Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
121


__ADS_3

Laras putuskan menunggu hari terang, setelah Yudi dan Tuan muda Bram pergi ke kantor, baru ia kembali ke rumah besar.


Ia berjalan menuju administrasi rumah sakit ingin melakukan pembayaran perawatan ayahnya.


Setelah mendapatkan rincian biaya Laras membayar lunas, sampai sore nanti ayahnya pulang sudah dihitung.


Di ruangannya, ayah Laras sudah bangun. Ibu sedang membersihkan ayahnya dengan kain basah yang lembab. Laras mendekati ayah dan ibunya.


"Bu, uang rumah sakit sudah di bayar lunas. Ayah boleh pulang siang atau sore, kalau mau nginap lagi boleh, tapi tolong kabari Laras ya."


Laras menatap ibunya, memberi ibunya itu segepok uang sekitar 10 jutaan yang diambilnya dari tas duit tadi, terhitung dengan yang untuk Zainal jadi 20 juta sudah berkurang.


"Mengenai uang Tuan Suga, biar Laras yang urus ibu jangan banyak mikir."


Ibu Laras menerima uang Laras. "Terima kasih." ucap nya.


"Ayah, Laras pamit mau pulang ke rumah suami." Laras menyalim ayah, kemudian ibunya.


"Bu."


Laras mengulurkan tangannya, namun ibu Laras memeluk Laras dan menangis kencang, ayah Laras menepuk bahu istrinya.


Setelah puas menangis, ibu Laras mengurai pelukan. "Hati-hati di jalan, Laras."


Ibu Laras mengusap sisa air matanya dengan punggung tangannya.


"Iya Bu, Laras pamit. Ayah!" Laras menoleh pada ayahnya lagi.


"Iya." jawab Pak toyo singkat.


Laras keluar dari ruangan ayah menuju lobby, hari sudah terang waktunya pulang.


Tin tin.


Laras menoleh pada suara klakson dan mengernyit, "Zainal" di samping sebuah mobil terparkir.


"Ayo Ras, gue antar lo mau kemana." Zainal membuka pintunya.


"Di mana lo dapat mobil?" tanya Laras heran mendekat pada Zainal.


"Rental dong."


Jawab Zainal mendorong Laras masuk, lalu ia memutari mobil masuk di bangku kemudi. Setelah duduk,


"Zai, gue ngasi lo duit buat kontrakan bukan buat poya-poya?" Laras mengomeli Zainal.


"Ada berita gembira buat lo Ras." ujar Zainal melajukan mobil keluar dari pintu gerbang.


"Apaan?" tanya Laras.


"Pertama, tadi subuh rumah Tuan Suganda disambangi polisi. Suga dan anak buahnya semua ditangkap."


"Jadi, Paman?" desis Laras.


"Kebetulan Pak Thamrin lagi tugas jaga malam di pasar, jadi dia tidak ikut terjaring. Pasti deh udah sembunyi entah di mana." jelas Zainal.


"Oh." Laras bengong antara sedih dan bahagia.


"Gue lihat Yudi ada di sana Ras membantu polisi melakukan penangkapan." lanjut Zainal lagi.


"Oh." Laras tambah bengong.


Artinya Om Yudi ada di daerah pasar induk, kenapa tidak datang menjenguk ayah, dalam hati Laras.


"Bukannya si Yudi asisten si Wijaya, apa dia juga polisi?" tanya Zainal heran.


"Oh." Laras makin bengong.

__ADS_1


"Dan kedua,..." Zainal menggantung ucapan nya.


"Apa?"


"Lo gak perlu lagi kembalikan duit si Suga, boleh pake buat bayar utang ke si Yudi dan lo bisa bebas, Ras." Zainal tersenyum lebar.


"Hah!"


*


Yudi memutar mobilnya masuk ke halaman rumah besar. Ia mengejar waktu untuk bersiap diri ke kantor bersama Tuan mudanya. Satu malam-an tidak tidur, sekarang baru terasa ngantuk nya.


Berlari kencang Yudi menyusuri lorong menuju kamarnya. Samsir yang berpapasan ingin menyapa aja gak sempat.


Yudi memindai Tuan mudanya baru selesai mandi, sedang mengecup-ngecup bibir istrinya, hais dasar!


*


Di kamar Bram, Kiara inisiatif membantu suaminya berpakaian, ternyata susahnya minta ampun, ngalahin anak kecil.


"Bram sudahlah, ah!"


Kiara mendorong wajah suaminya yang masih cangcut-an sibuk mengecup-ngecup wajahnya. Tangan Bram melingkar di pinggangnya.


"Sayang hari ini kamu bangun pagi, ijinkan aku memberi hadiah, cup cup cup."


Karena pendek Kiara berdiri di sofa biar sejajar dengan suaminya, justru kesempatan itu digunakan Bram untuk menjaili istrinya.


