
Di dapur rumah Kiara.
Sembari menunggu Sora mandi, Laras membereskan meja makan yang berantakan. Melihat adonan bakwan, Laras jadi kepingin makan gorengan.
"Ra ini adonan, di goreng beberapa boleh?" tanya Laras.
Kiara mengangguk. "Thanks Kiara." Laras menjerang minyak.
"Ka, udah." Sora keluar dari kamar mandi.
"Sini anduk-an."
Laras melihat ada handuk di dekat mesin cuci memberikan nya pada Sora. "Bisa sendiri kan?"
Sora mengangguk namun Laras gak tega lalu membantu Sora.
"Wah pintarnya, mandinya juga bersih." puji Laras. "Baju mana?" tanya nya.
"Di kamar ibu, di kunci kamarnya." jawab Sora dengan polosnya.
"Oh." Laras melongo, apa yang telah terjadi.
Kiara ingat ada baju bekasnya tersimpan di kotak di gudang. Di dalam Kotak Kiara menyimpan baju kesayangan nya yang terbaik dan yang paling disukai nya. Sedangkan baju-baju lain sudah disumbangkan.
Kiara mengambil baju ukuran usia 7 sampai 9 ada kira-kira 6 baju. Karena tiap tahun Kiara membawanya ke loundry, sehingga bajunya rapi dan terbungkus wangi.
"Sora." panggil Kiara.
"Iya." jawab Sora menghampiri Kiara.
Kiara memakaikan Sora bajunya, modelnya princess.
"Makasih Kiara." ucap Sora kesenangan lalu menghampiri Laras di kompor yang lagi goreng bakwan.
"Ka, buatkan susu." pinta Sora memberikan dodot nya.
"Baiklah, duduk yang manis." ucap Laras menerima dodot.
"Hei, umur berapa kamu masih dodot!" pekik Laras.
"Hehe." Sora cengengesan.
*
Setelah bersiap Bram keluar dari kamar Kiara diikuti Yudi, tidak tega melihat istrinya Bram menawarkan Kiara ikut saja ke kantor, apalagi semalaman Kiara belum ada tidur.
"Tidak apa Bram aku di sini dulu, kan ada Laras." jawab Kiara yakin bahwa dia akan baik-baik saja.
"Ya udah, kalau begitu aku pergi sayang." pamit Bram memeluk istrinya.
Kiara mengantar Bram ke pintu depan, Yudi membukakan pintu mobil lalu ia masuk di bangku kemudi.
Ingin pamit pada Laras tapi karena istrinya itu sibuk dengan gorengan nya, ya sudahlah.
Ternyata gorengan lebih penting dari pada aku suaminya,
Dalam hati Yudi membawa mobil ke luar dari perumahan menuju perkantoran gedung WJ dengan hati yang kecewa.
Masuk ke dalam rumah, Kiara melirik Sora lagi minum susu di sofa ruang tengah lalu ia ke kamarnya. Berbaring di kasur memakai bantal bekas Bram, Kiara memeluk guling dan membungkus tubuhnya dengan selimut juga bekas Bram.
Selesai menggoreng bakwan, Laras ingin berbagi dengan Kiara namun melihat Kiara terbungkus selimut, gak jadilah.
__ADS_1
Ia duduk di sofa ruang tengah bergabung dengan Sora. Memutar televisi dengan suara pelan, sambil makan bakwan Laras kepikiran ibunya yang jualan gorengan.
Padahal ia ingin pulang hari ini menjenguk ayahnya sekalian ingin memberi Ayah dan ibunya modal usaha dari duit Tuan Suga.
Semoga besok bisa pulang ke rumah ayah.
Dalam hati Laras berdoa lalu mengeluarkan hape dari sakunya. Tadi sebelum naik mobil, Laras memang menyetel nada silent di ponselnya biar kalau ada pesan atau panggilan masuk tidak kedengaran Yudi. Benar saja ada pesan dari Zainal, Laras membuka pesan.
"Ras, berkas lamaran sudah masuk. Tunggu panggilan ya, gue kenal bosnya lo pasti di terima tenang aja." tulis Zainal di pesannya.
"Thanks ya Zai." balas Laras.
"Ka pinjam hape, mau lihat yutub." tiba-tiba Sora mendekat melirik ponsel Laras mengulurkan tangannya.
"Yutub!?"
Laras mencubit pipi Sora geram lalu memberikan ponselnya.
*
Bram di mobil bersama Yudi menuju gedung WJ, sambil membaca pikiran bosnya, wah gawat.
"Yudi apa kamu tau sesuatu kenapa Bibi Dwi marah, tiba-tiba meminta Kiara membawanya ziarah ke makam ibu kandungnya?" tanya Bram.
Hm, Yudi menarik nafas berat sebelum bicara karena sudah menduga bosnya akan menanyakan ini. "Bos, ini adalah rahasia yang ingin dibawa Burhan sampai mati." jawab Yudi.
"Katakan Yudi, apa kamu diminta berjanji untuk menyimpan rahasia?" Bram menatap Yudi tajam menekan giginya.
Gleg, baru kali ini Yudi melihat Bram seseram ini, tidak disangka sedikit banyak ia takut juga.
"Tidak juga." jawab Yudi.
"Maka katakan kalau kau tidak ingin ku pecat." ancam Bram dengan wajah serius.
