Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
133


__ADS_3

Laras membawa Sora ke kamar Yudi, ia juga pasti akan pusing jika harus menjaga anak sekecil Sora.


Apa mungkin Tuan muda membiarkan Kiara merawatnya? Gak mungkin deh, si Nyonya muda itu sangat dimanja Tuan muda...


Karena kesibukan Yudi, Sabit dilimpahkan pada Samsir. Mungkinkah Sora akan dilimpahkan pada salah seorang pelayan wanita atau jasa nanny?


kita lihat saja nanti.


Dalam hati Laras berharap jangan sampai tugas itu dilimpahkan padanya. Karena dia harus bekerja untuk membantu kehidupan orang tuanya, tidak selalu mengandalkan uang pemberian Yudi.


Laras melihat ponselnya, apa ada pesan atau panggilan masuk kerja karena saat bersama Yudi, Laras akan mengganti nada dering ponselnya ke nada silent. Ternyata ada panggilan tak terjawab dari ayahnya.


Kultak kultak kultak


Suara dari dapur, Laras yang lagi duduk di sofa scroll2 ponselnya, menoleh.


"Sora, duduk di sini mari nonton Marsha and the bear."


Panggil Laras melihat Sora di dapur sedang menjinjit mengutak-atik engsel pintu, sepertinya dia mau keluar.


Akhirnya Laras berjalan ke dapur lalu membuka pintu sekalian mau lihat jemuran.


Sora kesenangan dapat menghirup udara bebas. Waktu baru datang tadi saja, ia terkagum-kagum saat mobil masuk ke rumah besar. Melihat rumah penuh dengan bunga-bunga dan rumput indah, ternyata di belakang masih ada yang lebih indah, dalam hati Sora.


"Ka, mau main di kebun?"


Sora menunjuk ke kebun mawar, ada Sabit dari jauh menatap mereka, ia mengangguk menunduk hormat pada Laras.


Laras tersenyum membalas anggukan Sabit. Sora melihat interaksi keduanya.


"Ka, itu siapa?" tanya Sora.


"Abang Sabit, anak Om Yudi." jawab Laras sambil membalik-balik pakaian setengah kering.


Sora berjalan di batu-batu kerikil yang tersusun rapi, kaki kecilnya tidak memakai sandal.


"Aduh sakit!"


Jeritnya mengangkat kakinya berjingkrak-jingkrak lalu melihat ada sendal gede di bawah pintu dia pun memakai nya.


Sora menyusuri jalan setapak bersusun kerikil, akhirnya ia sampai pada satu parit kecil yang memisahkan nya dari Sabit.


"Sabit, tolong." Sora mengulurkan tangannya.


Sabit mengernyit bagaimana si bocil ini langsung memanggil namanya tidak ada embel-embel abang atau kakak.


Namun begitu diulurkan nya juga tangannya membantu Sora melompat parit.


Sendalnya yang kegedean jatuh ke air, Sora menjerit-jerit minta di ambilkan. Pelayan lain yang bersama Sabit bantu mengambil nya pakai cangkul gerigi atau garu.


Di kebun Sora mengitari pandangan nya, ada kolam berenangnya juga, wow!


Sora membesarkan matanya menutup mulut dengan kedua tangannya takjub seperti di dongeng putri-putri yang pernah dilihat nya di buku bergambar.


Ditambah lagi dia mengenakan baju princess Kiara, Sora berputar-putar tertawa gembira.


Laras membiarkan Sora bermain dengan sabit, ia masuk ke dalam kamar membiarkan pintu terbuka, lagian sore hari masih terang. Duduk di sofa Laras menelepon Ayahnya.


*


Di kamar Bram Kiara sedang makan di sofa, Suaminya itu menemani dengan setia di sampingnya.


Ada juga Yudi sedang menunggu Bram, menanda tangani berkas-berkas tugas secara virtual di tablet kerja.


"Apa sudah ada kabar ke mana Bibi pergi?" tanya Bram.


"CCTV terakhir kereta api tangerang, seperti nya Bibi kembali ke kampung halaman orang tuanya kalau ia tidak singgah ke mana-mana." jawab Yudi.


"Hm, begitu. Kirim orang untuk menjaga nya. Atau kalau dia mau bertempat tinggal di sana mudahkan urusan nya." jelas Bram.


"Siap Bos."


"Bagaimana dengan ayah Sabit asli, apa sudah ada kabar?" tanya Bram lagi.


