Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
124


__ADS_3

Di kamar mereka, Kiara di pelukan Bram.


Dengan wajah sedih menatap suaminya itu. Sesungguhnya ia sudah sangat rindu tidur di kamarnya di Krisant, belum lagi kesampaian sudah ada anak lain yang menempati, apa gak sedih.


"Ayo sayang kamu mandi segera bersiap, kita ke Krisant sekarang."


Bram mengusap pipi sembab Kiara, bantu membuka pakaian istrinya sehingga tidak sehelai benang pun ada di tubuhnya.


Astaga aku jadi pingin menyatu lagi, ah!


Dalam hati Bram, palanya puyeng melihat tubuh polos istrinya masuk ke kamar mandi. Namun segera ditekannya perasaannya, berjalan ke lemari pakaian menyiapkan gaun Kiara.


Lima belas menit Kiara selesai mandi, masih dengan wajah sedih keluar dengan tubuh berbalut handuk. Kiara berjalan ke Bram yang menunggu nya duduk di headboard tempat tidur lagi menatap ponselnya.


"Sini Kiara, jangan sedih lagi."


Bram meletakkan ponselnya, dengan telaten ia membantu istrinya itu berpakaian. Tidak lupa dia menjaili Kiara, sentuh sana sentuh sini, picit sana picit sini.


Namun Kiara tidak terpancing lawakan suaminya, yang biasanya teriak-teriak kesal. Mulutnya malah makin tambah merengut maju, sehingga Bram tidak mengusiknya lagi.


Setelah rapi mereka keluar dari kamar, Bram menggandeng tangan istrinya sepanjang lorong menuju pintu depan utama. Bertemu Samsir, di ruang tengah.


"Tuan muda ada yang bisa saya bantu?" tanya Samsir.


Hm, Bram berpikir-pikir. "Antarkan saya dan istri ke Krisant." titah Bram.


"Siap Tuan."


Samsir membukakan pintu bagian belakang mobil untuk majikan nya, sebelum dia sendiri masuk di bangku kemudi. Dengan hati senang ia mengantar Tuan dan Nyonya muda, setelah tadi hatinya sempat sedih soalnya Nyonya besar tidak mau diantar olehnya.


*


Laras dan Marissa keluar dari Bank yang mendapat tatapan aneh dari karyawan Bank dan sisa pengunjung yang ada.


Bagaimana tidak dua gadis belia membawa duit kas gitu banyak, di tambah lagi ngitung duit satu ember di teller makan waktu.


Karena pecahan duitnya bercampur aduk, ada duit kecil ada duit besar, duit baru duit lusuh, duit kertas bahkan ada recehan.


Terpaksa dibantu Manager Bank sambil nanya-nanya ke Laras, darimana uangnya? Apa kerjaan nya?


Akhirnya Marissa berdiri dan membantu Laras untuk menjawab.


"Saya Marissa putri dari Arjit, Manager Group WJ, merangkap jadi sepupu presdir group WJ Bramasta Wijaya dan ini istri dari asisten Yudi, perkenalkan."


Jelas Marissa tersenyum manis pada Manager menepuk pundak Laras.


"Duitnya halal pak, jadi tolong disimpan ya." lanjut Icha tatapan mengancam.

__ADS_1


Gleg, Manager menelan ludah mendengar group WJ.


Tentu saja ia mengenal baik, soalnya proyek terbaru group WJ memakai jasa kredit Bank mereka. Bisa gawat jika dipersulit, entar dia lapor ke bapaknya dan juga ke sepupunya, bisa-bisa Bank mereka tidak dipakai lagi


Manager Bank lalu menunduk hormat pada Marissa. Karena Marissa gak make up seperti keinginan Daniel sehingga kemiripan wajahnya dengan Bram kelihatan jelas, membuat Manager Bank yakin bahwa Marissa tidak membual.


Apalagi setelah di print di buku Laras tenyata sudah ada saldo satu M lebih, Manager pun menunduk hormat pada Laras lalu minta maaf karena telah mencurigainya dan mengucap selamat atas pernikahan nya dengan asisten Yudi.


Di mall pusat kota.


"Icha, lo mau makan apa emang?"


Tanya Laras yang memang jarang ke Mall pusat kota. Mall pusat kota lebih mewah, beda dengan Mall ini, lebih dekat ke Jaguk dan terjangkau dompetnya.


Lagian lebih sering Kiara yang traktir, dia mah modal mulut sama lambung buat bantuin Kiara ngabisin semua pesanan.


"Minggu depan gue ke Amrik, jadi kita shoping dulu. Bentar ya gue browsing, Amrik ada musim apa bulan ini, mau beli baju baru."


