
Di ruang keluarga, Alisha menginterogasi anak remaja.
"Sabit, umur kamu berapa?" tanya Alisha.
"Empat belas tahun Bu." jawab Sabit.
"Kamu cukup tinggi dan besar juga untuk anak seusia mu, SMP dong sekarang?" tanya Alisha lagi.
"Saya tidak sekolah Bu."
Alisha mengernyit. "Apa kamu bisa baca tulis?"
Sabit tersenyum malu. "Bisa Bu, saya pernah SD." jawab Sabit tertunduk.
"Apa Yudi sudah punya rencana terhadap anak ini Samsir?" Alisha menatap Samsir.
"Belum ada Nyonya, Tuan muda tadi yang perintahkan agar dibawa ke rumah besar." jawab Samsir.
Hm, sejak kapan anak itu punya jiwa sosial, dalam hati Alisha.
Ia melihat bawaan Sabit hanya satu tas ransel. "Barang kamu cuma itu." unjuk Alisha ke tas ransel Sabit, Sabit mengangguk.
"Baiklah Samsir, beri dia satu Kamar di belakang dalam pengawasan kamu. Nanti lihat koper yang di gudang ada tulisan nama Bram 13,14,15, bawa keluar. Mungkin baju-baju lama Bram ada yang muat untuknya." titah Alisha.
"Baik Nyonya, laksanakan." angguk Samsir lalu mengajak anak remaja ke dalam ruang tengah dapur.
"Apa Arjit ingat bagaimana Yudi masuk ke group WJ. Yang bawa Yudi kan Burhan Dwi, apa kamu tau sesuatu?" tanya Alisha pada Dwi.
Dwi menggeleng. "Burhan tidak pernah bicara masalah kerja pada saya Mbak." jawab Dwi.
Sudah pasti itu, dalam hati Alisha mengingat Kiara.
Sampai Dwi gak tau kalau Kiara anak Burhan, apalagi Yudi anak siapa lebih lah gak tau lagi, hihi, dalam hati Alisha terkikik geli.
*
Laras masuk ke kamar Yudi dengan perasaan sedih. Ia terduduk lemas di lantai bersandar di sisi tempat tidur. Ia mengusap air matanya.
Barusan ia dibuat syok dengan gambar Yudi pelukan dengan Marissa, sudah dikejutkan lagi dengan kehadiran orang yang mengaku anaknya.
"Ngapain sih gue nangis, gak jelas. Laras lo bukan siapa-siapa nya dia, lo gak berhak protes! Mikir lo utang, mikir bagaimana bisa bayar." Laras ngoceh sendiri sambil mengusap air matanya.
Om Yudi sudah punya anak, masih mau anak dariku. Jadi bagaimana dengan Marissa, dalam hati Laras dilema.
Kalau Marissa dan Yudi saling menyukai lalu kenapa Om Yudi menerima saja diajak nikah dengan ku, gak mikirin perasaan Marissa. Keluar uang banyak lagi, ah. Sebaiknya aku mandi biar otakku segar. Terserah dia sajalah mau gimana-gimana. Eh tunggu, besok apa aku masih masuk kerja.
Lalu Laras menelpon Hendra, namun tidak diangkat-angkat.
Ngapain orang tua itu, kok gak angkat telepon, hm. Laras melempar ponselnya di nakas.
"Apa nanti malam dia gak pulang. Tuan muda pulang ke Apart, artinya Yudi juga akan siaga di Apart dong, jadi malam ini aku sendirian." Laras tanya sendiri jawab sendiri.
Merasa kamar juga milik sendiri Laras menanggalkan pakaiannya benar-benar polos lalu ia masuk ke kamar mandi. Melihat Bathtub Laras jadi kepingin seperti orang-orang kaya berendam air hangat.
__ADS_1
Melihat cermin, Laras mengamati setiap lekuk tubuhnya, mengagumi dirinya sendiri.
"Lumayan juga tubuhku ini. Aku lebih cantik dari Marissa tapi Kiara masih lebih cantik."
Laras menggenggam dua gunungnya dengan gemas, Masih kaku dan kenyal. Ukurannya lumayan besar dan berisi mengingat setiap ia beli bra milih yang cup C.
"Tidak seperti Marissa semua rata. Masih mending si Kiara montel itu, masih lumayan ada susu."
Gimana nanti saat Om Yudi menyentuh...
"Astaghfirullah?"
Laras langsung berpaling saat pikiran kotor mampir ke otaknya. Ia menyibukkan dirinya dengan mengisi bathtub.
Ini sabun si Om tidak ada di jual di sini, pantesan aroma tubuhnya wangi. Daripada menangisi pria gak jelas itu, lebih baik berendam.