Hm, "Saya menduga seseorang dan sudah mendapatkan sampel darahnya. Besok sabtu, week end apa bos ada rencana mau ke mana? Saya rencana membawa sabit ke rumah sakit mengambil sample test DNA berikut saya sendiri." jawab Yudi.


"Siapa dia Yudi, beri tahu aku." Bram suara tegas.


"Tuan Suganda, pemilik tempat di mana Bryen dan Evita tertangkap." jawab Yudi.


"Penjahat itu, bagaimana kamu yakin itu ayah Sabit wajah kalian berbeda. Sementara di photo dan surat nikah, wajah kalian identik." tanya Bram antara percaya dan tidak.

__ADS_1


"Ini Bos, rahasia daftar riwayat hidup Suganda." Yudi menyerahkan salinan pdf di ponselnya pada Bram.


"Saya juga sudah membuat copy-an nya dalam bentuk cetak, kertas dokumen." jelas Yudi.


"Suga juga mengalami kecelakaan yang parah 15 tahun yang lalu yang membuat wajahnya hancur. Sedikit demi sedikit dia berhasil memperbaiki wajahnya. Baru lima tahun yang lalu dia berani membuka topengnya menampakkan wajahnya barunya." lanjut Yudi lagi.


Sambil makan Kiara mendengarkan dengan seksama.


"Saya juga sudah mencatat Sabit masuk menjadi anggota keluarga di dalam kartu rumah tangga saya dan Laras, Bos."


Bram mengerut dahi. "Apa kamu berniat menyembunyikan fakta siapa ayah kandung Sabit?"


"Tidak juga, hanya jaga-jaga kalau-kalau ayah kandungnya berniat jahat pada Sabit. Bagaimanapun kalau memang Sabit adalah anak dari saudara kembar saya, sama juga dia adalah darah daging saya, cucu keturunan ayah dan ibu. Kalaupun dilakukan tes DNA saya dan Sabit pasti memiliki kecocokan hasil tes yang sama dengan ayah kandungnya." jelas Yudi.


"Hm begitu, baiklah. Aku perhatikan Sabit juga anak yang berbudi luhur dan rendah hati sama seperti kamu Yudi. Sayang sekali kalau ternyata bibitnya dari Suganda penjahat itu." sesal Bram.


Tok tok tok.


"Bram." suara Alisha.


"Ada apalagi si Mama."


Gerutu Bram memberi kode Yudi agar membuka pintu kamarnya, ia sendiri mengambil sendok dan piring Kiara, yang mendapat tatapan heran dari istrinya itu.


Cklekk.


Alisha nongol di depan pintu tersenyum manis merayu. "Bram."


"Hm."


Bram cuek hanya bergumam menyuapi istrinya tanpa menoleh ke Alisha.


"Bram, bukankah perusahaan sudah stabil." ujar Alisha duduk di samping putra semata wayang nya itu.


"Hm, terus kenapa?" tanya Bram jutek.


"Mama sudah hitung, keuntungan nya sudah bisa membeli satu jet harga standard eksklusif. Beli ya Bram, Mama ingin mendalami bisnis kecantikan perlu transportasi ulang alik luar negeri yang gak ribet." rengek Alisha memeluk di lengan Bram.


Hm, Bram menarik nafas berat. "Bukankah Mama berbisnis dengan Daniel, numpang saja dulu dengan nya." ketus Bram.


"Bram." Alisha suara kesal.


"Beli ya Bram, mama mau jet pribadi tapi jangan yang murahan ya ya ya." rayu Alisha lagi menggoyang-goyang di lengan Bram.


"Mama kesejahteraan karyawan dulu diutamakan. Mereka bekerja keras dan mau bertahan dalam masa sulit. Jangan hanya mementingkan kesenangan pribadi." tegas Bram.


"Ah!" Alisha menghempas tangan Bram.


"Atau Mama jual saja salah satu rumah, bagaimana kalau rumah kakek di villa." usul Alisha.


"Mama, itu rumah Bram diwariskan kakek langsung pada Bram. Mama jual aja rumah Mama kalau ada." ketus Bram tidak mau menanggapi lagi, dalam hati ia menyeringai.


Ck, Alisha berdecak.


Plak! Tangannya melayang ke kepala Bram.


"Aduh!" Pekik Bram.


"Mama luruskan dulu itu kekacauan yang Mama perbuat!" bentak Bram menggaruk kepalanya,


Sialan, udah tua juga masih aja di tabok.


