Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
94


__ADS_3

Setelah mencium Kiara, Bram mengusap bibir istrinya itu geram.


"Lain kali kalau si Mama nyuruh kamu belanja jangan mau, ngerti." Bram menggertakkan giginya, menekan bibir Kiara dengan jempolnya.


"Aaa!" lirih Kiara.


"Bukan Mama yang nyuruh, aku yang mau sekalian jemput Laras." suara Kiara kesal, kumat lagi kasarnya si Bram. Udah tadi nyedotnya kencang, Kiara hampir gak bisa nafas.


Ck, Bram berdecak. "Sayang itu lebih tidak boleh, tunggulah di kamar nanti aku akan menghajar mu." bisik Bram makin emosi.


"Yudi!" panggil Bram.


"Siap Bos." jawab Yudi maju lima langkah di belakang Bram.


"Urus pengunduran diri istrimu!" tegas Bram.


"Apa!" Laras menatap Yudi bingung.


Apa maksudnya, pengunduran diri.


"Baik Bos." jawab Yudi menunduk hormat.


"Tapi kenapa Tuan Muda?" tanya Laras.


"Kenapa? Apa kamu mau aku tuntut seperti Manager mu itu." Bram mendelik pada Laras.


gleg, Laras menelan ludahnya.


Jadi Tuan muda sudah tau, secepat itu?Sepertinya Samsir sudah laporan, dalam hati Laras.


"Boleh tidak tunggu sampai gaji bulan ini, tanggung tinggal seminggu lagi." mohon Laras.


Bram tidak perduli lagi, ia memakaikan masker istrinya, lalu menarik tangan Kiara keluar dari Market melalui pintu darurat.


Dasar sombong, kapan kau gak berak malam, umpat dalam hati Laras mengejar langkahnya yang ketinggalan. Menatap punggung Yudi, hatinya miris.


Bahkan suamiku gak perduli, nasib...nasib.


*


Atas perintah Bram, Laras dan anak remaja ikut Samsir ke rumah besar. Bram dan Kiara langsung ke Apart bersama Yudi.


Di jok belakang Bram menguyel-uyel istrinya.


Ah! "Sayang, agak malam aja kita ke Apart ya, ada ibu di rumah besar siapa tau dia kangen pada ku." mohon Kiara menahan wajah Bram.


"Aku lebih kangen. Besok aku ke kantor kamu di rumah besar puas-puasin atau kamu mau ikut aku ke kantor?" tanya Bram mendekatkan lagi wajahnya.


Kiara mendorong lagi wajah suaminya. "Ngapain, aku gak ngerti kerja kantor. Lagian aku gak suka kerja di belakang meja." jawab Kiara.


"Kamu gak kerja di belakang meja sayang tapi di atas kasur."


Gleg, "Di kantor apa ada kasur, dasar!" Kiara mentoel hidung Bram.

__ADS_1


"Ya udah, besok ikut. Lihat ada kasur atau tidak."


Cih, "Boleh tidak lain kali kamu jangan sembarang tempat ciuman." ujar Kiara masih kesal teringat tadi di market.


Seenaknya saja, beruntung di bagian mereka belanja tadi agak sepi apalagi langsung ditutupi Samsir dan Yudi. Tapi Laras tadi ngintip dan meledeknya, Kiara jadi malu.


"Memangnya kenapa, apa aku tidak boleh mencium istriku, hm." Bram mengapit leher Kiara dengan lengannya, lalu menjentik dahinya.


"Aduh!" Kiara mengusap keningnya.


"Bram kamu jangan samakan di sini dengan di Amrik, gak boleh tau!" kesal Kiara.


"Oh, tidak bisa! Makanya sering-sering aja buat aku khawatir, maka sering-sering juga aku akan mencium kamu di depan orang ramai." jawab Bram menyeringai.


Ck, "Sayang malam ini kita tidur di rumah besar aja ya, please." mohon Kiara lagi.


"Gak mau." jawab Bram menjepit pipi Kiara dengan jari telunjuk dan jempolnya.


"Nanto tomboh duroso dan goyo." jawab Kiara dengan mulut monyong akibat di jepit Bram.


"Apa?" tanya Bram melepas jepitannya, menatap istrinya intens. Kiara mengusap pipinya, balas menatap suaminya,


"Nanti tambah durasi dan gaya, mau gak?" tawar Kiara.


"Berapa?"


"Lima, .."


"Lima belas." potong Bram.


"Ya sudah sepuluh. Yudi, putar arah ke rumah besar, now!" titah Bram, bibirnya langsung mengences, he hehe he he..


