Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
80


__ADS_3

Di kamar Bram dan Kiara lagi baring-baring di kasur.


"Sayang, gimana ini aku sudah kepingin." Bram merengek manja sambil menguyel-uyel istrinya.


"Idih! Jangan buat aku berdosa Bram, ya udah ayo mandi." ajak Kiara bersamaan dengan pintu kamar diketuk.


Tok tok tok, "Bram!" panggil Alisha.


Bram dan Kiara berpandangan. Bram yang semula senyum jadi merengut.


"Mama." desis Kiara, ia segera membenahi pakaiannya yang terbuka di bagian depan.


"Hm." Bram mengangguk.


Ck. "Ganggu aja." Bram mau beranjak tiba-tiba pintu telah terbuka.


"Oh, tidak dikunci ternyata." Alisha nongol di depan pintu dengan cueknya.


"Ada apa, Ma?" tanya Bram pasang tampang kesal.


"Ada apa!? Bram, Beno sakit di depan apa kamu tidak tau bagaimana cara memanggil dokter." sergah Alisha melotot pada putranya.


Beno sakit, dalam hati Kiara memandang Bram.


"Mama, Lucita bilang cuma sakit lambung biasa, Bram sudah beri dia obat. Mama jangan khawatir, asistennya bisa merawat nya." jawab Bram beralasan.


"Kamu ini, banyak tamu di luar ngapain kamu sembunyi di kamar. Sana bantu Om kamu, bagi-bagi amplop Bram. Biar tamu cepat pulang, kasian sudah larut malam." Alisha masih suara keras.


"Iya Mama, baiklah." Bram mendengus. "Sayang, kamu di sini dulu ya." ujarnya pada Kiara lalu turun dari kasur.


"Bram aku ikut, mau lihat Beno." suara Kiara takut-takut, ia memandang Alisha memohon dukungan.


Di pandang Kiara Alisha mengerti.


"Iya sudah, ayo sama Mama. Tapi Kamu belum ada baju muslimah jangan ke ruang tengah ya, di ruang keluarga saja." suara alisha lembut pada menantunya.


"Bram..?" tanya Kiara memohon, soalnya si Bram langsung membesarkan matanya. Ada aura ketidaksenangan yang terpancar di sana.


"Ck, tapi jangan dekat-dekat dan terlalu mesra." ujarnya.


"Ish, kamu ini." geram Alisha.


"Iya sayang, terima kasih." Kiara turun dari kasur hampir jatuh karena melompat.


"Ha!" kaget Bram bergegas menangkap Kiara memeluk pinggangnya, lalu ia menangkup wajah Kiara dengan jari panjangnya yang ramping.


"Semangat sekali kamu, segitu sukanya kamu padanya." Bram menggertakkan giginya, menekan tangkupan nya di wajah Kiara.


"Ah." jerit Kiara merasa sakit di rahangnya.


"Bram!" bentak Alisha khawatir. "Kamu jangan kasar!"


Ck, Bram melepaskan cengkeramannya "Sebentar." ia beranjak ke lemari pakaiannya.


Kiara mengusap rahangnya, sedikit perih. Ia menarik napas membuang pelan, menahan emosinya. Kesal juga dia diperlakukan kasar begitu.

__ADS_1


Bram mengambil satu sweaternya, "Pakai ini sayangku, lain kali jangan terlalu semangat kalau mau jumpa laki-laki lain ya." ujarnya sinis.


Kiara membuang mukanya, menahan sedih.


Dia anggap apa aku. Apa aku kelihatan seperti perempuan gatal.


Dalam hati Kiara. Kiara menahan air matanya jangan sampai tumpah, ia memakai sweater Bram yang nampak kepanjangan dan juga kebesaran di tubuhnya itu.


Alisha geleng kepala. "Ayo buruan." tegasnya pada anak dan menantunya itu.


Kiara berjalan duluan namun Bram meraih jemarinya. Kiara menarik pelan tangannya dari genggaman Bram, namun Bram menggenggam nya semakin erat. Bram menoleh ke istrinya yang berjalan di sampingnya buang muka.


Apa dia marah lagi, imutnya istriku ini kalau lagi kesal, dalam hati Bram. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman senang.


Melihat interaksi keduanya, Alisha menarik napas dalam.


Berapa lama Kiara tahan dengan sikap si Bram yang kasar dan cemburuan itu, mirip sekali dengan papanya.


Dalam hati Alisha melirik ke Bram dan Kiara yang berjalan bergandengan. Sepanjang lorong mereka berjalan dalam diam.


********


Daniel dan Marissa di Kamar tamu di lantai dua.


Marissa duduk di sisi tempat tidur. Daniel berdiri di hadapan Marissa menatap nya intens.


Bagian mananya dari gadis ini yang membuatku bangun.


Dalam hati Daniel merasa tidak asing, seperti Dejavu.


Apa yang dilihat nya dari diriku, dalam hati Marissa. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman tipis yang sinis.


"Icha, apa kamu sudah pernah berhubungan dengan pria sebelumnya?" tanya Daniel to the point."