Alisha mengerut dahi. "Kekacauan apa maksud kamu?"


"Bibi Dwi sudah tau kalau Kiara anak Om Burhan!" ketus Bram sinis pada Mamanya.


"Hah!" Alisha terkesiap.


"Bagaimana bisa, Kiara?" Alisha memandang Kiara, apa dia yang memberi tahunya.


"Ibu panti, saat Bibi mengambil anak angkat baru. Itu si Sora yang bersama Laras tadi." jelas Bram.


"Jadi itu bukan anak Yudi?" Alisha menatap Yudi, Yudi tersenyum kecut pada Alisha.


Cih, "Semua Mama bilang anak Yudi, apa dia jenis yang suka menanam benih di mana-mana." ketus Bram.


Gleg, Yudi menelan ludahnya membayangkan anak Olivia, waduh gawat dalam hatinya.


"Terus ibu kamu ke mana Kiara?" tanya Alisha pada Kiara, Kiara menatap Bram.


"Itu urusan Mama cari tahu dan bawa pulang ke mari, Bram harap Bibi sudah di sini, saat Bram pulang dari Amrik nanti." tegas Bram.

__ADS_1


"Beli jet ya." rayu Alisha lagi menjeling Bram.


"Hm." angguk Bram.


Cup. "Terima kasih sayang."


Cium Alisha di pipi Bram dan mencubit pipinya gemas lalu berdiri hendak keluar melihat Yudi ia tersenyum jail.


"Maaf Yudi, aku kira itu anakmu." ucapnya menepuk punggung Yudi.


"Terus kamu mau apakan itu anak, Kiara?" Alisha menoleh di pintu bertanya pada Kiara sebelum keluar.


"Itu juga urusan Mama karena Mama, Bibi Dwi meninggalkan anak itu pada Kiara." jawab Bram.


Hais! "Besok ya, Mama mau keluar sebentar. Mama mau jet sudah ada dalam dua minggu Bram, bye." Alisha menutup pintu.


"Ma, bawa samsir!" teriak Bram.


"Iya!" teriak Alisha juga dari luar kamar.


*


Sudah mau maghrib, Laras mengangkat baju kering.


Melihat Sora masih di kebun bersama Sabit. "Sora!" panggil Laras.


"Ya." jawab Sora berteriak.


"Pulang." panggil Laras lagi.


Sabit membantu Sora kembali ke dapur kamar Yudi. Sampai di pintu,


"Dah, Sabit." ucap Sora melambaikan tangannya.


"Dah Sora, dah Mama Laras." jawab Sabit juga melambaikan tangan melirik pada Laras.


"Dah Sabit."


Jawab Laras tersenyum pada Sabit, membawa pakaian masuk dan menutup pintu.


Laras meletakkan pakaian di keranjang lalu ke kulKas melihat apa ada yang bisa dimasak untuk makan malam.


"Ka, susu." rengek Sora.


"Ambil di tas baju kamu, bawa sini kakak buatkan." ujar Laras.


Setelah mendapatkan kotak susu dan dodot nya, Sora membawa nya pada Laras di dapur.


Cklekk.


Pintu dibuka, Yudi nongol di depan pintu. Menghampiri Laras di dapur, Sora duduk manis di kursi meja makan.


"Buat apa?" tanya Yudi memeluk Laras dari belakang.


"Om, ada anak kecil." bisik Laras ke wajah Yudi.


Ck, "Sepertinya satu malam ini, dia akan tidur dengan kita." bisik Yudi juga di telinga Laras.


Laras sudah selesai membuat susu, memberikan dodot pada Sora. "Sora, duduk di sofa aja nonton Marsha." titah nya.


Sora menerima dodot. "Apa kalian mau pacaran lagi?" tanya nya.


Yudi mengerut dahi. "Kami suami istri, bukan pacaran." jawab nya.


"Oh, mau buat debai dong seperti Kiara dan Tuan muda."


Jawab Sora santai berjalan ke sofa lalu berbaring sambil menyedot susu mengambil remot menghidupkan TV.


Yudi memandang Laras, Laras membuang muka merah padam.


"Ayo, sekarang buat." ujar Yudi menarik Laras ke kamar dan mengunci pintunya.


Astaga,


"Om, udah mau maghrib." Laras menahan Yudi yang ingin mencium nya.


"Masih sempat." mohon Yudi gak sabar mengangkat Laras ke atas kasur.


******


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiah ya author ucapkan terima kasih.

__ADS_1


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2