Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
73


__ADS_3

Marissa dan Yudi di lantai dua, mereka di balkon sedang negosiasi. Marissa bersedia memaafkan Yudi yang telah menciumnya tapi dengan syarat.


"Kalau nikah kontrak saya gak mau." tegas Yudi menolak syarat Marissa.


"Mau gak mau kamu harus setuju atau mau aku lapor Papi atas kekurang ajaran kamu." ujar Marissa sangat kasar di telinga Yudi.


Yudi telah membaca pikiran Marissa mengapa tiba-tiba ia mau menikah. Itu karena si bos menjanjikan pada gadis ini saham sepuluh persen. Itu bukan uang yang sedikit untuk proyek ratusan triliun dollar.


Ck. Si bos ada ada saja.


"Nanti saya pikirkan." Yudi berlalu dari hadapan Marissa namun gadis itu menahan tangannya.


"Sebaiknya jangan lama-lama, saya beri waktu tiga hari." tegas Marissa lagi menatap Yudi intens.


"Hm, saya bicarakan dengan Tuan muda dulu, Kamu minta ijin pada Manager Arjit."


"oke." Marissa mengepalkan tangan,


yes.


*****


Selesai makan Kiara duduk di sofa di samping Bram yang juga sudah selesai makan. Kiara bersandar di dada bidang suaminya itu, sambil browsing-browsing di hapenya.


Bram mencium-cium rambut istrinya, sementara tangannya menjajah seperti biasanya.


"Gimana haidnya sayang, masih ada bercak?" tanya Bram meremas segitiga bermuda.


Kiara menggeleng. "Tadi ke kamar mandi lihat pembalutnya sudah bersih. Oh ya Bram, besok kita ke rumah Krisant ya. Aku kangen kamar ku, mau ambil mobil juga. Toh ibu gak bisa mengemudi, biar aku pakai di sini." mohon Kiara mendongak pada Bram, ia jengah ditanyain datang bulan.


Bram menatap Kiara, menempelkan hidung mereka. "Baiklah sayang, kita mampir sebentar."


"Cuma mampir, gak nginap?" tanya Kiara.


"Sayang, Senin aku harus ke kantor. Merepotkan kalau dari Krisant. Mulai besok malam kita tinggal di Apart, ngerti Kiara." Bram mengusap rambut Kiara dan menghirup wajah halus istrinya.


"Mengenai mobil, kamu gak usah ambil sayang. Di garasi banyak mobil, kamu pilih saja atau mau yang baru?" lanjut Bram mengusap-usap tubuh istrinya menahan gairah.


"Yang di garasi aja, entar aku lihat gak usah beli yang baru." ujar Kiara mendengus lemah kembali fokus ke layar ponselnya.


"Kamu memang cintaku, nanti waktu pengajian kamu jangan keluar ya di kamar aja." titah Bram.


"Kenapa, di ruang keluarga juga gak boleh?" tanya Kiara heran.


"Jangan kata ku ya jangan membantah, sayang. Aku juga hanya setor muka aja  sebentar, terus ke kamar lagi nemanin kamu."

__ADS_1


"Ngapain ditemani, lebih baik kamu ikut pengajian. Ibadah dapat pahala." ujar Kiara mengerutkan dahinya.


Asal ada pengajian, si Bram hanya ikut menyambut tamu dan acara terakhir, doa bersama. Sedangkan bab mengajinya ia gak pernah mau ikut.


"Pembalut sudah bersih, ya kita bisa menyatu sayang. Itukan ibadah juga." ujar Bram santai.


"Aaah Bram, belum boleh! Biasanya tujuh hari, ini baru tiga hari." Sergah Kiara gelagapan. Masa mau menyatu sementara ada pengajian.


Di mana akal suami tampan ku ini? dalam hati Kiara gak habis pikir.


"Sayang, kalau sudah bersih ya bersih, ngapain tunggu lama lama."


"Tapi kan rumah besar ramai orang Bram, segan kalau tuan rumahnya ngumpet di kamar." ujar Kiara beralasan.


"Sayang, aku sudah kepingin gimana dong?" ujar Bram menguyel-uyel istrinya.


Ini orang kalau sudah mau, harus. Belum nikah aja aku sudah dimakan sama dia, apalagi sudah jadi istrinya.


Ah!  "Ka, kenapa di kamar ini gak ada TV?" tanya Kiara mengalihkan, walaupun ia tau itu percuma.


"TV?  Ada, bentar sayang."


