
Di kamar Bram masih di tempat tidur.
Setelah Alisha menutup pintu, Kiara menggebukin Bram pelan dan manja.
"Aa Bram! Kenapa tadi pintunya tidak dikunci." ujar Kiara. Ia sangat malu pasti wajahnya sekarang merah seperti kepiting direbus.
"Maaf sayang, aku lupa." Bram terkekeh. Ia menahan geli mengingat kelakuannya.
Bisa kepergok Mama lagi berciuman, ah betapa malunya.
Bram mengusap wajahnya kasar, pandangannya menerawang.
"Ih dasar, sana pergi ambil kebaya!" ujar Kiara menggelitik pinggang Bram geram.
Bram menangkap tangan Kiara, membawa ke wajahnya kemudian menciumnya. Bram menatap sayu Kiara.
Kiara gak tahan di tatap Bram.
"Aaaah, sana ambil kebaya!" sergah Kiara membuang mukanya mentoel wajah Bram agar tidak menatapnya gitu.
"Aaaah, malas!" ledek Bram ikut merengek mengikuti nada bicara Kiara dan semakin memeluknya. Membenamkan wajahnya di leher Kiara, menyesapnya kuat.
"Aaah!" Kiara kaget.
"Ka Bram, jangan kissmark!" Kiara memukul-mukul pundak Bram, menggeliat ingin melepaskan diri. Namun si mesum Bram semakin napsu menjilat dan menyesap lehernya.
"Sanalah awas! Biar aku yang pergi ambil, nanti Mama kemari lagi nyari Ka Bram." tolak Kiara Menjambak rambut Bram agak kuat, menarik wajah pria mesum yang terbenam di lehernya itu.
"Aduh!" Bram kesakitan.
"Baiklah bawel!" Bram mengurai pelukan. Sebelum beranjak sekali lagi Bram mencuri nyedot bibir Kiara.
"Ish, si mesum ini." tepuk Kiara di punggung Bram.
Hehe, turun dari kasur Bram tersenyum mesum memandang Kiara sebelum menutup pintu kamarnya.
Kalau gak haid sudah aku hajar dia habis-habisan malam ini, ah.
Dalam hati Bram geram pada tubuh Kiara yang membayang dibalik kaosnya, reflek tangannya mengusap junior, sabar ya bos.
Menuju ruang tengah utama, Bram bertemu Yudi di ruang keluarga. Baru selesai meeting.
"Bos." sapa Yudi.
"Hm, lain kali meeting di ruang kerja Yudi." tegur Bram, "kita buat pass fingerprint untuk kamu Nanti, saya jumpa Mama dulu." lanjut Bram.
Yudi mengangguk karena memang baru lewat sebulan ia jadi asisten Bram belum sembarangan masuk ke ruang kerja.
Sebelum beranjak Bram teringat sesuatu. "Yudi, belikan perlengkapan wanita untuk Kiara." titahnya.
Gleg , Yudi menelan salivanya.
Aku mana tau urusan wanita, dalam hati Yudi.
"Kamu gunakan kekuatan uang Yudi, bukankah kita sekarang sultan jangan terlalu berhemat ok."
__ADS_1
Cih! Kenapa tidak cari satu asisten ngurusin Nona, dalam hati Yudi.
"Baik Bos, nanti maghrib saya diperintah Nyonya ke mesjid sekalian ngundang warga." lapor Yudi.
Bram mengerutkan dahi, ngundang warga?
"Baiklah Yudi, apa kata Mama lakukanlah."
Bram menepuk bahu Yudi kemudian pergi ke ruang tengah utama, seketika ia melongo.
"Astaga Mama, apa perlu seperti ini kan cuma akad nikah Ma!"
Ujar Bram kaget melihat ruang utama sudah didekorasi seperti panggung pesta.
Alisha tersenyum devil pada Bram yang baru datang.
"Kenapa Bram? Dulu Mama kepingin punya anak tujuh Bram tapi yang jadi cuma satu. Jadi Mama mau buat pesta tujuh hari tujuh malam." ujar Alisha.
Hah, ngapain pesta tujuh hari tujuh malam kalau aku gak bisa menikmatinya, dalam hati Bram.
"Oh no, Mama jangan ngada-ngada." ujar Bram gak suka dengan ide gila Mamanya.
"Jangan membantah! Ayo bawa ini kotak-kotak kebaya." titah Alisha pada Bram.
Dasar si Mama.
Dalam hati Bram membawa pergi kotak-kotak kebaya menuju kamarnya, saat melewati ruang keluarga bertemu Yudi.
"Ayo Yudi ke ruang kerja, kita buat pass finger kamu." ujar Bram. Yudi pun mengikuti bosnya.
******
"Bu, nikahannya malam ini habis isya. Kiara jeput Ibu sekarang ya." ujar Kiara pada Ibunya hati-hati.
"Malam ini, katanya besok saat empat puluh hari Tuan besar sekalian pengajian." Dwi bingung kenapa tiba-tiba berubah. Dia sendiri gak ada persiapan.
