Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
75


__ADS_3

Masih di ruang keluarga Wijaya.


Daniel tersenyum sumringah menatap Bram, ia berjalan menghampiri pujaan hatinya itu. Ia ingin memeluk Bram, namun Bram hanya mengulurkan tangannya menjabat Daniel.


Daniel mendengus pelan menerima uluran tangan Bram. “Mana adik ipar?” sambil bertanya ia memandang sekeliling.


Selain Kiara, ada empat perempuan dan yang satu wajahnya mirip dengan Bram. Tatapannya terkunci pada Alisha.


Dipandangi Daniel, Alisha memperkenalkan dirinya. “Hallo dokter saya Alisha, mamanya Bram.” Sapa Alisha mengulurkan tangannya tersenyum ramah.


 “Senang bertemu dengan Alisha.” Jawab Daniel menyambut uluran tangan Alisha.


“Ah, sama-sama dokter.” Alisha senyum tersipu, Daniel hanya menyebutkan namanya tanpa embel-embel Nyonya.


 Apa aku masih kelihatan muda, dalam hati Alisha tentu saja senang.


Daniel menggenggam jemari Alisha, tatapannya terpaku pada jari manisnya. Di sana tersemat cincin permata berlian peringkat 3 termahal dunia. Itu adalah hadiah pemberiannya pada Bram, saat Bram berulang tahun ke 19, tahun lalu.


Ternyata Bram memberikan hadiahku pada mamanya, dalam hati Daniel.


Bram mengerti arti tatapan Daniel. Cincin itu adalah hadiah, tidak seharusnya diberikan pada orang lain. Namun Bram merasa risih menerima hadiah cincin dari sesama lelaki, ditambah lagi dia juga tidak suka memakai cincin.


 “Sudah kenalannya Dani, jangan lama-lama menggenggam jemari Mama?” Bram menegur Daniel, pura-pura lupa cincin itu adalah pemberian Daniel.


"Oke Bram, apakah kita langsung ke pokoknya saja  yaitu memeriksa adik ipar." jawab Daniel melepaskan genggamannya dari jemari Alisha tak lupa ia tersenyum ramah.


Pandangannya teralih pada Kiara yang berdiri agak jauh dari Bram, kira-kira 3 langkah di belakang Alisha. Daniel sudah mengetahui wajah Kiara, dari perkembangan berita di sosial media. Setelah dilihat aslinya memang cantik alami, walau tanpa polesan make up. Sebagai dokter ahli kecantikan, ia sangat tau bagaimana wajah yang disebut cantik sempurna.


Memang Bram tidak salah pilih, semoga hatinya secantik parasnya, dalam hati Daniel.


Dipandangi Daniel, Kiara tersenyum datar. Ia ingin maju mengulurkan tangannya, tiba-tiba Bram bersuara.


"Kamu sudah makan malam Dani?" ucap Bram. Kiara menahan tangannya yang hampir terulur.


Daniel menoleh pada Bram. "Tadi aku makan di pesawat Bram, namun aku tidak keberatan jika diajak makan lagi." jawabnya.


Ck, Bram menoleh pada Beno. "Tuan Bernard, kalau sudah tidak ada urusan lagi silahkan, Anda sudah boleh pergi tapi jangan bawa Mama." ucap Bram dengan sinis.


Mendengar itu Alisha melotot pada Bram.


“Bram, bukan kamu yang atur!" tegur Alisha.

__ADS_1


"Tuan Beno, tinggallah ikut pengajian sekalian makan malam.” lanjut alisha mengajak Beno.


"Ah, baiklah Nyonya." jawab Beno menerima tawaran Alisha sambil tersenyum pada Bram.


"Mama, ngapain sih menahan-nahan orang yang sudah mau pulang." sewot Bram pada mamanya.


"Kamu gak ada sopan nya pada tamu Bram." Alisha mengomeli Bram.


"Lucita, kita berangkat habis pengajian." lanjut Beno berkata pada Lucita, tidak perduli dengan keberatan Bram. Lucita bisa apa selain menuruti perintah lalu ia mengangguk.


Daniel menoleh ke arah Beno. Wajahnya familiar. "Bukankah ini Ludwig Trump, pemilik Milano Agency." sapa Daniel pada Beno.


"Dokter, ternyata Anda mengenal saya."  jawab Beno.


"Tentu saja, pasien saya kebanyakan wanita dari Agency model Milano dan mereka banyak bergosip tentang Anda, ups maaf jangan menghukum wanita-wanita cantik itu." ujar Daniel.


 "Ah tentu saja." jawab Beno. "tidak sekarang." lanjutnya.


