
Di ruang tamu, ibu Laras menatap putrinya. Ia menarik nafas pelan sebelum bicara.
"Laras, kalau Zainal tidur di kamar kamu, lalu suami kamu tidur di mana kalau ia ingin nginap di rumah kita?" tanya ibu Laras penuh kelembutan.
Oh tidak! jerit hati Laras.
Jangan sampai Om Yudi tidur di rumah ayah, malu banget nanti kalau tiba perceraian.
Dalam hati Laras hampir shock menatap Ibunya dan Zainal bergantian.
"Bu, mas Yudi gak akan pernah tidur di rumah ini!" suara Laras tegas.
Ibu laras mengernyit, Kiara dan Zainal juga menatap Laras intens.
Iya, kenapa? Berikan alasan yang masuk akal Laras
Dalam hati Laras ditatap jadi salah tingkah.
"Lihatlah kamar Laras sempit kayak apa, lagian kasur tiga kaki gitu mana bisa dia tidur. Mas Yudi biasa tidur di kasur yang lebar dan empuk, hehe."
Jawab Laras dengan semangat empat lima, memaksa dirinya ketawa walau yang keluar cuma suaranya yang terkekeh hambar.
Sekiranya Yudi mau juga, aku yang gak mau.
Lanjut dalam hati Laras lalu memberikan senyuman terbaiknya pada ibunya, Kiara dan Zainal bergantian.
Ibu Laras tercengang, benar juga tapi bagaimana perasaan suaminya jika mengetahui pria lain tidur di kamar istrinya.
Hah! Zainal mendesah mengerti keadaan status pernikahan Laras, ia juga merasakan dan memahami keberatan ibu Laras, lalu menimpali.
"Udah Ras, mendingan gue ke tempat Juki aja." Zainal berbalik badan ingin keluar dari rumah Laras.
"Zai, tunggu." Laras menahan tangan Zainal.
Saat itu juga Bram dan Yudi berdiri di depan pintu rumah Laras.
Melihat kehadiran suaminya Kiara terpelongo, begitu juga Laras melihat bayangan Yudi yang berdiri di belakang Bram.
Ngapain mereka nyusul kemari, apa gak ada kerjaan di kantor, dalam hati Laras.
"Sayang." Panggil Kiara.
Bram tersenyum manis pada Kiara, namun terasa mencekam bagi Kiara.
"Sayang."
Panggil Kiara lagi menghampiri suaminya yang tampan, liurnya menetes perasaannya sama seperti saat tadi ia kepingin makan es krim. Bahkan tengkuknya merinding merasakan aura dingin suaminya.
Bagaimana tidak, Bram menjulang hampir setinggi pintu rumah Laras yang dua meter. Celana panjang bahan hitam, atasan biru langit lengan digulung sebatas siku. Kancing baju lepas dua sehingga kelihatan kulitnya yang putih dan otot kekarnya yang samar di balik kemejanya.
__ADS_1
Wajahnya bersih, sepertinya tadi pagi ia sempat cukuran. Pencahayaan rumah Laras yang agak redup seolah bersinar dengan kehadiran Bram. Aura yang dipancarkan oleh Bram menerangi ruang tamu rumah Laras...like an angel, light and cold.
Bram menatap pucuk kepala Kiara yang berdiri di depannya geram bercampur gemas, ingin rasanya menyatukan tubuh mereka sekarang juga.
Lalu Bram menunduk. "Kiara sayang, ini kedua kalinya kamu keluar rumah tanpa permisi pada suamimu." bisik nya di daun telinga Kiara.
"Atau kamu memang suka kalau aku mencium mu di depan orang." lanjutnya menyeringai.
Kiara mendongak matanya membulat, menatap suaminya gugup, jangan di sini tolong, dalam hati Kiara.
"S-sayang, a-aku..."
Belum habis bicara, Bram mempererat pelukannya di pinggang Kiara langsung menyedot dan melu mat bibir istrinya itu. Tubuh Kiara terangkat.
Hm, Bram membulatkan matanya, bibir Kiara terasa lebih dingin dan lebih manis dari biasanya, harum vanila yang lembut. Apalagi, Bram semakin semangat dan memperdalam ciumannya.
Laras yang sudah pernah melihat saja masih kaget, apalagi Zainal dan ibunya. Ibu Laras hampir shock membuang mukanya, Astaghfirullah dalam hatinya istighfar.
Sedangkan Zainal mengences tak berkedip disuguhkan dengan adegan hot langsung di depan mata.
Setelahnya, Bram menggendong Kiara segera pergi dari rumah Laras, Yudi bergegas mengikuti bosnya.
"S-sayang dengar dulu penjelasan-ku."
Ujar Kiara terbata, menoleh ke Laras yang terpelongo, seolah bingung harus bagaimana.
Yudi bergegas masuk di bangku kemudi, menyalakan mobil dan membawa majikannya keluar dari kawasan rumah Laras dengan perasaan serba salah, yang satu Majikan yang satunya istri.