Bram mengusap wajahnya kasar, ada cerita seperti itu, dalam hatinya.
Tadi Yudi sempat membaca pikiran Dwi, yang memberitahu nya adalah ibu panti. Ibu panti juga heran bagaimana selama ini Dwi tidak tau mengenai itu. Sehingga ibu panti merasa menyesal telah membuka satu rahasia seseorang yang ingin dibawanya sampai mati.
Dwi mengira hanya ibu Panti dan Burhan saja yang mengetahui rahasia ini, ternyata Kiara juga sudah tau sehingga Dwi kecewa merasa telah dibodohi.
"Apa mendiang Papa tau?" tanya Bram.
"Nyonya besar juga tau." jawab Yudi.
"Ya Tuhan, kasihan Bibi." gumam Bram.
*
Sampai di gedung perkantoran, Yudi langsung membawa Bram ke ruangan meeting, Arjit sudah menunggunya.
Agenda berkenalan dengan PR yang baru datang, dikirim langsung dari Amrik.
Memasuki ruang meeting, alangkah terkejutnya Yudi saat mengetahui siapa yang menjabat sebagai Publik relation.
"Bram, kenalkan ini Mrs. Olivia, PR dari Mossen group Amrik." Arjit memperkenalkan mereka.
Yudi mengerut dahi memandang perempuan dari masa lalunya itu.
"Hallo, nice to meet you Mr. President Director." sapa Olivia mengulurkan tangan pada Bram.
Hm, Bram mengangguk. "Ya, selamat bergabung."
__ADS_1
Jawab Bram mempersilahkan Olivia duduk tidak menerima uluran tangan PR.
Jadi rumor mengenai Bram tidak mau bersalaman itu tidak bohong,
Dalam hati Olivia mengagumi ketampanan Bram lalu melihat ke Yudi.
"Hallo Mr. Yudian." Olivia mengulurkan tangan namun Yudi juga hanya menunduk hormat.
Olivia sudah di inform sebelum ke Jakarta bahwa asisten Presdir bernama Yudian. Karena tidak adanya foto mengenai Yudian jadi ini pertama kalinya ia melihat Yudian yang ternyata adalah Wahyudi yang selama ini dia cari.
Jadi sekarang Wahyudi jadi Yudian pantas saja aku tidak bisa menemukan nya.
Dalam hati Olivia, pandanganya kembali pada Bram.
Namun Bram tidak mau berlama-lama di ruang meeting selanjutnya diwakilkan pada Yudi, begitu juga Arjit masih ada tugas lain segera meninggalkan ruangan.
Olivia presentasi di depan Yudi mengenai rencana kerja yang diinginkan pihak Mossen, group WJ hanya perlu mengikuti arahan dan kerjasama serta memberi nya akses.
Karena tugas Yudi hanya mendengarkan, presentasi berjalan dengan cepat dan lancar. Di samping Yudi juga tidak mau berlama-lama satu ruangan dengan Olivia segera ia mengundurkan diri.
"Wahyudi." panggil Olivia saat Yudi hendak beranjak dari ruangan.
"Hm" gumam Yudi menoleh pada Olivia.
Tidak dipungkiri Yudi masih ada getaran di hati saat Olivia berjalan mendekati nya.
"Kita perlu bicara Wahyu, dan ini penting bagi anakmu." ujar Olivia.
Mendengar itu kepala Yudi rasa membesar.
Anak mana lagi, setelah Sabit apa aku masih ada anak lain lagi tanpa ku sadari pernah membuatnya.
Dalam hati Yudi, mengerut dahi.
"Anakku?" tanya Yudi.
"Maaf Wahyu, aku yang salah telah menyembunyikan ini dari mu selama ini."
Ucap Olivia penuh penyesalan bahkan ada air mengalir dari sudut matanya untuk mendramatisir keadaan.
"Kamu mungkin tidak ingat, karena waktu itu sedang mabuk."
"Aku! Mabuk! Kapan?" suara Yudi ketus.
"Kamu tidak ingat malam perpisahan kita waktu aku mau ke Amrik, kamu marah dan pergi begitu saja?" tanya Olivia.
"Tidak lama kamu kembali ke Apart dalam keadaan mabuk dan kita melakukan nya." lanjut Olivia lagi.
Saat meninggalkan nya aku ingat tapi balik lagi dalam keadaan mabuk kenapa aku tidak ingat, namanya juga mabuk mana bisa ingat, hais Ya Tuhan! Tapi aku tidak ingat pernah minum alkohol selama hidupku.
"Apa kamu tidak salah orang atau jangan-jangan kamu yang mabuk dan mengira itu aku."
Ujar Yudi teringat ibu Sabit, sudah jadi hantu pun masih salah mengenali suaminya.
"Wahyu, aku minta maaf kalau aku salah. Tapi tolong jangan benci pada anakmu, Junior sangat ingin bertemu dengan mu. Ingat remaja yang bersama ku di resto kemarin, itu dia anak mu. Aku juga memberinya nama kita, Wahyu OL Junior."
"Dan jangan salah paham, aku tidak memaksa kamu untuk kembali padaku, hanya ingin kau mengakui nya dan kita bisa lakukan test DNA kalau kau ragu." mohon Olivia.
"Hah!"
***
__ADS_1
Hi, pembaca yang Budiman ikutin Tuan muda romantis ya. Like, vote serta hadiah author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode selanjut nya. 🙏