"Kalau yang dokter maksud apa aku masih perawan. Iya, bahkan kiss aja belum." jawab Icha mengingat-ingat.


Seketika ia sadar, bahwa Yudi sudah mencium nya. Itu adalah ciuman pertamanya,ah. Marissa jadi teringat pada Yudi, apa dia jadi menikah. Marissa menundukkan wajahnya, melamun.


"Kenapa, apa tidak ada pria yang menggoda kamu?" tanya Daniel lagi.


Marissa mendongak gak senang. "Bukannya tidak ada, tapi tidak mau!" tegas Marissa, ia tersinggung dianggap seolah perempuan gak laku.


Ia ingin berterus terang mengenai Yudi, namun Daniel bersuara saat ia mau membuka mulutnya.


"Baiklah, kita ke intinya saja. Aku akan memberi kamu fasilitas kemewahan. Syaratnya, kamu jadi partnerku di ranjang." ujar Daniel to the point.


Marissa tidak terkejut soal partner di ranjang, sudah biasa di zaman sekarang.


"Sugar baby, maksudnya?" tanya Marissa meminta kejelasan.


"Hei, aku tidak setua itu! Aku baru dua puluh enam tahun, you know." sergah Daniel.


"Aku setuju." jawab Marissa tanpa pikir panjang. Toh Daniel tampan.


"Tapi aku ada syarat lain." lanjutnya memandang Daniel intens.

__ADS_1


"Sebutkan."


"Aku ingin menjadi model papan atas tingkat dunia, jadi aku ingin di fermak secantik mungkin untuk menunjang karir ku. Kamu tau kan model tingkat dunia sangat ketat persaingan."


Hm, Daniel memandangi Marissa lekat-lekat.


Apa karena kemiripan wajahnya sehingga dia bangun, sekarang pun aku sudah tidak tahan ingin memakannya, dalam hati Daniel. Perasaan yang sama saat ia di dekat Bram.


"Sayangnya, selama masih bersamaku tidak ada yang boleh dirubah." tegas Daniel.


"Begitu." Marissa ragu-ragu "Berapa lama kau akan memakai aku?"


Daniel menatap Marissa, gadis ini penuh obsesi, menarik. "Baiklah kita lihat tiga bulan."


Gak lama cita-cita ku akan tercapai, aku hanya buat dia segera muak padaku, dalam hati Marissa.


"Aku ingin ini jadi rahasia dan saya mau ada perjanjian tertulis." ujar Marissa.


"Tenang saja, saya juga maunya begitu."


Daniel mendekati Marissa. Menyentuh wajah Marissa dengan menjentikkan jari telunjuknya di dagu Marissa. Memutar wajahnya kiri kanan atas dan bawah.


Daniel menyadari sesuatu bahwa tanpa make up wajah Marissa memang sedikit mirip dengan Bram. Karena cemong maskernya sudah rontok jadi kelihatan wajah aslinya.


Sepertinya ini hanya karena obsesi ku pada Bram. Aku yakin ini seperti pelampiasan.


Dalam hati Daniel. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Marissa. Marissa menahan napasnya menunggu, apakah Daniel akan menciumnya.


******


Di ruang keluarga Beno sudah baikan.


Dokter pribadinya sudah datang tapi tidak ada yang bisa dilakukan nya. Setelah berganti baju, Beno kembali segar seperti tidak terjadi apa-apa.


Melihat Kiara keluar dari lorong bergandengan tangan dengan Bram, membuat ia kembali pingin sakit seperti tadi. Siapa tau Kiara prihatin dan memberi perhatian padanya. Ia jadi menyesal kenapa tubuh nya cepat kembali segar. Ia tersenyum pada ke dua orang Kiara dan Alisha, tidak menghiraukan Bram.


Alisha membalas senyuman Beno, lalu ia menoleh pada putranya. "Bram, kamu ke ruang utama." titahnya.


Ck, Bram memandang Kiara, istrinya itu bergeming tak menoleh sedikit pun padanya. Kiara melepaskan genggaman nya berjalan ke sofa dan duduk di sebelah Beno.


"Kamu sakit apa Meno." tanya Kiara dengan ekspresi datar.


"Gak ada sakit, lihat aku segar bugar." jawab Beno senang. Ternyata Kiara tau ia tadi sakit makanya keluar menemuinya.


Bram memandang ke duanya tak berdaya, mau marah gak berani lagi Soalnya dia tadi sudah cari gara-gara duluan, takutnya Kiara makin kesal padanya.


"Bram." Alisha menegur Bram dengan senyum jail. Ia tau putranya itu menahan cemburu.


Ck, dengan napas berat Bram membiarkan Kiara bercengkrama dengan Beno. Ia menuju ruang tengah, dalam hati ia berjanji malam ini akan membalaskan semuanya pada Kiara.


Aku akan membuatnya gak bisa jalan, lihat saja.


******


Hai, terima kasih masih setia dengan Bram dan Kiara. Segala bentuk dukungan saya ucapkan terima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa pada episode berikutnya. 🙏


__ADS_2