
Di kamar Bram, Kiara lagi bersiap, mencoba pakai kerudung modifikasi dengan melihat tutorial di yutub.
Tapi tidak semudah kelihatannya akhirnya ia menyerah, menghempaskan selendangnya menyelempangkan di bahunya begitu saja.
Bram telah siap dengan baju koko dan pecinya, baru saja menghubungi Yudi namun chatnya tidak segera centang biru seperti biasanya. Tapi masih dua centang hitam yang artinya belum terbaca, hm.
Sepertinya dia lagi sedang buat dedek bayi, semangat sekali si Yudi. Kejar target apa kejar tayang.
Dalam hati Bram mengurungkan niatnya mau membuat panggilan suara, tunggulah sebentar lagi.
Bram melihat Kiara belum juga siap. "Sayang, kenapa tidak dipakai kerudungnya?" tanya Bram heran selendangnya hanya melingkar di bahu.
"Tidak bisa Bram, susah." jawab Kiara menatap riasannya di cermin kelihatan sudah sempurna, baiklah.
"Ya sudah gak usah dipaksa sayang, nanti beli kerudung yang simpel aja." ujar Bram.
"Kita tunggu Yudi di ruang keluarga saja, ayo Kiara." lanjut Bram mengajak istrinya keluar.
"Hm." angguk Kiara meraih ponselnya di nakas.
Kiara masih sendu mengingat ibunya yang bersama Lucita, ingin berkirim pesan bertanya kabar.
Nanti sajalah, tunggu gak ada Bram.
Dalam hati Kiara memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya meraih tangan suaminya, mereka bergandengan menuju ruang keluarga.
*
Gerak cepat Yudi masuk ke kamar mandi setelah membaca pesan chat dari Bram, jam sudah menunjukkan angka 13.50wib.
Hm, aku ke syor-an,
Dalam hati Yudi cepat-cepat mandi.
Laras terbaring lemas di kasur, padahal mereka mengejar waktu bisa-bisanya Yudi menghajarnya sampai 3 kali putaran, hampir saja empat kali kalau tidak terdengar ponselnya berbunyi, cis.
"Laras, ayo bersiap kalau mau ikut atau nanti aku panggil supir kantor saja mengantar kamu ke pasar induk, kamu istirahatlah."
Suara Yudi setengah teriak keluar dari kamar mandi mengeringkan tubuhnya asal. Dengan terburu mengambil baju, dengan tergesa juga memakai nya.
Laras memaksa dirinya bangun namun kehabisan tenaga, lalu memandang Yudi yang sedang berpakaian sembari menyeringai menatap nya.
Cis, "Om, ah!" desah Laras kesal.
"Ada apa sayang, mau lagi." ledek Yudi tersenyum jail.
Itu tadi gara-gara Yudi tertantang saat membaca pikiran Laras yang mengatakan dirinya tua makanya satu putaran saja sudah lemas, hehe.
Rasakan lah, aku tidak akan menahan diri lagi mulai sekarang.
Karena Laras mengalami pendarahan saat pertama Yudi sedikit trauma menahan diri untuk tidak memaksakan nafsunya yang masih bergejolak.
Yudi meminta jatahnya satu kali saja setiap kali kepingin karena menjaga Laras agar jangan sampai terluka, namun Laras justru memandang nya remeh makanya Yudi memberinya pelajaran.
Hm, baru tau rasa enakkan!
Dalam hati Yudi menghampiri Laras yang meringkuk memeluk selimut, dia telah siap mau berangkat mengantar bosnya.
"Aku pergi dulu sayang, nanti saat pulang kita lanjut lagi." pamitnya menjentik dagu Laras.
Laras memukul bantal ke arah Yudi kesal. "Eh, masih ada tenaga! Tunggulah aku pulang Laras, aku buat gak bisa bangun kamu dua hari dua malam."
Senyum Yudi membalikkan lagi bantal Laras lalu keluar dari ruang tidur, mengedipkan mata pada Laras sebelum menutup pintu.
"Hah! Ya ampun." desah Laras.
