Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
145


__ADS_3

Kiara di kamarnya baru selesai mandi, masih handuk-an meraih ponselnya di atas bantal tidurnya, tidak ada chat maupun panggilan tak terjawab.


Akhir-akhir ini, ponselku kesepian.


Dalam hati Kiara kepikiran Laras, satu rumah aja jarang komunikasi. Apalagi ini week end ada Bram, suaminya itu akan memonopoli nya untuk dirinya sendiri.


Ngapain ya dia, jangan bilang lagi buat dedek bayi. Tapi gak mungkin sepertinya Yudi lagi bersama Bram di ruang gym atau gak di ruang kerja, baiklah.


Dalam hati Kiara membuat panggilan pada Laras.


*


Di kamar Yudi di ruang tidur, Laras kelabakan Sora tiba-tiba menjerit menangis memanggil ibunya.


Sepertinya dia mimpi, hm.


Dalam hati Laras berusaha memujuk Sora. "Sora mau susu, ayo Mama Laras buatkan ya. Sora jangan nangis cup cup cup."


Mendengar susu, "i-ya, hiks hiks." Sora mengangguk masih terisak.


"Yuk, kita buat susu." ajak Laras melebarkan tangannya.


"Hiks hiks."


Menyadari ternyata dia bermimpi seolah nyata tadi ibunya ada di rumah besar, Sora meraih tangan Laras, Laras memeluk Sora.


Ponsel di tangannya berbunyi, Laras melihat ada panggilan masuk dari Kiara.


Hm, Nyonya muda sudah bangun.


"Bentar ya, Mama Laras jawab telepon dari Kiara dulu." ujar Laras lalu menjawab panggilan


"Hallo Ra, ada apa?" tanya Laras.


Kiara mengerut dahi mendengar suara menangis terisak, ada apa Sora menangis?


"Sora kenapa Ras?" tanya Kiara to the point.


"Mimpi kayak nya Ra, baru bangun juga neh anak." jawab Laras.


"Oh, gue ke situ ya bentar pakai baju dulu."


"Ehm." suara Laras.


Kiara menutup panggilan, menyambar kaos tebal panjang Bram. Di badan Kiara kaos Bram jadi selutut, tangan tinggal di gulung beres, selain lembut bahannya juga dingin seolah memakai daster.


Di rumah ini, gak ada rencana kemana-mana juga, dalam hati Kiara.


Dan Bram paling senang kalau Kiara memakai bajunya, gemasnya bertambah-tambah.


Selesai berpakaian Kiara bergegas ke kamar Yudi mengetuk pintu, tok tok tok. "Laras." panggil Kiara.


"Ya, masuk Ra." suara Laras dari dalam kamar.


Kiara membuka pintu mendapati Laras dan Sora di dapur. Laras sedang membuat susu, Sora duduk di kursi meja makan wajahnya bangun tidur dan basah air mata bercampur belek.


"Kenapa lo nangis Sora?" tanya Kiara.


Sora hanya diam masih mewek malas menjawab, hatinya masih sedih, hiks hiks.


"Sora mimpi ibunya." Laras yang jawab.


"Nah."


Laras memberi Sora susu setelah ia mengguncang nya sedikit, Sora menerima susu langsung menyedot nya.


Kiara melirik wajan ada kepah basah masak cabe tauco, liurnya langsung menetes.


Langkah kanan juga aku ke mari ada menu yang gak mungkin terhidang di meja makan utama.


Dalam hati Kiara, Ia dan Laras memang satu selera doyan pedas. Yang ngajarin Laras makan pedas juga Kiara, yang ngajarin Kiara makan pedas Ibu Dwi yang rajin masak.

__ADS_1


"Sora duduk di sofa gih, sambil nonton TV." ujar Laras.


Sora turun dari bangku meja makan lalu ia ke sofa duduk manis sambil nonton TV.


"Ra, si Yudi mau ambil sampel darah Sora juga." ujar Laras mulai curhat.


Namun pikiran Kiara fokus ke wajan, "Ras, gue makan ya." ujarnya udah gak sabar.


Hais, Laras gak jadi curhat. "Ya udah bareng aja, gue juga belum makan baru selesai masak." ujar Laras mengambil piring dua membawa nya ke meja makan.


"Duduk Ra, biar gue yang ambilkan." lanjutnya mengangkat rice cooker ke depan Kiara.


"Makasih Laras."


Ucap Kiara menarik bangku duduk dengan manis bantu mengisi piring nasi, Laras ke kompor lagi mengambil kepah di wajan memasukkan nya ke wadah.


"Nih, silahkan." Laras mempersilahkan Kiara duluan.


"Ini kerupuk juga ada kemaren beli di market." lanjut Laras membuka plastik kerupuk, kemudian duduk bergabung dengan Kiara di meja makan.


"Waduh, bisa habis dua piring neh gue. Buruan, entar kelihatan Bram gak jadi makan."


Kiara menyendok kepah ke piring yang sudah berisi nasi mulai menyantap makanannya gak sabar.


"Uh, enak Ras. Pas, mirip masakan ibu."


Seketika Kiara jadi mellow teringat ibunya bersama Lucita namun buru-buru ditepis nya perasaan.


"Ra, si Sora juga mau di ambil sampel darahnya lo tau gak?" curhat Laras lagi sambil menyendok kepah ke piringnya sendiri.


"Oh, itu."


Kiara meraih kerupuk sambil menggigit ia melirik ke Sora lalu bicara dengan suara pelan.


"Ayahnya Sora kembaran Yudi, penduduk kampung Koneng pasar induk. Kampung lo." bisik Kiara ke wajah Laras.


Laras mengerut dahi, "emang Yudi kembar?" tanya nya heran juga suara pelan.


