Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
159


__ADS_3

Pagi-pagi di Apart Bram, Yudi sudah rapi.


Sebelum ke kantor Yudi membawa sarapan untuk si bos dan istrinya sesuai instruksi, serba-serbi toge dari resto hotel WJ.


Sambil menunggu Nyonya muda bersiap, Bram mempergunakan waktu luangnya menandatangani sejumlah berkas di tablet kerja. 


"Yudi apa kata Daniel, bagaimana hasil test sudah keluar kalau pakai sampel darah kan cepat?" tanya Bram.


"Secara tidak resmi saya sudah tau hasilnya, tinggal nunggu pengambilan cetakannya."  jawab Yudi. 


"Apa hasilnya cocok?" Bram tanya lagi.


Yudi mengangguk. "99.99% tingkat kemiripan DNA saya dan Suganda memang kembar, Bos." jawab Yudi.


Hm, "Selamat Yudi." ucap Bram sarkas.


Cih, Yudi mendengus.


Bram menarik nafas pelan. "Apa Daniel semalam pulang ke rumah besar?" tanya Bram teringat janjinya pada Daniel, membawa Icha pulang ke rumah besar.


"Saya berjaga di bawah Apart bos, jadi kurang tau." jawab Yudi.


Bram menoleh ke Yudi, "Yudi, kamu tidak perlu melakukan nya, ada bodyguard serahkan pada mereka. Percayalah mereka bisa bekerja, kalau tidak kapan mereka mandiri. Waktu istirahat ya kamu istirahat, nikmatilah hidupmu."


Ujar Bram memberikan tabletnya karena semua berkas sudah selesai ditanda tangani.


"Bos, perwakilan korsel akan datang, mungkin besok mereka tiba di hotel saat makan malam." lapor Yudi hati-hati.


Ck, Bram mengerut dahi, apa mereka pikir aku ini kokinya dalam hati Bram.


Mengetahui pikiran si bosnya. "Mereka tidak sabar menunggu sampai Bos pulang jadi mereka datang sebelum Bos ke Amrik." jelas Yudi.


Hah! "Merepotkan saja, kamu aturlah Yudi. Menu tanya mereka mau dimasakin apa, siapkan juga bahan buat masak pedas kesukaan Kiara. Wine nya jangan lupa." jelas Bram.


"Siap Bos." jawab Yudi.


Kiara keluar dari kamar sudah rapi ala kadarnya, gaun mini dress longgar di bawah lutut di tambah stoking warna hitam, gak ada modis-modis nya.


Harga pakaian nya saja yang mahal, karena memang dirancang khusus untuk Kiara atas permintaan Bram, baju tidak boleh up to date.


"Ayo, Yudi kita berangkat."


Ujar Bram setelah puas dengan stelan Kiara yang jadul namun tidak mengurangi kecantikan Kiara di matanya, sehingga Bram tetap kesal.


"Sayang, kenapa kamu sangat cantik."


Bram memeluk Kiara menyedot pipi istrinya gemas. "Aaa, sakit." jerit Kiara.


Yudi geleng kepala melihat si Bos, saking cintanya sampai melukai istrinya.


Kasihan pipinya sampai merah, tapi di tubuh Laras lebih banyak merah lagi.


Dalam hati Yudi, sambil mengawal Tuan muda dan Nyonya muda ke kantor, ia senyum-senyum dikulum.


Karena Kiara bertemu ibunya diam-diam, Bram menghukum nya ikut ke kantor menemani nya selama sebulan penuh.


*

__ADS_1


Di rumah besar.


Laras terbangun karena merasa ada yang menindihnya, lalu membuka matanya.


"Mama." wajah Sora sangat dekat tersenyum padanya dengan dodot yang menggantung di mulutnya.


"Hm, sudah bangun." gumam Laras.


Sora tidak menanggapi ia manjat cuma mau ambil ponsel Laras, tidak sengaja tubuhnya tertindih pas.


Melihat itu, "Pinjam Mama ponsel sebentar saja."


Ujar Laras mengambil ponselnya dari tangan Sora, bahaya kalau dilihat orang dalam hati Laras membuka lagi video syur pria mirip Yudi, lalu menghapus nya.


Tidak ada guna nya menyimpan ini


Dalam hati Laras memutuskan tidak akan membahas nya dengan Yudi, setelahnya ia memberi ponselnya pada Sora.


Sora kesenangan segera keluar dari ruang tidur duduk di sofa membuka chanel favoritnya sambil baring-baring santai.


Semalam setelah penyatuan Yudi meninggalkan nya sendirian, Sora tidur di mana pun Laras tidak tau, karena tubuhnya gak bisa gerak. Yudi benar-benar membuatnya tak berdaya.


Laras melihat hari sudah terang, jam di dinding menunjukkan angka 09.30 wib. Sebenarnya subuh Laras sudah bangun hanya saja ia tidur lagi.


Laras beranjak ke kamar mandi, membersihkan dirinya perutnya juga sudah lapar.


"Ma, telepon." suara Sora berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Iya, bentar." jawab Laras, membersihkan tangannya yang bersabun meraih handuk membalut tubuhnya.