"Kalau gitu sekarang satu gaya." bisik Bram menutup sekat.


Ah! Kiara mendesah.


Terima kasih Nyonya muda, dalam hati Yudi menelan ludah.


*


Di mobil Samsir, Laras syok mendapat pesan masuk dari Zainal. Beberapa photo Yudi di peluk Marissa dan ada vidio juga.


Astaga, sakit hatiku!


Laras menepuk dadanya, lalu membalas Zainal. "Zai, lo tolong jangan kasi lihat ke ayah dan ibu ya." tulis Laras di pesannya.


"Iya." balas Zainal.


Laras menghela nafas berat. Tadi pagi Zainal mencegat nya, terpaksa Laras bicara apa adanya. Zainal sangat geram, bahkan berniat membantu Laras membayar hutangnya.


Namun Laras sudah bertekad, dia akan menggunakan tubuhnya untuk membayar hutang, lagian biar ayah gak curiga dan kecewa.


Sudah lama ayahnya ingin merenovasi kost-kostan nya, karena kayunya sudah banyak yang lapuk dimakan rayap. Makanya dia jadi khilaf curi kesempatan, tau Yudi bukan orang sembarangan. Hati Laras terenyuh, mau marah apa haknya.

__ADS_1


Kan aku gak ada hati pada Yudi, tapi kenapa sakit ya, Laras menepuk dadanya menarik nafas, benar-benar sesak.


Samsir memberi Laras tisu, Laras menerima tisu Samsir lalu membuang ingusnya.


Sepertinya sebentar lagi terjadi perang,


Dalam hati Samsir memutar mobil masuk pekarangan rumah besar. Di pintu utama ia menghentikan mobil, membuka bagasi. beberapa pelayan datang membantu Samsir membawa masuk belanjaan.


Samsir mengetuk pintu belakang, meminta anak remaja turun. Saat anak remaja turun dari mobil, pandangan kekaguman terpancar dari matanya.


"Ayo masuk jumpa Nyonya." ajak Samsir pada anak remaja.


Laras juga keluar dari mobil, ia menahan air matanya jangan sampai tumpah. Laras baru ngeh ada anak ikut mobil mereka. Tadi dia naik saja masuk ke bangku depan. Laras gak enak pada Samsir kalau harus duduk di belakang, dia bukan Nyonya ini.


Di ruang keluarga Alisha dan Dwi lagi bercengkerama. Melihat kehadiran Samsir dan Laras bersama seorang anak.


"Sudah pulang." sapa Alisha tatapannya terkunci pada anak remaja. Samsir menunduk hormat.


"Ini anak siapa Samsir?" tanya Alisha.


Samsir menoleh pada anak remaja. "Perkenalkan dirimu." titah Samsir.


"Saya anak Yudi, nama saya Sabit biasa di panggil Abit." ujar anak remaja.


Alisha terkejut Laras lebih terkejut. Jawaban Sabit seperti petir menyambar di telinganya. Anak Yudi!


"Tunggu dulu, maksudnya asisten Yudi?" tanya Alisha masih tidak percaya.


Sabit mengeluarkan bingkai dari Ranselnya, memberikan nya pada Samsir. Samsir menyerahkan bingkai pada Alisha.


"Tidak mungkin." gumam Alisha masih belum percaya, seketika Alisha menatap Laras yang gemetar di belakang Samsir.


"Laras, kamu jangan percaya dulu. Tidak mungkin, ini tidak mungkin." yakin Alisha.


Bagaimana Yudi punya anak sebesar ini, umur berapa dia menikah, dalam hati Alisha.


"Oh ya, mari duduk di sini." Alisha menunjuk sofa.


"Tante, Bibi Dwi Laras ke kamar dulu." pamit Laras, ia sudah gak tahan mau nangis.


Dwi mengangguk, Alisha tak kuasa melihat Laras, ia juga sedih.


"Pergilah istirahat dulu, nanti malam jangan lupa keluar makan, Laras." jerit Alisha menatap kepergian Laras ke lorong.


"Iya, tante." jawab Laras tanpa menoleh lagi.


Alisha menatap anak remaja, lalu menoleh pada Dwi.


"Sepertinya wajah anak ini ada mirip dengan Yudi." Dwi bergumam.


Alisha menarik nafas, kenapa bisa ada kejadian begini.


******

__ADS_1


Hi, readers yang Budiman. Ikuti terus Tuan muda romantis ya. Like, vote dan juga hadiahnya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi episode berikutnya. 🙏


__ADS_2