Mendengar Icha minggu depan juga ke Amrik, Laras jadi teringat Yudi.


"Cha, naik pesawat itu seram gak sih?" tanya Laras.


"Enggaklah, seru tau."


"Kalau jatuh kan mati." jawab Laras bergidik.


"Kiara juga akan ke Amrik minggu depan bersama Tuan muda dan Yudi, katanya mau ke kampus Tuan muda. Gue diajak untuk menemani Kiara, tadi udah buat paspor." jelas Laras.


Marissa menatap Laras, kenapa aku gak tau.


Jadi Bram juga ke Amrik, kasian juga dia naik pesawat komersil. Jetpri kan sudah di jual, kemaren nutupi kerugian.


Dalam hati Icha berpikir-pikir, bagaimana kalau pergi bareng jetpri Daniel, kan seru rame-rame dia juga jadi ada teman.


Baiklah nanti gue bilangin Daniel ah, apa bisa tanggalnya disamain!


*


Mobil masuk perumahan Kluster.


Karena di halaman rumah ada mobil Kiara peninggalan ayah Burhan, Samsir parkir di depan pagar rumah Kiara.


Kiara menatap mobilnya yang terbungkus, sudah lama sejak menikah ia tidak pulang ke rumah, akhirnya sekarang lah waktunya. Perasaan haru, antara sedih dan bahagia.


Bram menggandeng istrinya, sedangkan Samsir diminta kembali ke rumah besar.


"Ibu." panggil Kiara di pintu masuk.

__ADS_1


Dwi lagi beresin dapur, kaget mendengar suara kecil Kiara lalu bergegas ke ruang tamu depan menatap tak percaya ternyata ada Bram juga.


Seingat Dwi, baru kali ini Bram menginjakkan kakinya di rumah sederhana nya ini.


Namun bagi Bram ini yang ke tiga kali. Yang kedua kali ia masih ingat pernah bela-belain pakai baju badut hanya untuk bertemu Kiara dan hasilnya tidak mengecewakan. Dirinya dapat bercinta dengan Kiara semalaman di ruang tengah.


"Nak Bram! Kiara, kenapa gak kabar mau datang?" tanya Dwi menatap anak menantunya bergantian.


Bram menatap ibu mertuanya itu dengan ekspresi datar karena telah menyebabkan istrinya bersedih. Walau kesal tapi ditahan, Bram tetap menyalim Dwi. Matanya nanar mencari-cari anak kecil yang dimaksud Kiara.


"Bibi, kita akan menginap di sini malam ini." Bram to the point.


Oh! Dwi termangu.


Menatap Kiara wajahnya sembab seperti habis menangis, artinya Kiara gak ijin kamarnya dikasi ke Sora. Dwi sudah menduga sih tadi saat Kiara menutup telpon begitu saja.


Aku juga sih, liat si Sora langsung suka.


Dalam hati Dwi teringat kemaren, saat Sora mencuri perhatiannya di hajatan Pak Rt, tersenyum ramah padanya. Tidak disangka anak itu juga rajin menjamah dan rajin bekerja.


Barusan tadi ember diinjak buat manjat di wastafel, mau mencuci piring katanya. Walaupun hasilnya berantakan, piring pecah tiga, gelas empat menggelinding di lantai, air sabun kemana-mana.


Sehingga ia terpeleset, kakinya kena serpihan kaca. Berteriak nangis sekeras-kerasnya. Setelah diberi es krim satu mangkok ukuran setengah kilo penuh barulah dia diam akhirnya tertidur.


Sebelumnya, Kamar Kiara juga diberantakin. Sora melompat-lompat di atas tempat tidur, bantal guling di lambung-lambung ke atas seperti bola. Baju Kiara keluar semua dari lemari.


Baru saja Dwi selesai mengganti alas kasur, sedangkan baju di lemari belum tersusun rapi.


Syukurlah, setidaknya kasur bisa di pakai buat istirahat, dalam hati Dwi.


"Silahkan Nak Bram, Ra bawa suami kamu ke kamar." ujar ibu Dwi.


"Anak kecil yang menerima telpon, di mana Bu?" tanya Kiara.


"Itu di kamar ibu sedang tidur." jawab Dwi.


Kiara melepaskan genggaman tangan suaminya, berjalan ke kamar ibunya. Ingin melihat seperti apa bentuk anak yang telah menggantikan posisinya.


Di tempat tidur Dwi, Kiara melihat seorang gadis kecil bulat persis seperti bentuk nya dulu,


Ya Tuhan lucunya, dalam hati Kiara.


*


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Segala bentuk dukungan author ucapkan terima kasih.


Jumpa lagi pada episode selanjutnya.🙏

__ADS_1


__ADS_2