Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
97


__ADS_3

Yudi masuk ke dalam bathtub duduk di samping Laras, kulit mereka bersentuhan. Seperti aliran listrik, kena air pastilah kesetrum. Bisa-bisa mati tegang. Setelah lima belas tahun yang lalu ia ditinggal kekasihnya, baru tahun ini lagi kehidupan asmara Yudi bersemi.


Setelah dikejutkan dengan kenekatan nya mencium Marissa, selang waktu gak berapa lama sudah dikejutkan lagi menikah dengan gadis lain, yang menurut pandangan Yudi sangat terlihat berkelas saat tubuhnya polos.


Iya, tubuh Laras sangat berkelas seperti bunga Rose putih yang tumbuh di onggokan sampah tetaplah terlihat indah dan baunya juga tetap bau mawar tidak bau sampah.


Begitulah Laras diibaratkan Yudi, saat menghantar Ayah Laras dan mengambil tas pakaian gadis itu. Yudi sudah melihat bagaimana tempat tinggalnya.


Bukannya mau menghina, cuma sedikit surprise. Gadis secantik Laras berasal dari perkampungan padat penduduk di belakang pasar induk ibu kota yang penuh dengan sampah dan got-got yang airnya hitam mengeluarkan bau busuk.


Keluarga Laras buka warung jual gorengan dan aneka minuman sascet juga cup kecil. Ada beberapa kamar petak-petak kecil dari papan yang di kontrakkan.


Laras tertunduk diam tak bergerak, lututnya di tekuk sambil menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya.


Yudi menghela nafas sebelum bicara, ia juga sama nervous nya. Tapi ia adalah pria yang harus memegang kendali. "Lepaskan saja, jangan ditutupi. Tubuhmu indah, jadi gak perlu malu." ujar Yudi suara berat, mengusap pucuk kepala Laras, perlahan meraih tangannya.


Laras menahan tangan yang menutupi dadanya belum mau membuka. Yudi menarik tangan Laras sedikit kencang, sehingga Laras mengalah membiarkan sebelah gunungnya tersembul. Laras menggigit bibir bawahnya, sangat malu pandangannya masih menunduk.


"Apa kamu jenis perempuan yang harus dipaksa?" tanya Yudi membuka pertahanan Laras yang satunya. Yudi sudah menggenggam kedua jemari Laras, sehingga tubuh Laras dua-duanya terekspos.


Yudi menelan Ludahnya, memandang gundukan daging di dada Laras. "Kamu sangat indah Laras." desis Yudi, lalu ia mengangkat Laras ke pangkuannya.


Ah!


Laras terpekik lirih, menutup matanya. Kakinya melebar di pangkuan Yudi.


Ah, betapa memalukan, dalam hati Laras


Yudi dapat merasakan tubuh Laras yang bergetar dan debaran jantungnya yang gak karuan.


"Kamu sangat indah Laras, sangat indah." bisik Yudi di dada Laras.


Terima kasih sudah memintaku menikahi mu, lanjut dalam hati Yudi.


Yudi memegang pinggang ramping Laras dengan kedua tangannya, menyesap lembah antara dua gunung. Yudi semakin intens memainkan lidahnya, berpindah dari satu bukit ke bukit yang satu.


Laras menggigit bibir bawahnya matanya masih terpejam, tubuhnya semakin tegang. Bunyi deru nafas Yudi dan kecapan dari mulutnya saat menikmati gunung kembarnya sangat seksi dan menggairahkan di telinga Laras. Ia merasakan airnya mengalir deras saat Yudi menyesap ujung bukitnya, menekan-nekan bibirnya di daging kenyalnya menciptakan tanda-tanda merah di kulit mulusnya.


Yudi dapat merasakan kenikmatan yang dirasakan Laras dari genggaman Laras yang meremas rambut kepala belakangnya, dan erangan yang lolos dari mulut gadis yang sudah sah jadi istrinya itu.


Suara ponsel berbunyi, menghentikan aktifitas Yudi.


Hah!


Laras terkulai di pelukan Yudi. "Sebentar dulu aku angkat telepon." desis Yudi mengecup leher Laras mengusap punggung belakang gadis itu. Yudi mengurai pelukannya, jelas kedengaran nafas Laras yang memburu.


Begitu juga Yudi sudah sangat bergairah, harus ditahan karena suara ponsel yang meraung-raung seperti suara anak yang minta jajan ke orang tuanya sangat memekakkan telinga.