"Ya udah makasih, ayo pakai ini dulu" unjuk Kiara memegang kaos dalaman Bram.


"Lagian aku bukan bangun pagi, tapi memang gak ada tidur, tau!" ketus Kiara.


"Kenapa gak bangunin aku sayang, kamu taukan dalam hal meniduri aku paling ahli." gemas Bram menyedot Kiara.


Ah! "Sudahlah, pakai aja sendiri." Kiara menyerah, ingin turun dari sofa Bram menahan nya.


Aku gak bisa konsen kerja kalau gini,


Dalam hati Bram gak tahan lagi pingin buat istrinya tertidur, kasian matanya udah sayu.


Kiara menatap suaminya dari atas sampai bawah sempurna dan selalu menggoda, ya sudahlah.


"Gercep ya." ujar Kiara.


"Sampai kamu tertidur sayang." Bram menyeringai.


*


Setelah dirasa cukup mutar-mutar Laras minta diantar Zainal ke rumah besar, ia memprediksi bahwa saat ini Yudi sudah dalam perjalanan ke kantor, bisa jadi sudah sampai.


Karena Zainal bawa mobil, jadilah ia mengantar Laras sampai gerbang utama.


"Ras, semangat!"


Seru Zainal senang banget, karena setelah membayar utang pada Yudi gak lama Laras akan kembali solo.


"Udah sana pergi, entar diomelin Manager lo telat." usir Laras.


"Lo masuk duluan."


Satpam membuka gerbang. "Makasih Pak!"


Ucap Laras masuk ke rumah besar, berjalan lempang bebas hambatan sampai ke ruang keluarga.


Dari satu sudut Samsir menatap heran. Tadi suaminya pulang pagi, sekarang istrinya juga baru pulang.


Kehidupan rumah tangga yang rumit, dalam hati Samsir.

__ADS_1


Laras berjalan sampai ke ujung lorong, saat tangannya hendak meraih handel pintu.


Cklekk!


Pintu dibuka dari dalam, Yudi berdiri di depannya sudah berpakaian rapi ala kantoran.


Laras terperanjat, tak mampu menutupi rasa terkejutnya.


Belum berangkat rupanya, se siang ini?


Dalam hati Laras menatap heran, dadanya bar debar lagi, sialan.


"Om, maaf saya..."


"Masuklah ada yang harus kamu tanda tangani." ujar Yudi membuka pintu lebih lebar lagi.


Sementara Yudi ke kamar, Laras masuk berjalan ke dapur ingin cuci tangan dan minum air putih.


"Bagaimana ayah?" tanya Yudi membawa satu berkas map di tangannya duduk di sofa.


"Hari ini boleh pulang" jawab Laras ikut duduk di sofa.


"Minggu depan ada perjalanan ke Amrik selama seminggu, kamu akan menjadi teman Nona muda di sana selama Tuan muda mengikuti ujian." jelas Yudi.


"Apa kamu tidak masalah?" tanya Yudi.


Amrik, dalam hati Laras.


"Tapi saya takut naik pesawat Om." ujar Laras malu.


Hm, desah Yudi.


Merepotkan juga kalau ikut, malah jadi urusan,


Yudi memicit keningnya, ya sudahlah.


"Berikan kartu tanda pengenal kamu tanda tangani di sini, pikirkan dalam seminggu. Kalau memang gak yakin nanti kamu bisa menolak langsung pada Tuan muda." jelas Yudi.


Laras membuka dompetnya, "Ini Om." lalu memberikan KTP nya pada Yudi.


Yudi menerima KTP, "Berkas ini untuk paspor juga untuk surat nikah. Apa kamu ada masalah."


Laras terpelongo.


Surat nikah? Kalau ada surat, entar ngurus cerai jadi merepotkan, ah!


"Diam artinya tidak masalah. Pergilah mandi, bau mu seperti baru keluar dari kandang Kambing."


Yudi mendengus dari hidungnya, berdiri dari duduknya membawa berkas ke kamar.


Dasar, segera Laras mencium keteknya.


Cis gak bau juga, tapi emang iya sih. Dari semalam seharian gak mandi, hehe.


Laras masuk ke kamar, ada Yudi di depan komputernya. Ia membuka jaketnya sambil melirik punggung Yudi.


Lalu masuk ke kamar mandi, melepas pakaiannya, melihat pembalut darahnya tinggal bercak, Alhamdulilah.


Badanku memang lengket banget, pingin berendam, ah.


Laras mengisi bathtub air hangat dan sabun aromaterapi, lalu tubuh polosnya masuk ke dalam air.


Di depan komputernya Yudi jadi gak konsen kerja, mana tuan mudanya belum berhasil juga menidurkan Nyonya muda, ah!


****


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya,

__ADS_1


Jumpa lagi pada episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2