Laras menuang krim sabun dan membuat busa. Lalu masuk ke dalam air, ah! Laras memejamkan matanya.
*
Sesampai di kediaman Arjit, Daniel dipersilahkan masuk. Marissa membawa ke kamarnya dan menutup pintunya.
"Hei, kamu nanti diomelin papi bawa pria masuk ke kamar!" Daniel mengangkat Marissa. Marissa mengalung lengan di leher Daniel.
"Paling kamu yang di tonjok." jawab Marissa terkekeh, ia memberikan kecupan ringan di bibir Daniel.
"Hehe dasar, jangan menggodaku nanti aku gak bisa berhenti." suara Daniel mulai serak.
"Jangan, aku takut!" desis Marissa masih trauma.
"Takut hilang kesadaran lagi." jawab Marissa mulai merinding memeluk Daniel erat.
Daniel menurunkan Marissa di kasur, ia ikut naik Marissa dalam kungkungan nya. "Kita ringan-ringan saja sayang. Peluk cium, hm." mulai menekan bibirnya di leher Marissa.
Desahan keluar dari mulut gadis yang telah diperawani nya itu. Daniel menggila ciumannya turun ke dada. Marissa bantu membuka kancing baju depannya.
Owh no!
"Sayang, jangan salahkan aku." geram Daniel semakin gairah saat dua gunung tersembul, terbungkus pink color transparant bra.
Sepertinya aku gak bisa hanya ringan-ringan.
Dalam hati Daniel, melahap buah saat pengait telah terbuka. Marissa meremas rambut Daniel, tubuhnya menggelinjang.
"Icha, tolong lakukan sesuatu agar aku berhenti." erang Daniel.
Marissa malah menekan Daniel semakin tenggelam di dadanya. "Papi pasti ngerti, aku kan besar di London." desis Marissa merasa kekhawatiran Daniel adalah Arjit.
"Bukan sayang, tapi tadi kamu bilang takut."
"Oh." desah Marissa. "Not anymore babe, i think i want you now."
Daniel bangun dengan semangat ingin melepas pants nya. Marissa mengambil alih membukakan untuk Daniel, seketika liurnya menetes. Ingin segera menaiki banana boat.
__ADS_1
"Babe, aku di atas." Marissa.
"As you wish baby." Daniel.
Tok tok tok.
"Icha." suara Arjit.
*
Di halaman rumah besar di depan pintu utama Yudi memarkir mobilnya. Bram menggendong Kiara turun.
Alisha dan Dwi menatap heran saat Bram melewati ruang keluarga. "Ada apa dengan Kiara Bram, kenapa di gendong?" tanya Alisha.
"Aa, tadi terduduk di kloset." jawab Bram membawa Kiara terus berjalan menuju lorong. Kiara menyembunyikan wajah malunya di dada Bram.
"Lagi?" Alisha mengerutkan dahi.
Bukankan baru kemaren terduduk di kamar mandi.
"Hei, tunggu dulu. Mama mau nanya mengenai anak Yudi." sergah Alisha merasa tidak di perdulikan.
Bram menoleh. "Yudi saja gak tau, gimana Bram. Udah ah, mama ngapain ikut ke kamar Bram!" sentak Bram melotot pada Alisha.
Ck, "Itu kenapa basah!" bentak Alisha menunjuk bagian resleting depan celana Bram.
"Oh, pecah ketuban." jawab Bram ngasal sambil nyengir kuda.
Plak. "Dasar anak gendeng."
Alisha menepuk bahu Bram melengos balik ke ruang keluarga.
"Nyonya." Yudi sudah di depan Alisha.
Astaga. "Yudi, ada yang ingin kamu beritahu saya." tanya Alisha melipat tangannya di dada.
"Tidak ada Nyonya, saya benar-benar tidak tau." jawab Yudi penuh keseriusan.
Ish, "Ya sudah, kamu lihat si Laras sana! Tadi wajahnya seperti mau nangis, kamu tau kenapa?"
"Mungkin dia sudah lihat internet, ada gambar saat Marissa memeluk, ..hm." Yudi tidak meneruskan kalimatnya karena Alisha juga menyaksikan nya.
"Berita itu ada di internet?" tanya Alisha.
Yudi mengangguk. "Tapi sudah di stop Nyonya, mungkin Laras sempat melihat." jawab Yudi.
"Pergi sana, kamu jelasin. Kalau perlu bantuan beritahu saya." titah Alisha.
"Ada-ada saja." gumam nya lalu kembali ke ruang keluarga.
Yudi mengangguk. "Terima kasih Nyonya."
***
__ADS_1
Hallo readers yang Budiman. Like, hadiah dan vote nya saya ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi pada episode berikutnya. 🙏