Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
66


__ADS_3

Akhirnya Laras mengambil duduk di bangku belakang, tak terduga Beno turun dan masuk mengikuti Laras ke belakang.


"Geser." ujar nya.


Bram melotot pada Beno, Beno tersenyum lebar pada Bram mengedipkan matanya. Bram semakin memeluk Kiara posesif.


Akhirnya Yudi masuk di bangku kemudi, yang mendapat lirikan kesal dari Marissa.


Ketiga pasang anak manusia keluar dari store mau ngedate ke Mall yang jaraknya memang gak jauh, cuma di sebrang store jarak 6 toko.


Beno merasa dia sudah gila, mau-maunya melakukan hal konyol ini.


Punya mobil banyak malah bersempit-sempit di mobil si Wijaya.


Gak sampai lima menit mereka tiba di Mall. Semua turun dari mobil, saat berjalan Laras tersandung dan hampir jatuh.


"Aduh!" dengan replek Beno menangkap ke pelukannya.


"Hati-hati melangkah." ujar Beno.


Laras tergamang, wajah Beno sangat dekat. Jantungnya berdetak cepat, buru-buru ia melepaskan diri dari pelukan Beno.


"Maaf." ucap nya hampir tak terdengar.


Melihat itu Marissa sewot. "Apaan sih pakai akting jatuh." desis nya.


"Kamu mau jatuh juga boleh, nanti saya tangkap." senyum Yudi pada Marissa.


Cih. "Kalau saya jatuh jangan kamu tangkap, awas kalau kamu berani!" ancam Marissa.


Seolah kualat gak lama dia jatuh. "Aduh." pekik Marissa.


Yudi di sampingnya diam saja, berjalan terus pura-pura gak melihat. Dengan kesal dan malu Marissa berdiri mengejar Yudi.


"Hei, ada perempuan jatuh ditolong!"   tepuk Marissa di bahu Yudi sekuat tenaganya.


Aduh, "Katanya tadi jangan ditangkap." jawab Yudi mengusap bahunya yang panas.


"Jangan ditangkap tapi kalau sudah jatuh ya ditolong!" bentak Marissa.


Hais pusing. dalam hati Yudi hanya bisa melongo.


******


Di rumah besar Wijaya, Alisha mendapat kunjungan dari rombongan Walikota.


Pengunjung yang antusias tidak menyangka akan bertemu dengan Walikota menjadi heuporia pada minta selfi.


"Bapak maaf, saya bikin pesta dadakan tidak membuat undangan resmi sampai Anda berkunjung sendiri." ucap Alisha gak enak hati.


"Hm tidak apa-apa, saya hanya mampir mau makan siang. Katanya ada acara rumah terbuka untuk warga ibu kota." jawab Walikota.


"Iya silahkan Pak, saya akan melayani anda."


"Saya mau lihat penganten juga, apakah boleh?" tanya Walikota.


"Pak Walikota silahkan bersantap dulu, nanti saya panggilkan." jawab Alisha.


Ia jadi kesal pada putranya. Ada acara malah pergi berkeliaran entah kemana. Kemudian Alisha membuat panggilan pada Bram.

__ADS_1


*


Di Mall ini, suasananya juga sepi seperti di Jaguk store.


Tiga pria sedang menunggu wanita yang lagi ke toilet. Tiga pria enggan masuk toilet umum, lagian belum kebelet.


Di toilet Kiara masuk ke WC mau ganti pembalut. Tiba tiba Marissa mendorong Laras ke tembok toilet mencengkeram leher bajunya.


"Hei, kamu mau apa?" Laras terpekik kaget.


"Apa kamu menyukai Beno?" tanya Marissa dengan nada sinis.


Ck, kirain ada apa.


"Gue suka atau gak apa urusan lo?" Laras berusaha mendorong Marissa. Ternyata tenaganya kuat juga.


"Jadi lo emang suka ya." sinis Marissa makin mengetatkan cengkeramannya.


"Lepasin tangan lo! Sebaiknya lo tanya tuh laki mau gak sama lo?" jawab Laras sinis juga.


Marissa tersinggung.


"Gue nanya lo, jawab!" bentak nya.


"Gue gak suka bule dan gue belum niat punya laki. Lo mau ambil sana!" suara cempreng Laras masih berusaha mendorong Marissa.


"Baik, pegang kata kata lo." Marissa melepaskan cengkeramannya.


Gak terima dengan perlakuan Marissa.


"Lo berani mencengkeram leher gue, terimalah pembalasan ku." pekik Laras gantian menyerang menjambak rambut Marissa dari belakang.


Marissa terpekik. Tidak mau kalah ia berbalik badan, lengannya yang panjang dengan mudah meraih cepolan rambut Laras sehingga tergerai.