"Siapa namanya?" tanya Laras, kali aja dia kenal.


"Suganda."


Jawaban Kiara membuat Laras terkesiap.


"Padahal wajah mereka kan gak mirip, ya." lanjut Kiara antara percaya dan tidak.


Laras jadi teringat waktu di rumah Suganda,


"Tapi pandangan dan senyuman mereka mirip banget Ra." jawab Laras membuat Kiara menoleh ke Laras.


"Lo kapan liat si Suganda tersenyum?" tanya Kiara menjilat-jilat bibirnya kepedasan lalu berhenti makan.


Biasanya dia doyan nambah-nambah, ini kok gak terlalu. Waktu lihat aja sir ludahnya keluar setelah makan beberapa suap jadi kenyang tiba-tiba.


"Sudah, gue dah ketemu." jawab Laras meyakinkan Kiara.


"Kapan, ngapain lo jumpa dengan penjahat itu?" tanya Kiara nada heran.


Panjang ceritanya Ra, lalu Laras menyingkat ceritanya.


*


Bram selesai berenang, Yudi memberi nya handuk dan baju ganti.


Daniel juga sudah keluar menemui asistennya, menunggu Yudi di halaman utama di mobil box yang telah disulap jadi klinik berjalan mempersiapkan alat-alat medisnya.


"Ayo Yudi." ajak Bram keluar dari ruang gym setelah berpakaian.


Sementara Bram mau ke kamarnya bertemu istrinya tercinta, Yudi juga mau ke kamarnya melihat Sora apa sudah bangun lalu memindai ternyata di kamarnya juga ada Nyonya muda.


Wah gawat makan apa mereka cabe semua mati saya, lapor gak ya sama si bos atau biarkan saja dia kelimpungan mencari istrinya.

__ADS_1


"Bos, Nyonya muda ada kamar saya." akhirnya Yudi lapor, daripada belakangan jadi kasus.


Bram menoleh ke Yudi.


Darimana dia tau dari tadi kita bersama mungkin dari Laras, baiklah.


Bram melangkah panjang-panjang gak sabar mau melihat apa yang dilakukan Kiara di kamar Yudi.


Melewati ruang keluarga melihat ada Sabit yang menunggu nya, Yudi berhenti sejenak.


"Sabit kamu duluan jumpa dokter di halaman utama ada mobil box nanti ayah nyusul, mau menjemput Sora dulu."


Ujar Yudi, lalu mengejar langkah Bram di lorong.


Sabit mengangkat bahu berjalan ke ruang utama menuju halaman luar.


*


Di kamar Yudi di meja makan.


"Kenapa begitu ayah Toyo dan ibu Ainun Ras, gara-gara uang lo di over sana-sini. Beruntung lo nikah sama Yudi, sepertinya dia komit menjalani pernikahan serius walaupun awalnya pura-pura."


Ujar Kiara prihatin setelah mendengar cerita Laras.


"Tuan muda." suara sora.


Kiara dan Laras menoleh ke pintu, ada Bram lalu Yudi menyusul di belakangnya.


"Siapa yang nikah pura-pura?" tanya Bram masuk langsung berjalan ke meja makan menarik kursi duduk di samping Kiara.


Kiara minum air, ehegh ia sendawa, "Sayang kamu sudah selesai olah raga?" tanya Kiara pasang senyum terbaiknya.


Bram mengerut dahi melihat isi piring Kiara dan wadah.


"Makan apa, kenapa tidak mengajak suamimu." tanya nya memandang Kiara intens.


Kiara menangkup wajah suaminya. "Sayang, tadi Sora nangis bermimpi ibunya jadi aku ke kamar Laras kebetulan dia masak jadi kami makan bareng." ujar Kiara alasan.


Laras menyudahi makannya menyadari aura-aura bakal ada angin pu ting beliung lalu ke wastafel pura-pura sibuk mencuci piring.


Yudi menghampiri nya, "Siapkan Sora saja mau ambil sampel test darah di halaman utama, nanti lagi cuci piringnya." bisik Yudi di telinga Laras.


"Hm." Laras mengangguk membasuh tangannya lalu ke sofa mengajak Sora ke ruang tidur, Yudi mengikuti mereka.


"Aku juga baru makan beberapa suap, udah kenyang. Sayang kamu tolong habisin mau gak, sedikit lagi di piring, aaa." ujar Kiara menyodorkan sendok nya.


Bram melengos, membuang mukanya. "Ya udah kalau gak mau." ujar Kiara meletak sendok nya bangun dari duduk nya membawa piringnya ke wastafel.


Melihat raut wajah Bram mukanya ketat, "Ayo ke kamar kita jangan marah di kamar orang." ajaknya menarik tangan Bram, Bram bergeming.


Kiara memeluk dari belakang di bahu Bram. "Ayo, sayang." ajaknya suara lembut memujuk suaminya menempelkan bibirnya di pipi Bram.


Bram menarik Kiara ke pangkuannya, menangkup wajahnya dengan ganas mencium Kiara. Lalu bangun dari duduk nya menggendong istrinya itu keluar dari kamar Yudi menuju kamar mereka tanpa melepaskan pagutannya.


*


Di ruang tidur di kamar mandi Laras membantu Sora membersihkan diri.


Yudi juga masuk ke kamar mandi. "Nanti kamu bantu memujuk Sora ya, sepertinya ia akan nangis saat diambil darah." bisik Yudi di telinga Laras.


"Hm." Laras mengangguk.


Gak lama-lama selesai mandi, Laras membalut handuk di tubuh Sora. "Ayo, pakai baju." ujar nya menarik Sora keluar.


Gantian Yudi mandi, tadi habis olah raga membasuh keringat lengket di tubuhnya.


***


Hi, Pembaca yang Budiman ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.


Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2