Gleg, Daniel menelan ludahnya. "Hai, ja..."


"Sudah, kamu datang bukan untuk dia Dani, ayo ke ruang kerja." ujar Bram memotong pembicaraan Daniel yang tiba-tiba sok akrab pada Beno.


"Sabarlah little boy, saya belum berkenalan dengan semua anggota keluarga." ujar Daniel pada Bram, lalu menoleh lagi pada Beno.


Daniel terpandang Lucita, gadis tomboi, dalam hatinya.


Tiba-tiba Marissa maju mengulurkan tangannya. Dokter Daniel terkenal di kalangan model-model internasional. Sudah lama ia ingin memperbaiki hidungnya yang Bangkok, seperti hidung papinya, Arjit.


Marissa merasa kalau hidungnya ini sebagai penghambat karirnya, yang selalu membuat ia gagal audisi. Terlalu bengkok seperti hidung bangau. Namun buat janji dengan dokter sehebat Daniel tentu saja hanya mimpi bagi Marissa yang belum punya penghasilan.


"Dokter, saya mau konsultasi mengenai hidung saya." ucap Marissa tanpa  malu-malu. Ia ingin memanfaatkan koneksinya sebagai sepupu Bram.


"Tentu boleh, selagi saya ada di sini silahkan siapa lagi yang mau perawatan." jawab Daniel.


"Saya juga dokter. " suara Alisha.


"Mama, apanya yang mau di operasi." Bram mendengus, dia yang memanggil Dani tapi terlalu banyak yang berkepentingan.


"Bukan mau operasi cuma minta saran perawatan yang terbaik, iya kan dokter." ujar Alisha tersenyum malu pada Daniel.


Sementara yang lain berdebat soal kecantikan Laras mendekati Kiara. "Ra, gue mau pulang anterin dong." pintanya berbisik pada sohibnya itu.

__ADS_1


"Oh ya Tuhan, bentar gue ngomong ke Bram dulu." ujar Kiara merasa bersalah telah mengabaikan Laras, bahkan Laras masih mengenakan pakaian kerjanya.


Bukannya ia gak mau memberikan salah satu gaunnya, tapi suaminya itu yang jadi masalahnya. Suka marah gak jelas kalau salah bersikap.


Kiara menghampiri Bram, menarik tangannya menjauh dari kerumunan dokter Daniel.


"Sayang, aku pinjam mobil mau ngantar Laras pulang ya." ujar Kiara pada Bram, mereka bicara di bawah tangga.


Bukannya menjawab, Bram malah menarik Kiara ke pelukannya, meraih bibirnya sehingga istrinya itu gelagapan.


Ciuman yang kuat sehingga mau gak mau Kiara membalas ciuman Bram.


Semoga setelah ini Bram mengizinkan aku ngantar si Laras, dalam hati Kiara.


"Kenapa harus kamu yang antar kan sayang, ada supir tinggal perintah." ucap Bram mengusap bibir Kiara yang basah.


"Cium aku lagi." pinta Bram lagi memonyongkan bibirnya. Lengannya memeluk pinggang Kiara, menempelkan tubuh mereka.


"Ka, urus Laras dulu dia mau pulang." elak Kiara membuang muka, mencoba mendorong suaminya.


"Cium dulu sayang, aku kangen." Bram tersenyum devil, ada yang keras terasa di perut Kiara.


"Dasar."  Kiara menjinjit menangkup wajah suaminya menggapai bibirnya lalu menciumnya lembut.


Bram menunduk membalas ciuman dengan penuh gairah. Gak sabar ia menggendong Kiara berjalan cepat-cepat ke lorong ingin segera sampai ke kamar mereka. Menjauh dari keriuhan ruang keluarga.


Sesampai di kamar, Bram membaringkan Kiara di ranjang, setelah beberapa saat.


"Ka, Laras mau pulang." ujarnya.


Bram mengulum bibir bawahnya. "Baiklah bawel."


Dengan malas Bram bangun dari tempat tidur duduk di sisi ranjang, ia mengambil ponselnya di kantong dan membuat panggilan pada Yudi.


"Hallo bos, pengawalan sudah diperketat. Penggajian sudah harus mulai, apa Bos bisa hadir di ruang tengah utama sekarang, Tuan Arjit sendirian di sini." suara Yudi di ujung telepon.


"Ck, kamu bisa antar kan teman Kiara pulang, Yudi?" tanya Bram.


"Keamanan sudah diatur, baiklah Bos saya akan mengantar teman Nona."


******

__ADS_1


enjoy reading and see you


__ADS_2