Ya Tuhan si Yudi sialan itu sengaja, apa biar aku gak bisa pergi ke rumah ayah.
Dalam hati Laras malu membayangkan tadi, Yudi benar-benar mengerjainya.
Apa dia bisa membaca pikiran, seolah tau betul apa yang kuinginkan, kalau gini besok ajalah ke rumah ayah aku mau tepar, ah!.
Laras menarik selimut.
Itu tadi benar-benar bikin ketagihan.
Dalam hati Laras senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
*
Yudi juga senyum-senyum sendiri membaca Laras yang terbaring di kasurnya, seingatnya baru kali ini dia sebahagia ini seumur hidupnya.
Menyusuri lorong ke ruang keluarga, Yudi mau setor muka dulu pada Bram sebelum menyiapkan mobilnya.
Ada Sabit juga sedang memakaikan Bram, sepatunya. Sora duduk di samping Kiara malu-malu melihat ke Tuan muda.
"Bos." sapa Yudi berdiri di samping Bram duduk.
Bram menoleh tersenyum dikulum. "Sudah selesai buat dedek bayinya." ledek Bram mendongak ke Yudi.
"Bos tolong, ada anak-anak." ujar Yudi tersipu.
Namun Bram makin semangat menggoda. "Sabit, kamu mau adik lelaki atau perempuan?" tanya Bram pada Sabit yang baru selesai mengikat tali sepatunya.
"Lelaki, kan sudah ada Sora adik perempuan." jawab Sabit menanggapi serius pertanyaan Bram, melirik Sora yang duduk di samping Kiara.
__ADS_1
Bram menatap Sabit dan Sora bergantian sepertinya memang mirip. Sora kelihatan berpikir memandang Yudi seolah ada yang ingin ditanyakan tapi ragu-ragu, mimik wajahnya sangat lucu di mata Bram, ada perasaan aneh dan tak biasa di hatinya.
"Apa Mama Laras ikut pergi?" suara Sora keluar juga bertanya pada Yudi.
"Tidak Sora, Mama Laras ada di kamar." jawab Yudi.
Mendengar itu Kiara mengerut dahi, begitu juga Bram.
"Wow, Mama Laras? Sora sejak kapan Laras jadi Mamamu?" tanya Kiara.
"Sejak dulu." jawab Sora ngasal tanpa memandang Kiara lalu berdiri dari duduknya perasaan seperti ada yang kurang,
Oh iya dari tadi belum minum susu,
Dalam hati Sora menjilat-jilat bibirnya lalu menoleh pada Sabit.
"Sabit antarkan aku ke kamar, cepat!" pinta nya memerintah.
"Ya udah, ayok." jawab Sabit.
Bram dan Kiara pandang-pandangan melihat Sora meraih tangan Sabit setengah berlari menarik-narik Sabit menuju lorong.
Ah, pantesan perasaannya gelisah dalam hati Sora ternyata haus susu.
Bram tak lepas memandang keduanya, sangat serasi jadi anak Yudi. "Yudi, apa kamu tidak mau ambil sampel Sora sekalian? tanya Bram.
Yudi mengerut dahi membaca pikiran Bram, astaga. Yudi menarik nafas kasar.
"Saya siapkan mobil sekarang." ujar nya mengalihkan, lalu beranjak mau ke halaman utama.
"Yudi!" Bram menahan Yudi dengan melebarkan lima jari tangannya.
"Sayang, makan dulu dikit mau?" ajak Bram pada Kiara.
"Hm." Kiara mengangguk.
"Ayo Yudi, kita makan dulu sebelum berangkat, aku yakin kamu juga lapar." Bram.
Hehe, tau aja. Yudi.
*
Sabit mengantar Sora sampai ke pintu kamar lalu membuka pintunya.
"Masuklah." ujar nya pada Sora.
"Makasih ya Sabit." ucap Sora lalu sabit menutup pintu ia tidak ikut masuk.
Sora meraih gagang pintu ruang tidur.
Cklekk.
Hm, "Iya, tunggulah sebentar." Laras membuka matanya yang terpejam padahal ia sudah hampir terlelap.