"Siapa?" tanya Laras mendekat ke pintu kamar mandi.


"Ras, lo siap-siap datang hari ini ke Jaguk ya, dua ruko di sebelah mau interviu lo ditunggu sampai jam 15.00wib. Entar jam makan siang gue jemput lo." suara Zainal di ujung panggilan.


"Benar lo Zai, kalau gitu gue segera bersiap." jawab Laras antusias, akhirnya ia ada kegiatan yang menghasilkan.


"Ini hanya formalitas, jangan khawatir lo pasti keterima kan Hendra beri rekomendasi." jelas Zainal lagi.


"Oke Zai, terima kasih." Laras menutup panggilan.


Sora mendengarkan dengan seksama. "Ma, aku ikut ya " ujar nya mulai mewek.


Astaga si bocil ini nguping ternyata, "Tapi Mama mau kerja sayang." jelas Laras.


"Ah, ikut hiks hiks." Sora mulai nangis.


Mana ada orang melamar kerja bawa anak, bisa-bisa gak diterima.


Hais, "Iya ikut, Mama mandi dulu neh pegang ponselnya."


Sergah Laras pasrah, Sora menerima ponsel sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


*


Di gedung WJ.


Di ruangan kantor Bram Kiara baring-baring di sofa, ngapain lagi kalau gak browsing-browsing di ponselnya.

__ADS_1


Bram di meja kerjanya mengulang pelajarannya tapi hatinya gak konsen, matanya asik melirik ke Kiara.


Itu karena Kiara baring menyamping membelakangi Bram, gaunnya terangkat kelihatan bokongnya di balik stoking hitamnya yang transparan.


Hm, Bram menarik nafas berat bagaimana kalau tiba-tiba Yudi masuk dalam hati Bram bangun dari kursi kebesarannya, ingin menutupi tubuh Kiara.


"Sayang." Bram mendatangi Kiara.


"Hm." gumam Kiara berbalik badan.


"Geser."


Bram mau ikut baring di samping Kiara sempit-sempitan, ia juga membawa tabletnya. Sambil membaca soal-soal latihan ujian tangannya menjelajah, ah kan enak sambil nyelam minum air.


*


Di ruang meeting sebelum ditutup, Yudi memberi pengumuman bahwa mulai jumat ini sampai dua minggu ke depan Presdir akan berada di Amrik begitu juga dengan dirinya.


"Di harapkan kerjasama nya, khususnya manager bagian data dan IT." jelas Yudi.


Ada sedikit rasa khawatir pada Junior menggunakan keahliannya menyerang perusahaan, walaupun Yudi ragu karena ada Olivia.


Selesai meeting, Yudi keluar ruangan saat ingin naik ke lantai Bram ia melihat Olivia juga ingin naik lift, segera Yudi masuk ke lift Karyawan agar Olivia bisa naik lift VIP.


Yudi membaca sekilas Olivia melirik pada nya menatap heran sebelum akhirnya ia naik lift VIP.


Agar tidak berpapasan dengan Olivia saat mau ke ruangan Arjit, Yudi mengulur waktu singgah di lantai bagian administrasi.


Yudi diminta singgah untuk menandatangani sesuatu, namun saat ia masuk Olivia juga sedang duduk di bangku tunggu tidak terpengaruh dengan kehadiran nya seolah ia hantu tak kasat mata tidak kelihatan.


Melihat Yudi bagian administrasi memberi prioritas, memanggilnya duluan.


Namum Yudi mempersilahkan nya melayani Olivia duluan nanti saja ia kembali lagi.


"Maaf Tuan, Presdir mengirim memo ingin berkas ini diproses secepatnya." kata bagian administrasi menahan Yudi yang hendak keluar dari ruangan, ck.


"Baiklah saya akan menunggu, biarkan PR duluan."


Jawab Yudi, melihat ke Olivia masih dengan sikap tidak perduli nya. Akhirnya bagian administrasi memanggil Olivia.


Yudi membaca situasi sambil menunggu sepertinya Olivia sudah mendapat rumah tinggal yang mendapat pasilitas separoh pembayaran dari kantor.


Selesai Olivia Yudi segera menandantangani berkas yang dimaksud, ternyata kuitansi down payment untuk Apartemen barunya, hm.


Si Bos ini tidak pelit, seperti Tuan Pramudya.


Padahal Yudi sudah merasa banyak berhutang pada Papanya ditambah lagi sama anaknya yang baik hati. Sebenarnya Yudi banyak uang.


Apa tampilan ku seperti orang kere.


Dalam hati Yudi, takut berpapasan di lift dengan Olivia Yudi memindai keberadaan nya.


Hm, menarik nafas berat Yudi naik lift ke ruangan Bram, dadanya sesak mengetahui Olivia sedang menangis di toilet ruangannya. Tangisan yang sangat pilu menyayat hati Yudi.


*****


Hi, Pembaca setia ikutin Tuan muda romantis terus ya, jangan lupa jempolnya, vote juga hadiahnya.

__ADS_1


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2