"Bisa tolong ambilkan." pinta Yudi pada Laras karena merasa dekat dari jangkauan nya.

__ADS_1


Laras meraih celana Yudi, lalu meletakkan nya kembali setelah Yudi merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponsel. Ada panggilan dari keamanan data kantor. Dahinya mengernyit, Yudi menjawab panggilan sambil mengusap-usap punggung Laras yang kembali terkulai di pangkuannya.


"Oke, baik...!"


Jawab Yudi menutup panggilan, lalu buru-buru mengirimi Bram pesan chat dan juga pada Arjit.


"Nanti kita lanjutkan."


Bisik Yudi menepuk punggung Laras dan menurunkan istrinya itu dari pangkuannya. Dengan sigap Yudi keluar dari bathtub. Menyambar handuk melepas boxernya lalu keluar dari kamar mandi meninggalkan Laras yang terbengong.


"Ya Tuhan." Laras menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


*


Di kamar Bram, Kiara di pelukan suaminya.


"Ka, kita keluar jumpa ibu ya." mohon Kiara, setelah selesai satu babak penyisihan.


"Hm." gumam Bram matanya terpejam.


"Terima kasih sayang."


Segera Kiara mengangkat tangan Bram yang melingkari pinggangnya lalu ia bangun membenahi rambutnya di kuncir ke atas.


"Kamu masih utang delapan babak lagi." igau Bram masih terpejam.


"Apa!" Bram membelalak.


"Tidak mau, malam ini harus lunas." Bram merengek seperti bayi kolot menarik lagi Kiara ke dalam pelukannya.


"Iya ya, Bentar lah ah biar cepat!" Kiara menggeliat.


"Kenapa kamu sangat menggemaskan, hm!" Bram geram meremas bokong.


"Ahh!" Kiara kaget. Dasar mesum!


Gak lama suara ponsel berbunyi, Bram menoleh ke nakas. Ponselnya yang bunyi dan berkedip.


"Pergilah! Aku kasi waktu sampai jam sembilan, ngerti." Bram meraih ponselnya, ada pesan chat dari Yudi.


Kiara melirik jam tujuh tiga puluh. "Cool." ucapnya.


Kiara beranjak ke kamar mandi dua menit ia keluar lalu mengenakan pakaiannya. Kelihatan Bram sedang bicara dengan seseorang di telepon.


"Baik Paman,..." suara Bram.


Kiara telah selesai mengenakan pakaian nya. "Sayang, aku keluar." suara Kiara pelan menunjuk ke pintu.


"Hm." desis Bram membentangkan tangannya, melambai agar Kiara mendekat.

__ADS_1


Cis, terpaksa Kiara masuk lagi ke pelukan suaminya. Setelah memberi suaminya itu satu kecupan ringan, akhirnya Bram melepasnya. Kiara berlari ke pintu lalu keluar secepat kilat.


"Oke, oke i see." Bram menutup panggilan. Bergegas ke kamar mandi.


*


Di kediaman Arjit.


Marissa menerima panggilan dari Papinya, bahwa Papinya itu harus ke kantor ada masalah urgen. Tidak usah di tunggu, kalau ngantuk tidur aja, pesan Arjit.


Marissa yang telah bersiap mau ikut menumpang dengan mobil Daniel ke rumah besar, terpekik kesenangan.


"Babe!" kegirangan Marissa melompat ke tubuh Daniel.


"Astaga, kau mengagetkan ku Icha."


Daniel menepuk punggung gadis di gendongan nya itu. Hati Daniel berbunga, merasa ada kemajuan Marissa semakin keluar sifat manjanya.


"Kita di sini dulu ya. Papi sepertinya ada masalah kantor yang berat." Marissa tertawa senang.


"Hei, dasar gadis nakal. Senang kalau papinya kesusahan."


"Ah!" jerit Marissa, Daniel menjentik hidung tingginya.


"Memangnya kamu mau ngapain?" tanya Daniel.


"Making love." jawab Marissa cepat.


Ck, "Baiklah, ayo ikut aku ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Bawa pasport kamu sayang, akan aku bawa Kamu ke pulau terindah di Thailand naik jet pribadi."


Marissa membelalak. "Benarkah!"


"Tentu saja, apa saja untuk membuat mu bahagia."


Marissa semakin memeluk erat Daniel,


"Apa kamu siap ikut denganku?" tanya Daniel.


"Siap banget." angguk Marissa.


*****


Hallo readers yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like , vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi pada episode berikutnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2