Dengan berat Laras bangun dari kasur perlahan duduk di sisi tempat tidur mencari bajunya.
"Mama Laras baru buat dedek bayi lagi?" tanya Sora.
Laras mengerut dahi. "Tidak Sora." sanggah nya gerah.
Walaupun Laras menutup tubuhnya dengan selimut namun otak kepo nya berjalan bahwa dibalik selimut Laras tidak berpakaian, itu artinya apa?
Melihat Sora seolah tidak mempercayai nya. "Tadi Mama Laras mau mandi tapi ngantuk jadi tidur, bobok siang." lanjut Laras beralasan semoga Sora percaya.
"Ambilkan itu." unjuk Laras melihat bajunya yang teronggok di lantai.
Walau Sora merasa curiga, namun ia sudah tidak selera berkomentar lagi segera gerak mengambil baju Laras.
Karena yang penting baginya sekarang adalah mendapatkan susu yang merupakan candu baginya itu.
Setelah berpakaian Laras ke dapur membuat susu, Sora menunggu gak sabar berdiri di belakang Laras.
Setelah menerima susu, Sora berbaring di sofa menyedot dodot nya, menyalakan TV gak lama ia pun tertidur.
Laras gak jadi ngantuk, ia ke kamar mandi mau mandi wajib.
Asik-asik aku keramas, ah.
Selesai mandi Laras melihat Sora di sofa udah tepar, ia geleng kepala berdecak, ck ck ck meraih remot mematikan TV.
Lalu masuk lagi ke ruang tidur mau melaksanakan solat Zuhur, masih ada waktu.
*
Di mobil Yudi membawa Tuan dan Nyonya muda nya ke daerah pemakaman yang dekat dengan panti. Ia kepikiran membaca Kiara, lalu menarik napas dalam.
Susah payah mencari ternyata Bibi di rumah Beno, dan Nyonya muda menyembunyikan nya dari si bos.
Dalam hati Yudi dilema, apa yang harus dilakukan. Bram memerintah Yudi agar terus melakukan pencarian sementara Nyonya muda yang sudah mengetahui dimana ibunya malah ingin menyembunyikan.
Apa yang akan terjadi kalau aku membongkar keberadaan Dwi pada Bram yang ternyata di rumah Beno.
Lagi-lagi Beno...bagaimana CCTV tidak bisa menangkap bayangan Dwi dan Lucita?
Dalam hati Yudi penasaran pake bingit sekaligus bersyukur setidaknya Dwi berada di tempat yang aman.
__ADS_1
Yudi memutar mobil masuk area pemakaman umum, dahinya mengerut membaca pikiran Bram. Bosnya itu merasa risih mau turun melihat semrawut nya penyusunan nisan.
Bram pusing sendiri bagaimana mau mencari makam ibu mertuanya itu. "Sayang, kamu tau yang mana makam nya?" tanya Bram dengan terpaksa ia turun dari mobil hanya untuk menghargai Kiara.
Hm, "Sebelah sana." jawab Kiara lupa-lupa ingat setiap datang pasti ada bertambah makam baru jadi semakin semak.
"Yudi, coba tanya berapa biaya pemindahan makam, segera pindahkan ke pemakaman Wijaya!"
Tegas Bram bukan karena sayang pada ibu mertua namun karena ia tidak sudi kemari lagi kapan-kapan menemani Kiara.
"Siap Bos."
Yudi mempertajam penglihatan nya mencari posisi makam ibu kandung Kiara.
Setelah menemukan, Bram tidak ingin berlama-lama. Memimpin membaca beberapa doa mengenai rumput yang tinggi menjulang diserahkan pada pengurus makam sekalian menitipkan uang untuk menabur bunga dan air.
Kiara juga jadi tidak berselera lama-lama di makam, hatinya benci teringat perlakuan ibu dan ayahnya pada Dwi. Walaupun, kalau bukan karena penghianatan itu ia juga tidak akan lahir ke dunia ini.
Saat pulang Bram meminta singgah ke panti. Ibu panti menyambut mereka dengan suka cita. Dikiranya mau menyumbang dana ternyata Bram mau marah-marah, astaga!
