Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
44


__ADS_3

Sementara itu Bram telah sampai di parkiran VIP kantornya.


"Bagaimana Yudi, kamu sudah baikan?" tanya Bram.


"Maaf Bos, saya jadi menyusahkan anda." jawab Yudi.


Sebenarnya Yudi menyimpan satu rahasia lagi, yang tidak bisa diungkapkannya. Ia khawatir bosnya jadi tidak konsen dalam pekerjaannya dan hatinya jadi tidak bahagia.


Ah, dendam ini biarlah aku yang balaskan, urus yang prioritas dulu. Si Bos bisa.menikahi Nona segera, dalam hati Yudi.


"Bisa kita turun sekarang?" ajak Bram pada Yudi.


Yudi mengangguk, turun dari mobil mereka melalui pintu rahasia memasuki gedung. Masih belum terlambat mengikuti Rapat Dewan.


Bram memasuki ruangan dikawal Yudi, semua yang hadir segera berdiri memberi hormat.


Alisha juga sudah hadir, mengambil tempat di samping adiknya Manager Arjit. Ini adalah rapat pertama Alisha menggantikan Tuan besar sebagai Komisaris Utama.


Sebagai Presdir Bram duduk di kursi ketua, posisi Yudi duduk di belakangnya Bram.


Yudi memindai otak para anggota dewan, ia ingin mengetahui siapa kawan siapa lawan.


Masa Tuan besar Pramudya masih ada, Yudi malas menggunakan kemampuannya. Apalagi di sisi Tuan besar ada Asisten Burhan jadi tidak ada yang dikhawatirkan tugasnya pun jadi lebih ringan.


Mengetahui semua isi kepala orang bagi Yudi sangatlah menyebalkan, seperti orang yang kurang kerjaan. Sekarang Tuan mudanya sedang terancam bahaya, mau gak mau Yudi harus waspada.


Sementara Bram tidak konsentrasi. Pikirannya hanya pada Kiara, ingin segera berjumpa dengan kekasihnya. Saatnya memberi kata sambutan, Bram hanya berterima-kasih karena telah mempercayainya memimpin perusahaan.


Kemudian ia kembali dalam lamunan, melamunkan wajah imut gadis kecilnya yang lugu-lugu tapi ganas, hm.


Sabar Bram!


Rapat Dewan membahas kinerja perusahaan selama tiga bulan, termasuk kinerja Presdir yang baru. Yang telah berhasil mendapatkan kontrak dengan nilai yang fantastis sepanjang sejarah group WJ. Semua anggota Dewan memberikan aplause pada Bram.


Bram tersenyum , ia menoleh pada mamanya yang tertunduk. Karena Kiara sudah ditemukan dalam keadaan aman, kemarahan pada mama sedikit berkurang. Rapat selesai dalam tiga jam, hari sudah sore.


Jangan sampai hari menjadi gelap. Bram memerintahkan Yudi membawa Alisha dan Arjit ke ruangannya.


Alisha mengikuti Yudi begitu juga dengan Arjit. Kemudian Yudi meninggalkan mereka untuk mengurus penjemputan Nona Kiara.


"Mama." sapa Bram pada Alisha, mereka duduk di sofa.


"Iya Bram ada apa?" tanya Alisha, ia sangat senang putranya menegurnya.


"Bram mohon Mama dan Om bisa ikut Bram ke rumah kakek."


Alisha mengerutkan dahi menatap Bram, begitu juga Arjit menatap ke Bram dengan pertanyaan di hatinya.


"Ma, Bram mau menikahi Kiara, berikan restu Mama." lanjut Bram menatap Mamanya dan Arjit bergantian.

__ADS_1


Alisha berpandangan dengan Arjit.


"Maksudnya apa Bram, apa kamu sudah menemukan Kiara?" tanya Alisha sedikit merasa lega.


"Sudah Ma, Kiara bersama Managernya di daerah puncak." jelas Bram.


Alisha tak kuasa menahan haru air matanya menetes tapi ada satu masalah lagi. Dwi.


"Tentu Bram Mama merestui tapi Bibi Dwi pergi dari rumah kita Nak, ditelepon juga tidak diangkat dan di rumahnya juga kosong." ujar Alisha dengan nada khawatir.


"Bram, kalau gitu kita harus cepat membatalkan pernikahan kamu dengan Evita." tambah Arjit.


"Jangan dulu Om, Bram tetap akan menghadiri pernikahan dengan Evita." jawab Bram.


Alisha dan Arjit makin tidak mengerti jalan pikiran Bram.


"Maksud kamu apa Bram, mempermainkan perasaan Evita dan Kiara?" tanya Alisha.


"Mama tenang saja, Kiara percaya pada Bram dia akan mengerti. Nanti Bram sendiri yang akan menjelaskan padanya." jawab Bram.


"Mengenai Bibi kemungkinan dia bersama Kiara. Kalau menghubungi Bram saja Kiara ingat pasti dia juga sudah menghubungi Bibi." lanjut Bram.


Syukurlah kalau gitu, dalam hati Alisha


Dalam pada itu Yudi masuk ke ruangan.


"Sebelum menjemput Nona, sebaiknya pakai ini Bos." ujarnya memberi Bram rompi anti peluru.