Merasa kesakitan Laras menendang kaki Marissa, kaki Marissa yang panjang balas menendang Laras. Badan Laras dan Marissa hampir imbang sama besar, cuma Marissa lebih tinggi dikit dari Laras.


Jadilah mereka saling jambak dan saling tendang. Saling memanggil nama hewan kesukaan mereka masing-masing.


"Ah! lepasin gue nyet." Laras.


"Uh! lepasin gue njing!" Marissa


"Lo duluan lepasin, njing!" Laras


"Kan lo duluan yang jambak, nyet." Marissa


Ketiga pria yang mendengar keributan dari dalam toilet, pandang-pandangan ragu-ragu antara mau masuk atau tidak.


Kiara yang di dalam wc lagi ganti pembalut, jadi buru buru menyelesaikan urusannya lalu keluar melihat apa yang terjadi.


"Waduh, gawat."


Saat ingin melerai keduanya, ia malah terdorong. Tubuh kecilnya terpental oleh dua orang yang lagi bergumul.


"Akh!"


Bram yang terdengar suara jeritan Kiara tanpa pikir panjang langsung menerjang pintu toilet, masuk disusul Yudi dan Beno.


"Sayang."

__ADS_1


Bram mengangkat Kiara yang terduduk di lantai, menggendong nya ala bridal. Wajahnya merah padam menahan marah pada dua gadis bergumul, yang telah menyebabkan Kiara nya jatuh.


"Hei, tunggu apa! Leraikan mereka!" teriak Bram pada Yudi dan Beno, mereka berdua malah terbengong menonton dua gadis lagi duel.


Segera Yudi menarik pinggang Marissa dan diikuti Beno di sebelah Laras. Keduanya sangat lengket susah untuk dileraikan.


Jambakan di rambut masing-masing kalau dipaksa tarik, bisa lepas dari kepala.


Ting!


Yudi mendapat akal, ia menggelitik pinggang Marissa.


"Ahk." tak tahan digelitik, akhirnya Marissa melepaskan jambakan nya di rambut Laras.


Melihat Yudi, gantian Beno menggelitik Laras dan berhasil. Jambakan nya di rambut Marissa juga terlepas.


"Ih, lepasin!" pekik Laras. Namum Beno semakin memeluk erat pinggangnya.


Marissa gak terima Laras dipeluk Beno, apalagi terakhir Laras menyentak rambutnya yang tergerai. Ia kembali melayangkan kakinya dan menendang Laras.


"Ahk!" mendapat tendangan lagi, Laras balik membalas menendang Marissa.


Namun sebelum kaki Laras sampai pada Marissa, Yudi mengangkat Marissa menjauhkan nya dari tendangan Laras.


Segera juga Beno mengangkat mundur Laras, jadilah kakinya melayang di udara.


"Lepasin, biarkan aku menendangnya! Dia duluan yang cari gara-gara!"


Teriak Laras menggebuk Beno tapi gak berani kuat-kuat, jadilah kelihatan kayak manja-manja.


Melihat itu Marissa semakin panas. Menyadari dirinya dipeluk Yudi dari belakang semakin bertambah emosi. Marissa berbalik badan dan menyerang pria itu menggebuki nya sekuat tenaga, menjambak rambutnya dengan histeris.


"Brengsek!" maki nya, meronta-ronta mencakar wajah Yudi.


Kewalahan Yudi menekan tubuh Marissa, membawa ke pelukannya.


Marissa tambah meradang, dari belakang aja dia gak sudi dipeluk apalagi dari depan.


"Lepasin gue!" teriak nya.


Melihat Laras aman di pelukan Beno, Yudi melepaskan Marissa.


Plak!


Dengan replek Marissa menampar wajah Yudi. "Berani lo peluk gue!" bentak nya.


Yudi kaget ditampar Marissa. "Kenapa gak berani." desis nya.


Dengan napas memburu Yudi menangkap leher gadis itu, menekan tengkuk meraup bibirnya. Bahkan mencium nya lebih dalam penuh tekanan.


Keempat Bram, Kiara, Beno dan Laras terpelongo.


Malu, Laras menyembunyikan wajahnya di dada Beno. Beno mendekap wajah Laras di pelukannya, ia membuang muka juga gak mau melihat adegan romantis di depan matanya.


Gak mau kalah romantis dengan Yudi, Bram mencium telinga Kiara di gendongannya. Kiara menoleh, Bram langsung mengecup bibirnya.


Saat ingin memperdalam ciumannya, cih! Kiara menahan pipi Bram pelan, ia mendelik malu. Senyum Bram melebar mendekap istrinya lebih erat di gendongannya.


******

__ADS_1


enjoy reading and see you to the next part. 🙏


__ADS_2