"Maaf Tuan muda, Kiara! Saya tidak sengaja keceplosan." ucap ibu panti penuh penyesalan.
"Berikan data-data Soraya yang lengkap Bu."
Pinta Kiara, memang sudah niat mau merawat Sora dan menyekolahkan nya juga.
Ibu panti menggeleng, "Bukan tidak mau memberikan karena memang tidak ada. ibu Sora meninggalkan nya begitu saja, janjinya cuma seminggu sekarang sudah hampir dua bulan."
Jelas Ibu panti merasa bersalah telah membuat Dwi dan Kiara jadi bermasalah.
"Apa ibu tau siapa ayahnya?"
Tanya Kiara, karena ibu panti hanya menunjukkan gambar Ibu Sora di ponselnya yang langsung di share ke ponsel Kiara.
"Kalau gak salah Salma (nama ibu Sora) pernah menyebut nama Suganda."
Jawaban ibu panti membuat Yudi terperangah mendengar nya seperti disambar petir mengepal tangannya geram, terngiang di kepalanya kata-kata Nyonya besar.
Yudi, berapa anak lagi yang kamu punya di luar sana?
Hah! "Seperti dugaan ku, Yudi!"
Suara Bram geram menahan emosi, Kiara menggenggam tangan suaminya menenangkan.
"Pastikan melakukan test pada Sora!" tegas Bram terus berdiri menarik Kiara pergi, tanpa permisi pada ibu panti.
"Pasti itu." desis Yudi mengikuti Bram keluar setelah menunduk hormat pada ibu panti.
Dari panti, Yudi membawa Bram dan Kiara pulang kembali ke rumah besar, segera ia ke kamarnya mau menemui Laras.
Saking rindunya Yudi sampai berlari kencang namun yang ditemui nya hanya Sabit duduk di sofa membujuk Sora yang menangis terlungkup di sandaran sofa.
"Kenapa Sora, mana Mama Laras?"
Tanya Yudi nada khawatir menatap kedua anak Suganda itu dengan perasaan yang dia sendiri tidak tau, apa!
Belum lagi anak Olivia, ah.
Mendengar suara Yudi Sora berhenti menangis namun masih terisak, hiks.
"Tadi dijemput temannya, Mama Laras pergi naik mobil katanya mau pulang sebentar ke rumah ayahnya." jawab Sabit.
Zainal.
Yudi menggeram segera berjalan cepat keluar dari kamarnya. Sora mengejar Yudi, Sabit mengejar Sora.
Bertemu Bram di ruang keluarga sedang bercengkrama dengan Kiara lalu menunduk hormat.
"Saya keluar sebentar bos, ada urusan pribadi." Yudi permisi.
Bram mengerut dahi, melihat Sora berlari keluar dari lorong diikuti Sabit yang juga berlari.
"Ada apa kalian berlari kejar-kejaran?" tanya nya suara setengah teriak.
"Ayah Yudi, bawa Sora ikut ke rumah Mama Laras, hiks hiks."
Suara Sora merengek berurai air mata memohon pada Yudi. Leher pendeknya hampir terkilir mendongak memandang Yudi yang tinggi.
Hah! Bram mendesah melihat interaksi Sora ke Yudi, tadi Mama Laras sekarang ayah Yudi.
"Kalian memang pas sekali satu keluarga, tidak perlu test DNA pun sudah tau, pergilah! Bawa pulang Mama Kalian."
Sinis Bram kembali menjaili Kiara. "Bram, ah!" kesal Kiara menepis tangan suaminya, ada anak kecil soalnya.
"Terima kasih Bos." ucap Yudi menatap Sora.
"Ayo." ajak Yudi mengulurkan tangannya pada Sora.
"Kamu tunggu di sini." ujar nya pada Sabit, Sabit mengangguk.
"Permisi Bos." ucap Yudi pada Bram.
Hm, gumam Bram mengangguk tanpa mengalihkan pandangan nya dari Kiara menjaili istrinya itu, tetap.
*****
__ADS_1
Hi, Pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode berikutnya. 🙏