Bram beranjak menuju ke laci nakasnya. mengambil satu remot. kembali duduk di samping Kiara, menekan tombol remot. Tiba tiba sebelah dinding kosong di depan mereka terbelah, kelihatan TV flat super besar keluar dari dalamnya.


"Wah, lebar sekali. Sama seperti yang di Apart." ujar Kiara takjub.


"Kan belinya one plus one, beli satu dapat satu. Satu untuk di Apart satu untuk di kamar ini." jawab Bram.


Kiara berpikir lagi, gak mungkin dia bisa lepas dari suaminya ini. Padahal ia ingin ikut mengaji walaupun cuma jadi pendengar saja.


"Kalau gak, sekarang aja menyatunya Bram. Sambil aku mandi hadas besar di bathtub biar nanti aku bisa ikut ngaji. Ini kan empat puluh hari Ayah dan Papa mertua." ajak Kiara.


"Begitu, baiklah sayang." Bram kesenangan.


"Tapi gercep ya." ujar Kiara.


Tok tok tok.


"Iya sayang terima kasih." suara Bram seiring dengan ketukan di pintu.


"Bram! Kiara! Buka pintu." tiba tiba suara Alisha.


Bram dan Kiara saling berpandangan. "Ada apa lagi si Mama, ganggu aja. Bentar ya sayang."


Bram berjalan ke pintu, Kiara mengangguk menegakkan duduknya.

__ADS_1


"Ada apa Mama?" tanya Bram setelah membuka pintu.


Kelihatan Alisha dengan wajah sumringah berjalan masuk melewati Bram, lalu duduk di sofa di samping Kiara. Bram mengerutkan dahinya, menaruh curiga dengan gelagat Mamanya.


"Ma." sapa Kiara tersenyum pada Alisha.


"Iya sayang, gimana memar sudah baikan?" tanya Alisha menggenggam jemari Kiara.


Kiara baru mau buka mulut, Bram memotongnya to the point. "Sebaiknya Mama bicara aja langsung, mau apa Mama ke kamar Bram." ujar Bram berkacak pinggang.


Alisha ragu-ragu sebentar kemudian bicara. "Bram, kamu tau kan! Semasa Papa kamu masih ada, mama jarang kemana-mana?" Alisha memandang Bram.


"Terus kenapa?"


"Mama mau ke Amrik Bram, ikut Beno." Alisha to the point.


"Apa! No way Mama, siapa dia? Kita gak kenal!" suara Bram keras, Kiara dan Alisha sampai terlonjak kaget.


Alisha memegangi dadanya, menghirup udara membuangnya pelan. "Kenapa gak kenal! Kiara kamu kenal Beno kan? Orangnya baik bukan, bahkan dia yang meyelamatkan Kiara dari penculikan." ujarnya menatap Kiara.


Ditatap Alisha, Kiara terbengong.


"Bukannya Mama yang menculik Kiara." sergah Bram.


"Iya, tapi anak buah Raharja merebut Kiara dari intel Mama. Kalau Beno gak nyelamatin Kiara dari anak buahnya Raharja, entah apa yang akan terjadi pada Kiara, Bram!" lanjut Alisha lagi.


Ck."Ma, malam ini tuh ada pengajian empat puluh hari Papa. Masa Mama mau pergi, gimana sih Ma!"


"Kan ada kamu Bram, Dwi juga gak datang. Mama boleh pergi dong." Alisha beralasan.


"Mama gak sayang sama Papa?"


"Papamu itu yang gak sayang sama Mama, kenapa dia meninggalkan Mama. Sekarang kamu sudah nikah, nanti mau tinggal di Apart. Mama butuh hiburan Bram, Mama mau jalan-jalan."


"Entar aja dua minggu lagi kita ke Amrik. Bram mau ujian susulan, sekalian Bram bulan madu, ya. Nanti pesan tiket satu lagi sama tournya." jawab Bram.


"Bram kamu pergi dengan pesawat komersil. Mama pingin naik pesawat pribadi, Bram. Waktu ada jetpri cuma satu kali Mama diajak Papamu, sampai kemaren jetpri nya di jual gara-gara hampir bangkrut. Mama cuma mau bilang, bukan mau permisi sama kamu. Mama ini wali kamu, lebih tinggi lagi pangkat Mama dari kamu." tegas Alisha.


Mendengar itu Bram merah padam mengepalkan tangannya. "Mana si Beno itu, aku mau hajar dia! Berani beraninya dia ngajak Mama. Apa maksudnya kalau bukan ada udang di balik batu." gerutu Bram emosi.


"Bram!" teriak Alisha.


********


enjoy reading anda see you to the next part. 🙏

__ADS_1


__ADS_2