"Yudi apa ini, coba kamu jelaskan?" suara Alisha panik.


Yudi menoleh pada Bram sambil memakaikan rompi anti peluru.


"Mama jangan khawatir hanya untuk jaga-jaga. Nanti Mama dan Om Arjit langsung ke rumah kakek dengan beberapa pengawal, Bram dan Yudi yang akan menjemput Kiara." jelas Bram.


"Bram, jangan buat Mama khawatir sayang. Kalian juga jangan cuma berdua, Yudi bawalah beberapa pengawal!" ujar Alisha nada suaranya cemas.


"Tentu Nyonya, kita akan dikawal beberapa Polisi Rahasia, Bapak Walikota yang memberikan pasilitas." ujar Yudi.


Bram menatap Yudi, kenapa bisa Bapak Walikota sampai turun tangan, dalam hati Bram.


Alisha juga memandang Arjit. Bapak Walikota, dalam hatinya juga heran.


"Memang seharusnya papamu maju ke pilgub berikutnya dengan Pak Walikota. Mereka adalah teman baik, syukurlah kalau begitu, segeralah kamu jemput Kiara." ujar Alisha. Hatinya sedih mengingat kematian suaminya yang mendadak dan tragis.


******


Di kediaman Bernard.


Dengan Wajah senang Kiara kembali ke kamarnya, menghempaskan tubuhnya berbaring di kasurnya. Membayangkan wajah Bram kekasihnya, rasa rindu ingin berjumpa.

__ADS_1


"Kamu bicara apa pada Beno, Ra?" tanya Dwi.


"Kiara minta ijin mau jumpa Bram sekali saja Bu, sebelum ke kota kembang." jawab Kiara.


Dwi menarik napas dalam membuangnya pelan.


"Apa perlunya berjumpa Kiara, Alisha tidak menyetujui hubungan kalian Nak, Bram bahkan tidak boleh keluar rumah?" suara Dwi gelisah.


Sambil berbaring telungkup Kiara bertopang dagu dengan tangannya, menatap ibunya.


"Boleh ya, Bu, Ka Bram yang bilang mau datang dan Meno mengijinkan Ka Bram ke rumah ini jumpa Kiara. Beno baikkan Bu? Kiara ingin memutuskan hubungan dengan Ka Bram secara baik-baik." jelas Kiara.


Apa si Bram mau diputusin, melihat betapa ia sangat mencintai Kiara, dalam hati Dwi.


"Hm, begitu. Kamu sama Nak Beno saja Kiara lebih dewasa, sepertinya dia juga menyukaimu bahkan menyayangimu."


Mendengar itu Kiara mendelik.


Apa, yang benar saja! Apa gak ketuaan si Beno samaku? Gak mau, maunya Ka Bram, dalam hati Kiara.


"Atau kamu fokus kuliah saja Nak , gak usah mikirin pacaran dulu." ujar Dwi.


"Iya Bu, selesai kontrak ini Kiara janji akan kuliah. Kiara harus menyelesaikan kontrak dulu Bu. Takutnya beasiswa Kiara dicabut kalau Kiara tidak pergi ke kota Kembang." jelas Kiara.


"Masalah biaya kuliah jangan kamu pikirkan, kita ada uang Kiara. Gak perlu mengharapkan beasiswa, ibu hanya ingin kamu jangan jauh-jauh dari ibu." tegas Dwi.


Kiara berguling memeluk di paha ibunya lagi.


"Kiara juga sayang sama ibu, gak ingin jauh-jauh. Terima kasih, Ibu sudah menyayangi Kiara walaupun Kiara bukan anak kandung ibu."


"Hus!" Dwi memukul pundak Kiara.


"jangan bicara gitu! Ibu yang berterima kasih, kehadiran kamu sangat berarti bagi ibu." Lanjut Dwi lagi.


Kiara bangun dari baringnya, tiba-tiba memeluk Dwi. Dwi tak kuasa menahan haru, air matanya menetes membalas memeluk Kiara.


"Nanti kalau situasinya aman, bawa ibu ziarah ke makam ibu kandung kamu, Ra. Ibu pingin berkunjung dan mengucapkan terima kasih padanya sudah melahirkan putri secantik kamu." ujar Dwi mengurai pelukan Kiara mengusap wajah cantik putri angkatnya itu. Yang mengingatkannya pada adik kandungnya yang hilang.


Kiara menatap Ibunya haru.


"Ibu kesal, saat Ayahmu masih ada, ia tidak pernah membiarkan ibu ikut kamu berziarah ke makam ibu kandungmu." lanjut Dwi lagi.


Kiara semakin memeluk Dwi, sambil menahan air matanya jangan tumpah.


Jika ibu tau siapa ibu kandungku dan apa yang dilakukannya dengan suamimu. Apakah ibu masih menyayangiku, dalam hati Kiara.


Semua itu tak luput dari perhatian Beno di kamar sebelah, ia mengaktifkan suara pada CCTV nya jadi bisa mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Senyum di wajahnya merekah.


******tbc

__ADS_1


Hi , readers. Dukung terus ya. Bram dan Kiara Klik favorit ♥️ biar terus terupdate ya guys.🙏


__ADS_2