beleknya.
Cis! "Kamu bantuin, bukannya bikin rusuh?" Laras geram melihat nya, pengen aja nyeburin Sora ke dalam bak terus direndam biar ilang baunya.
"Enggak ye," cebik Sora mepetin Zainal.
"Ayo ikut Mama Laras ke Penthouse!" Ajak Laras, itu iler masih menganak sungai di pipi. "Kamu belum mandi kan?"
"Hm," Sora menggeleng, Om Ze ada di Mansion ngapain ke Penthouse dalam hatinya.
"Ikut Mama Laras aja main sama tiga Lara, jangan gangguin Om Ze, kamu!"
"Enggak, mau disini. Gak ganggu, iya kan Om Ze." Sora semakin mepet.
"Iya," jawab Zainal geli.
Cis. "Ya udah kalau gitu, gue tinggal dulu Zai."
"Hm,"
"Bye, semua."
"Dah, Mama Laras." Sora yang jawab.
Laras belum bisa lama-lama jauh dari si kembar tiga walaupun ada sitter dan Yudi jadi Ayah siaga. Ia kembali ke Penthouse rumah sakit numpang Helikopter Dokter Daniel seperti saat datang.
"Sora!" Panggil Dwi.
"Yaaa!" Jerit Sora.
__ADS_1
"Ayo mandi dulu, baru main!" Dwi.
"Nah lo, dipanggil itu." Ujar Sabit yang dari tadi diam aja bantuin Pedro pasang ini dan itu.
"Bentar lah, ah!" Jawab Sora.
"Sora!" Panggil Dwi lagi pada anak angkatnya si penjorok. Udah gede masih ngompol lagi, hais.
"Iya, bentar!" jawab Sora masih enggan beranjak dari sisi Zainal.
"Berapa lama mau nunggu?" Tiba-tiba Dwi telah berdiri di depan pintu masuk bengkel, pasang tampang galak.
"Ahhh!" Rengek Soraya.
"Sora!" Sabit bantu melotot pada adiknya. "Badan kamu itu bau pesing, gak malu apa sama calon suamimu!" Ketus nya.
Bawa-bawa suami lagi ah keluh Sora merasa tertembak. "Iya baiklah! Om Ze, Sora mandi dulu ya." Pamit nya memandang Zainal jadi malu beneran.
"Iya," jawab Zainal pada calon istrinya, hehe macam betul aja senyum dalam hati si Zai. "Yang wangi ya, ayang Sora." Rayunya biar Sora cepat hambus, ngap juga dia soalnya.
"Oke, ntar dicium ya."
"Iya," Zainal senyum semanis madu.
Asik, senyum Sora jadi semangat mau mandi lalu menghampiri Dwi yang masih berkacak pinggang menunggu nya.
"Pedro, apa kamu punya pacar?" tanya Zai pada asisten setia Beno itu.
"Tidak punya tapi aku suka Lucita," jawab nya tanpa malu-malu.
Hahahaha, Zainal dan Sabit spontan tertawa. "Lucita! Kamu gak takut sama perempuan jago berkelahi?" tanya Zai.
"Of course not, I like her much. Please, support me Bro." Mohon Pedro.
"Oke Brother! By the way, lo udah nembak belum?" tanya Zainal lagi.
"Already many times," jawab Pedro, sekarang ia malu.
"So?" sambung Zai.
"Still disaproved." Pedro tampang sedih.
"Uwahahahaha," tawa Zai dan Sabit semakin meledak.
***
__ADS_1
Sampai di Penthouse rumah sakit Daniel.
"Keren banget ya jadi orang kaya, kemana-mana naik heli," ujar Laras pada Yudi setelah sampai ke kamar mereka.
Hm, senyum Yudi. Ia sangat bersyukur atas hidupnya sekarang bisa berkumpul dengan bayi-bayi dan istrinya.
"Anak-anakku," Laras mencium pipi ketiga bayinya bergantian, "baru ditinggal sebentar kangen nya minta ampun," ujar nya kembali mendaratkan ciuman ke pipi tiga bayi. Walaupun digangguin, mereka tenang bermain dengan teether masing-masing. Mainan basah penuh ludah bau susu.
"Apa mereka akan tumbuh gigi?" tanya Laras pada Yudi yang lagi mantengin laptopnya di nakas di samping kasur.
Yudi menoleh. "Baru tiga bulan, cepat sekali." Jawab nya, perhatian teralih pada ketiga bayi. Kalau dari ciri-cirinya sih iya batin Yudi melihat Sebi si vocal paling kencang, cara gigit teether nya paling semangat.
Melihat Laras semakin gemas mencium ke tiga bayi, hm desahnya. "Sama ayahnya aja sini, kangen-kangenan." Gerak cepat, Yudi menarik istrinya ke Sofa
Astaga, Laras senyum dikulum.
"Kamu cium-cium bayi, ngasi kode kan barusan?" Bisik nya di telinga Laras setelah mereka duduk berpelukan.
Cup! "Peka banget sih, suamiku ini."
"Oh, iya dong."
Acara selanjutnya...
Bersilat lidah...
***
Sementara Bram di kamar bayi, bantu membaluri bedak dan telon ke tubuh Moni dan Choi. Giliran dia yang memakaikan baju bayi-bayinya setelah bagian Alisha dan Sitter masing-masing memandikan satu bayi.
Sementara Kiara memerah ASI nya masuk ke botol, merepotkan memang karena kedua bayi masih belum mau nyusu langsung dari badannya.
"Bram," Kiara memanggil suaminya.
"Iya, ada apa sayang?"
Dasar Bram memang rajin. Kalau gak Mama Alisha atau Ibu Dwi, ia lebih suka mengurus sendiri bayi-bayinya daripada sitter. Cuma ya itu gerakannya lambat, beruntung kedua bayinya baik budi. Karena itu Alisha suka gak sabar, jadi ikut membantu biar cepat.
"ASI makin susah diperas," rengek Kiara hampir menangis.
Oh, ini momen yang selalu ditunggu. "Sebentar ya sayang," jawab Bram.
"Ma! Bram bantuin Kiara dulu ya, Moni dan Choi serahin ke Mama." Memeras susu Kiara adalah pekerjaan Favoritnya sekarang.
Alisha geleng kepala, "Ya udah sana."
__ADS_1
***tbc.