Kiara memandang nanar ke belakang mobil, kelihatan Laras keluar dari gang masuk rumahnya, berlari mengejar mobil mereka. Di tangannya outer Kiara yang ketinggalan.
"Yudi, stop!" pekik Kiara.
Namun Yudi bergeming, ia tau pikiran bosnya bahwa ia harus jalan terus.
Kiara melihat kasihan pada Laras yang terduduk di pasar, bayangannya menghilang di balik gang seiring dengan menjauhnya mobil mereka.
"Bram, Laras itu sakit!" teriak Kiara di wajah Bram berurai air mata.
Bram bergeming menatap Kiara sayu. Kiara adalah nyawanya, jadi ia harus menjaganya. Kalau Kiara kenapa-kenapa bagaimana ia bisa hidup, lagian tadi Laras kelihatan sehat-sehat saja, sakit apanya dalam hati Bram.
"Ih, ih ,ih." Kiara menggebuk dada suaminya.
"Jahat, kamu jahat!" teriak Kiara menangis histeris menoleh ke belakang mobil, hatinya sakit tidak ada Laras.
Bram memeluk Kiara berusaha menenangkan, namun Kiara mendorongnya gak mau dipeluk. Terus menangis, hiks hiks.
Yudi memindai pikiran Kiara, segera tau apa yang terjadi lalu memperluas pindai-an nya.
Kelihatan di rumahnya, Laras tergeletak di sofa. Tadi waktu di depan gang ia pingsan Zainal menggendongnya ke dalam rumah. Melihat ada darah di belakang pantat Laras, Yudi bergidik sambil menyetir ia hampir lemas.
__ADS_1
Ibu Laras dan Zainal menjadi panik, mana Laras gak sadarkan diri.
"Zai, bantu bibi bawa Laras ke klinik Bidan Rina, hiks hiks!" mohon ibu laras mulai terisak.
"Siap Bi!" angguk Zainal segera menggendong Laras lagi setengah berlari ke klinik sejauh tiga puluh lima meter dari rumah Laras. Dengan tinggi Laras yang seratus enam puluh lima centimeter dan beratnya yang cuma lima puluh kilo masih ringan bagi Zainal yang biasa mengangkat kotak-kotak berat di gudang Jaguk store.
Dalam hati Yudi bercampur aduk, ada rasa khawatir, rasa marah dan juga rasa cemburu yang lebih berat. Sehingga di sebuah perempatan ia membanting stir saat membelok, hampir menabrak motor yang berusaha menyalip. Di belakang spion Yudi melirik pengemudi memaki nya karena hampir jatuh, menciptakan kemacetan.
Bram dan Kiara kaget, mempererat pelukan masing-masing. Seketika Kiara berhenti menangis, Bram tersenyum dikulum memandang wajah imut istrinya pas sedang terkejut.
Mata indahnya basah sehingga bulu matanya kelihatan semakin lentik seolah pakai maskara, pipi dan hidungnya memerah, apalagi tadi ia sempat merasakan bibir super manis istrinya itu, gak tahan Bram menutup sekat.
*
Bryen dan Evita di satu rumah yang mewah tidak jauh dari pasar induk.
"Bryen, kamu sangat beruntung. Kalau kalian tidak turun dari kapal mungkin kalian sudah jadi mayat sekarang." ujar seorang pria yang menyambut kedatangan mereka.
"Hm." Bryen bergumam, tangannya tak lepas menggandeng Evita.
"Polisi semakin memperketat pencarian, bersembunyi lah dulu di sini. Kenapa baru sekarang kau mencari ku."
Ujar si pria membawa mereka ke sebuah kamar lumayan luas tersembunyi di balik rak buku yang tertutup kaca.
Bryen memandang sayang pada Evita. "Kita di sini aman." ujar nya lembut, Evita mengangguk tersenyum tipis.
"Baiklah Bryen, kalian beristirahat lah."
Bryen mengangguk, lalu si pria keluar dari ruangan meninggalkan Bryen dan Evita.
Bryen menggenggam erat kedua tangan Evita, saling meremas jari mereka berdiri hadap-hadapan. Lalu Bryen memeluk di pinggang Evita ke arahnya dan mendekatkan wajah mereka.
Evita membuang Wajahnya kesamping, Bryen mengerutkan dahi.
"Bukankah tadi kamu bilang mau, Evi." ujar Bryen serak menatap sayu Evita, menarik dagu Evita agar menoleh menatap nya.
Tatapan mereka bertemu. "Aku mau mandi dulu Bryen, tubuhku lengket kena air laut." jawab Evita.
Bryen gak perduli, mengulurkan tangannya meraih tengkuk Evita lalu mencium nya, yang segera disambut oleh Evita.
Baiklah kalau kamu gak jijik
Dalam hatinya memperdalam ciumannya.
****
Hi, pembaca yang Budiman, ikutin terus Tuan muda romantis. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih, semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi pada episode berikutnya 🙏
__ADS_1