Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
163


__ADS_3

Dini hari di rumah besar.


Yudi permisi pada Bram bahwa besok akan terlambat menjemputnya kerja, karena akan mengantar Salma dan Sora ke mansion baru atas perintah Nyonya besar.


Yudi akan mengantarkan nya sendiri ingin memastikan Salma dan Sora sampai dengan selamat. Yudi khawatir Junior memata-matai mereka pada siang hari makanya Yudi bertindak malam hari.


Laras packing baju Sora sementara Yudi bersiap. Ia mengancing back pack Sora sambil memandangi nya yang masih tertidur pulas.


"Pasti aku akan merindukan si bocil ini." gumam Laras.


"Kita akan bekerja keras membuat satu untuk kita."


Ujar Yudi memeluk Laras dari belakang, Laras menoleh ke pundaknya tepat ke wajah Yudi tatapan mereka bertemu.


"Pantesan kamu ngajak tadi, ternyata kamu mau pergi." desis Laras mengecup pipi Yudi yang bertengger di bahunya.


Hm, "Kamu semakin mahir saja, aku suka Laras." bisik Yudi di telinga Laras, menghirup daun telinganya


"Kamu mahir seribu kali lipat, hentakan mu kena semua tidak ada yang meleset, ena2 belaka. Aku jadi curiga jangan-jangan kamu bisa membaca pikiran sehingga tau betul kemana harus mengarahkan si otong mu ini sesuai yang ku inginkan." Laras menyundul bagian tengah Yudi dengan bokongnya.


Aih! Yudi mengerang. "Hihi, jangan membangunkan nya."


Yudi tersenyum dikulum sampai terkikik mendengar keterusterangan Laras, lalu mengurai pelukan berdiri hadap-hadapan.


"Makanya kamu hati-hati jangan berpikir macam-macam karena aku bisa melihat pikiran." Yudi menangkup wajah Laras, cup mengecup bibirnya kilas.


"Ha!" Laras mendorong Yudi, "sumpah!"


Yudi memeluk Laras lagi kali ini dari depan, Laras mengalung lengan di pundak Yudi.


"Tidaklah, mana ada manusia bisa melihat pikiran, ada-ada saja. Di dunia kerja, kita diajari menganalisa pikiran lawan bisnis, untuk bisa mengambil keputusan." ujar Yudi mengusap-usap punggung Laras.


Cis, "Kirain, itu tadi enak banget. Sayang cuma bisa sekali, biasa berkali-kali sampai aku gak bisa bangun." ujar Laras merengut.


Hehe, "Nanti aku pulang kita hajar lagi, ayo! Aku akan menggendong Sora ke mobil, Salma sudah menunggu di ruang keluarga." Yudi mengurai pelukan.


Laras mengerut dahi, "Darimana kamu tau." tanya nya penuh selidik.


Gleg, Yudi menelan liurnya. "Kan tadi aku sudah pesan agar dia bersiap, karena akan ke mansion Nyonya malam ini juga." Yudi alasan lalu menggendong Sora dengan hati-hati.


Padahal Samsir yang beritahu by phone pada Yudi dan Salma atas perintah Nyonya.


Alisha melihat pertengkaran Salma dan Laras melalui CCTV yang tersambung di ponsel Samsir, Samsir melaporkan pada Alisha sehingga mengambil keputusan memindahkan Salma ke mansion.


"Hm." Laras mengangguk, meraih tas baju Sora.


"Ih dasar si bawel ini, kenapa harus pindah ke mansion sih." Laras mencubit pipi Sora di gendongan Yudi.


"Cepatlah hamil, sayang." Yudi mencium di pipi Laras.


"Amin." jawab Laras tersenyum malu-malu, memandang Yudi sumringah dipanggil sayang.


"Ayo." ajak Yudi.


Laras mengikuti Yudi keluar dari kamar sambil menutup pintu kamar mereka. Berjalan di lorong menuju ruang keluarga.

__ADS_1


"Kamu sudah siap?" tanya Yudi pada Salma, yang berdandan aneh di mata Yudi.


"Sudah Tuan." jawab Salma tanpa memandang Laras yang menggandeng tangan Yudi, dalam hati ia mencibir.


Akhirnya aku menang, hm.


Ia senang karena akhirnya mendapatkan Sora, sampai berdandan secantik-cantiknya. Karena ia akan satu mobil dengan Yudi malam ini bersama anak mereka seolah sebuah keluarga.


Di halaman utama anak buah Yudi sudah menunggu dengan dua mobil satu lagi mobil yang akan dikendarai Yudi bersama Sora jadi akan berangkat dengan 3 mobil.


"Siap semua." tanya Yudi pada anak buah nya.


"Siap Bos." jawab anak buah Yudi.


"Silahkan Nyonya." lanjutnya membukakan pintu untuk Salma.


"Bang, biar saya yang gendong Sora." ujar Salma ingin meraih Sora dari gendongan Yudi.


"Kamu ikut mereka! Suganda sepertinya akan mengikuti jadi kamu tidak boleh satu mobil dengan Sora untuk memecah perhatian atau kamu memang mau anak kamu bersama Suganda, aku tanya satu kali lagi sekarang?" tegas Yudi.