Bagi Dwi, pernikahan adalah hal yang sakral. Harus dipersiapkan dengan matang. Ada tata krama gitu, paling tidak ada prosesi lamaran. Ini asal main comot aja seperti anak gadisnya tidak ada Harganya.
Dalam hati Dwi masih kesal merasa putrinya dilecehkan Bram. Namun begitu, Dwi menjaga perasaan Kiara.
"Baiklah Nak nanti ibu datang sendiri saja, kamu gak usah jemput." ujar Dwi memutus sambungan.
Sekarang sudah lewat ashar sebentar lagi maghrib, sebaiknya bersiap, dalam hati Dwi bergegas mau ke rumah besar.
Di kamar Bram, Kiara teringat pada temannya Laras. Karena ponselnya yang lama sudah dibuang, kiara tidak bisa menghubunginya karena tidak pernah mau menghapal nomornya.
Di kontak ponselnya hanya ada Beno dan Meno.
Hm Meno, apakah aku harus memberitahunya bahwa malam ini aku akan menikah, dalam hati Kiara.
******
Di kediamannya, Bernard lagi melamun. Rencananya membawa Kiara malam ini ke NYC jadi gagal.
Hanya beberapa hari kiara di rumahnya, sekarang gak ada Kiara hatinya terasa hampa.
__ADS_1
Ponselnya berkedip, Kiwawanya memanggil..
Beno tidak percaya Kiara akan menelponnya secepat ini, baru tadi siang Kiara masih di rumahnya.
"Halo!" jawabnya
"Meno." terdengar suara kecil Kiara di ujung panggilan.
"Hm, ada apa Kiara?" jawab Beno kalem menutupi rasa senangnya.
"Malam ini aku nikah setelah isya, maukah kamu datang?"
Bukannya besok malam, dalam hati Beno.
"Aku khawatir tidak bisa Kiara, malam ini ada yang harus aku kerjakan." jawab Beno. Rasanya dia belum siap menghadapi kenyataan Kiwawanya menikah.
"Begitu ya, apa teman-temanku akan ke kota Kembang Beno?" tanya Kiara.
"Tidak perlu Kiara." jawab Beno.
Kiara di kamar Bram, gak lama pintu dibuka. Muncul wajah kekasih hatinya Bram membawa tiga buah kotak tersenyum padanya.
"Baiklah Beno terima kasih ya." Kiara memutus sambungan.
Mendengar nama Beno wajah Bram berubah masam. Menjatuhkan kotaknya mendekati Kiara dan mengambil paksa ponselnya.
"Ka, kamu bisa minta baik-bai gak perlu main rampas." protes Kiara.
Namun Bram tidak perduli, ia memeriksa isi di dalam ponsel Kiara. Mengetahui nomornya di tulis dengan nama Beno, Bram menatap Kiara dingin dan tajam.
"Apa maksudnya ini, kenapa nama kontak ku kamu tulis Beno Kiara?" tanya Bram, wajahnya ketat menahan marah.
"Ah iya ganti saja Ka, aku belum sempat." jawab kiara.
"Aku gak mau kamu berhubungan lagi dengannya Kiara, buang ponsel ini nanti aku kasih kamu gantinya." Ujar Bram masuk ke kamar mandinya.
Ponsel Kiara dicemplungkan nya ke dalam kloset dan menarik aliran airnya.
Kiara kaget mengejar Bram ke kamar mandi. "Ka Bram jahat." teriak Kiara menggebukin Bram dan air matanya mengalir.
Bram menangkap tangan Kiara, menggendongnya dan melemparnya ke kasur lalu menghimpit tubuhnya.
"Aku tidak suka kamu menghubungi pria manapun Kiara, terutama si Beno itu." ujar Bram.
"Kenapa?" tanya Kiara terisak.
"Karena dia menyukaimu, jangan bilang kamu juga menyukainya." sinis Bram.
"Apa salahnya, Meno itu orang baik. Kamu gila Bram cemburu gak jelas. Kalau kamu gak percaya sama aku, sama cintaku padamu sebaiknya kita gak usah menikah." sergah Kiara dengan emosinya. wajahnya penuh air mata.
Mendengar itu pandangan Bram jadi gelap, wajahnya merah padam. Tangan lebarnya menangkup pipi basah Kiara dengan beringas menekan bibirnya. Mengunyah dan menggigitnya dengan kasar. Sedikitpun tidak ada kelembutan seolah ingin menghukum gadisnya.
Aroma darah terasa di mulutnya, Kiara meronta-ronta. Ia ingin melepaskan diri namun tenaga pria ini sangat kuat menekan tubuhnya, perutnya juga sakit dihimpit Bram.
"Bram! Apa yang kamu lakukan!?" teriakan Alisha menghentikan kegilaan Bram.
__ADS_1
*******
enjoy reading and see you to the next part. Like dan vote ya , buat penyemangat nulis. Thanks 🙏