"Tidak Tuan, saya tidak mau." jawab Salma ketakutan.


"Kamu coba dulu, belum tentu dia jahat pada putrinya sendiri." ujar Yudi lagi mempengaruhi.


"Tidak, Tuan. Dia sudah bersumpah akan membunuh ibu dan anak setiap wanita yang ditiduri kalau ketahuan hamil, makanya saya bersembunyi saat tau saya hamil. Kalau memang mau jumpa tunggulah Sora besar sedikit lagi." jelas Salma memelas kasihan.


Astaga, dalam hati Laras.


Hm, "Ikut mereka!" tegas Yudi.


"Sabit, jaga Mama Laras, ayah mau ngantar Sora dulu ke tempat Nyonya besar." pesan Yudi pada Sabit.


"Baik ayah." jawab Sabit.


Sengaja ia bangun juga, ingin melihat Sora pindah ke Mansion hatinya juga sedih harus berpisah dengan Sora.


Yudi melangsir Sora masuk ke mobil di belakang di gendongan anak buahnya.


Lalu hadap-hadapan dengan Laras, "Aku pergi dulu." ujar Yudi.


"Bang, hati-hati ya." ucap Laras suara khawatir seperti mau perang saja harus dini hari.


"Apa parah banget jahatnya si Suganda itu?" tanya Laras penasaran.


"Apa kamu lupa kita pernah ditembaki malam-malam." jawab Yudi.


Ah! Laras menutup mulutnya karena terkejut.


Bagaimana aku bisa lupa itu, dalam hatinya.


"Bang, kamu janji akan hati-hati kan, hiks."


Laras akhirnya terisak. "Aku akan hati-hati, sudah jangan sedih." Yudi mengusap pipi Laras.


"Sabit, jaga Mama Laras." Yudi menepuk di bahu Sabit sebelum akhirnya ia masuk di bangku kemudi.

__ADS_1


"Ayo Ma, kita masuk ke dalam." ajak Sabit setelah rombongan mobil keluar dari gerbang utama.


"Hm." angguk Laras berjalan nelangsa menuju lorong ditemani Sabit.


"Saya akan berjaga di sofa, Mama masuklah tidur." ujar Sabit sampai di kamar Yudi.


"Terima kasih Sabit." ucap Laras masuk ke ruang tidur.


*


Yudi melajukan mobil sambil memindai-mindai sejauh lima puluh meter keliling.


Tiga mobil berjalan beriringan, mobil yang ada Salma mengambil tempat di depan, bagian tengah Yudi dan Sora sementara di belakang anak buah Yudi yang siaga.


Benar saja di depan tepat sejauh lima puluh meter ada truk yang menanti mereka, bersenjata tajam jenis sniper berperedam suara, hm.


Yudi menarik nafas dalam coba membaca apa rencana mereka.


Sepertinya mereka akan dieksekusi di perempatan yang sunyi, keluar dari pulau lebih sedikit.


Bagaimana ini,


Dalam hati Yudi memutar otaknya lalu menghubungi dua mobil anak buahnya melalui earpiecenya, agar siaga menunggu perintah.


Ada tiga jalur menuju pulau daerah reklamasi, dua jalur dihadang truk anak buah Suganda menunggu mereka, satu jalur buntu berpalang karena masih dalam tahap pembangunan.


"Darimana mereka tau malam ini kita akan gerak Bos?" tanya anak buah Yudi yang duduk di sampingnya.


"Junior punya smart softlens pengintai." gumam Yudi.


Tapi aku tidak melihat bayangan Junior di mana-mana dari tadi, jadi darimana?


Dalam hati Yudi juga heran. "Kita mutar balik saja, perjalanan malam ini tidak bisa diteruskan." tegas Yudi pada anak buahnya.


Yudi membawa pulang rombongan, saat putar balik ia memindai satu mobil yang mencurigakan lalu meminta anak buahnya siaga jangan sampai mendekati mobil berplat xyz.


Yudi memberi denah pada monitor di dashboard yang tersambung pada mobil anak buahnya, jalan mana saja yang bisa dilalui, hais.


Apakah kami sudah dikepung.


Dalam hati Yudi memindai lagi, kenapa banyak sekali mobil yang mencurigakan.


Tiba-tiba datang rombongan motor dari segala arah sejauh lima puluh meter mendekati mobil Yudi dan anak buahnya, ada ratusan motor Yudi sudah pasrah.


Setelah dekat, salah satu anak genk motor membuka helm, Zainal memberi hormat pada Yudi.


"Malam Bos." sapa nya pada Yudi.


Yudi melongo, ngapain si staf gudang malam-malam berkeliaran.


"Kita akan kawal Bos, sampai ke pulau reklamasi." lanjutnya tersenyum manis.


*****


Hi, pembaca yang Budiman ikutin terus Tuan muda romantis ya. Dukung dengan like, vote dan juga hadiahnya semoga jadi berkah bagi anda semua.

__ADS_1


Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏


__ADS_2